
"Hah? kalian ini siapa? kenapa mencari kak Elena?" tanya Siska, tak paham juga penasaran.
"Banyak omong anak kecil!" Sarah membentak. "Cepat katakan pada kami di mana Elena si kumuh itu?!"
"Hei, kalian benar-benar tak punya attitude ya?!" Siska membalas geram. "Jangan kalian kira umur ku lebih muda dari kalian, tante-tante ini bisa seenaknya ya!"
"What's?! apa barusan kau bilang? tante-tante?" Mona yang cenderung sensitif dengan panggilan semacam itu, mendadak saja meradang.
"Kau minta di hajar ya?!" Mona yang sudah sangat geram hendak melayangkan tangannya pada Siska, namun ibunya dengan cepat menghadang.
"Mona, sudah. Kendalikan dirimu, kita di sini bukan untuk meladeni bocah ingusan itu," ucapnya memandang sinis ke Siska, gadis itu mencebik.
Dari arah belakang, Elena datang.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Elena yang semula menatap Siska, membeliak ketika matanya tertuju pada tiga wanita di hadapan mereka.
"Kalian?" Elena jelas sangat mengetahui ketiga wanita itu, Sarah, Mona dan ... Clarissa!
"Clar? kenapa kau ada di sini kenapa bisa bersama mereka?" Elena tak menyangka, Clarissa yang selalu baik padanya bisa bergabung dengan komplotan Mona dan ibunya.
"Akhirnya yang di cari datang juga." Mona mendesis sarkas.
"Emmm, Cempaka bakery. Waw, keren juga kau bisa membangun toko kue ini sendirian, di saat kakak ku terpuruk karena mu, kau malah enak-enakan di sini bersama pria lain ya, membangun toko kue pula, apa kau sudah melupakan bagaimana kakak ku yang hampir gila gara-gara kamu?!"
"Apa maksud mu?" Elena menatap nyalang pada adik ipar yang sering mencari gara-gara dengan nya itu. Dia pikir Mona dan ibunya sudah berubah sejak kepergiannya, ternyata Elena salah, mereka justru malah semakin buas seolah ingin mencari celah baru untuk menjatuhkannya.
"Huh, kau pikir kami tidak tahu? kau di kota ini tinggal bersama kakak angkat mu yang sebenarnya adalah selingkuhan baru mu itu kan?"
"Tutup mulut busuk mu itu!" Elena menggeram.
"Waw, sudah berani bertingkah kau rupanya?" Sarah maju selangkah, membela putrinya.
"Kau yang seharusnya tutup mulut. Beraninya bicara selantang itu pada putri ku."
"Cih, kalian lah yang datang kesini duluan mencari keributan. Jika tidak ada kepentingan lebih baik kalian pergi dari sini?!"
Plak!
Tiba-tiba saja Sarah melayangkan tangannya pada wajah Elena. Semua orang yang ada di sana langsung terkesiap, Siska spontan mendekat memeriksa keadaan elena yang habis di tampar wanita tua itu.
"Berani sekali kau berbicara kurang ajar seperti itu pada ibu mertua mu sendiri, ha?!" emosi Sarah berapi-api.
"Kak tidak apa-apa?" Siska membantu Elena, seraya matanya melirik pada ketiga wanita di depannya itu.
Elena menggeleng, namun naas saking kerasnya Sarah menampar, pipi Elena jadi memerah tercetak telapak tangan Sarah kentara di pipi wanita itu.
Ketiga wanita tersebut tersenyum puas ke arah Elena yang tak berdaya. Siska merasa muak, sekaligus terkejut bagaimana bisa wanita terlihat seperti mak- mak antagonis dalam drakor yang sering ia tonton itu ternyata adalah ibu mertua Elena dan gadis di sampingnya berarti adalah adik ipar Elena. Ia benar- benar syok dengan fakta ini.
"Hahaha, lihatlah kau masih saja lemah seperti dulu, makanya jangan sok melawan kami!" cibir Mona.
