
"Apa yang coba kau katakan? kau mencoba menghasut ku?!" tuding Erick menatap curiga.
"Bukan begitu." Clarissa menggeleng, air matanya sudah menganak sungai, tak terbendung.
"Aku hanya memperingatkan mu, Erickson. Kita kesini untuk pengobatan mu kan? kenapa harus secepat ini kembali."
Erick menggeleng pelan. "Sudah ku katakan, aku tak memerlukan pengobatan ataupun terapi lagi, yang ku butuhkan adalah Elena."
"Apa yang membuat mu berubah hingga seperti ini, Erickson?" Clarissa mundur satu langkah. "Apa?!" ia berteriak geram, membuat Erick membeliak terkejut karena perubahan sikapnya.
Clarissa tak bisa berfikir jernih lagi, kenyataan jika cintanya tetap bertepuk sebelah tangan meskipun dengan semua yang ia lakukan dan korban kan untuk Erick, laki-laki itu tetap tak bisa membuka hatinya. Malah tetap memilih wanita yang jelas sudah menyakitinya. Clarissa tak bisa menerima kenyataan ini.
"Katakan padaku, apa telah merubah pikiran mu sekarang ini?!"
"Karena perkataan seseorang telah membuka mata hati ku, Clar." jawab Erick dengan tatapan datar. Pria itu sedang berusaha sebisa mungkin untuk tidak meluapkan emosinya juga saat ini, meski sikap wanita di hadapannya kini amat sangat annoying, namun Erick tetap mencoba menyikapinya dengan santai.
"Apa yang dia katakan padamu, katakan juga padaku." sergah Clarissa menantang lewat tatapannya.
"Apa yang dia katakan hingga membuat mu berubah sikap secepat ini?" imbuhnya lagi.
Tak langsung menjawab, Erick justru menghela nafas panjang, ia mencapit pangkal hidung nya dengan perasaan frustasi.
"Clar, kita sudahi pembicaraan tak bermutu ini, juga kendalikan emosi mu."
"Pembicaraan tak bermutu katamu? ini penting untuk ku Erickson!" sentak Clarissa memegang bahu sebelah kiri pria itu.
Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat, lalu Erick kembali mengesah.
"Ada seorang pria tua yang aku temui di sebuah bangku taman, dia mengatakan yang membuat ku akhirnya tersadar," ungkap Erick lalu mengulang kembali apa yang di katakan oleh James, si kakek tua yang mungkin adalah utusan dari Tuhan untuk menyadarkan nya, mengatakan di depan Clarissa.
"Jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang kini berada di samping mu ... " Clarissa mengambil kesimpulan di akhir kalimat Erick.
Wanita itu mengembuskan napas kasar, menggeleng lemah. "Tapi aku juga selalu ada di samping mu Erickson, bahkan sampai saat ini. Apa kau tidak menyadari kehadiran ku juga, alih-alih hanya mengingat Elena di pikiran mu. Apa aku tidak berharga bagi mu, Erickson?!"
"Aku menghargai setiap usaha mu, Clar. Aku sangat berterima kasih karena selama ini selalu ada untuk ku saat-saat masa terpuruk ku. Tapi cobalah untuk mengerti ... aku tak bisa membalas perasaan mu, aku hanya menganggap mu sebagai seorang adik perempuan, sama seperti Mona, kalian sama pentingnya untuk ku," ujar Erick panjang lebar mencoba memberi pengertian pada Clarissa.
__ADS_1
Clarissa terkekeh sumbang. Brak! ia melempar sebuah benda di atas nakas hingga terhempas jatuh membentur tembok.
"Aku tak membutuhkan terima kasih mu, aku juga tak ingin kau menyamakan ku seperti adik mu, yang ku inginkan adalah hatimu, Erickson! hanya hatimu!"
Clarissa memekik semakin keras, tiba-tiba ia memberontak dan menjerit histeris.
Erick segera mendekatinya, Clarissa berubah terisak.
"Kau jahat Erickson, kau kejam!" wanita itu memukul-mukul dada bidang Erick, melampiaskan kesedihan juga amarahnya.
"Listen to me Clar." Erick mencoba menahan, wanita itu menolak untuk di sentuh olehnya.
"Clarissa!" kali ini Erick kelepasan hingga meninggikan suara nya.
"Listen to me, please!" kali ini suara bariton nya terdengar di tekankan, kedua tangan besar Erick masing-masing menangkup wajah Clarissa mengusap kening wanita itu.
