
Hachhi! beberapa kali Sarah bersin, air dari hidungnya terus merengsek minta keluar, ketika ia sedang sibuk membersihkan jendela yang berada di mansion bagian belakang. Debu tebal dari kaca jendela yang berterbangan, sungguh sangat menyiksanya.
"Sialan! ini semua gara-gara si kumuh Elena itu. Oh my Gosh, kuku-kuku cantik ku ini padahal baru saja di meni pedi kemarin, sekarang hancur sudah ... " rengekannya seperti anak kecil membuat dua pelayan yang sedang mengawasinya atas perintah dari Erick, tak bisa menahan tawa mereka.
"Apa yang kalian tertawa kan hah? Diam!"
Spontan kedua pelayan itu langsung kicep setelah mendengar bentakan Sarah. Lantas wanita yang selalu nampak elegan itu, melanjutkan kembali aktivitas nya menjalani hukum dengan hati yang dongkol. Image anggun yang selalu melekat padanya kini sudah tak ada lagi. Seolah semua pelayan sudah tak ada yang takut padanya. Dan hal itu semakin membuat ia membenci Elena, yang telah menyebabkan semua terjadi.
Kau lihat saja Elena. Sebentar lagi kehancuran mu akan datang.
Seketika ia tersenyum ketika membayangkan rencana besar yang sedang ia susun untuk menghancurkan Elena.
...***...
Berbeda di tempat lain, Mona nampak begitu centil pada Zidan, yang kini masih menunggu Erick untuk kembali ke kantor.
Mona bahkan tak peduli dengan ibunya yang kini sedang menjalani hukuman. Sibuk dengan laki-laki yang sudah menyita perhatian nya.
Mona dengan tampang malu-malu tapi mau berdiri di samping pria itu, lain halnya Zidan terlihat acuh, ia sibuk pada dunianya sendiri yaitu memeriksa email yang masuk di iPad yang berada di genggamannya. Jemarinya cekatan menggeser layar sentuh itu hingga tak menyadari kedatangan Mona yang berusaha merayunya.
"Ekhem, halo tampan. Bisakah kita berkenalan?"
Krik! krik! Mona jelas sekali di abaikan. Itu membuat ia mengkerut jengkel.
"Hellow, apa kau tak melihat ku?"
Barulah Zidan menoleh ketika Mona menjettikan jari di wajahnya.
"Maaf. Saya tak melihat nona." Zidan kini bereaksi, setelah sekian lama bergeming. Memilih tak menanggapi meski ia menyadari jika gadis itu berusaha untuk menarik perhatian nya.
Sementara Mona nampak terkesima kembali. "Oh God. dia terlihat semakin tampan kalau dilihat dari jarak sedekat ini."
Namun buru-buru Mona menetralkan ekspresinya, tidak ingin terlalu mencolok jika ia terpesona.
__ADS_1
"Ekhem, tadinya aku sempat kesal karena ku pikir kau sedang mengabaikan ku. Tapi tidak mungkin kan jika wanita cantik seperti ku di abaikan haha." Mona tertawa jemawa.
"Baiklah, kamu seharusnya sudah mengenal ku karena aku sangat terkenal. Tapi meski begitu aku akan tetap memperkenalkan diri." lagi, dengan terlihat angkuh Mona menjulurkan tangan.
"Perkenalkan, nama ku Mona, aku adik dari Erick Davidson, atasan mu." ia sudah tersenyum sangat percaya diri tapi apa yang dia dapatkan?
"Oh maaf. Pak Erick sudah memanggil ku, permisi." Dengan entengnya, Zidan melewati Mona tanpa memperdulikan jika gadis itu tengah mengajaknya berjabat tangan.
Krek! seperti ada yang retak dalam diri Mona. Harga diri nya jatuh berkeping-keping. Gadis itu berdiri kikuk, tidak percaya jika ada seorang pria yang dengan sengaja mengabaikannya. Hening, bahkan tangannya tetap terulur tanpa ada yang menjabat nya.
"Damnn! berani-beraninya dia menolak pesona seorang Mona?!" jeritnya kemudian.
Gadis bergaun seksi itu tak terima. Mona misuh-misuh di tempat, menghentak-hentak kan kaki di lantai, dari kepalanya seperti tengah mengeluarkan asap.Di saat ia sedang uring-uringan seperti orang kesetanan, tak sengaja high heels yang di kenakannya menginjak sesuatu hingga membuatnya terjatuh.
Bedebum! bokongnya langsung saja mendarat cantik di dingin nya marmer, Mona mengerang antara sakit yang di rasakan nya juga kesal.