Mendengarnya Siska menjadi muak. Gadis itu tak tahan lagi, tak sengaja netranya melirik pada kue yang baru saja di hias whipcream, Siska dengan secepat kilat mengambilnya berjalan memutar dengan langkah cepat.
__ADS_1
Sarah, Mona dan Clarissa terlihat bingung dengan tindakan apa yang akan di lakukan oleh bocah bau bawang itu.
Saat Siska sudah mendekat pada tiga wanita itu tiba-tiba saja bruk! seloyang kue dengan whipcream yang kental itu melayang tepat di wajah Mona.
Semua membeku. Tak menyangka dengan tindakan tiba-tiba gadis tersebut.
"Ku kembalikan lagi bacotan mu tadi, tante-tante girang arogan!" sarkas Siska pada Mona.
Sedangkan Mona sendiri, ia membeku beberapa detik, saking syoknya dengan serangan kue yang di layangkan Siska, detik setelahnya terdengar lah jeritan cempreng wanita itu.
"Arggghh! wajah ku!"
Siska tertawa puas. Seluruh wajah bahkan sampai setengah badan Mona di penuhi oleh kue dan whipcream yang amburadul, Mona terlihat seperti monster dengan kue yang menempel di wajahnya.
"Bocah ingusan, apa yang kau lakukan pada putri ku?" Sarah yang tak terima dengan keadaan Mona hendak menyerang Siska.
Tapi ternyata Siska lebih dulu cerdik dengan mengambil whipped cream semprot yang ada di atas meja dan menggunakan nya untuk menyerang balik Sarah.
"Argghh! apa-apaan ini?" Sarah sontak saja merentangkan tangan untuk melindungi wajahnya akibat serangan whipcream yang mengenai nya.
"Rasakan ini nenek lampir!" ujar Siska yang terbahak saat melakukan aksinya. Akibatnya suasana mulai tak terkendali, banyak whipcream di mana- mana.
Dan kemudian Tiara datang, gadis kecil itu menghampiri karna penasaran dengan kericuhan yang sedang terjadi, Elena terkejut karena kehadiran nya, tak ingin bocah perempuan itu melihat perkelahian di antara orang dewasa yang sedang terjadi, Elena pun ambil suara.
"Siska, sudah hentikan!" titah Elena dengan suara meninggi, sontak semuanya menoleh ke arah wanita itu.
Siska menghentikan aksinya, terlihat Sarah yang sudah seperti badut ulang tahun yang di penuhi krim kue.
"Ini bukan urusan mu, jadi berhenti sampai di sini. Lebih baik kau bawa Tiara masuk ke dalam."
Siska menyadari Tiara ada di sana, melihat semua keributan yang terjadi.
Akhirnya gadis itu mengangguk. "Baik kak."
"Dan untuk kalian!" Elena memandang ketiga wanita di hadapannya. "Jika memang memiliki urusan ku sebaiknya jangan di bicarakan di sini!"
Mona mencebik, tak suka dengan sikap Elena yang terlihat elegan dalam menyikapi masalah ini, juga apa yang terjadi padanya sungguh sangat memalukan.
"Awas saja kalian!"
...***...
Kini Sarah dan Mona sudah membersihkan sekujur tubuh dan wajah yang terkena whipcream menggunakan air dan tisu yang Elena berikan.
"Kurang ajar sekali pelayan mu itu," desis Sarah. "Sama seperti majikan nya." cibirnya.
"Jangan banyak berbasa-basi, katakan apa yang kalian inginkan?" ujar Elena, kini mereka berada di pinggir jalan tak jauh letaknya dari toko, di sebuah kursi panjang yang di sediakan untuk pejalan kaki yang ingin berteduh di bawah rindangnya sebuah pohon besar.
"Aku sudah pergi jauh dari kehidupan kalian apa itu tak cukup untuk kalian hingga kembali mengganggu ku?" lanjut Elena dengan suara lantang.
"Tentu saja tak cukup. Karena nyatanya bayang-bayang keberadaan mu masih ada dan mengusik kehidupan kami," ucap Mona penuh emosi.
