
"Elena, apa yang terjadi Elena buka matamu!" Dea yang segera menghambur, menaruh kepala Elena ke pangkuannya, gadis itu tak sadarkan diri, darah di mana-mana seluruh tubuhnya dingin dengan wajah pucat pasih.
"Cepat panggilkan ambulance, apa yang kalian tunggu!" berang Dea, berteriak pada orang-orang yang mengurumuninya.
Yang lain langsung panik, satu maid mengangguk cepat. "Baik nona!" segera pergi dari sana untuk menelpon ambulance."
"Ada apa ini?!" hentakan sepatu pantofel di tanah mengagetkan semua orang, Dea terhenyak ketika melihat pak Pandu tiba sana.
"Syukurlah anda datang. Pak Pandu, tolong selamatkan Elena, dia terluka," Dea menghela nafas lega barang sejenak, lalu kembali khawatir.
"Atas ijin siapa nona berani-beraninya datang ke gudang ini?" pak Pandu menatap tajam dengan wajah datar.
Dea melongo. "Apa?!" wajah gadis itu berubah tercengang. "Apa maksud pak Pandu mengatakan itu? tidak lihat nyonya muda mansion ini sedang tak sadarkan diri."
"Saya tahu. Tapi anda tidak punya wewenang sama sekali untuk mencampuri urusan di sini," terang pak Pandu dengan masih mimik wajah tertekuk.
"What?!" Dea tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, ini konyol, apa-apaan?
"Saya sudah di perintahkan oleh tuan muda, tidak ada yang boleh menyentuh gudang bagian belakang ini, adapun dengan keadaan nyonya muda, atas perintah dari tuan muda, tidak ada yang boleh menyentuh selain dirinya. Jadi apa yang di lakukan nona Dea sekarang adalah sebuah pelanggaran, dan saya sebagai orang yang mengatur semua kesejahteraan juga yang selalu patuh atas perintah tuan muda, harus mencegahnya."
"Jadi menyingkirkan lah dari tubuh nyoya muda, dari sekarang, nona Dea." pak Pandu mengancam lewat tatapan matanya, bukannya takut Dea malah menatapnya sengit.
"Apa rasa kemanusiaan sudah tidak ada lagi di hati kalian hah?!" bentaknya. Sudah tak tahan dengan kegilaan yang ada di sini.
"Berhenti memberontak dan mengecoh tidak jelas. Sekarang pergilah dari sini nona Dea, anda tidak di perlukan sama sekali. Soal nyonya muda biar pak Erick yang mengurusnya nanti."
"Lalu membiarkannya mati kehabisan darah? gilla! kalian benar-benar tak punya otak!"
"Nona, ambulance sudah kami telepon dan akan menuju kemari." salah satu maid yang di beri perintah memanggil ambulance kembali memberi info, wajah Dea sempat sumringah tak lama ia kembali terkesiap saat pak Pandu melayangkan tamparan pada maid pemberi pesan itu.
"Atas perintah siapa kalian memanggil ambulance hah?!" berang pria berusia 70 an yang masih terlihat bugar itu.
Maid tersebut langsung terisak, tubuhnya gemetar dengan telapak tangan memegang pipinya yang bekas di gampar. "M-maaf kan saya p- pak Pandu, s- saya hanya ... "
"Hanya apa hah?" pak Pandu mengulangi perkataan maid tersebut dengan intonasi tinggi. "Di sini kalian hanya bawahan, seorang pelayan. Dan bawahan hanya boleh mengikuti kata perintah tuannya. Lantas siapakah tuan di sini, saya atau wanita ini?"
__ADS_1
Dea speachless, ternyata bukan hanya Erick saja yang sikapnya telah berubah, pak Pandu pun begitu. Padahal terakhir bertemu, menurutnya, pak Pandu adalah orang yang baik, kini semuanya sudah berbeda.
Muak dengan perdebatan tak menemukan ujung, Dea kemudian berinisiatif mengirimkan SMS pada sang kekasih untuk segera kesini membantu nya membawa Elena. Sengaja Dea tak menggunakan via telepon takut nanti pak Pandu malah merampas ponselnya jika hal itu ia lakukan.
"Ku mohon segera lah kesini ... " Dea memejam sebentar, merapalkan doa dalam hatinya, kemudian kembali melihat kondisi Elena, hatinya teriris pedih.
"Elena ... bertahanlah."
