
Happy reading 🌹🌹🌹
"T- tunggu dulu, mas-- maksud ku Erickson, ini kita mau kemana?!"
Elena menahan kedua kakinya, dengan terpaksa Erick pun ikut berhenti melangkah.
"Ada apa? kamu takut? tak apa, aku hanya ingin menunjukkan mu tempat menyenangkan untuk mengusir kesedihan mu."
"Ya tapi kita mau kemana? hari sudah mulai gelap." elak Elena, menggelengkan kepalanya. "Lagipula kamu masih memakai pakaian rumah sakit,jika nanti ada perawat masuk ke dalam dan menyadari kamu tidak ada bagaimana?'
Erick tersenyum, menenangkan. "Serahkan semua nya padaku. Hari ini aku ingin membuat mu tersenyum jadi kamu tidak bisa menolak."
"Ya tapikan--"
"Tunggu!" Erick memekik tertahan.
Elena membelalakkan mata ketika telapak tangan besar Erick sudah berada di atas mulutnya, membekap lalu sedikit menarik tubuhnya hingga bertubrukan dengan dada bidang pria itu, menempel di tembok samping.
"Ssst!" Erick memasang wajah serius dengan mata elangnya yang menatap waspada, baru saja ia melihat dua orang suster lewat sambil berbincang-bincang jadi terpaksa ia membawa Elena menepi ke tembok agar tidak ketahuan.
Tak seperti Erick yang mewanti-wanti waspada, Elena justru di landa debar- debar menggila dalam hatinya. Jarak mereka begitu dekat, tubuh mereka begitu menempel dari tempatnya berdiri Elena bisa mendengar langsung detak jantung Erick karna kepalanya sangat dekat dengan dada berotot pria itu.
Di rasa suasana sekitar sudah kembali aman, Erick meluruskan kembali pandangan nya, menghela nafas lega.
"Maaf tadi aku ... "
Erick yang hendak bicara untuk memberitahukan Elena mendadak berhenti setelah kepalanya yang sedikit merunduk untuk melihat wajah Elena, terpanah untuk beberapa detik ketika matanya tertuju langsung pada manik coklat indah milik gadis itu.
Raut wajahnya yang mengisyaratkan ketakutan, pipi dan hidung nya yang terlihat memerah dan kaca-kaca di matanya entah kenapa semua itu terlihat sangat menarik bagi Erick.
Grep! tanpa di sadari Erick semakin menarik pinggang Elena dengan lengannya yang kekar, gadis itu tersentak seketika atas perlakuan Erick yang tiba-tiba. Perlahan wajah mereka semakin mendekat karena Erick yang semakin merunduk mendekati gadis itu, pergerakan Elena seperti terkunci kedua tangannya di ambil dan di genggam erat oleh tangan Erick yang satunya.
Deru nafas terasa hangat berasal dari pria itu menerpa kulit wajah Elena membuat desiran aneh dalam dirinya kembali mencuat.
Cuping hidung mereka sudah saling menempel semakin dekat ketika bibir ranum gadis itu hampir di gapai oleh Erick, namun semuanya sirna seketika saat Elena tiba-tiba memalingkan wajahnya.
Erick mengela nafasnya kasar. Jelas sekali Elena tak ingin di sentuh, bisa-bisanya ia hampir saja khilaf hanya karena sekali tetap saat melihat bibir ranum yang ia rindukan rasanya itu.
"Maaf tadi aku terpaksa menarik mu karena ada suster yang lewat," ujar Erick mengutarakan apa yang hendak ia katakan tadi.
"Tidak apa-apa, aku mengerti," ucap Elena tanpa mengalihkan pandangannya.
"Dan maaf tadi aku tak bisa mengontrol diriku."
"Jangan terus meminta maaf." sela Elena. "kamu adalah seorang pemimpin, tak baik jika terus mengucapkan maaf itu akan menghilangkan wibawa mu."
"Kenapa? memangnya ada yang salah? tak peduli kau pemimpin atau bukan, jika kau salah kau harus tetap minta maaf," ujar Erick.
__ADS_1
Elena sedikit melongo mendengar jawaban pria itu. Benar, tak ada yang bisa berdebat dengan pria genius! aish.
"Baiklah, kita jadi pergi atau tidak?" tanya Elena kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja." wajah Erick mendadak sumringah lagi. "Ayo!"
Lalu mereka melangkah bersama dengan saling bergandengan tangan.
...----------------...
Malam yang terang karena bertabur bintang dan cahaya rembulan yang bersinar seolah alam pun ikut mendukung Erick dengan rencananya untuk membuat Elena kembali tersenyum. Erick membawa Elena jalan- jalan.
Mereka berekreasi bersama, mengunjungi lapangan luas yang kini den di adakan pasar malam dan karnaval.
"Dari mana kamu bisa tahu tempat ini?" tanya Elena di sela kekagumannya menatap pemeran penuh keseruan di depannya.
"Aku tahu karna memang di tempat ini setiap malam di adakan pasar malam tapi hanya hari-hari tertentu mereka juga merayakan karnaval budaya dan itu adalah malam ini." tutur Erick menjelaskan.
