Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 42


__ADS_3

Hueek!


"Minuman apa ini? kenapa teh rasanya asin?" nyonya Sarah melepehkan kembali teh yang sempat ia minum, sudah susah payah Elena membuatnya Setelah sebelumnya terjatuh. Terlihat jelas pipi Elena yang di pakaian salep juga sekitar lingkaran matanya, namun nyonya Sarah sama sekali tak peduli dan tak maj repot-repot bertanya kenapa.


"Benarkah asin? tapi seingat ku, aku menambah kan gula dan bukan garam, kenapa asin?"


"Ya, mana ku tahu, coba saja jajal sendiri." sungut nyonya Sarah.


Hati Elena berdenyut sakit, ia mencoba meminum teh buatannya itu dan benar saja memang asin hingga tak berhasil ia telan. Elena mengernyit heran, aneh tak mungkin ia salah menaruh garam dan buka gula.


Sementara Mona pun datang, melihat Elena kebingungan ia menyeringai. Tentu semua ini adalah rencananya, ia memerintahkan Tika untuk diam- diam menaruh banyak garam di teh yang sudah Elena buat. Dan bom! seperti dugaannya ini sangat menyenangkan.


"Mmm, aku mulai meragukan mu, mungkin kah kau sama sekali tak mengerti urusan dapur?" tanya nyonya Sarah, menyudutkan.


"Sudah tentu mom. Kan sejak dulu pekerjaan nya sebagai sekretaris yang hanya sibuk berkutat di pena dan kertas, mana tahu kakak ipar soal tugas seorang isteri, ya kan?" imbuhan Mona yang semakin menyudutkan membuat Elena semakin tertunduk.


"Huh,apa mungkin kamu mau menikah dengan Erickson pun itu semata-mata demi hartanya?" tuding kembali nyonya Sarah.


"Tidak." Elena segera mengelak. Entah dari mana ia punya keberanian untuk membela diri kali ini.


"Waw, langsung menyangkal rupanya." terhenyak nyonya Sarah lalu wanita itu berdeham pelan.


"Kalau begitu buktikan jika memang perkiraan ku salah."


Tanpa sadar Elena menelan saliva kasar, entah kenapa ada aura mengintimidasi yang mendadak mencekiknya.


"Kau kan seorang wanita, istri, ibu rumah tangga." Ketiga kata itu di tekankan oleh nyonya Sarah. "Masa iya membuat teh saja tidak bisa, apalagi memasak?"


"Aku bisa memasak." jawab Elena cepat.


"Oh ya." nyonya Sarah menaikan satu alis, mencebik. "Kalau begitu buktikan padaku. Anggap ini adalah latihan mu sebagai calon penerus nyonya mansion ini. Setidaknya kau tahu kewajiban sebagai seorang istri."


"Dan buktikan jika kau memang bukan menikahi Erick hanya karena harta?" mata nyonya Sarah berbicara saat mengatakan itu, berkilat tajam juga penuh misteri.


"Baik.Saya akan buktikan jika saya menikah dengan putra anda bukan karena harta atau apapun. Saya bukan wanita materialis seperti dugaan anda," ucap Elena diplomatis.


Nyonya Sarah sekilas terperangah. "Ku akui keberanian mu kali ini."


Berdeham kembali nyonya Sarah menegakkan punggungnya dengan cara anggun. Wanita itu memang selalu terlihat elegan dan penuh intimidasi.


"Baiklah. Cara membuktikan nya adalah dengan, buatlah makan malam mewah untuk keluarga ini, biarkan kami menilai bagaimana kualitas mu sebagai seorang istri dan nyonya Davidson yang terhormat."


"Baik. Saya menerima tantangan ini," ujar Elena menyanggupi. Ini bisa jadi untuk pembuktian dirinya, yang selama ini selalu di pandang sebelah mata hanya karena tidak sederajat dengan mereka.

__ADS_1


"Baiklah.Aku tak sabar untuk menantikan nya," tukas nyonya Sarah.


...***...


"Amazing mom, tadi itu hebat. rencana apa yang sedang mommy susun kali ini?" tanya mona setelah kepergian Elena beberapa saat lalu.


"Tenang honey, kau akan melihat sendiri nanti." nyonya Sarah tersenyum jemawa.


"Oh ya,kau tahu penemuan hebat apa yang sudah mommy temukan?" nyonya Sarah terlihat berbinar senang.


"Apa itu mom?" tanya Mona penasaran.


"Taraaa!" nyonya Sarah menunjukkan layar ponsel mahalnya, di saat itulah mata Mona terbelalak lebar melihat sebuah foto yang ada di dalamnya.


"Ini si kumuh Elena? siapa pria di sampingnya mom?!"


Yang Mona lihat adalah foto Elena dengan seorang pria tanpa jarak dengan pose lumayan mesra.


"Mommy tidak tahu siapa pria nya, tapi mommy menemukan foto ini saat dengan iseng membuka ponsel wanita itu yang masih keadaan menyala, karena penemuan ini bagus mommy kirim ke ponsel mommy." terang nyonya Sarah.


