Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 47


__ADS_3

Ruangan berkumpulnya para penghuni mansion kini nampak begitu horor. Aura mengintimidasi dari Erick benar-benar membunuh pasokan oksigen hingga para manusia itu seakan kesulitan untuk bernafas.


"Aku tahu, jika ada yang sengaja menyabotase masakan istri ku kemarin. Hingga masakannya tak enak. Mereka yang sengaja mempermalukan istri ku, sama saja dengan mempermalukan ku. Dan ku pastikan hukuman untuk orang-orang itu akan sangat berat."


Sarah dan Mona saling berpandangan dengan raut wajah pucat, seakan tak ada darah yang mengalir di sana. Tubuh mereka gemetar, dengan isyarat mata, seolah sedang mengatakan 'Apakah kita sudah ketahuan?'


Pun hal yang sama di rasakan Tika dan Sari, kedua wanita itu sudah gemetar hebat di tempat mereka berdiri. Jangan katakan bagaimana ekspresi takut mereka saat ini. Seperti sedang berhadapan dengan malaikat maut.


"Zidan." Erick memanggil sektretaris nya, tak lama pria tampan dengan setelan parlente datang memberikan laptop pada Erick. Mona yang awalnya cemas masih sempat-sempatnya terpesona saat melihat Zidan yang melangkah melewati nya. Ini baru pertama kali ia melihat assisten sang kakak. Kenapa bisa sangat tampan? wanita itu tak berkedip sampai Zidan kembali. Namun segera Sarah dengan gemas menyenggol lengan putrinya itu hingga membuat Mona mengerucut kesal.


"Lihatlah di rekaman layar ini." Erick menunjukkan video laptop pada semua orang yang hadir.


"Mereka pikir tidak akan ketahuan saat dengan cara mengendap-endap, menaburkan sesuatu di masakan Elena ... Kalian pikir aku tidak akan mengetahui nya?" tatapan Erick kini terfokus pada Tika dan Sari.


Kedua pelayan itu terkesiap. Wajah mereka benar-benar mengkeruh. Kejahatan mereka kini sudah terbongkar.


"T-tuan m-muda k-kami ... "


"Tidak ada yang meminta kalian bicara!" bentak Erick.Menutup laptopnya setelah video terhenti dan memberikannya kembali pada Zidan.


"Bisa- bisanya ada yang mencoba berkhianat di mansion ku!" suara Erick meninggi dua oktaf. Menatap ibu tirinya dan juga adik tirinya, lalu para bawahan yang sudah ia percayai menjaga mansion Davidson selama ini.


Berbalik lagi pada Tika dan Sari, Erick menatap tajam. "Katakan, apa motif kalian untuk melakukan kejahatan ini pada nyonya kalian?!"


Tika dan Sari menunduk, mereka memejamkan mata tersentak karena suara Erick yang begitu tinggi.Hingga membuat keduanya tak kuasa untuk membela diri.


"Cepat katakan, jangan bilang kalian mendadak bisu?!" sentak Erick lagi.


Elena maju mendekati sang suami. "Mas, kendalikan dirimu."


Namun nampaknya itu tak berhasil. Erick benar-benar marah kali ini.


"Cepat katakan, apakah ada yang memerintahkan kalian untuk melakukan tindakan konyol itu?"

__ADS_1


Kini Tika dan Sari kompak mengangguk. Erick Sebenarnya sudah menduga siapa pelakunya, tapi ia ingin mendengarkan langsung dari mulut dua wanita itu.


"Katakan siapa dalangnya?" sergah Erick agar keduanya membuka mulut. Namun nampaknya kedua perempuan itu terlihat takut akan sesuatu.


Jelas. karena di belakang Erick saat ini, ada Sarah yang melotot kejam pada Tika dan Sari, agar mereka tidak sampai membuka mulut dan membocorkan namanya. Lewat tatapan nya Sarah sedang mengancam dua dayang- dayangnya itu agar tidak melakukan tindakan bodoh.


"K- kami d-di suruh." Tika nampak bimbang berucap, sedangkan Sari seolah sedang memantapkan hatinya. "Kami di suruh nyonya Sarah, tuan muda." pungkas Sari akhirnya membongkar semuanya.


Sarah semakin melotot berang padanya, namun Sari berusaha acuh. "Maaf Nyonya Sarah, saya tak mau hanya terkena imbas berdua saja." batin Sari balik menatap istri tuan besarnya itu.


...***...


