
Cup! cup! "Aku akan merindukan mu, hati-hati di sini ya," ucap Mona setelah memberikan begitu banyak kecupan di sekitar wajah Vicky, pria itu tersenyum sumringah.
"Tentu saja. Aku juga nanti akan sangat merindukan mu, sering-sering lah berkunjung kesini ya sayang," ucap Vicky, begitu pandai lelaki itu bersilat lidah hingga mampu membuat Mona gadis yang terbilang masih labil itu melayang bagai menembus awan dengan hanya kata-kata gombalan darinya.
"Iya, tapi mungkin tak akan sering. Kak Erick sudah mulai menaruh curiga padaku dan mommy saat ini. Tapi kau tenang saja, kakak ku saat ini sedang melakukan terapi untuk kesembuhan mentalnya. Dia tak akan menaruh curiga lagi setelah ini," ujar Mona tanpa sadar telah membeberkan kondisi terpuruk kakaknya pada musuhnya sendiri.
"Erickson si pria gilla itu sepertinya sedang dalam kondisi mental yang kritis ... Waw, benar-benar berita yang sangat bagus." batin Vicky dengan senyum menyeringai yang mencurigakan.
"Oh itu sebabnya dia pergi ke london kah?" tipis-tipis Vicky mencoba menguak apa yang telah terjadi.
"Yap. Dan itu semua karena si Elena kumuh, kakak ku benar-benar gilla di buatnya, aku tak habiskan fikir apa yang membuatnya begitu istimewa hingga kak Erick begitu tergila-gila padanya." cibir Mona sambil membenarkan riasannya di pantulan kaca.
"Yang jelas dia berbeda seperti mu." balas Vicky dalam hatinya, tak suka dengan Mona yang tengah menjelekkan Elena.
"Ya sudah. kalau begitu aku pergi dulu ya, bby," ujar Mona setelah sejurus berdiri dari duduknya mengambil mantel dan juga tasnya.
"Tunggu ... " Vicky menahan.
"Apalagi?" Mona menatapnya.
"Mmm ... by, bolehkah aku meminta uang tak banyak lima belas juta saja, tolong ya kirimkan ke rekening ku." Dengan tak tahu malunya Vicky meminta seperti mengemis pada seorang perempuan, bukan hal yang tak biasa lagi. Karena mulai pindah kesini, semua tangguhan hidupnya berasal dari Mona. Gadis itu tentu saja dengan sukarela memberikan uangnya akibat cinta butanya pada laki-laki itu.
"Astaga ... bukankah baru minggu kemarin aku mengirimkan 30 juta ke rekening mu?" Mona sedikit mengaduh. Bukannya ia perhitungan tapi terlalu kaget dengan keborosan Vicky.
"Itu kan beda sayang, yang ini buat nge servis si Veronika ke bengkel." Fyi, Veronika adalah moge kesayangan Vicky. "Dan sisanya untuk aku nge-gym membentuk otot-otot ku ini, memangnya kamu tak ingin melihat aku yang semakin kekar dan perkasanya di atas ranjang."
Mendengar kalimat terakhir entah kenapa berhasil membuat Mona luluh. Vicky tersenyum senang, sangat mudah untuk mengelabui wanita labil itu.
"Baiklah. Lihat, aku sudah mengirimkannya." memberikan bukti, Mona menunjukkan ponselnya yang mana transaksi pengiriman uang sejumlah 20 juta ke rekening Vicky berhasil.
__ADS_1
"Waw ... 20 juta itu bahkan melebihi yang ku minta." Vicky tercengang.
Mona melebarkan senyumnya. "Anggap itu adalah dukungan dari ku sayang, pastikan otot-otot tubuh mu semakin terbentuk di gym nanti, aku melihat mu semakin kekar dan perkasa."
Mona mengedipkan mata dengan gerakan sensual, tak tahan Vicky segera menarik tengkuk wanita itu, mereka saling bertukar saliva dan berbelit lidah sebelum akhirnya Mona menghentikan atau tidak mereka akan kembali saling bergelut di atas kasur, sedangkan Mona tak ingin itu terjadi karena daddy nya yang terus memanggil ke mansion kembali.
"Sesuai permintaan mu my Queen, di pertemuan kita selanjutnya akan ku pastikan kau tak berdaya di atas kasur." Vicky menggoda.
"Aku tak sabar untuk menantikannya," ujar Mona dengan semrik nya.
......................
London, 4.00 am.
Pagi di ibukota britania raya, salju turun pertama kali di hari pertama Erick di sini. Pria berkaus putih berbahan sutra tersebut menatap ke luar jendela memerhatikan tiap butiran salju pertama yang turun saat ini.
"Erickson ... "
"Nanti pagi, jadwal pertama mu dengan dokter Rosanne rose," ucap wanita tersebut mengikuti arah pandang Erick ke luar jendela. Mereka singgah dahulu di sebuah penginapan sebelum akhirnya nanti pagi pindah menempati sebuah bungalow yang sudah di persiapkan Rey untuk sang putra, yang akan menjadi tempat tinggal Erick selama 6 bulan di sini.
"Maaf aku tak bisa menemani mu sepanjang terapi nanti karena aku ada set pemotretan yang tak bisa di batalkan, tapi aku bisa mengantar mu untuk menemui beliau nanti." lanjut Clarissa kemudian, ia merapatkan piyamanya karena udara yang mulai dingin.
Melihat itu Erick tak menanggapi ucapan wanita tersebut, malah berjalan menuju meja yang berada di tengah mengambil sebuah remote control dan menyalahkan penghangat ruangan.
"Gantilah pakaian mu, pakai baju yang tebal dan hangat."
Entah kenapa dengan hanya perhatian sekecil itu membuat Clarissa merasa sangat di hargai dan membuat nya berdebar.
"Erickson ... " Clarissa mulai memanggil pria itu dengan nada yang berbeda.
__ADS_1
"Ada apa?"
Clarissa mendekat, ia tak tahan dengan gejolak di hatinya. Perlahan Clarissa mendekatkan dadanya ke dada Erick, kedua tangannya menangkup rahang pria itu, sebelum bisa berbuat lebih tangannya sudah lebih dulu di tepis kasar oleh Erick.
"Apa yang coba kau lakukan?!"
Aww! Clarissa mengaduh, tak menyangka Erick bisa kasar kepadanya.
"Kenapa kau selalu tak suka saat aku menyentuh mu Erickson ... tidak adakah sedikit rasa di hati mu untuk ku." mata wanita itu berembun. Mengalami penolakan untuk yang ke sekian kalinya membuatnya benar-benar patah hati.
"Kita sudah membicarakan ini Clar ... aku tak bisa membalas perasaan mu."
"Tapi Erickson ... "
"Cukup!" sentak Erick, pria itu berbalik menatap tajam wanita di hadapannya kini.
"Niatku kesini untuk mencari ketenangan Clar, jangan malah menambah masalah, atau lebih baik kita berpisah saja sampai di sini!"
"Tidak jangan pisahkan aku darimu Erickson, aku tak mau."
Erick berdecih, kembali memunggungi perempuan itu.
"Kembali lah ke kamar mu, aku tak ingin melihat mu saat ini!"
"Tapi ... "
"Aku butuh ketenangan Clar!"
Mendengar bentakan Erick membuat Clarissa tak membantah lagi, ia berbalik mulai berjalan lunglai dengan bahu terkulai.
__ADS_1
"Bodoh, apa yang kau harapkan Clarissa? Erick tak akan mungkin membuka pintu hatinya untuk mu."
Wanita itu menatap lantai, dengan perasaan hancur.