Tak berselang lama, Rizal masuk menembus kerumunan dua sekuriti mengejarnya hendak menghadang namun Rizal lebih cepat datang untuk menjemput Dea dan Elena.
"Apa yang terjadi beb? semuanya baik-baik saja kan?" Rizal memegang pipi Dea, nafasnya memburu karena berlarian, untung lah Dea menggeleng membuat perasaannya menjadi lebih tenang.
"Tapi teman ku ... " Dea melirik pada Elena, Rizal mengikuti arah pandangnya, membelalak terkejut.
"Astaga ... kita harus segera membawanya kerumah sakit!"
Dea mengangguk, perasaannya campur aduk, gurat wajahnya meredup ingin sekali menangis namun ia tahan.
"Hei, mau kalian bawa kemana nyonya muda, berhenti di sana." pak Pandu murka ketika melihat Rizal memapah tubuh dalam gendongannya, ia ingin menghadang namun entah apa sebabnya para pelayan malah menghalangi jalannya.
Para pelayan itu tidak mengindahkan perintah pak Pandu malah terlihat semakin berani.
"Maaf pak Pandu, tapi kali ini kami tidak bisa mematuhi perintah anda, nyawa nyonya muda lebih penting bahkan dari keselamatan kami sendiri," ucap salah satu pelayan.
"Apa maksud kalian seperti ini hah? sudah mulai memberontak iya?!"
"Pak Pandu, anda telah berubah akhir-akhir ini."
"Aku tidak berubah, aku hanya mengikuti perintah tuan muda!" tangkas pria berpakaian parlente tersebut. Pak Pandu mengelak dengan tuduhan tersebut.
"Awas saja, ku pastikan setelah ini kalian akan mendapatkan hukuman yang berat dari tuan muda!" tantangnya.
"Kami tidak peduli!" salah satu dari mereka yang menahan tubuh pak Pandu, menyahut.
"Cepat nona,bawa nyonya muda pergi dari sini!" perintah yang lain kepada Dea, mulanya gadis itu khawatir namun segera ia mengangguk.
__ADS_1
Dea dan Rizal yang menggendong Elena saat ini pun cepat melangkah pergi, terlihat pak Pandu misuh-misuh do tempat.
"Hei, kalian tidak boleh membawa wanita itu tanpa seijin tuan muda!" teriaknya menggelegar namun tak di hiraukan siapapun.
...***...
"Cepat kita bawa Elena ke Tri center hospital, sebelum pendarahannya semakin banyak!" seru Dea sesaat setelah Rizal berhasil membaringkan tubuh ringkih Elena ke jok belakang.
"Tri center hospital?" Rizal bertanya dengan dahi mengkerut.
"Iya,di sana ada kak Marvin sebagai dokter nya, dia akan menangani Elena dengan baik."
***
Setelah perjalanan cukup memakan waktu, mereka tiba di pelataran rumah sakit, sigap Rizal membuka pintu dan membantu Dea memapah tubuh Elena.
Sementara Rizal menggendong tubuh gadis malang itu, Dea memanggil suster dan segera para perawat medis tersebut datang menyiapkan brankar untuk Elena.
"Apa bisa pasien di rawat oleh dokter Marvin anggara sutena? please, bilang padanya jika pasien yang membutuhkan perawatan ini bernama Elena cempaka."
Suster nampak ragu sejenak. "Saya tidak yakin apa dokter Marvin ada waktu atau tidak saat ini, tapi saya akan memeriksa ke ruangannya."
"Baiklah, saya mohon," ucap Dea penuh harap.
Suster mengangguk dan melangkah cepat melewati lorong, sementara beberapa perawat lain membantu mendorong brankar Elena menuju ruangan.
Sampai memasuki ruang perawatan, yang di harapkan Dea pun terjadi, Marvin setengah tergopoh menghampiri.
"Ada apa Dea? apa yang terjadi pada Elena."
Di hadapan Marvin, Dea tak bisa lagi menyembunyikan tangisnya. "Kak ... " Dea tiba-tiba terisak, Rizal segera menghampiri.
"Baiklah, jangan menangis. Aku akan memeriksa ke dalam."
Dea mengangguk, Marvin segera memasuki ruangan bersama asistennya.
__ADS_1
"Ya Tuhan tolong selamatkan Elena." gumam Dea dalam hati, terus mengucap doa.