"Erickson, nak. Jangan dengarkan pembantu itu, bagaimana mungkin aku dengan sengaja memerintahkan mereka untuk mengerjai menantuku sendiri? itu tidak akan mungkin."


"Diam." Erick menyahut dingin, ia pun berbalik menatap ibu tirinya tersebut. "Selama in aku menghormati mu semata-mata karena kau adalah istri dari ayahku, Bukan berarti aku bisa mentolerir kesalahan mu ini."


"Kakak, jangan seperti itu pada mommy. Bagaimana pun mommy juga ibumu."


Erick menarik nafas dalam, "Diam Mona. Aku sedang tak bicara dengan mu."


Di mansion ini tentu yang paling berkuasa adalah Erick. Tak ada yang mampu untuk membantah ucapan nya bahkan tuan Rey sekalipun. Apalagi jika pria itu sedang marah, hal tak pernah ia tunjukkan, tapi sekalinya terlihat itu akan seperti singa, si raja hutan yang terbangun dari tidur panjangnya. Tak ada yang bisa menghentikan.


Kecuali memang kini ada seseorang. Elena dengan perlahan mendekati Erick, meraba pundak laki-laki itu, memberikan kenyamanan hingga Erick menoleh.


"Mas, sudah. Tak usah di perpanjang."


"Tidak bisa seperti itu sayang. Mereka harus di beri hukuman."


"Tapi itu sudah berlalu. Biarkanlah." Elena tetap mencoba kekeh. Tentu ia tak suka memperpanjang masalah, menurutnya itu bisa membawa masalah baru lainnya.


"Baiklah. Setidaknya mereka harus meminta maaf pada mu." Erick tak mau di bantah kali ini, hingga Elena tak bisa menyela lagi.


Dengan melipat tangan ke belakang, Erick menghadap Tika, Sari dan ibu tirinya.

__ADS_1


"Kalian bersyukurlah, karena Elena mempunyai hati yang besar untuk tidak memperpanjang masalah ini. Tapi meski begitu kalian tetap harus meminta maaf."


"E-erick yang meminta maaf hanya dua pembantu itu kan? m- mommy tidak?" dengan wajah kaku, Sarah bertanya. Ia tak akan rela merendahkan diri nya dengan meminta maaf pada wanita kampungan itu.


"Siapa bilang? justru mama lah yang harus meminta maaf dengan setulus- tulusnya dengan cara menyalami tangan Elena. Dan hukuman tetap ada untuk mama. Yaitu membersihkan seluruh area taman mansion juga gudang belakang."


"Apa?!" Sarah melotot tak terima. "B- bagaimana bisa kau memberikan hukuman semacam itu pada nyonya mansion ini?"


"Mama lupa? jika nyonya mansion ini bukan hanya dirimu, tapi juga istri ku. Dan mama sudah mempermalukan isteri ku dan ku rasa itu hukuman yang tak terlalu berat dan cukup pantas untuk di jalankan."


Wajah Sarah mengkerut kesal, giginya bergemelutuk tajam.


Tika dan Sari menghadap Elena, meminta maaf padanya.


"Tolong maafkan kami nyonya muda, kami sangat menyesal. Kami berjanji tidak akan melakukan perilaku keji seperti itu lagi."


"Baiklah. Aku memaafkan kalian." Elena tersenyum tulus, menyambut uluran tangan mereka. Seketika itulah Sari dan Tika sadar, betapa mereka menyesal telah membenci Elena tanpa sebab.


Lalu datang Sarah, dengan misuh-misuh ia mensejajarkan diri dengan Elena.


"Mama minta maaf." perkataannya sedikit kasar bahkan tak menunjukkan jika dia menyesal.


"Apakah begitu cara orang meminta maaf?" selah Erick. "Haruskah mama belajar dari dua pembantu itu?"


Ggfrr! Sarah terlihat semakin menekuk wajah. Ia merasa sangat di permalukan di hadapan semua pelayan saat ini.


Mau tak mau ia melembutkan ekspresi dan suaranya.


"Mommy minta maaf Elena. tolong maafkan mommy."


Sungguh ia mual harus mengatakan itu.


"Iya mah, tidak apa-apa aku sudah memaafkan mu," ucap Elena, mengulas senyum.

__ADS_1


"Awas saja kau wanita kumuh, aku akan membalas penghinaan ini." batin Sarah dengan dada bergejolak panas saat menangkap ekspresi Elena yang menurutnya sedang mengejeknya.


__ADS_2