
Happy reading 🌹🌹🌹🌹
Hari ini menjadi hari yang istimewa. Erick melangkah bersama dengan sang istri di sisinya sambil tangan keduanya tergenggam erat, mereka saling menoleh menatap untuk beberapa saat lalu keduanya sama- sama mengembang senyum termanis.
Kini mereka berdiri di hadapan seorang pria paruh baya yang tak lain adalah ayah dari Elena, tuan Wahyu iskandar.
"Ayah mertua, saya datang menemui anda, bermaksud ingin kembali mengulang ikat janji pernikahan bersama putri anda, Elena cempaka."
Wahyu iskandar mulanya hanya bergeming, hening memggerayapi sejenak, lalu pria berbadan subur dengan rambut nya yang hampir semua memutih itu mengangguk.
"Aku memberikan mu satu kesempatan lagi untuk membahagiakan putri ku, jangan sampai kau menyia-nyiakan nya lagi, atau aku tak akan segan untuk mengambilnya kembali dari mu," ucap Wahyu iskandar, sedikit berkelakar padanya.
Erick mengangguk, bibirnya semakin terkembang membentuk senyum yang terlihat teduh.
"Ini ambilah." Wahyu iskandar memberikan sebuah kotak pada Erick dan Elena.
"Apa ini papah?" tanya Elena, penasaran.
"Ini adalah cincin milik ibu mu nak, pakai lah."
"Sebelum beliau pergi, ibumu sudah menitipkan cincin ini pada papa, agar kelak suatu hari nanti kau dapat memakainya dan menjadi kenang-kenangan untuknya, mungkin papa sedikit terlambat, sekarang cincin ini milik mu, nak."
Elena tersenyum bahagia, matanya berembun dengan wajah nya yang terlihat sedih, gadis itu lantas maju untuk memeluk sang ayah.
"Terimakasih pah."
Wahyu iskandar mengangguk sambil mengerjap-ngerjap kan matanya yang ikut berkaca- kaca, ia mengelus lembut rambut coklat panjang sang putri dengan perasaan sayang.
Kemudian Erick mengambil alih cincin itu dan memakainya di jari tengah Elena, berdampingan dengan cincin pernikahan mereka yang tersemat di jari manis gadis itu.
"Cantik." Erick memuji penampilan cincin itu yang nampak sederhana tapi begitu elegan, ia mengusap jemari di mana cincin itu terletak.
"Ini akan menjadi awal yang baru untuk kita," ucap Erick menatap lekat pada kedua mata Elena, wanita itu mengangguk lantas tersipu malu.
...--------Oo--------...
Tak terasa waktu berjalan, hari H yang di nanti-nantikan pun tiba. Di ballroom hotel mewah bintang lima tempat di mana saksi atas pernikahan Erick dan Elena, kini sudah di hias sedemikan rupa dengan tampilan anggun, indah dan menawan, bertemakan kerajaan ala negeri dongeng yang di request langsung oleh Elena, membuat penampilannya begitu berkelas dan megah.
Hingga siang ini, sudah banyak para tamu yang mulai mendesaki aula ballroom, dengan kapasitas 500 undangan, mereka terlihat fun dan santai hingga menunggu acara tiba.
Sementara di ruangan lain, Elena duduk di sofa dengan gugup, wanita itu tampil sangat cantik dengan gaun putih gading dengan slayer berwarna senada menjuntai di belakang kepalanya , sedangkan nampak para MUA saat ini sedang sibuk memaksimalkan riasan di wajah nya.
__ADS_1
"Kamu cantik banget, Elena," girang Dea, gadis itu terlihat gemas sekaligus mengangumi kecantikan Elena khas wanita Asia yang memiliki daya pikat tersendiri.
"Terimakasih, kamu juga waktu pernikahan mu juga sangat cantik."
"Hufft, tapi sayang, aku gak jadi buat merayakan pesta pernikahan ku." Dea mengesah sendu, ia memaklumi hal itu, rencana untuk membuat pesta setelah akad nya akhirnya berujung pembatalan karena kini ia sedang berbadan dua. Mengetahui itu ia dengan Rizal, pun berunding hingga final mereka memutuskan untuk tidak jadi membuat pesta untuk pernikahan mereka, karena uangnya akan di tabung untuk kebutuhan calon baby mereka nanti. Apalagi setelah dapat dua bulan dan melakukan pemeriksaan ternyata Dea sedang mengandung anak kembar, betapa bahagianya ia dan suami. Hingga saat ini kandungan nya berusia tiga bulan, semuanya masih aman dan baik- baik saja, Dea berharap bisa begitu seterusnya sampai menuju persalinan nanti.
"Gak apa-apa, toh nanti kan uangnya untuk persiapan kelahiran si kembar," ucap Elena mengusap perut Dea yang sudah mulai semakin terlihat menyembul.
"Takdir memang tidak bisa di tebak ya. Padahal aku yang nikah dulu tapi kamu yang tekdung duluan." Elena terkikik.
"Ya itu karena kisah cinta Erick dan Elena begitu pelik dan banyak ujiannya." sahut Dea membalas, mereka kemudian sama- sama tertawa.
"Tapi kini semuanya sudah mulai membaik ya ..."
"Iya, nyonya Sarah dan Mona sudah tenang di alam sana dan mungkin sedang mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka di akhirat, Vicky juga sudah di vonis hukuman penjara. Semua sudah mendapatkan karma mereka masing-masing." tutur Dea.
