Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 98


__ADS_3

Berbekal dua mobil dengan satu kendaraan roda empat membawa barang dan satu lagi membawa dirinya juga empat bodyguard, Erick akhirnya tiba di kota B dengan memakan waktu perjalanan hampir lima jam.


Ia membuka pintu mobil dan keluar lalu mengambil nafas panjang serta memakai kacamata hitamnya.


"Elena ... aku datang." gumamnya.


Tak lama Zidan keluar menyusul. Di kota B Erick akan tinggal sampai waktu yang tak di tentukan, menyusuri kota besar tidaklah mudah untuk mencari di mana keberadaan Elena, ia harus benar-benar teliti dan mengutus banyak anak buah untuk mencari di mana tempat tinggal sang istri.


Selama berada di sini, Erick memilih untuk menyewa sebuah vila di dekat pantai, dan tentunya Zidan yang telah mengurus itu semua.


"Zidan ... "


"Ya, tuan!"


"Selama aku di sini. Kau handle perusahaan, juga titip salam ku untuk papa yang belum sempat ku temui. Dan hal yang paling penting, jaga Vicky selama dia koma di rumah sakit, jangan biarkan Mona menemukan nya jika perlu taruh dia di ruang rawat VVIP dan jaga ketat oleh dua bodyguard. Segera lah lapor padaku jika dia sudah melewati masa kritis dan siuman."


"Baik tuan. Di laksanakan!" ujar Zidan mengangguk patuh.


...***...


Sampai di villa, ada dua pembantu yang sudah stay di sana menyambut dengan hangat.


Vila ini memiliki dua lantai dengan kamar yang di khususkan untuk Erick berada di atas. Segera setelah ia sampai Erick lebih memilih langsung memasuki kamar tanpa berlama-lama, hanya beristirahat sepuluh menit sekedar membasuh muka dan berganti pakaian dengan gaya kasual yang santai, setelah itu pergi lagi untuk mengeksekusi pencarian.


Sementara di tempat lain Elena kini berada di puncak keharuan dan kebahagiaan nya ketika ruko yang ia temui ternyata bisa di sewakan dengan harga yang masih bisa ia ia keluarkan. Pemilik ruko ini sangat baik dan ramah padanya.


"Kau cantik dan masih sangat muda nak. Entah kenapa meskipun kita baru kenal aku bangga padamu yang bisa berbisnis dan mempunyai tokoh sendiri di usia muda," puji buk Nani, sang pemilik ruko yang kebetulan tempat nya begitu strategis berada di pinggir jalan dengan posisi nya yang dekat dengan pemukiman penduduk.


"Terimakasih bu,saya tersanjung dengan pujiannya," ucap Elena dengan pipi bersemu merah. Mereka kini sedang berbincang-bincang setelah kata deal terucap dan uang di muka sudah di bayarkan kini Elena berhak atas salah satu ruko besar buk Nani kini menjadi miliknya. Buk Nani yang begitu ramah tak mengijinkan nya untuk segera pergi akhirnya mereka mengobrol hangat di selingi gurauan guna mengakrabkan diri di temani teh dan kudapan juga senja sore hari.


"Oh ya kira- kira nak Elena ini mau bikin usaha apa?"


"Saya mau bikin tokoh kue bu." tutur Elena sedikit segan.


"Oalah bagus-bagus. Kebetulan di sini belum ada yang buka tokoh kue, anak- anak pasti akan suka juga ibu-ibu arisan, pasti bakal rame tokoh mu nak."


Elena tersenyum. "Semoga buk."


"Oh ya. Kamu kemari." buk Nani melambaikan tangannya, berseru memanggil seseorang yang kebetulan sedang lewat ketika mereka tengah berbincang.

__ADS_1


Elena menoleh ke belakang demi melihat siapa yang di panggil buk Nani. Tak lama seorang gadis berkulit sawo matang mendekati dengan hanya memakai t-shirt dan celana pendek kemudian duduk di samping wanita bertubuh gempal itu.


"Kenalkan ini kemenakan saya namanya Siska." buk Nani memperkenalkan gadis itu pada Elena.


"Kemenakan saya ini cuma lulusan SMA dan lagi cari kerja di sini. Daripada nganggur kira-kira nak Elena apa bisa memperkerjakan dia jadi asisten bantu-bantu gitu, bisa nak Elena?"


"Oh ... " Elena bergerak canggung, tak tahu harus bereaksi apa. "Mmm ... boleh saja bu."


Mendengar kata 'boleh' membuat buk Nani langsung sumringah.


"Ayo kamu. Kenalkan diri." titah buk Nani pada ponakannya itu.


"Saya Siska bu Elena. Salam kenal." gadis berambut sepundak itu mengulurkan tangannya.


"Eh, iya. Salam kenal, panggil saja Elena."


Elena menyambut uluran tangan gadis itu. Siska tersenyum, amat manis meskipun berkulit gelap dia terlihat cantik.


"Oh ya kira- kira kapan langsung eksekusi peralatan juga bahan untuk tokoh kue mu nanti nak Elena." sahut bu Nanik, terlihat lebih bersemangat daripada keponakannya yang akan bekerja.


