Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 129


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹


Elena semakin tergugu di pelukan Erick, ia meletakkan wajahnya di pundak pria itu, Erick seolah bisa merasakan dengan sangat jelas beban yang di pikul di kedua pundak gadis itu sungguh sangat berat, beberapa kali Elena menarik nafas panjang, lalu mengeluarkan nya dengan susah payah berusaha agar sesak di dadanya bisa sedikit berkurang.


Melihat semua ini, membuat hati Erick ikut berdenyut sakit. Tak rela rasanya melihat sang istri menangis hingga tersedu-sedu, tapi apapun itu pasti telah terjadi sesuatu hingga Elena begitu bersedih seperti ini.


Perlahan tangan kekar Erick terulur, setelah sekian lama mengumpulkan keyakinan dulu dalam hatinya, Erick balas memeluk punggung Elena dengan usapan lembut guna menyalurkan kehangatan dan kekuatan untuk wanitanya.


Detik demi detik mereka hanyut dalam perasaan satu sama lain. Setelah cukup lama terisak Elena melepaskan pelukan.


Erick mengusap ujung mata Elena yang berembun, terlihat pipi dan ujung hidung gadis itu memerah setelah tangisnya, Erick tersenyum lembut.


"Ada yang ingin kamu katakan sayang?" ujar Erick, baru mengutarakan pertanyaan setelah di rasa sang istri lebih baik.


"Aku tak punya ayah," ujar Elena menggeleng, tiba-tiba saja dan cukup aneh membuat Erick terkejut.


Menghela nafas berat, Elena berucap lagi. "Pria itu bukan ayah ku. Dia sudah meninggalkan ku sejak aku bayi, kenapa dia tiba-tiba datang lagi setelah aku susah payah melupakannya, terseok-seok aku menata kehidupan ku tanpa ada rasa kasih sayang sedikit pun darinya, dia dengan seenaknya datang lagi setelah aku berhasil berdiri dengan kaki ku sendiri."


"Apa yang kamu ucapkan sayang? adakah yang mengganggu dirimu?"


Elena menggeleng kan kepala kuat-kuat. "Aku tak ingin mengingat nya. Masa kecil ku yang buruk, ayah yang meninggalkan kan ku karena menganggap aku penyebab ibu meninggal, aku tak ingin mengingat nya, sudah cukup rasa sakit ku selama ini, kenapa Tuhan seolah tak berhenti untuk memberikan ku cobaan, apa salah ku?


"Jika di dunia ini aku hanya mengalami penderitaan, untuk apa aku di lahirkan?"


"Sssst! jangan bicara seperti itu, dear." Erick meletakkan jari telunjuk di bibir, menggeleng pelan. "Kau berharga, kamu pantas untuk hidup. Kamu di lahirkan pasti memiliki alasan, yaitu membuat semua orang bahagia. Hanya saja Tuhan kadang memberikan kita cobaan untuk membuat kita menjadi lebih kuat, bukan berarti Tuhan tak sayang.


Jangan bilang seperti itu lagi oke? kamu berharga, terutama untuk ku, kamu sangat berharga."


Elena tak tahu lagi harus berkata, rasa bergejolak kuat di hatinya berangsur melonggar ketika ia mencurahkan isi hatinya pada Erick.


Untuk beberapa saat mereka hening, saling mengutarakan perasaan terdalam lewat tatapan mata.


"Terimakasih sudah mendengar kan ku," kata Elena, ia menggigit bibir bawahnya, Erick segera mencegah.


"Jangan di gigit, nanti bisa luka." Erick menggeleng, dengan jempolnya ia kemudian mengusap perlahan bibir Elena, ada desir aneh yang sama-sama di rasakan oleh sepasang insani itu saat ini.


Keduanya saling beradu tetap, sangat lekat dan begitu dalam, tak tahan dengan tatapan Erick yang kian mendominasi, Elena segera memalingkan wajah.


"Maaf jika merepotkan mu karena aku menangis di pundak mu," ucap Elena, pelan.


"Tidak apa-apa. Sudah ku bilang kan, aku akan selalu ada untuk mu."

__ADS_1


Mereka berdua sama-sama bergeming untuk beberapa waktu.


Hening menyelimuti lagi.


Kemudian Erick berucap lagi, dengan suara bariton nya yang terdengar parau.


"Apa tidak ada sedikit pun kesempatan lagi untuk ku Elena. Jujur aku ingin kamu atau lebih tepatnya kita saling terbuka, tidak berdiam diri saja dan saling memendam perasaan seperti ini. Kau tahu apa yang paling penting dalam sebuah hubungan selain kepercayaan?"


Kini Elena mau menoleh kembali menatap pria itu setelah mendengar apa yang ia ucapkan.


