Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 65


__ADS_3

Erick nampak begitu menikmati apa yang dia lakukan, sesekali ia akan melirik ke arah Elena demi melihat respon wanita itu.


Akan tetapi Elena tidak memperdulikannya, ia biarkan Erick dengan kesenangan nya, perempuan itu melipir pergi dari tempatnya berdiri, hal tersebut membuat Erick berang bukan kepalang, karena merasa gagal memanasi wanita itu.


"Apa sebenarnya dia mencintai ku atau tidak?"


Batin Erick penuh tanda tanya, pasalnya tak ada respon cemburu sama sekali dari istrinya itu, hal tersebut kemudian membuat Erick percaya, jika Elena sama sekali tak pernah mencintainya.


Erick berdecak kesal, salah seorang wanita bergaun seksi mendekati nya, Erick memang dengan sengaja mendatangkan para wanita penghibur dari club untuk datang kesini, ia merencanakan semua ini sekedar ingin mengetes Elena, dan hasilnya sangat jauh dari perkiraannya dan itu menyakitinya.


"Ada apa tuan? kenapa muka mu murung begitu?" tanya salah satu kupu-kupu malam yang Erick sewa, tangan wanita itu dengan lancang bergerilya di sekitar lehernya, Erick yang sedang dalam mode marah hanya membiarkannya saja, sampai mana wanita itu dengan kelancangannya.


"Bukankah di sini terasa dingin tuan?" wanita bertubuh sintal bak gitar spanyol itu dengan sengaja menggoda Erick, membisikkan kata-kata rayuan dengan nada sensual mendayu. Ia dekatkan buah dadanya yang monttok, menggesek-gesekannya ke dada Erick yang bidang.


"Mau saya hangatkan? saya siap melayani bahkan sampai pagi datang," bisik kembali wanita bermake-up tebal itu. "Tubuh saya sekarang milik anda, mainkan lah sepuas nya," tanpa tedeng perasaan malu ia berkata demikian, begitu lincah ia menggoda, jika saja yang ia rayu adalah pria biasa dengan nafssu settan akan sangat mudah untuk di gaet, tapi pria ini adalah Erick, yang tak akan pernah sudi tubuhnya di jamah atau menjamah tubuh wanita sembarangan.


Plak! tiba-tiba saja tamparan mendarat di pipi mulus wanita itu, membuat semuanya terkesiap kaget.


Panas dan nyeri wanita itu rasakan, ia spontan memegang pipinya yang baru saja di tampar Erick.


"Apa yang anda lakukan tuan!" belum selesai keterkejutannya, wanita itu kembali di buat syok dengan sebelah tangan Erick yang kini sudah mencengkeram belakang lehernya.


"Kau begitu pandai merayu, hingga tidak tahu siapa yang kini coba kau taklukkan?"


Wanita itu meringis ngeri, wajahnya pias seketika. "M-maaf kan saya tuan ... " ia bergumam lirih, tak menyangka ia telah salah merayu seorang pria.


"Jika kau memang begitu pandai di atas ranjang, buktikan padaku." Erick tersenyum miring sambil sebelah tangannya meraba tengkuk wanita tersebut.


Ia terpikirkan sebuah ide.


...***...


"Nyonya muda, anda di panggil tuan muda untuk datang ke kamar nya."

__ADS_1


"Ke kamar tuan? untuk apa?" tanya Elena, ia sedang duduk termenung di pinggir kasur pun berdiri setelah seorang maid datang melapor padanya.


Erick memintanya untuk ke kamar pria itu? Elena tentu merasa heran, bukankah laki-laki itu sedang asyik berpesta di bawah?


"Tuan muda meminta anda untuk membuatkan nya susu nyonya ... dan minta anda untuk mengantarkannya langsung ke kamar," tutur sang maid kemudian.


Meski masih merasa heran, Elena pun menyanggupi. "Baiklah. Bilang padanya untuk menunggu," ucap Elena lalu.


"Baik nyonya muda." maid itupun hendak berlalu namun Elena menghentikannya.


"Tunggu ... "


"Ada apa lagi nyonya muda?"


Elena nampak ragu-ragu tapi akhirnya ia tetap bertanya. "Apa pesta di bawah masih berlangsung?"


"Oh, sudah selesai nyonya ... tuan muda memerintahkan semua orang untuk kembali, pesta nya sudah selesai sejak tadi."