__ADS_1
"Kami kesini ingin memperingati mu, jauhi Erickson, karena mu dia sampai harus di rawat ke psikiater. Dan kini kau masih saja berusaha untuk mengejar nya? tak tahu malu sekali," pungkas Sarah dengan tangan bersidekap dada, kembali menantang.
"Cih!" Elena berdecih dengan melongos ke samping.
"Melihat tingkah kalian ini, aku jadi ingat sebuah peribahasa yang sangat cocok untuk menggambarkan kalian berdua," ucap Elena.
"Apa itu?" dengan bodohnya Mona bertanya, penasaran.
"Ternyata, anjing tak selamanya berbentuk binatang ya?"
"Apa? jadi kau menghina kami?!" Mona emosi.
"Tidak, kau saja yang bodoh bertanya, jadi ya ... aku menjawab," kata Elena, enteng, mengangkat bahunya.
"Lagipula kalian ini amnesia atau bagaimana? jelas- jelas Erick lah yang sampai rela ke kota ini untuk menyusul ku, lalu kenapa aku yang di salahkan. Harusnya yang kalian lakukan itu kurung lah Erick di suatu tempat agar tidak bisa menyusul ku, bukannya repot-repot datang ke sini hanya untuk menggertak ku, konyol sekali huh!"
"Siallan! kau tidak ada takut-takut nya dengan kami ya?!" sentak Mona.
"Huh, takut untuk apa? kalian kira aku ini Elena yang dulu hanya pasrah saat kalian bully? aku bahkan bisa melakukan lebih dari apa yang Siska lakukan pada kalian. Tapi aku masih mempunyai rasa hormat dan harga diri tinggi untuk tak melakukan itu."
"Jadi daripada kalian hanya menyia-nyiakan waktu datang kesini hanya untuk menggertak ku lebih baik kalian pergi!"
"Hahaha, Elena, Elena, menantu ku yang malang." mendadak saja Sarah membuka suara, wanita itu seolah sedang mentertawakan sesuatu membuat Elena mengernyit heran.
"Kau bisa saja sombong seperti ini, tidak sampai aku membeberkan sesuatu yang membuat mu akan bersujud pada kami!"
"Apa maksud mu?!" ujar Elena yang tak paham dengan apa yang Sarah ucapkan.
"Foto-foto mesra mu bersama Vicky." Sarah menyeringai membeberkan ponsel di genggamannya.
"Apa? j-jdi kalian?" mendadak raut wajah Elena berubah pias, antara kaget dan tak menyangka. Mona tersenyum senang saat melihat Elena yang ketakutan.
"Kalian lah yang bersekongkol dengan Vicky untuk menjebak ku?!"
"Yap, perkiraan mu tepat sasaran. Sekarang to the point saja, kami ingin kau menggugat cerai Erick dan pergi jauh-jauh dari nya atau foto-foto mesra mu ini akan tersebar ke internet!" Sarah terbahak, pun dengan Mona. Sementara Clarissa hanya bisa melongo terdiam tak menyangka dengan persengkongkolan ibu dan anak itu. Terlebih kini dia justru ikut terseret.
"Kurang ajar!" Elena menggeram, ia menggertakan gigi dengan telapak tangan terkepal erat.
Sementara Sarah dan Mona memiliki kendali untuk mengancam nya, kedua wanita itu tersenyum penuh kemenangan.
"Jadi pilih yang mana, menantu ku tersayang?" kata Sarah dengan senyum mengejek.
Namun tiba-tiba saja, seseorang dari belakang dengan cepat merebut ponsel di genggaman Sarah, wanita itu tersentak.
"Kalian pikir bisa mengancam dengan tipu muslihat murahan seperti ini?"
Semua orang terkejut kontan saja menoleh ke arah sumber pemilik suara berat tepat berdiri di belakang Sarah dan Mona saat ini.
"Erickson!"
Mona dan Sarah sontak melotot.
__ADS_1