"Komunikasi," imbuh Erick kemudian. "Kamu sadar selama ini kita selalu menghindar, entah itu karena ego masing-masing atau rasa sakit yang belum bisa termaafkan. Nyatanya kita kurang berkomunikasi untuk saling memahami satu sama lain."


"Kamu tahu sayang? aku suami mu dan kamu adalah istri ku. Kita masih terikat satu hubungan kuat. Aku bukan hanya ingin mendengar mu menangis saja, tapi bercerita. Ceritakan lah semua keluh kesah mu, apa yang terjadi padamu,apa saja yang telah kamu lewati selama ini. Aku ingin tahu semuanya, bahkan jika kau ingin terus menyalahkan ku bahkan untuk kehidupan selanjutnya, aku akan menerima nya asal kamu selalu di samping ku, sayang."


Erick membuang nafas panjang setelah berucap demikian, ia mengatakannya dengan penuh kelembutan dan pengertian berharap Elena bisa mendengar dan merasakan apa yang tengah di rasakan hatinya.


"Maaf." Elena berucap pelan. "Apa yang kau torehkan padaku terlalu sakit dan kasat mata untuk di jabarkan. Aku mungkin bisa memaafkan mu tapi memberi mu kesempatan kedua?" Elena menjeda sesaat lantas menggeleng. "Aku ... tak yakin."


Erick menerbitkan senyum, ada getir tertangkap saat Elena melihatnya. Erick seperti sudah bisa menebak jawaban yang di berikan wanita itu.


"Tak apa, aku mengerti, aku tak ingin memaksa mu. Kau bilang tak yakin bukan tak bisa kan? mungkin aku harus lebih berusaha dan berjuang lagi untuk cinta kita."


***


Senja semakin terlihat jelas di atas langit. Baik Erick dan Elena sama-sama menoleh melihat warna keemasan yang menghiasi cakrawala terlihat sangat cantik dan menawan.


"Apa kamu bosan?" tanya Erick di sela waktu mereka menikmati keindahan senja sore ini.


"Tidak, mungkin sedikit."


Erick terkekeh mendengar jawaban Elena yang labil.


"Sebenarnya aku kesini berniat untuk membawa kan mu ganti baju dan makanan. Tapi mungkin makanan sudah tak hangat lagi."


"Tidak apa, kamu menangis di bahuku sepanjang hari, jadi makanan itu pun bosan karena sama sekali tak tersentuh."


Elena cemberut. "Apa kamu tak ikhlas saat aku meminjam bahu mu untuk menangis."


"Tidak." Erick bergidik. "kamu yang mengatakan nya, sayang. Jadi bukan salah ku."


"Berhenti memanggilku sayang," sewot Elena.

__ADS_1


"Oh baiklah. Apa kamu ingin aku memanggil mu dengan panggilan lain? misalnya, cinta? atau ay seperti kemarin."


"Tidak!" pekik. "tidak satupun." rasanya ia masih trauma setelah kemarin Erick yang tiba-tiba memanggilnya Ay, itu terdengar alay, seperti ABG saja.


Aww! Erick tiba-tiba mengadu.


Elena tersentak sontak mendekat. "Ada apa? apa ada yang sakit?" cemas Elena.


"Tidak ada. Aku hanya bercanda." Erick tersenyum jahil.


Wajah Elena tertekuk. "Enggak lucu."


"Hahaha maaf. Tapi melihat mu yang panik dan khawatir seperti itu aku jadi senang. Itu artinya masih ada cinta dari mu untuk ku kan?"


Elena diam. Tak tahu harus menyela atau menjawab apa.


"Kenapa wajah mu terlihat murung?" tanya Erick melihat Elena merunduk.


"Sejujurnya aku ingin mengetahui perihal pria yang mengaku sebagai ayah mu itu."


Elena langsung mengangkat wajah, ia menggeleng keras tak ingin di ungkit lagi tentang hal itu.


"Baiklah, aku mengerti. Aku tak akan bicara itu lagi." sahut Erick.


"Bisakah kita melakukan hal lain? aku tak ingin mengungkit itu lagi, aku ingin melupakan nya."


"I'ts okay, aku paham."


"Tunggu, melakukan hal lain, maksud mu?" Erick mengerling, melirik wanita di sampingnya kini dengan jail.


"Apa? m- maksud ku lakukan hal yang lain saja itu kamu lebih baik tiduran istirahat. Jangan berfikiran kottor ya?"


"Hahaha, kamu lucu, aku sama sekali gak berfikiran kottor tuh?"


Elena mencebik dongkol.


"Tapi aku memiliki ide. Untuk menghilangkan kesedihan mu, ayo kita pergi ke tempat yang bagus," ucap Erick tersenyum.


"Kemana?" tanya Elena berkerut dahi.


Tersentak, Elena mendelik saat Erick yang tiba-tiba menarik lengannya, keluar dengan pria itu yang masih memakai piyama rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2