
Matahari mulai tenggelam menimbulkan semburat senja di cakrawala.
Di kamar hotel sana, Elena terbangun dengan kepala yang terasa sangat berdenyut dan berat. Perlahan kesadarannya mulai mengambil alih kembali. Ia mulai mengingat- ngingat apa saja yang terjadi beberapa saat lalu.
Ia tersentak kaget ketika sudah mengingat semuanya. Elena mengedarkan mata ke seluruh penjuru tubuhnya, tak ada yang aneh semua pakaiannya lengkap, ia mulai menghela nafas lega. Juga tak ada tanda- tanda aneh di sana, semua aman. Membuat ia mengucap syukur masih di beri perlindungan.
Tapi satu hal kini. Elena merasa sangat berang ketika mengingat Vicky yang membawanya kesini. Apa yang di lakukan pria itu sebenarnya?
Elena dengan cepat mengambil ponselnya, sebelum ia memulai panggilan nomor tak di kenal yang ia ingat adalah nomor Vicky, menelponnya. Segera ia mengangkat sambungan tersebut.
"Halo Elena. Maaf sebelumnya jika membuat mu marah, kemarin itu kamu sempat pingsan jadi aku inisiatif membawa mu ke hotel. Tenang aku tidak melakukan apapun. Aku mohon maaf sekali lagi."
Setelah mengatakan semua itu Vicky memutus sambungan sepihak. Tentu Elena merasa aneh tapi ia mencoba berfikir positif, pakaian pun tak berantakan dan tak terjadi apa-apa pada tubuhnya jadi ia memutuskan untuk mempercayai ucapan Vicky. Akhirnya Elena pun pergi dari sana.
Di tempat lain Vicky menghela nafas panjang setelah berbicara pada Elena lewat telepon. "Setidaknya ini akan mengurangi rasa bersalah ku."
***
"Ekhem, dari mana nih sore gini baru pulang?" Mona mempertanyakan kepulangan Elena ketika wanita itu melewati Mona hendak menuju kamarnya.
"Ada sedikit urusan dengan teman," pungkas Elena tak mau terpancing dengan nada berisi sendirian.
"Oh. temen apa itu temen?" Mona kembali menyudutkan dengan tawa yang menurut Elena sangat mencurigakan.
"Sudahlah Mona. jangan menggoda kakak ipar mu seperti itu." Sarah datang dengan segelas jus meletakkan di atas meja.
"Maaf ya Mona memang seperti itu, mommy harap kau tidak tersinggung," ujar Sarah bersikap ramah dan manis, hal tersebut justru semakin membuat Elena curiga.
"Ya sudah, kamu mau ke kamar kan? mandilah lalu kita makan malam bersama," ujar Sarah masih dengan nada lembut nya.
Akhirnya Elena tak mempersoalkan nya lagi, ia mengira memang adik ipar dan ibu mertua nya itu sudah tulus menerimanya. Dan Elena bersyukur akan hal itu.
"Baik mah. Elena menjawab dengan senyum tak kalah lebar. Ia mengeratkan genggaman pada tali tas nya lalu berlalu. Sementara ibu dan anak itu nampak terkekeh geli.
__ADS_1
"Pinter banget aktingnya mom," kata Mona terbahak sambil menyeruput jus yang di buat ibunya, ia sedikit tersedak, tapi itu tidak masalah ia kembali tertawa.
"Jelas dong. Kan belajar dari kamu." jawab Sarah ikut terbahak.
"Lihatlah, foto- foto yang di ambil si Vicky itu terlihat meyakinkan banget kan?" Sarah menunjukkan layar ponsel nya, terdapatnya lima buah foto yang Vicky kirimkan di sana.
"Iya, meskipun gak sampai beneran. Bodoh si Vicky itu, kenapa gak sekalian dia ambil keuntungan dari Elena sedang mabuk saat itu," ucap Mona, sambil jemari lentiknya menggeser foto demi foto yang menampilkan Vicky bertelanjang dada bersama Elena di atas ranjang.
"Si Vicky itu memang dasarnya pengecut, dia pasti tidak akan berani. Oleh karena itu untuk menghilangkan jejaknya, mommy sudah memerintahkan pria itu untuk pergi keluar negeri, menghilang dan hidup identitas yang baru."
"Itu bagus mom. Biar gak ada saksi mata ataupun bukti. Mommy pinter deh."
"Siapa dulu ... Nyonya Sarah kemalia Davidson, sudah pasti pintar," decak Sarah jemawa.
"Mona gak sabar liat wanita kumuh itu akhirnya di usir dari mansion kita ini mom."
"Mommy juga tak sabar, Mon." mereka berdua kembali tertawa penuh kemenangan.
***
Temui aku di taman, aku punya kejutan untuk mu.