"Bagaimana, kau suka?" ucap pria itu lagi, saat kepalanya menoleh melihat wajah Elena dari samping, Erick sekali lagi terpesona, raut cantik itu terlihat antusias dan berseri-seri, binar di matanya yang terlihat penuh seolah mengalahkan sinar ribuan bintang malam ini.
"Kau ingin bermain?"
Elena menoleh, mengangguk lucu. Erick mengeratkan genggaman tangannya.
"Let's go!"
***
"Aku ingin terus mempertahankan dan melihat senyum itu wajah mu, sayang. Apakah bisa?"
Kini Erick justru khawatir, ia takut kebersamaan dengan Elena saat ini menjadi yang terakhir. Tak ada yang tahu bagaimana masa depan, namun hanya satu harapan Erick, yaitu Elena selalu di liputi kebahagiaan.
Saat sedang asyik menonton pertunjukkan, Elena dan Erick tersentak karena tiba-tiba di dorong oleh kerumunan orang-orang dari belakang, sontak kejadian itu membuat tubuh Elena tersungkur ke belakang, ia meringis panjang ketika di rasakannya bagian punggung yang terhantuk bebatuan tajam.
Erick sontak panik, ia segera membantu Elena berdiri namun gadis itu justru semakin mengaduh.
"Elena apa yang terjadi? apakah ada yang terluka?" Erick semakin di landa panik dan cemas.
"P- punggung ku, rasanya sakit sekali," ucap Elena terbata- bata menahan nyeri.
"Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit."
Erick pun memapah Elena kembali ke rumah sakit yang memang letak nya tak jauh dari lapangan tempat pasar malam ini di adakan.
***
Sampai kembali ke ruang rawat dengan perjuangan lumayan keras agar tidak ketahuan, Erick kemudian meminta Elena duduk di atas brankar yang sebelumnya di tempati olehnya.
__ADS_1
Erick membelalak terkejut saat melihat punggung kiri Elena yang mengeluarkan cairan kental berwarna pekat.
"Punggung mu berdarrah."
"Benarkah?" Elena pun ikut panik.
"Tunggu dulu, biar aku ambil kotak p3k." Erick lantas memeriksa laci dan benar ada kotak yang di maksudkan nya di sana.
"Ekhem, bisakah kamu membuka setengah baju mu? agar aku bisa melihat lukanya?" pinta Erick, kini kedua orang itu sama-sama memerah wajahnya.
Sebenarnya Elena ragu, tapi luka nya semakin terasa sakit, akhirnya ia pun membuka kancing baju yang di kenakan nya, hingga setengah punggung kini terlihat.
Erick menelan saliva kasar saat melihat kulit halus bak pualam itu secara nyata, nyaris tak memiliki celah saat ia menyentuhnya terasa sangat lembut.
Elena terkesiap sedikit meremang saat tangan Erick menyentuh permukaan kulitnya.
"Tunggu, ini luka bekas jahitan?" batin Erick melihat luka di punggung Elena.
Dari mana istrinya mendapat jahitan di luka seperti ini.
Tunggu! Erick mengingatnya, perkataan Dea soal kondisi Elena kembali terngiang di otaknya.
"Kau dengan kejam mengurung Elena di gudang yang gelap hingga punggungnya terluka karena benda tajam."
Astaga! rasanya seperti ada ribuan pisau yang menikam jantung Erick saat ini. Luka ini di dapatkan Elena karna perbuatan kejam nya.
"Ijin kan aku mengobatinya," ucap Erick dengan parau, merasakan penyesalan yang luar biasa dalam.
Elena yang memunggungi pria itu tak bisa melihat wajah Erick, hanya mengangguk.
Erick pun mulai mengobati luka di punggung Elena, sesekali gadis itu akan mengaduh dan meringis dan tubuhnya yang sedikit bergetar sebagai respon karena lukanya begitu menyakitkan. Hal itu semakin membuat Erick semakin di rundung perasaan bersalah.
"Selesai," seru Erick setelah memberikan obat dan memplester luka Elena.
"Sayang, apa luka ini kamu dapat kan saat aku mengurung mu di gudang waktu itu?" tanya Erick pelan dengan perasaan perih.
Elena tak menjawab. Mereka sama-sama diam larut dalam perasaan masing-masing.
"Maafkan aku. Pasti sangat menyakitkan ya?" ujar Erick matanya nampak kelam dan sendu.
Tak ada respon dari gadis itu, perlahan Erick semakin mendekat mengikis jarak di antara mereka.
Elena terperanjat saat sebuah tangan besar tiba-tiba menyelusup memeluk pinggangnya dari belakang.
"Maafkan aku, sayang, perilaku dahulu ternyata sangat menyakiti mu," ujar Erick di telinga Elena, gadis itu meremang seketika saat di rasakannya deru nafas Erick yang menyapa tengkuk nya.
Satu tangan Erick perlahan-lahan semakin melorotkan baju di bagian bahu Elena, lalu pria itu mengecup tepat di bagian luka Elena berada.
__ADS_1
Tindakan yang membuat dada Elena berdegup kencang tiba-tiba, ia membelalak kaget saat Erick melakukan itu. Rasanya seperti ribuan kupu-kupu kini bergejolak dalam perutnya.
"Semoga cepat sembuh," ujar Erick kembali melabuhkan kecupan di punggung Elena cukup lama lalu kini kedua tangannya memeluk pinggang Elena dari belakang dengan erat.