"Cinta tak bisa di paksakan Clar, cobalah untuk memahami itu!" Erick menatap nyalak, pandangan keduanya saling beradu.
"Aku hanya menganggap mu sebagai seorang adik yang ku sayangi, tak lebih. Jangan hanya terpaku pada pria seperti ku, kau bisa mendapatkan seorang pria yang lebih baik, yang akan sangat mencintai mu suatu hari nanti." Erick mengangguk kan kepala mantap, menatap mata Clarissa dengan penuh keyakinan dengan perkataan yang di lontarkaannya.
Sementara Clarissa tersendak- sendak mengatur nafasnya, ia menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya coba menerima apa yang Erick katakan meski menurutnya sangatlah susah.
Wanita itu mulai merutuki dirinya sendiri, ia begitu mendambakan Erick, sosok yang selalu ada di ingatannya sejak kecil, pria dingin namun hangat di dalam. Clarissa sangat iri kepada Elena, Kenapa bukan dirinya yang berada di posisi gadis itu? kenapa?!
"Bodoh, aku terlalu mencintaimu, Erickson."
Erick tak berkata lagi, ia kemudian dengan cepat mengambil kopernya, menarik pegangannya dan menderek nya seraya melangkah pergi, meninggalkan Clarissa yang mulai terduduk mengenaskan dengan satu persatu air matanya kembali membasahi pipi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat lain, Elena tengah sibuk berada di pantry, berkutat di wajan dan panci. Bersama mbok Candra yang menemaninya memasak. Di vila ini hanya tinggal ia dan keluarga pak Jaka yang tinggal di sebuah ruangan di ujung vila, sebagai seorang penjaga pak Jaka harus selalu stand by dan siap siaga itu sebabnya pria itu juga mengajak istri dan anaknya ikut serta tinggal di bagian ujung vila yang telah di siapkan Marvin.
Kini Ketika vila itu mulai di tempati oleh Elena untuk waktu yang tak di tentukan, mbok Candra, isteri pak Jaka dan putrinya pindah ke vila utama untuk menemani Elena selama menetap di sini.
Elena kini tengah membuka bungkusan belanjaan berisi bahan membuat kue yang belum ia sentuh sejak tadi.
__ADS_1
"Nona Elena mau buat sesuatu ya?" mbok Can yang sejak tadi menyimak ikut bergabung, setelah membereskan piring kotor selesai mereka makan.
"Iya mbok. Saya mau coba buat kue," ucap Elena, menoleh pada perempuan itu, tersenyum.
"Wah, boleh saya bantu non?" riang mbok Can.
"Tentu saja." Elena semakin mengembangkan senyumnya.
Setelah siap dengan bahan-bahan di atas meja juga mixer dan peralatan yang di butuhkan lainnya, Elena siap mengeksekusi. Ia memakai apron dan mengikat simpul rambut panjang nya.
Kali ini ia memutuskan untuk membuat cookies dengan resep yang sudah ia temukan di laman web browser google.
Mbok Can bertugas membantu nya sedikit- sedikit. Mereka saling mengobrol dan bercanda di sela kegiatan membuat kue tersebut.
Satu jam kemudian.
Ting! suara dentingan oven bertanda cookies sudah matang berbunyi, Elena dan mbok Can yang sejak tadi menanti pun memasang wajah berseri.
Dengan memakai sarung tangan lebar, penuh kehati-hatian Elena mengambil loyang berisi cookies matcha, rasa kesukaannya.
"Wah, warna nya cantik sekali non." puji mbok Can.
"Rasanya juga pasti enak."
Elena tersenyum mendengar nya, setelah di hiasi oleh bubuk matcha, dan sudah di diamkan beberapa saat. Ia mempersilahkan mbok Can untuk mencobanya.
"Emm ... mantul! mantap betul ini mah non!" seru mbok Can menghadiahkan dua jempol pada Elena setelah mencicipi cookies matcha tersebut.
Elena tertawa melihat reaksi wanita paruh baya itu.
"Coba di buat bisnis non, pasti bakal laris manis. Apalagi warnanya cantik-cantik gini, anak-anak pun suka."
Mendengar saran mbok Can, Elena merenung mencoba berfikir lagi.
Benar. Masih ada tabungannya selama ini yang tersimpan di bank. Inilah saatnya ia bangkit kembali dari keterpurukan. Membuat toko kue mungkin adalah solusinya.
__ADS_1
***