***


Kini segelas susu di tangan sudah selesai Elena buat. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdegup lebih cepat, ia merasa gugup.


Perlahan Elena menaruh gelas berisi susu hangat itu di atas nampan kecil, ia berjalan sedikit pelan juga ragu, menuju kamar Erick berada.


Sampai di depan pintu yang tertutup rapat, Elena mencoba untuk mengetuknya, ia dorong perlahan ternyata tak di kunci.


Saat gadis itu mulai masuk, alangkah terkejutnya ia melihat pemandangan di depannya, jantung Elena hampir berhenti untuk berdetak. Ia mematung seketika di tempat.


"Oh kau sudah datang?" Erick menoleh menyadari kehadiran Elena, pria itu menyeringai, pun kini dengan wanita yang tengah berada di atas tubuh pria itu.


"Kenapa diam saja di sana? masuklah." titah Erick.


Elena meremat nampan kayu yang ia bawa dengan kuat, membuat tangannya bergetar hatinya teramat hancur melihat Erick yang seolah sedang menunjukkan kemesraan dengan wanita lain di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Tak memperdulikan tatapan Elena yang sendu penuh luka, Erick kembali pada kegiatannya, pria itu mengelus lembut rambut wanita yang kini sedang duduk di pangkuannya.


"Tidak apa-apa sayang, jangan hiraukan dia, lanjutkan permainan kita yang sempat tertunda," ucap Erick dengan begitu mesranya seakan tak peduli dengan perasaan Elena saat ini.


"Ah, tapi aku malu sayang," ucap wanita panggilan yang merapatkan bokongnya pada Erick kini. Dengan sengaja mengalungkan kedua lengannya di leher Erick.


"Apa dia pembantu di rumah mu? kalau hanya sekedar pelayan mu aku tak apa-apa." wanita itu mengedipkan mata manja, kentara jelas ingin Elena mendengar itu.


"Ya, kau tenang saja baby, dia hanyalah pembantu di sini," ucap Erick dengan santainya namun begitu menusuk hati Elena.


"Dia mengantarkan susu untuk mu, kau bilang kamu butuh tenaga kan untuk pertempuran kita sampai pagi? jadi aku meminta pelayan untuk membuat kan mu susu," ucap Erick sengaja mengeraskan suara nya.


"Ah, kamu benar-benar perhatian sayang." wanita itu mengecup pipi Erick.


Gadis itu berbalik, tak ingin melihat lebih. Sekuat yang ia bisa Elena meredam segala gemuruh di dadanya, hampir saja matanya kembali basah tapi dengan cepat ia mencegahnya.


Elena menarik nafas dalam-dalam, setelah merasa sedikit tenang ia kemudian membalikkan tubuh kembali dengan cepat menaruh nampan dengan segelas susu hangat itu di atas meja dekat dua orang yang kini sedang kembali bercummbu mesra tanpa memperdulikan jika dia masih ada atau tidak.


"Aku pergi, maaf telah menganggu waktu kalian," ucap Elena, menahan agar nada suaranya tak bergetar.


"Ya, kau boleh pergi," ujar Erick tanpa menoleh, pria itu terlihat begitu terlena bermain di ceruk leher wanita yang saat ini ada di pangkuannya.


Elena bergeming, matanya melirik sesuatu di atas meja, sebuah korek api tergeletak di sana.


Entah apa yang ada di otaknya saat ini, melihat Erick dan wanita itu yang kini sudah berdiri dan hendak berpindah ke atas kasur dengan masih melanjutkan aktivitas pannas mereka.


Elena nekat mengambil korek api itu, menyudutkan apinya dan melemparkannya dengan sengaja ke atas kasur.


Seketika kedua orang yang sudah terlentang di atas kasur kini terlonjak kaget mereka berdiri bersamaan, wanita itu berteriak histeris melihat api yang langsung menyambar, Erick pun nampak terkejut, lalu matanya tertuju pada Elena, seketika menatapnya nyalang.


"Kenapa menatap ku? silahkan kalian lanjutkan aktivitas kalian yang katanya tertunda," ujar Elena tak gentar, telah menimbulkan kepanikan dengan aksi nekatnya.


"Kau!" Erick berteriak murka.

__ADS_1


__ADS_2