
Happy reading 🌹🌹🌹
Kondisi Erick semakin menunjukkan pemulihan yang signifikan. Jahitan di luka robek bagian kepalanya sudah mengering, dokter pun menjelaskan jika tak ada gejala serius hanya cidera yang syukur nya tak memburuk, dan kini berkat Elena pula yang selalu berada di samping pria itu, Erick semakin memiliki semangat untuk cepat sembuh.
Pagi ini Elena datang, seperti biasa ia membawa dua paper bag satu berisi pakaian dan obat juga vitamin Erick dan satu lagi, berisikan bubur ayam yang ia beli di kantin rumah sakit.
Erick tak suka makanan rumah sakit jadi Elena membelikan nya bubur karena kalau membuatnya cukup memakan waktu, sementara Elena kini sedang di buru waktu.
"Ada yang kamu inginkan lagi?" tanya Elena setelah menyuapi Erick dengan bubur.
"Tidak." jawab Erick singkat.
"Baiklah. Sekarang minum obat mu," ujar Elena.
"Terimakasih." Erick tiba-tiba berucap, Elena menatapnya.
"Tak masalah," kata Elena.
"Bahkan ketika kau sibuk dengan toko kue mu yang baru saja di buka, kau masih menyempatkan untuk menjenguk ku."
"Jangan salah sangka. Aku melakukan semua ini karena aku merasa bersalah atas yang terjadi menimpa mu."
"Apa kamu sama sekali tak bisa memaafkan ku, Elena?" tanya Erick, hatinya ngilu mendengar perkataan Elena barusan.
Wanita berpita biru yang di letakkan di tengah rambut nya itu tak langsung menjawab, Erick terkesima sejenak menatap penampilan Elena yang hari ini begitu cantik. Tidak, istrinya selalu tampil cantik setiap harinya.
"Aku sudah memaafkan mu," ujar Elena setelah lama kebisuan panjang. "Tapi itu bukan berarti aku memberikan mu kesempatan."
"Kenapa?" raut wajah Erick mendadak suram. Menyedihkan.
"Karena aku tak ingin merasakan sakit lagi," ucap Elena.
"Aku tahu, aku telah memberikan rasa sakit yang besar dan trauma yang belum tentu bisa di hilangkan padamu. Tapi bisakah kita memulainya dari awal. Jika kau ingin tahu, di sini pun aku merasa sangat sakit." Erick menggamit tangan Elena menuntunnya ke belah dada.
Elena memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata yang penuh mengisyaratkan kesedihan dan keputusasaan itu.
__ADS_1
"Kita sama-sama terluka, Elena tapi aku tahu luka yang di rasakan mu lah yang paling dalam," ucap Erick lagi.
"Oleh sebab itu, apa telah ku lakukan tak bisa ku tinggalkan begitu saja. Aku yang telah memberikan mu rasa sakit, jadi aku yang akan mengobati nya juga. Aku tak akan pergi sebelum kau benar-benar mengusir ku, sayang."
Kali ini Elena kontan menoleh, menatap langsung kedua mata kelam pria itu mencari kebohongan. Namun nihil, yang ada justru adalah rasa penyesalan besar dan tekad yang kuat.
••
Di sebuah rumah besar bertingkat dua, nampak seorang wanita mendaratkan bokongnya di samping suaminya yang tengah sibuk menatap monitor laptop.
"Yah, ada yang mau bunda bicarakan."
"Ada apa bun?" pria setengah baya itu langsung mengalihkan pandangan pada istrinya.
"Ekhem, gini yah," wanita bernama Inggit itu membetulkan posisi duduk menyamping agar sang suami bisa mendengar fokus apa yang akan ia ucapkan.
"Kemarin bunda ke toko kue bersama anak-anak."
"Terus? memangnya kenapa?" tanya suaminya tersebut.
Pria itu sontak membeliak terkejut mendengar perkataan isterinya. "Yang benar bun?"
"Iya yah. Ngapain bunda bohong, aneh kan? tapi nyata, dunia memang begitu sempit. Mungkin aja kan Elena cempaka pemilik toko kue itu sama dengan Elena cempaka putri hilang yang tengah di cari atasan ayah saat ini."
"Ah, bunda ini gak mungkin deh. Bisa aja cuma sama namanya doang."
