Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 114


__ADS_3

Erick berjalan cepat setengah tergesa-gesa masuk menuju mansion. Matanya berkilat tajam dengan dada kempas- kempis menahan amarah yang kuat.


"Semua konspirasi ini di rencanakan langsung oleh nyonya Sarah. Mereka berdua lah yang telah membayarku dengan sejumlah uang besar untuk menjebak Elena dan mengambil foto mesra dengan nya."


Penjelasan Vicky masih terngiang-ngiang di otak Erick, seperti sebuah film dokumenter yang terus di putar, setiap perkataan Vicky masih ia ingat jelas seolah mendidihkan darah yang mengalir di sekujur tubuhnya. Tak menyangka dengan semua ini, bagaimana bisa selama ini keluarga nya sendiri yang telah menusuknya.


"Aku tak akan pernah memaafkan kalian?!" gumamnya merutuki dengan geraman.


Sampai di ruang aula utama yang luas, semua tampak terlihat lenggang dan sepi. Tak ada keberadaan Sarah dan Mona yang tengah di cari Erick tersebut.


"Di mana mereka?" mata Erick menyapu ke seluruh penjuru mansion.


Salah satu maid yang tengah bertugas lewat sambil membawa sapu dan serokan, Erick menghentikannya.


"T- tuan Erick. Ada apa tuan?" tanya maid itu setengah tersipu, karena bahu nya yang tak sengaja di sentuh oleh tangan Erick.


"Kau tahu di mana Nyonya besar dan Mona?" tanya Erick.


"Oh, nyonya besar dan nona Mona?"


"Ya!"


"Mereka pergi tuan," jawab maid itu.


"Pergi ke mana?" tanya Erick dengan mata mendelik.


"Saya kurang tahu. Yang pasti setengah jam lalu saya melihat nyonya besar dan Mona keluar bersama menggunakan mobil Ferarri milik tuan besar."


"Shiit!" Erick mengumpat. Dia kecolongan, apa dua wanita itu berusaha kabur? tak bisa di biarkan lagi.


"Baiklah, kau boleh pergi!"


Maid itu mengangguk patuh, lalu melewati Erick dengan menundukkan kepalanya.


Sekonyong-konyong, Zidan dari arah berlawanan datang menghampiri.


"Tuan, saya baru mendapat informasi, ternyata nyonya Sarah dan nona Mona, pergi ke kota B untuk bertemu nyonya Elena."


"Apa?!" Erick memekik terkejut.


"Dari mana kau dapat informasi itu?" lanjutnya.


"Saya tahu dari ... non Clarissa." jawab Zidan.

__ADS_1


Di tempat lain, tepatnya di vila yang menjadi tempat tinggal Erick di kota B. Clarissa terkejut dengan kedatangan Sarah dan putrinya Mona yang secara tiba-tiba.


Terlebih saat ini Mona dan Sarah terlihat menyeramkan di mata Clarissa, entah apa bedanya, namun Clarissa seperti bisa merasakan getaran mengerikan dari tatapan ibu dan anak itu, terlebih di vila hanya ada dua seorang, demi membunuh rasa gelisah nya, Clarissa menelpon Zidan dan memberitahukan jika Mona dan Sarah ada di sini, agar Erick bisa cepat kembali dan dia tidak merasakan kengerian ini.


"Ekhem, sebelumnya apa yang membawa kalian kesini? tante, Mona?"


"Jangan basa-basi Clar!" sentak Sarah, wanita berusia enam puluhan yang selalu terlihat fashionable itu menggeram, seolah sedang menggertak Clarissa.


"A-apa maksud tante?"


"Kami kecewa padamu kak." Mona menjawab. "Padahal sudah kita nasehati agar kau bisa berubah, jangan terus menggunakan hatimu yang sok suci itu, sekali- kali cobalah pakai logika di otak mu, tapi kau tetap saja tak bisa mengerti. Lihatlah? karena kau tidak serius berjuang kak Erick tetap saja tak bisa berpaling ke pada mu, dan tetap mengejar Elena si kumuh itu. Apa kau tidak merasa sia-sia seperti ini terus?!" ucap Mona panjang lebar.


"A- aku sudah melakukan yang ku bisa. Erick tetap menuruti keinginan ku dan mengijinkan ku untuk tinggal di sini bersama nya," ujar Clarissa.


"Lalu, kau hanya akan berdiam di sini dan tidak melakukan apa-apa?"


"M- maksud kalian, melakukan apa?" tanya Clarissa tak mengerti.


"Ya melakukan jebakan agar Erickson bisa menjadi milik mu," ucap Sarah berapi-api, geram dengan kepolosan yang di miliki Clarissa. Percuma dia mencuci otak wanita itu sedangkan Clarissa saja memang tak pandai untuk berbuat jahat.


