Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 112


__ADS_3

...(Sebelumnya yang sudah sempat baca bab 111, itu salah ya reader 🙏 mohon maaf kalian bisa baca lagi karna udh di revisi. Harusnya bab 111 itu untuk bab 112, tapi othor malah kebalik nyetor nya jadi gak berurutan. Tapi sekarang udah di benerin, jadi bab isi bab 111 itu harusnya untuk isi bab 112 ya reader, bukannya ngulang. Kalian bisa baca lagi bab 111 yang baru yang udh othor revisi update nya, agar paham isi ceritanya....


...Semoga kalian mengerti, terimakasih ❤️🌹)...


...----------------...


Elena berhasil kabur dari kungkungan Erick. Wanita itu segera pergi kembali ke cempaka bakery, toko kue nya. Saat sampai di sana terlihat para tamu sudah pada pergi, Elena menuju ke bagian pemesanan yang di sekat meja panjang, di sana lah ia bertemu dengan Dea juga Zidan yang sepertinya sedang menunggunya.


Erick ternyata memiliki kekuatan super, bagaimana tidak? tak sampai Elena mendekati Dea, Erick sudah berada di sana dan langsung menghampiri Zidan.


Elena sampai terperanjat karna kehadiran pria itu yang tiba-tiba saja.


"Eh, Elena?" Dea kontan saja menyadari keberadaan Elena yang menutup leher dengan sebelah lengannya, kentara pipinya memerah padam, Erick yang melihat terkekeh geli.


Elena melengos begitu melihat Erick yang tengah mentertawakan nya.


"Elen, ada apa?" tanya Dea, bolak-balik ia menatap Erick dan Elena bergantian, sedang dua orang itu tengah saling memandang dengan tatapan sengit.


"Sepertinya ada yang tak beres." batin Dea.


"Tuan, kenapa dengan leher anda? sepertinya ada bekas gigitan?" seru Zidan bertanya sesaat setelah melihat cetakan gigi yang sangat jelas ketika Erick mengalihkan tangan saat menutupi pundak kirinya tersebut.


Untuk sesaat Erick terkekeh membuat Zidan memandang sang tuan dengan raut heran bertanya-tanya.


"Kau benar, ini luka bekas gigitan. Seorang vampir kecil manis yang telah melakukannya," sahut Erick seraya arah matanya tertuju pada Elena, jelas sekali menggoda.


Yang di tatap mendelik tak suka, Elena kembali melengos lalu segera saja menarik tangan Dea menjauh dari sana, dengan jantung yang berdebar-debar tak terkendali.


Ada apa sih Elen?" tanya Dea, bersungut ketika Elena menghentikan langkahnya setelah menjauh dari dua pria itu.


"Kau kenapa? katakan padaku?" Dea jadi penasaran, apa yang telah di lakukan Erick pada sahabatnya. Meski tahu mereka masih berstatus sebagai suami-istri, tapi jika Erick kembali menyakiti Elena baik verbal maupun fisik, maka Dea tak akan tinggal diam lagi.


Elena meringis, netranya bergulir ke bawah antara perasaan malu dan kesal yang bersamaan ketika mengingat kejadian beberapa saat lalu. Tepat ketika menyingkirkan lengan yang menutupi bagian leher panjangnya, terlihat Dea terperenyak.


"Eh itu?" Dea loading untuk sesaat, lalu wanita itu seketika peka dengan bercak merah pekat yang kini ada di sekujur leher Elena.


"Ekhem!" Dea berdeham keras, sepertinya dia mulai menggoda, Elena cemberut.


"Sepertinya aku telah melewatkan sesuatu," ucap Dea menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Shut up, De! jangan menggoda seperti itu?!" sengau Elena.


"Baiklah, baiklah, maaf." Dea justru tertawa melihat tingkah malu-malu meong Elena.


"Tapi sepertinya Erick ganas juga ya? xixixi ... " Dea menutup mulutnya terkekeh geli.


"Dea!" sentak Elena, menahan malu.


"Hahaha maaf, maaf. Ini terakhir deh, janji." Dea berusaha meredam kekehannya, menunjuk hari membentuk huruf V.


Zidan dan Erick entah bagaimana dua pria itu mendadak menyusul, Elena yang membelakangi langsung menoleh ke arah mereka.


Zidan sontak saja melotot ketika matanya tertuju pada leher Elena yang terekspos memiliki banyak ruam merah kebiruan di sana, lalu ia melirik ke ara Dea, wanita itu terkekeh mengangguk-angguk, seperti terkoneksi Zidan akhirnya paham, bibirnya


ikut berkedut menahan senyum, sementara Erick meliriknya dengan tatapan horor.


"Lihat apa kau?!"


"Eh, tidak tuan, tidak apa-apa." sebelum ia di jadikan bebek goreng oleh sang tuan, Zidan buru-buru menelengkan kepala dengan ekspresi lucu yang seolah mengejek.


Tak lama kemudian Marvin pun menyusul, melihat keadaan yang terjadi, entah kenapa seketika langsung ada perasaan tak enak di dalam hatinya.