"Hufft, setelah semua ketegangan yang terjadi, aku lega akhirnya semua baik- baik saja." lanjut wanita itu. Elena mengangguk, menyetujui sambil tangannya kembali mengusap perut Dea kembali.
Dea tersenyum. "Apa kamu berharap, di perut mu juga bisa muncul kehidupan baru, maksud ku anak?"
Elena mengangguk, tersenyum. "Itu sudah pasti menjadi harapan ku Dea, hal yang paling membahagiakan apa untuk pasangan pasutri selain memiliki bayi untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Aku harap di perut ku juga akan segera tumbuh kehidupan baru di sana."
"Aamiin," ujar Dea. "Semoga setelah ini Erick junior segera launching ya." Dea kemudian terkikik. "Tips dari ku harus rajin- rajin buat nya."
"Hei girls!" seseorang menyapa, kedua wanita itu menoleh berbarengan, nampak Rizal, dan Marvin datang menghampiri dan seorang pria lagi yang sukses membuat mereka terkejut.
"Waw, merasa terkejut begitu melihat ku." Aaron tertawa.
"Aaaa! Aaron!" para MUA yang hadir tiba-tiba saja teriak melihat aktor yang sedang di gilai sejagat hiburan pertelevisian itu.
"Kalian lihat? di mana pun aku menginjak kan kaki, akan ada selalu fans yang akan meneriaki ku," ujar Aaron, jemawa.
"Cih, gaya mu bung. Aku juga kalau tampan seperti mu pasti akan banyak memiliki fans bahkan mungkin banyak kan aku," ucap Rizal, menimpali.
"Eits apa maksud ucapan mu?" Dea menyela dengan menatap horor, seketika saja Rizal menjadi ciut.
"Gak sayang. Bercanda doang itu."
Dea mencebik. "Sok-sokan pengen jadi aktor yang punya banyak fans, akting aja kamu gak bisa."
"Iya sayang, aku mah manut aja sama ucapan kamu," ujar Rizal yang mendadak seperti anak ayam.
__ADS_1
Marvin tertawa melihatnya. "Bau+ bau suami takut istri nih," ejeknya.
"Diem kamu. Tak gibeng mau?!" sungut Rizal.
"Duh jadi atut ... " ucap Marvin semakin mengejek. Mereka ini memang sangat klop jika sudah di satukan, sama- sama tukang ngelawak.
Elena tertawa melihat tingkah dua pria itu, sampai akhirnya matanya baru terfokus pada seseorang yang berdiri di samping Marvin.
"Eh, Clarissa? aku gak tau loh kalo kamu udah datang. Tiba-tiba sudah berdiri di situ?"
Otomatis pandangan semua orang mengarah pada Clarissa saat ini, wanita yang tampil cantik dengan kebaya modern berwarna cream itu tersenyum pada mereka.
"Aku memang udah dari tadi ada di sini kok."
"Terus kamu datang sama siapa?" Dea bertanya.
Eh? Clarissa terlihat canggung mendengar pertanyaan Dea, ia ragu untuk menjawab nya, sampai tiba-tiba seseorang menyela.
"Dia datang bersama ku."
Dea dan Elena menoleh pada pria itu. "Kak Marvin."
Marvin hanya mengangguk saja sebagai respon. Hening menyelimuti sampai akhirnya Rizal bersorak berhasil mencairkan suasana.
"Cie, udah ada peningkatan nih ye." godanya.
"Diam kamu!" kini Marvin yang merasa terusik. Sementara Clarissa hanya menunduk, Dea datang merangkul pundak wanita itu.
"Gak apa-apa jujur aja. Kak Marvin itu orangnya setia kok, juga tangung jawab."
"Kamu benar." Elena menyahut "Buktikan sampai sekarang kak Marvin tetap sayang dan royal pada kami yang sudah di anggap seperti adiknya sendiri." tambahnya Dea mengangguk dengan perkataan Elena. Sementara Marvin salah tingkah sendiri di tempatnya.
Aaron menepuk pundak pria itu. "Sebagai temannya Erick dan kini akhirnya menjadi teman mu juga, aku sangat setuju jika benar kau bersama Clarissa. Kau sudah tahu kan bagaimana kesetiaan Clarissa? dia tak pernah main-main dalam sebuah hubungan, jadi jangan pernah menyia-nyiakan nya."
"Nah aku juga setuju tuh." Rizal ikut menimpali, lalu semakin gencarnya lah mereka menggoda dua sejoli yang mulai menyadari perasaan mereka tersebut.
Sampai akhirnya MC di aula sudah bersiap membuka acara, sementara Erick sudah ada di luar tengah menunggu Elena.
"Kalian dengar itu? mereka yang di luar sudah menunggu Elena. Ayo kalian juga bersiap lalu keluar!" titah Dea seperti seorang ketua saat ini. Yang lain pun menuruti perintah Dea, sementara Elena tengah bersiap dengan mengenggam buket mawar putih di tangannya, ia menghela nafas dalam demi mengusir kegugupan.
"Elena ... " Marvin memanggil, wanita itu menoleh padanya.
__ADS_1
Marvin tersenyum. "Semoga bahagia."
Elena ikut tersenyum merasa menghangat dalam hati nya dengan hanya ucapan sederhana itu, ia pun mengangguk sambil dalam hatinya mengaminkan perkataan Marvin.