"Jebakan? kalian gila, aku tidak akan mungkin melakukan itu pada Erickson!" tegas Clarissa menolak.


"Huh, jangan coba untuk sok suci deh kak." Mona mendengkus. "Di dunia ini segala sesuatu tidak akan mungkin di dapat tanpa usaha. Jika kakak tetap terus berdiam diri begini tanpa melakukan apapun, selamanya kak Erick tak akan pernah menjadi milik mu, dan tetap saja pemenang nya adalah Elena."


"Tapi bagaimana caranya? agar aku bisa memiliki Erick seutuhnya."


"Oh astaga wanita ini lugu sekali, ck, ck." Mona membatin.


"Gampang kok kak, ucap Mona. "Iya kan mom?" gadis itu menatap Sarah, ibunya.


"Tentu saja, kau hanya perlu mengikuti rencana kami."


"Apa itu?" tanya Clarissa, mulai terlihat antusias.


"Eits ... tidak segampang itu." Sarah menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajah Clarissa, wanita mengerling.


"Sebelum itu kita harus terlebih dahulu memusnahkan penghalang besar antara kau dan Erick."


"Maksud kalian Elena?"


"Yap. Kita harus menyingkirkan nya lebih dulu, jika ingin hubungan mu dengan Erick berjalan mulus."


"Mungkin kau tahu Clar. Katakan pada kami di mana tempat tinggal Elena saat ini?"

__ADS_1


...----------------...


Wangi semerbak harum menguar, Elena baru saja membuka oven dan membawa satu loyang berisi kue pie susu dari panggangan.


Di meja pantry, nampak Siska dan Tiara yang tengah asyik memberi hiasan vinili dan buah-buahan di atas pie susu yang sudah dingin, sesekali mereka bercanda dengan mengoleskan krim di hidung masing-masing, membuat Elena tertawa melihatnya.


Suara dentingan lonceng yang di letakkan di depan pintu berbunyi, pertanda ada yang masuk ke dalam tokoh.


"Oh ada pelanggan datang." Siska segera saja menegakkan tubuhnya, bersikap profesional di depan meja kasir.


"Selamat datang di cempaka bakery, hari yang indah untuk menyantap sepotong kue yang lezat." Siska tersenyum ramah setelah mengucapkan slogan yang telah ia temukan untuk menyambut setiap pelanggan yang datang.


"Wow, jadi ini toko kue yang sedang eksis di kalangan para warga. Ku dengar toko kue ini baru saja buka tapi sudah berhasil menyita perhatian banyak orang. Ternyata benar seperti yang selalu ku dengar, toko kue ini selain memiliki desain interior yang aesthetic dan tampilan kue-kue nya yang cantik, kasir nya pun ramah dan menyenangkan."


"Wah, terimakasih atas pujian anda." Siska menunduk seraya tersenyum lebar.


"Ada yang ingin anda beli?"


"Tentu saja." pelanggan itu tersenyum lantas melihat- lihat bermacam-macam kue, roti dan cookies di balik kaca etalase.


"Oh, aku ingin red velvet ini ya dan juga cup muffin ini," tunjuknya pada pesanan yang di inginkan.


"Baiklah, akan saya bungkus kan." sahut Siska sedikit lantang. Elena tersenyum bangga melihat bagaimana Siska yang begitu cakap dan bersemangat saat melayani pembeli.


"Ini pesanan anda." Siska memberikan tote bag berwarna pastel dengan logo cempaka bakery terpampang yang mana di dalamnya kue pesanan si pelanggan telah di bungkus kan.


"Baiklah, terimakasih ya." pelanggan itu memberikan sejumlah uang yang sudah tertera di setiap kue yang ia beli, lalu mengatakan pujian atas pelayanan Siska yang baik lalu pergi ke luar toko dengan hati riang.


"Hufft ... jadi seperti ini ya melihat orang tersenyum bahagia karna kinerja kita. Sangat membanggakan." gumam Siska menerawang ke luar, Elena menepuk pundak nya.


"Kerja bagus." puji Elena.


Siska menarik dua sudut bibir. "Terimakasih bos."


Elena tergelak lantas tertawa lalu berlalu kembali untuk menyelesaikan pekerjaan tertunda.


Pun Siska yang hendak beranjak dari tempat kasir namun suara lonceng berbunyi lagi bersamaan dengan suara derit pintu yang di buka kasar.


Siska menoleh hendak menyiapkan senyum terbaiknya kembali untuk pelanggan yang datang, namun segera urung ia lakukan setelah tiga wanita yang kini ada di hadapannya tersenyum meremehkan.


Wanita yang di tengah maju bersikap dada dengan gaya arogan.


"Di mana Elena? kami ingin bertemu dengan nya?" ujar Mona dengan senyum sinisnya.

__ADS_1


__ADS_2