Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 122


__ADS_3

"Ibu ... ibu!" berkali-kali Elena terlihat bergumam saat matanya masih terpejam erat. Erick segera mengenggam tangan mungil wanitanya, sangat panas terasa.


"Sepertinya pasien mengalami demam tinggi. Suhu panasnya masih belum turun," ujar dokter yang menangani Elena.


"Lalu apa yang harus di lakukan dok? tolong, saya ingin istri saya segera sembuh." imbuh Erick dengan kekhawatiran yang merajai hati dan pikirannya.


"Anda tenang saja pak. Kami akan melakukan yang terbaik, untuk sementara pasien harus selalu di kompres menggunakan handuk dingin, agar suhu tubuhnya kembali normal. Saat pasien sudah membuka mata, baru kami bisa memeriksa nya lebih lanjut."


Erick mengangguk mendengar penuturan sang dokter. Melihat Elena yang terus memanggil ibunya membuat Erick bagai tertusuk sembilu, menyakitkan. Rasa bersalahnya kembali datang melahap rakus kewarasannya.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku ... " Erick mengusap peluh di kening Elena, semakin mengenggam erat tangan sang istri sesekali mengecupnya.


••


Erick dengan telaten, memeras handuk kecil yang sudah dibasuh air dingin, lalu melipatnya menjadi bagian kecil kemudian dengan pelan dan hati-hati menempelkannya di atas kening Elena.


Ia lakukan terus-menerus secara berulang saat di rasa air dalam handuk sudah di serap oleh suhu Elena yang panas, ia kembali melakukannya dengan penuh kehati-hatian, seakan-akan Elena adalah sesuatu yang sangat berharga dan rapuh.


Tak lama, pintu ruang rawat terdengar berdecit, seseorang masuk, dari langkah kakinya yang tak asing, Erick menoleh.


"Marvin?" pria itu berseru setelah melihat laki-laki dengan tubuh tegap kini menatap ke arahnya.


"Keluar. Aku ingin bicara dengan mu!" pinta Marvin, dingin.


...----------------...


Bugh!


Bugh!


Dua hantaman keras pukulan dari yang ia kerahkan dengan penuh emosi, berhasil membuat Erick terjungkal, di perut, di tulang rusuk lalu berpindah ke rahang dan dada pria itu tak luput dari bogeman mentah Marvin.


"Lagi dan lagi kau membuat Elena terluka, siallan!" murka Marvin dengan penuh amarah.


Bugh!


Gedebuk! Bum!


Satu pukulan menggunakan sikut berhasil membuat Erick menghantam tembok, ia merasakan tulang punggungnya yang remuk seketika.


Marvin benar-benar seperti menjadikan Erick sebagai samsak tinju, sementara pria itu terlihat tak melawan sama sekali.


"Elena, anggap lah ini adalah hukuman untuk ku." batin Erick di sela nafas nya yang mulai tersendat- sendat.


Krak! Erick seperti merasakan tulang hidung nya pecah, darah mengalir dari lubang hidung nya, di detik-detik terakhir Erick sudah tak bisa melihat dengan jelas hingga di matanya kini pandangan Marvin seperti membayang.


Bugh! bugh! tak jera meski sudah membuat Erick setengah sekarat, Marvin tetap terus melayangkan kepalan tangannya kini mengenai dagu pria itu hingga Erick kembali tersungkur. Kemeja putih nya kini sudah di penuhi noda darrah.


"Demi penguasa langit dan bumi, aku mencintaimu, Elena! sangat mencintai mu!"


Deg!

__ADS_1


Elena yang sedang terbaring di atas brankar, membuka mata nya seketika. Degup jantungnya mendadak tak terkendali.


Di dalam mimpi seperti ada sesuatu yang menariknya dari alam bawah sadar membuat Elena terjaga seketika.


Sudut netra Elena mengeluarkan air, terjun bebas mengenai bantal. Tangannya di remat dengan erat.


"M- mas Erick."


Deg! kelopak mata yang semula akan terpejam kembali terbuka lebar. Erick menghirup oksigen dengan rakus. Itu suara Elena, sangat jelas di telinga nya, sang istri telah memanggilnya. Tidak! dia tidak boleh matti dulu.


Erick bangkit, seolah ada dorongan kuat yang menahan tubuhnya saat ini, ia mengambil ancang-ancang bersiap meski seluruh tubuhnya sudah babak belur, kali ini Erick membalas setiap serangan yang di layangkan Marvin.


"M- mas Erick, uhuk! uhuk!" Elena terbatuk-batuk tubuhnya yang masih lemah ia paksa untuk terus berjalan, kedua kakinya bergetar seakan tak kuat untuk menopang badannya namun sekuat tenaga Elena terus memerintahkan kakinya untuk terus melangkah.


"Elena, astaga!" seseorang memekik, itu Dea. Wanita itu segera berlari cepat menuju Elena dan membantu sahabatnya itu yang terlihat kesusahan berjalan dengan menopang tembok.


"Apa yang kamu lakukan di sini? kapan kamu sadar? kenapa tiba-tiba keluar dari ruangan?" ujar Dea memberondong pertanyaan.


"D- dea, di mana mas Erick? di mana dia?" tanpa menjawab satu pun pertanyaan Dea, Elena justru bertanya tentang keberadaan Erick.