"Eh ya, kalo untuk belanja kebutuhan tokoh kemungkinan besok buk."


Elena hanya mengangguk saja tak enak juga jika menolak, lalu Siska dan Elena bertukar nomor ponsel agar mempermudah untuk saling terhubung.


...***...


Tak menunda lagi, esoknya setelah menghubungi Siska dan memberikan alamat vila yang menjadi tempat tinggal nya, Elena dan gadis berusia 20 tahun itu pun siap membeli bahan-bahan di pasar.


Elena bersyukur karena dia masih mempunyai uang simpanan yang ia tabung hasil kerja keras nya selama ini. Jadi selama pembangunan tokoh ia tak terlalu memusingkan tentang biaya.


Sebelumnya Elena sudah meminta pak Jaka untuk membeli etalase dan peralatan untuk tokoh nanti. Pak Jaka mengatakan akan mencarikan barang-barang tersebut di tokoh perabotan dan pecah belah yang terkenal di kota ini, jadi Elena mempercayakan sepenuhnya pada pak Joko.


Kembali lagi, selain mengajak Siska Elena juga mengajak Tiara ikut serta untuk membeli kebutuhan membuat kue, mbok Can tak bisa ikut karena dia harus menyiapkan makan siang untuk mereka nanti. Mbok Can hanya berpesan agar Tiara tak nakal dan jangan sampai merepotkan Elena di pasar.


Menggunakan taksi, Elena, Siska dan juga Tiara kini sampai di pusat pasar yang sedang ramai-ramainya.


"Kita mau membeli apa dulu teh Elena?" tanya Siska setelah mereka sampai dan membaur bersama dengan orang-orang yang hilir mudik dan nampak sibuk di pasar.


Tak nyaman jika hanya memanggil Elena dengan hanya sebutan namanya, akhirnya Siska memutuskan memanggil Elena dengan sebutan 'teh' jika di artikan adalah panggilan untuk kakak perempuan dalam bahasa daerahnya.

__ADS_1


"Kita lihat- lihat dulu, kita ke stan penjual bahan pokok dulu, yuk."


"Oke teh." Siska nampak bersemangat saat ini. "Ayo Tiara." ia menggandeng bocah sepuluh tahun di sampingnya.


Tiara mengangguk, hiperbola. Meski baru mengenal ia menyukai teman barunya kini yaitu Siska, yang menurut bocah sepuluh tahun itu sangatlah ramah dan baik seperti Elena hingga Tiara merasa nyaman di dekatnya.


Sementara itu, Erick yang lelah dan hampir menyerah mencari keberadaan Elena bahkan para anak buahnya yang sudah ia perintahkan di setiap tempat untuk mencari tahu di mana sang istri berada belum membuat laporan yang memuaskan nya.


Erick menepi sejenak di pinggir jalan dekat pasar tradisional terkenal yang ada di daerah ini. Ia memerintahkan ajudannya untuk membelikannya sebuah minuman botol di salah satu minimarket tak jauh dari tempat mobilnya terparkir. Sedangkan ia sedang sibuk bersama ponselnya berbincang di telepon.


Sampai suatu ketika, saat pandangan Erick tak sengaja melongok ke luar, pria itu terbelalak ketika melihat seorang anak kecil yang nampak bingung hendak menyeberang jalan celingak-celinguk lalu berjalan ke tengah tanpa pengawasan sementara sebuah truk pengangkut barang hendak melintas di depannya.


Tak menunggu lama mencerna situasi, Erick segera keluar dari mobilnya, orang-orang tak menyadari jika gadis kecil itu dalam bahaya.


Erick segera berlari untuk menyelamatkan, namun sebelum ia sampai tiba-tiba sudah ada perempuan yang memeluk tubuh gadis kecil itu dari belakang. Tapi nampaknya perempuan itu pun tak menyadari jika truk sedang menuju ke arah mereka.


Dengan sekuat tenaga nya Erick mengayunkan kakinya lebih cepat bak seorang atlet yang sedang lomba maraton.


Bruussh! angin kencang berhembus melewati mereka bersamaan dengan laju truk yang semakin kencang melewati.


Sementara Erick berhasil menyelamatkan perempuan dan gadis kecil itu, mereka terpental cukup jauh dan berguling ke sisi jalan.


Erick dengan tubuhnya menahan agar perempuan dan anak kecil itu tak sampai menyentuh tanah, menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai.


Deru nafas saling beradu dan berkejar-kejaran, bak role coster, kejadian itu berlalu sangat cepat. Para manusia yang melihat langsung menghampiri mereka.


Sementara Erick masih menutup mata dengan nafas yang ngos-ngosan seolah berhasil terbebas dari maut setelah menyelamatkan perempuan berserta anak kecil tersebut.


Perempuan dan anak kecil itu langsung berdiri.


"Tiara, kamu gak apa-apa kan nak?"


Suara itu!


Erick segera membuka mata. Suara yang amat ia kenal dan sangat di rindukannya.


Ketikan ia bangkit dan berdiri merapikan kondisi nya saat itulah tatapannya segera bertemu dengan mata indah wanita yang sudah di selamatkan nya.


"Elena!"

__ADS_1


__ADS_2