"Tidak ada yang tidak mungkin yah. Apalagi atasan ayah itu keluarga kaya tersohor tuan tanah yang pasti kekayaannya berlimpah ruah. Jika kita memberitahu kan info ini dan benar Elena cempaka yang di maksud bunda itu selama ini adalah Putri atasan ayah yang tengah di cari keberadaan nya, kita juga mungkin bisa dapat komisi yah, atau ayah yang naik jabatan."
"Bunda ini naif sekali, terlalu jauh mikirnya." laki-laki itu tertawa dengan penerawangan istrinya yang menurutnya nyeleneh.
"Ayah ini di kasih tahu nya. Jika benar apa yang bunda ucapkan benar, ayah mau taruhan apa hayo?"
"Gak mungkin lah bun. Udah ayah bilang mungkin cuma sama namanya aja, bunda nih terlalu banyak ngehalu sih, jadi gitu, jangan banyakin nonton drama bun."
"Hufft! gini aja kita coba pertemukan mereka. Bunda sudah meminta ingin di pertemukan dengan pemilik toko kue bernama Elena cempaka itu, jadi jika beneran pemilik toko kue itu ada nanti di toko kue nya, ayah cobalah membujuk atasan ayah itu untuk datang ke toko kue nya nanti, pakai alasan tempat meeting atau apapun itu, karna di sana juga setahu bunda ada cafe nya. Nah kan kalau mereka bertemu dan saling tatap, otomatis kan ada tuh ikatan batin di antara mereka, pasti mereka bisa saling mengenali."
__ADS_1
"Bun ... bunda sehat ya?" mendengar penjelasan istrinya pria itu menempel kan telapak tangan di kening perempuan tersebut.
"Ih apa sih yah!" Inggit sontak menepis tangan suaminya.
"Abisnya bunda ngelantur gitu, ada-ada aja. Mending bikinin ayah kopi lagi, malam ini ayah mau begadang buat laporan."
"Ya udah kalau ayah gak percaya!" Inggit pergi meninggalkan suaminya.
Laki-laki itu hanya geleng-geleng kepala, terkekeh. Namun tak pungkiri dalam benaknya ia terusik juga dengan informasi yang diberikan istrinya.
"Elena cempaka ... apa benar gadis yang sama dengan putri pak Wahyu Baskoro yang sampai saat ini masih belum di temukan?"
***
Wahyu iskandar baskoro, pria setengah baya berusia 57 tahun itu terkejut mendengar penuturan salah satu anggota divisinya yang datang bersama istrinya saat ini.
"Apa yang kau katakan Rifaldi? jangan main-main dengan ucapan mu ini menyangkut putri ku!"
"B- benar pak, isteri saya sendiri yang memberitahukan nya." Rifaldi menatap sang istri, meminta penjelasan, Inggit mengangguk lalu selangkah maju ke depan.
"Benar yang di katakan suami saya pak. Saya sendiri belum bertemu dengan wanita itu langsung, tapi benar namanya Elena cempaka, toko kue bernama cempaka bakery yang berada di jalan merpati nomor 28, adalah miliknya. Saya hanya menerka-nerka karna namanya mirip."
"Nama Elena cempaka adalah nama spesial yang ibuku berikan untuk putri ku. Jadi mungkin tak ada yang memiliki nya selain pemilik toko kue yang kau sebutkan tadi."
"Apa mungkin bapak ingin mencari informasi lebih lanjut?"
"Kita bisa mencobanya," jawab Wahyu Iskandar.
"Elena putri ku, memiliki mata coklat yang cerah selaras dengan warna rambut nya. Jika wanita pemilik toko kue itu juga sama, kemungkinan memang benar dia adalah putri ku yang selama ini ku cari."
Wahyu Iskandar menjeda sejenak kalimatnya. Wajahnya berubah redup seolah sedang menerawang masa lalu.
"Putri ku yang malang, dia hidup dengan penderitaan dan dengan bodohnya aku meninggalkannya begitu saja saat dia sangat membutuhkan sosok ayahnya."
Wahyu Iskandar mengusap netranya yang berair. Karena alasan tak masuk akal dia meninggalkan putri dan ibunya sendiri.
__ADS_1
"Aku telah menanggung banyak dosa selama ini karena mentelantarkan nya dan aku sangat menyesal. Jadi besok kita buktikan langsung jika memang benar wanita pemilik toko kue bernama Elena cempaka itu, adalah putri ku yang selama ini ku rindukan."