Elena membaca pesan dari kontak yang ia beri nama 'my hubby' dengan hati berbunga-bunga. Dadanya berdebar- debar menanti kejutan apa yang akan suaminya berikan untuk nya.
Dengan dress selutut berwarna pink sakura, rambut coklatnya yang di kepang dan di sampirkan ke samping juga make up flawess ala Korea yang baru-baru ini ia pelajari membuat penampilan Elena semakin maksimal. Kulit putihnya yang cerah nampak kemerahan di sekitar pipi saat wanita itu mendongak untuk menatap sang Surya sore ini.
Kebetulan kali ini Elena pun sudah membuat kejutan untuk kepulangan sang suami, Elena membuat cookies heart yang sedang viral di jagat maya akhir-akhir ini, ia ingin menunjukkan skill membuat kue nya pada Erick. Tak sabar akan segera berjumpa.
***
Di taman yang sudah di janjikan akan menjadi tempat bertemu. Erick sudah menanti dengan tak sabar kedatangan wanitanya. Di tangan pria itu terdapat buket mawar cantik, hadiah istimewa untuk sang istri.
__ADS_1
Erick juga sudah menyiapkan makan malam di restoran mewah dengan konsep candle light dinner yang pasti nya romantis, sebagai kejutannya nanti.
Namun penantiannya merasa terganggu dengan dering ponsel entah siapa yang menelpon. Karena kesal akhirnya Erick mengangkat.
"Halo ... siapa ini?" tanya Erick dengan nada ketus sekaligus jengah, sebab dering ponselnya tak berhenti meski ia sudah mengacuhkannya.
"Istrimu sudah berselingkuh di belakang mu jika kau mau tahu." Suara di seberang sana terdengar aneh membuat Erick waspada.
"Apa maksud mu mengatakan itu hah?!" Erick menjadi berang namun tak terdengar suara apapun lagi. Hening, sampai Erick menyadari jika Elena sudah sampai dan tengah mencari nya.
Erick mematikan sambungan begitu saja. Berusaha mengabaikan apa yang cukup jelas ia dengar dari si penelepon misterius itu, lagipula kenapa harus mempercayai nya. Ia lebih percaya pada istrinya tidak akan mungkin berselingkuh seperti yang di katakan orang misterius yang menelponnya.
Erick kemudian melambaikan tangan agar Elena mengetahui keberadaan nya, jarak mereka di antara lalu lalang orang hanya beberapa meter saja.
Elena sontak mengulum senyum ketika mengetahui keberadaan suaminya, sambil membawa kotak berisi cookies heart buatannya Elena menghampiri Erick terlihat jauh lebih tampan kini.
Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang mengintai Erick saat ini, dengan memakai topeng anonymous, bersembunyi di balik tembok besar, ia tengah membidik dengan pistol di tangannya. Tak ada yang menyadarinya.
Erick bersiap menghampiri Elena jika saja notifikasi ponselnya tidak membuat ia refleks membuka pesan yang masuk.
Pria itu membeku seketika, apa yang dilihatnya benar- benar membuatnya membelalak seolah tak percaya. Di pesan yang di kirimkan nomor tidak di kenal yang beberapa saat lalu menelponnya kini mengirimkan bukti foto Elena bersama seorang pria dengan pose mesra.
Bola mata Erick bergerak- gerak tak percaya. Yang di lihatnya sungguh membuat hatinya tergores, seperti ribuan belati menusuk pedih, dadanya berdentum hebat. Ia menatap Elena yang semakin mendekati nya, kemudian beralih kembali pada foto-foto di ponselnya kini.
Membandingkan foto terakhir yang mana terlihat leher putih Elena terdapat bercak merah pekat, membuat raganya seperti tercabik-cabik. Air matanya luruh satu-satu, wajah Erick memburam lalu bersamaan dengan itu timah panas kini mulai meluncur ke arahnya.
Tak ada yang menyadari sampai suara letusan berasal dari tembakan membuat semua orang panik seketika.
Tubuh Erick terhuyung ke belakang setelah sebuah peluru melesat cepat menembus perut bagian kanan. Elena yang sudah hampir mendekat terjengkit kaget hingga kotak berisi cookies yang berada di tangannya terjatuh bersamaan dengan buket bunga yang Erick bawa pun ikut terhempas.
Tubuh Erick ambruk, sambil mengenggam tempat dimana peluru itu bersarang yang kini mengeluarkan banyak darah. Jangan tanyakan ponselnya, benda pipih itu sudah terlempar entah kemana.
Samar- samar ia mendengar keriuhan orang-orang yang mulai berkerumun mendekati nya. Lalu terakhir wajah Elena di pandangan, lantas perlahan redup kemudian semuanya menjadi gelap.
__ADS_1