"Erickson? tadi aku sempat melihatnya keluar bersama Marvin ... astaga!" seketika Dea ingat sesuatu, belum lama ini Dea bercerita tentang apa saja yang terjadi di mansion dan memberitahukan jika Elena terluka dan sedang di rawat di rumah sakit kepada Marvin.


Jangan bilang pria itu sedang memberi pelajaran pada Erick.


"Elena, Erick bersama kak Marvin!" Dea melotot kaget.


"Antar aku menemuinya, Dea. Aku takut mereka saling berkelahi lagi."


Dea mengangguk cepat. "Sepertinya aku tahu di mana mereka."


••


Teriak Marvin, terlihat kalap. Namun kini mereka sebanding karna Erick yang mulai melawan.


Bugh! Erick berusaha membalas pukulan Marvin meski dengan sisa tenaga yang ada.


Naas, ketika ia mencoba untuk memberikan tinjunya lagi, tubuhnya tak sengaja terhantuk sebuah kardus, membuatnya terhuyung menyebabkan kepalanya terbentur ujung besi yang sedikit runcing, sangat keras hingga membuat Marvin pun terkejut.


Ngungg! Erick bisa merasakan isi kepalanya yang berdengung nyaring, Marvin mendekat rasa amarah dan kekalapannya sirna seketika.


"Erick bangunlah ... maaf, aku tak bisa mengontrol diriku."


Marvin nampak panik. Sejak dulu ia selalu beranggapan jika dirinya adalah pengawal untuk Elena yang akan selalu melindunginya, rasa cintanya pada Elena begitu besar sebagai adik dan orang spesial yang selalu ingin ia lindungi. Hingga terkadang seperti ada ibblis yang merasukinya Marvin tak bisa untuk mengontrol diri dalam beberapa kesempatan. Itu sebabnya Marvin selalu mengindari perkelahian atau hal yang membuat nya marah meski kadang kejadian seperti itu tak bisa di hindari tapi hari ini ... oh tidak, apa yang telah ia lakukan?


"Erick, bertahan lah, aku akan mengobati mu."


"Tidak." Erick menahan lengan Marvin. "Ini adalah karma untuk ku, atas semua perbuatan ku selama ini pada Elena, kau berhak marah karena kau lah pria yang selalu ada untuk Elena saat ia bersedih di banding aku sebagai suaminya."


"Aku memang pria yang brengsekk!" Erick terkekeh sumbang.


"Tidak. Apa yang kau katakan? aku akan menyelamatkan mu!" ucap Marvin.

__ADS_1


"Erickson!" seseorang berteriak begitu lantang.


Marvin yang tengah berjongkok di samping tubuh Erick yang sedang terbaring, sontak menoleh begitu pun Erick yang sudah terlihat tak berdaya.


Elena, dengan wajah dan bibirnya yang putih pucat, terisak lalu menghampiri ke arah mereka dengan langkah patah-patah.


Erick mengulas senyum, mulutnya yang mengeluarkan banyak darrah justru terlihat bahagia saat melihat wajah yang di cintainya.


"Apakah ini menjadi hari terakhir aku melihat mu Elena?"


Erick bergumam sedih. Merasakan seluruh tubuhnya yang sudah remuk.


"Tidak. Kau sangat cantik, aku ingin melihatmu setiap hari."


Elena berkaca-kaca, ia langsung berjongkok di samping Erick, tangannya terjulur untuk mengusap pipi pria itu.


"Kenapa kamu terlihat sedih? aku ingin melihat mu tersenyum sayang."


Elena justru semakin tergugu. Saat tangan Erick mencoba menyentuh pipinya, darrah Erick yang bercecer di gaun putih yang di kenakan Elena.


"Te amo." lirih Erick.


(Aku cinta kamu: bahasa spanyol)


Elena mengangguk, memegang tangan Erick yang mengelus pipinya.


"Tersenyum lah. Aku ingin melihat mu tersenyum."


Perlahan bibir Elena mengukir senyum, meski begitu tak bisa di bohongi air matanya mengalir deras.


Ia langsung memeluk Erick.


Pria itu mengaduh, karena Elena yang tiba-tiba memeluk tubuh nya membuat dadanya terasa nyeri.


"Aww,sakit sayang."


Elena terkejut lalu menarik diri menatap khawatir namun justru Erick terkekeh.


Membawa Elena kembali dalam pelukannya.


••


To be continued.


Terus dukung novel ini ya.


Maaf othor mau sedikit curhat. Kadang othor bingung sama keinginan reders sekalian, Elena maafin Erick salah, di anggap wanita beggo Karna memaafkan begitu muda, eh giliran gak di maafin, di anggapnya alurnya bertele-tele.


Jadi othor bingung, mau kalian apa para readers? apa mungkin Elena sama pria lain, Erick sama wanita lain aja klo gitu? wkwk.


Di mohon ya, jika memang tidak suka alurnya silahkan tinggalkan tanpa harus membuat komentar buruk yang membuat mental othor down. Karena gak semua manusia berhati baja.

__ADS_1


Ya udh segitu aja, terimakasih bgt untuk para readers yang masih setia dengan novel ini.


Salam hangat, luv- luv jauh❤️🌹


__ADS_2