Mona nampak berfikir lalu kedua matanya kembali terbelalak. "Mom, apa mungkin pria itu kekasihnya si wanita kumuh?"


"Itu bisa jadi, tapi mungkin sekarang sudah jadi mantan."


"Karena tidak mungkin wanita seperti si kumuh itu bisa berkhianat di belakang Erick."


"Tapi bisa saja kan mom. Tidak ada yang tahu betapa liciknya si Elena kumuh itu."


"Tetap saja insting mommy mengatakan mereka hanya sekedar mantan pacar. Tapi apapun itu kita bisa memanfaatkan pria ini untuk rencana kita kedepannya."


Mereka saling berpandang dengan senyuman licik.


"Iiiih, bener banget mom. Mommy cerdas deh, tapi bagaimana caranya mom?" tanya Mona kembali, terlihat sangat excited hingga melupakan kesedihannya tentang kandasnya hubungan ia dengan Johson.


"Kau tenang saja, selalu ide cerdik di dalam sini," ujar nyonya Sarah mengetuk jemarinya di kening.


Mona terlihat riang tak sabar dengan ide yang akan mommy nya berikan.


...***...


Hari sudah berganti sore, jingga nampak menggantung di atas cakrawala.


Di pantry dapur yang terdapat enam maid berjejer juga bik Surti dan pak Pandu sama-sama sedang memperhatikan nyonya muda mereka sedang memasak dengan begitu tekun.

__ADS_1


Demi menyanggupi tantangan dari ibu mertua nya, Elena melakukan semua hal dalam memasak makan malam mewah untuk keluarga ini seorang diri. Apalagi nyonya Sarah sempat me-request berbagai menu makanan berbeda dan dengan tingkat memasak yang susah dan itupun dia akui sendiri oleh bik Surti sebagai kepala dapur, yang bertanggung jawab untuk masakan di mansion ini.


"Nya, apa gak mau kita bantu? bikin menu makanan yang di pinta nyonya besar itu tidak mudah Nya, setidaknya biarkan kami ikut membantu," ucap bik Surti yang kasihan melihat perjuangan Elena begitu kerja keras. Apalagi nyonya Sarah pun tak luput meminta agar Elena memasak dengan porsi yang besar dengan alasan agar para penghuni lain mansion juga bisa mencicipi masakan buatan Elena.


"Tidak apa-apa, aku masih bisa menghandle nya seorang diri."


"Tapi yang di minta nyonya Sarah menu makanan nya hampir sekuali besar, pasti nyonya muda akan kesulitan untuk membuat nya," kelit bik Surti masih berusaha meminta nyonya muda nya itu agar mau di bantu.


Elena berhenti sejenak dalam mengadon bahan yang akan ia goreng, menoleh sebentar ke arah bik Surti ia tersenyum lembut.


"Bik. dalam hal ini, bukan hanya tentang siapa yang memasak tapi juga pembuktian dan tekad. Mereka ingin memakan masakan ku, maka aku harus memasaknya sendiri."


Bik Surti menghelat nafas, mengenal Elena bukan sehari dua hari tapi tiga tahun lebih. Sebelum menjadi istri Erick, bik Surti sudah mengenal Elena sebagai asisten pribadi yang cekatan dan bertanggungjawab. Ia tahu bagaimana rendah hati juga tangguhnya gadis itu.


"Baiklah. Tapi kalau nyonya muda kesulitan jangan sungkan meminta bantuan," ucap bik Surti, ia dan Elena memang sudah akrab,hingga tak pernah ada canggung di antara mereka.


"Iya bik. Terimakasih ya."


...***...


Elena menghela nafas lega nan panjang setelah kerja kerasnya sudah membuahkan hasil. Masakannya kini tinggal siap untuk di hidangkan.


Bik Surti yang senantiasa ada di sampingnya pun bersorak riang. "Waaaah, pasti enak- enak ini Nya." ia bertepuk tangan.


Elena tersenyum, ia kemudian mengambil setengah sendok masakan nya untuk mencicipi. Memasukkan ke mulut dan mengecap cukup lama Elena semakin melebarkan senyum. "Rasanya pas."


"Enak Nya?" tanya bik Surti tak sabar.


Elena mengangguk. "Bibi mau coba?"


"Hehe, boleh non?"


Elena mengangguk, lalu bik Surti mencicipi sedikit. "Waaaah inimah Perfect, nyonya muda keren, udah sekelas koki."


Elena tertawa dengan pujian itu. "Ya udah tolong siapkan piring ya bi, bantu saya untuk menyajikan."


"Baik Nya."


Ketika Elena dan bik Surti kini sedang berkutat dengan menyiapkan meja makan, tanpa mereka ketahui ada dua orang yang diam-diam menyelinap ke dapur.


Mereka tampak mengendap-endap, menelisik ke sekitar sangat berhati-hati.


Saat tepat menuju masakan yang sudah di buat Elena yang masih berada di atas kompor, mereka menyeringai. Lalu mulai menaburkan sesuatu di dalam wadah kecil yang mereka bawah, ke dalam semua masakan itu.

__ADS_1


__ADS_2