"Arggghh! siapa sih yang menaruh bola kelereng di sini hah?!" teriaknya entah pada siapa. Ia tak mengingat, jika dirinya lah yang menyebarkan kelereng- kelereng yang sama, kemarin untuk menjebak Elena. Dan kelereng itu juga yang membuatnya terjatuh. Senjata makan tuan.
"Aduuhhh .... bokong ku.Sialan!" ia merengek, malu menjadi satu.Ini definisi sudah jatuh tertimpa tangga namanya.
"Apa kalian lihat- lihat hah?!" sentak Mona melotot, membuat dua pelayan tersebut segera ngacir meninggalkan nya.
Mona lantas berdiri dengan terseok-seok memegang bokongnya yang terasa nyut-nyutan. Apes- apes.
...***...
Bruk! ibu dan anak itu langsung terduduk di sofa sambil mengibaskan- ngibaskan tangan.
"Hufft.Ini benar-benar gila, semua tangan ku rasanya tak bisa di gerakan setelah membersihkan seluruh belakang mansion dan gudang sendirian. Erickson benar-benar kurang ajar!" desis Sarah sambil menyeka keringat di pelipisnya, mengeluh setelah seharian ini berkutat untuk menyelesaikan hukumannya.
"Kamu sendiri kenapa terlihat kusut begitu?" tanya Sarah, pada putrinya setelah mendengar dengusan kasar dari Mona.
"Sama mom. Hari ini juga aku apes, bokong ku rasanya mau patah karena terjatuh di lantai tadi."
__ADS_1
"Sungguh, kenapa rasanya seharian ini kesialan terus menimpa kita?" adu Mona kembali.
"Ya, semua kesialan kita ini tentu berakar dari si kumuh, Elena itu." Sarah mengetatkan gigi dengan gemuruh kemarahan yang coba ia tahan.
"Ggrrr, aku ingin segera mengusir dia dari sini mom. Kapan sih rencana mommy itu di eksekusi?"
"Sabar, kita tunggu sampai besok. Kita harus memastikan Erick tidak sedang berada di samping Elena. baru rencana ini bisa kita jalankan."
...***...
Keesokan nya, seperti sedang tertimpa durian runtuh untuk Sarah dan Mona. Pagi itu, di meja makan Erick mengumumkan akan pergi untuk urusan bisnis nya, ke luar kota selama tiga hari. Mereka mengetahui nya karena Erick berpesan untuk menjaga mansion selama ia tak ada.
"Ini bagus mom ..." Mona berbisik pada ibunya, Sarah menimpali dengan seringai penuh makna. Yang membuat mereka senang tentu saja Elena tak ikut dalam perjalanan bisnis Erick,dan mereka berdua terpisah. Ini adalah berita yang sangat bagus.
***
"Kau yakin tak mau ikut?" tanya Erick pada Elena. Mereka sedang ada di kamarnya kini.
Elena tersenyum manis. "Mas saja. Aku takut hanya akan merepotkan mas nanti. Toh sekarang sudah ada Zidan yang menggantikan tugas ku." Elena tertawa jenaka.
Erick mendesah pelan. "Baiklah. Tapi kamu tidak apa di mansion sendiri?"
Elena menggeleng- geleng, lucu. "Mungkin aku akan merindukan mu. Tapi kan cuma tiga hari, jadi tidak apa-apa."
Erick tak bisa menahan kegemasannya, apalagi ketika jemari Elena terlihat bermain-main di kancing kemejanya. Sontak Erick menangkup wajah Elena dengan kedua tangannya, dengan sengaja menekan dua pipi wanita itu hingga bibirnya ikut mengerucut.
"Apwa yang mas lakukan." suara Elena terdengar tidak jelas karena bibirnya yang manyun karena di tekan kedua pipinya, ulah Erick.
"Kau terlihat semakin menggemaskan jika seperti ini, persis seperti Donal bebek," ucap Erick dengan bibir berkedut menahan senyum.
Susah payah Elena melepaskan jeratan tangan pria itu di wajahnya. "Sakit tahu." Elena cemberut. Suami usilnya itu malah tertawa membuat Elena semakin menggelembungkan pipi.
Lekas Erick mendekap tubuh mungil Elena dalam pelukan hangat. Menghidu aroma vanili khas sang istri dalam-dalam lantas merekam dalam otaknya agar sewaktu- waktu bila rindu ia bisa mengingatnya. Karena baginya tiga hari itu sangatlah lama.
__ADS_1
"Aku pasti akan merindukan Donal bebek- ku ini." seru Erick membuat Elena tersenyum geli lalu semakin mengeratkan pelukan mereka.