Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 93


__ADS_3

Alarm tanda bahaya di mansion langsung berdengung nyaring tak lama sesaat setelah salah satu hansip menekan tombolnya.


Vicky terperanjat panik, ia segera saja bangkit mengabaikan rasa sakit di bagian telapak kakinya akibat tertusuk ranting kayu. Noda merah tiba-tiba saja berceceran keluar dari kakinya saat ia mencoba untuk kabur.


Para hansip yang melihat gegas mengejarnya. Vicky terpincang-pincang bak maling yang tertangkap basah, tak mempedulikan lagi rasa nyeri dan tidak nyaman demi segera kabur dari tempat ini. Sebelum Erick yang menemukan dan akan menghabisinya. Membayangkannya saja sudah membuat Vicky ngeri.


Di kamar Mona, Erick yang mendengar alarm berbunyi pun langsung terkesiap ingin keluar melihat keadaan namun tangan sang adik malah menghalangi.


"Kakak mau kemana?" dengan perasaan kalut dan gemetar takut yang berusaha ia sembunyikan, Mona bertanya mencoba menghalau sang kakak.


"Kau tidak dengar suara alarm tanda bahaya di luar? kakak mau melihat situasi di sana."


"Tapi kak ... " Mona tak kuasa menghadang. Otaknya buntu untuk memberikan alasan.


"Minggir lah. Kita bicara lain kali lagi." Erick berhasil menembus halauan Mona.


Wanita itu hanya bisa mendengkus kesal. Lalu berubah menjadi helaan nafas berat. "Siaalan! bagaimana kalau sampai si Vicky ketahuan olehnya, bisa gawat ini!" ia menyugar rambutnya dengan kasar lalu memutuskan mengikuti kemana Erick pergi.


...----------------...


"Pasti ada penyusup berada di mansion ku!" geram Erick lalu menemukan Zidan yang hendak melangkah.


"Tuan ... " Zidan memanggil begitu Erick mendekat.


"Ada apa ini Zidan? kenapa alarm tanda bahaya berbunyi?!"


"Saya juga hendak mencari tahu nya tuan. Kemungkinan ada yang tidak beres, seseorang kemungkinan berada di sekitar mansion tanpa kita ketahui." tutur Zidan.


"Baiklah, kita cari tahu bersama- bersama!" pungkas Erick. Zidan mengangguk.

__ADS_1


"Penyusup! penyusup. Cepat kejar dia!"


Di luar, keadaan sudah tak terkendali. Beberapa yang berdiri di setiap pilar langsung menghambur memasang kuda-kuda, ada yang berjaga dan mewanti- wanti keadaan sekitar sisanya dengan cepat berlari mengikuti dua hansip yang sedang mengejar buronan.


"Ada apa ini?!" Erick segera menghampiri mereka.


"Tuan muda!" serempak membungkuk hormat ketika Erick datang.


"Apa yang terjadi?" tanya Zidan kemudian, memastikan.


"Ada seorang penyusup pak, dia terjatuh dari jendela di atas sana." hansip itu menunjuk letak jendela balkon di atas dengan telunjuknya. Erick mengikuti arah pandang yang di tunjuk salah satu penjaga tersebut.


Matanya terbeliak seketika. "Itu dari kamar Mona?!" dadanya bergemuruh menahan geram.


"Tuan, sabarkan diri anda dulu," ujar Zidan melihat bosnya itu hendak kembali emosi.


Zidan berdecak dalam hati. Sudah bisa memperkirakan emosi Erick yang tak mungkin stabil, bisa berubah-ubah bahkan jika masih di tahan akan segera meletus seperti gunung berapi yang akan mengeluarkan lava panasnya.


"Jangan membuang waktu Zidan! siapkan mobil kota kejar penyusup sialan itu!" titah Erick, cepat.


"Baik tuan!"


...****************...


Aksi kejar-kejaran saat ini terjadi antara Vicky dan para ajudan Erick. Sekeras yang ia bisa Vicky mengayuh kan kedua kakinya demi terbebas dari kejaran orang-orang tersebut.


Seperti adegan dalam film laga yang pernah di tonton nya Vicky mempraktekkan trik dari sana, yang mana ia melempar benda apa saja yang ditemuinya ke arah orang-orang yang terus mengejarnya itu agar bisa mengulur waktu lebih.


Namun naas. Sepertinya Dewi Fortuna tidak memihak nya kali ini, karena saat ia menoleh ke depan sebuah mobil yang hendak melintas di jalan raya melaju kencang, Vicky yang tak melihat fokus menerjangnya begitu saja tanpa tahu ada kendaraan yang sedang melaju di sana.

__ADS_1


Brugh! bugh!


Tubuh Vicky terpental sejauh lima meter dari tempatnya tertabrak. Lalu lalang orang yang berada di pinggir jalan sontak menjerit kaget melihat kecelakaan yang terjadi sangat cepat itu.


Vicky yang masih setengah sadar memegang kuat dadanya kiri yang keras membentur kap mobil, pipinya lecet terkena aspal.


"B-brengsek!" ia masih sempat memaki di antara kesadarannya yang mulai hilang.


Sebuah mobil silver berhenti di depannya. Erick keluar dari sana yang bagi Vicky terlihat seperti malaikat maut yang menakutkan.


"Ternyata kau!"


Vicky melotot. Samar, ia masih bisa sempat melihat kedua mata Erick yang menatapnya penuh api dendam, lalu semuanya mulai menggelap.


Sementara Mona di kamarnya yang semakin panik segera menelpon ibunya.


"Mom, cepatlah kesini hiks ... ku mohon mom!"


Sarah yang sedang menemani suaminya menghadiri sebuah perjamuan terkejut mendengar tangisan putrinya.


"Ada apa? kenapa kau menangis?" pekiknya untungnya dia bisa ijin ke WC sebentar untuk mengangkat panggilan Mona yang terus-menerus menghubungi nya.


"Kita sudah tamat mom! aku melakukan kesalahan hiks ... aku takut semua konspirasi kita selama ini akan terungkap!"


"Apa maksud perkataan mu, Mon!" Sarah langsung mendelik.


"Aku tak bisa menjelaskannya, mommy cepatlah kesini!"


Kesedihan Mona semakin bertambah ketika mendapat kabar dari maid yang adalah kacungnya, memberi tahu jika buronan yang tengah di kejar Erick mengalami kecelakaan yang tak lain adalah Vicky, kekasih nya.

__ADS_1


__ADS_2