"Inikah yang di namakan cemburu?" batin pria itu, terlebih saat melihat Elena dan Erick yang nampak curi-curi pandang.


"Dea, aku mau pulang ke vila saja!" tukas Elena.


"Eh tapi? bagaimana dengan Cempaka bakery? ini masih pembukaan toko loh?"


"Gak apa-apa, nanti ada mbok Can dan Siska yang menjaga, aku ingin pulang dulu." pukas Elena, seakan tak ingin di ganggu gugat.


"Tunggu dulu, sayang. Pembicaraan kita belum selesai."


Tak sempat Elena berjalan melewati Erick, tangan pria itu lebih dulu menghadang lengannya.


Elena menoleh menatap nya. "Tak ada lagi yang perlu di bicarakan di antara kita. Dan satu lagi jangan pernah memanggil ku dengan kata 'sayang' karena rasa itu sudah padam sejak dulu!"


Elena menghempaskan tangan Erick lalu berlalu pergi dengan langkah lebar, Erick memandangnya sendu tanpa pria itu ketahui Elena mati-matian menahan air matanya, hingga kini luruh juga membasahi pipi. Dengan langkah kaki yang semakin sempoyongan, Elena memukul pelan dadanya, berharap sesak di dalam sana hilang.


Erick hendak menyusul Elena, di antara mereka masih banyak yang harus di bicarakan. Namun dengan secepat kilat, Marvin menahan pundaknya.

__ADS_1


"Kita perlu bicara, bung," ucap Marvin dengan mata yang seakan menyala-nyala saat tatapan nya di arahkan kepada Erick.


 


Dua orang pria dengan ketampanan dan badan atletis yang sama-sama bisa memikat hati para kaum hawa tersebut, kini seolah sedang berseteru dengan pikiran masing-masing. Mereka duduk bertumpu sikut di atas paha, di salah satu bangku taman.


"Apa yang ingin kau bicara kan pada ku?" tanya Erick.


Marvin nampak bergeming untuk beberapa waktu, pria yang sedang menangkup dagu dengan kesepuluh jemarinya itu kini mulai menoleh pada pria di sampingnya, lalu menegakkan tubuhnya kembali, sambil menatap serius.


"Bahagia kan lah Elena," kata Marvin.


"Kau tidak tahu seberapa banyak peri kecil ku itu mengalami penderitaan sampai saat ini."


Sontak perkataan Marvin membuat Erick terperenyak. Bahkan pria lain pun lebih tahu tentang keadaan sang istri di bandingkan dirinya sendiri.


Erick, kemana saja kau selama ini?


"Erick kau tahu? sejak kecil, Elena adalah gadis yang penakut, dia akan selalu berlindung di balik punggung ku ketika ada sesuatu yang menakutinya. Sejak dulu, aku merasa melindungi Elena sudah menjadi sebuah kewajiban untuk ku."


"Tapi saat ini, mau tak mau suka tidak suka, aku harus menyadari jika hak itu telah berpindah padamu."


Untuk sesaat Marvin menjeda ucapannya.


"Aku berterima kasih karna kau selalu ada sebagai seorang kakak untuk isteri ku. Tapi seperti yang kau bilang, sekarang ada aku, kau tak perlu lagi merasa jika melindungi istri ku adalah sebuah kewajiban."


Marvin justru malah terkekeh dengan ungkapan yang di berikan.


"Kau pikir mudah menghilangkan sebuah perasaan? ingat dulu, aku pernah bilang pada mu jika aku pun mencintai Elena, tapi aku berusaha untuk mengendalikan perasaan itu, aku masih tahu diri bagaimana harus menempatkan diri, ya ... ck, meskipun aku pernah khilaf untuk merebut Elena dari mu."


"Apa?" Erick menoleh padanya dengan tatapan tajam.


"Wow, santai bung." Marvin kembali terkekeh. Berusaha untuk menetralkan ketegangan yang terjadi.


"Aku tahu niat baik mu, tapi di mohon untuk menjaga batasan mu." peringat Erick.


"Yayaya. Sekarang aku mulai sadar, jika kau dan Elena memang tak bisa di pisahkan. Dan aku menyerah untuk berusaha memisahkan kalian."


Erick berdecih lalu menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Intinya adalah Erick, aku sebagai seorang kakak yang selalu menjaga Elena selama ini. Ingin memberikan mu satu kesempatan lagi, tunjukkan jika kau sangat mencintai adikku, aku membantu mu untuk meluluhkan kembali hati Elena. Tapi semua harus kembali lagi padanya, biar kan hati Elena yang menjadi juri nya nanti, apakah kau akan lolos dalam ujian rintangan cinta mu ini atau tidak? ... "


Erick menatap Marvin, lekat. Ia seolah seperti memiliki semangat baru, lalu ia mengangguk mantap. Marvin menepuk-nepuk punggung nya dengan ketetapan keyakinan jika Erick bisa membahagiakan Elena kali ini.


__ADS_2