
Happy reading 🌹🌹🌹
Suara sirine mobil polisi menggema di tempat pertemuan antara kubu Erick dan kubu Sarah. Sementara itu, tuan Wahyu iskandar yang sedang mengawasi bersama para polisi tak jauh dari TKP merasa aneh karena tiba-tiba mendengar suara sirine itu.
"Kenapa bisa ada suara sirine polisi, siapa yang memanggil mereka?"
Gumam tuan Wahyu iskandar hanya menggantung di udara, karna tak ada yang menjawab. Yang lain pun sama bingungnya.
"Lebih baik kita langsung menghampiri ke sana saja pak." usul salah satu polisi yang berjaga lalu di setuju oleh yang lainnya.
Wahyu iskandar terpekur sejenak, sedang berfikir dahulu lalu akhirnya ia mengangguk mantap. "Baiklah. Kita susul saja mereka ke sana!"
Polisi yang lain nampak saling melempar pandang lalu mengangguk kompak, lantas bersama para bodyguard nya Wahyu iskandar juga para polisi yang sedari tadi sudah bersiap siaga itu pun akhirnya pergi menyusul Erick dan yang lain.
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk." gumam Wahyu iskandar dalam hatinya.
...---------Oo-------...
"Tidak ... Mona, anak ku ... " Sarah terduduk nelangsa di samping tubuh putrinya yang terkapar tak berdaya, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat air matanya menetes begitu saja.
Mona masih bisa merasakan sentuhan tangan sang mommy di pipinya, meski dalam keadaan sekarat Mona masih di beri kesempatan untuk melihat wajah wanita yang telah berjuang melahirkan nya itu untuk yang terakhir kali.
"Mona bangun sayang ... Mona!" lolongan panjang nan menyakitkan terdengar menyayat hati dari Sarah yang kehilangan putrinya, Sarah merasa sangat terpuruk ia seperti tak bisa merasakan lagi rasa sakit yang kini menerjang habisan- habisan hatinya. Kenyataan jika dari tangannya sendiri lah ia menembak sang putri membuat Sarah semakin terpuruk menyesali perbuatannya, ia meraung kencang, membawa kepala putrinya ke pangkuan.
"A-aku l- lega, aku berhasil menghalangi m- mommy menjadi pembunvh ... " lirih Mona di antara nafasnya yang semakin tercekat. Seperti malaikat maut telah menunggunya saat ini.
"M- meski b- bayaran nya adalah nyawa ku sendiri, aku tak merasa penyesalan."
Mona merasakan sangat sakit di sekujur tubuhnya, tapi saat ia melihat cahaya terang yang sedang menanti nya, ia tersenyum.
"Enggak, enggak!" Sarah menggeleng dengan isakan semakin kencang, dia tidak ingin kehilangan putri nya, kenyataan bahwa apa yang di ucapkan nya jika balas dendam nya lebih penting dari putri nya itu tidak lah benar, putrinya tetap yang terpenting untuknya.
"Mommy melakukan semua untuk mu sayang. Mommy berjuang untuk hak dan kebahagiaan kita, jangan tinggalkan mommy!"
***
Erick melawan anak buah Sarah yang menghalanginya untuk membebaskan Elena, sekuat tenaga Erick menghajar satu persatu anak buah Sarah.
Bugh!
__ADS_1
Burgh!
Kratak!
Suara patahan tulang begitu renyah berbunyi, bersama Zidan akhirnya satu persatu Erick bisa melumpuhkan semua anak buah Sarah.
"Elena ... "
Erick segera menghampiri Elena dan memeluknya begitu erat. Clarissa yang tengah di bukakan jeratan tangan nya oleh Zidan, melihat pemandangan itu merasa sedikit sedih, tapi berusaha ia sembunyikan.
"Apa yang kau pikirkan Clarissa? tentu saja Erick akan lebih dulu mementingkan Elena-nya di banding dirimu."
Lantas wanita itu menggeleng cepat.
"Tak apa. Segera setelah ini kau harus benar-benar menghilangkan perasaan mu. Erick dan Elena pantas bahagia tanpa ada halangan lagi."
Monolognya dalam hati.
"Kau tidak apa-apa kan? tidak ada yang terluka kan?" tanya Erick setelah melepas pelukannya, ia menangkup wajah gadis itu, Elena mengangguk pertanda ia baik-baik saja.
"Syukurlah." lirih Erick kembali memeluk sang istri. Dunianya hampir hancur ketika Elena dalam bahaya, kini wanitanya sudah berada di sampingnya Erick tak khawatir lagi.
Wanita yang masih melihat ke arah Erick dan Elena pun akhirnya menoleh pada pria itu.
"Tidak apa-apa. Terimakasih ya," ucap Elena pada Zidan sambil tersenyum tipis yang hanya di balas anggukan oleh Zidan.
"Mona!"
Lengkingan suara Sarah kembali terdengar kini berhasil mengalihkan perhatian yang lain.
Astaga! Erick membeliak terkejut. Karna terlalu fokus pada tujuan awalnya menyelamatkan Elena ia hampir melupakan Mona, begitu juga dengan Elena, lalu keempatnya pun menghampiri Sarah dan Mona.
"Mona ... " Erick tersungkur di samping sang adik. Yang otomatis Mona langsung menoleh ke arah kakak nya itu.
Erick ikut merasa sedih dengan kondisi Mona. Meskipun kenyataan jika Mona bukan adik kandung nya tapi Mona tetaplah masih menjadi adiknya.
"Maafkan kakak ... kakak ... "
"Tidak usah meminta maaf kak." potong Mona.
__ADS_1
"E- elena ... " tersendat Mona memanggil. Elena mendekat.
"T-tolong maafkan kakak ku, b- beri dia satu kesempatan lagi untuk memperbaiki hubungan kalian. S- sebelum a- aku pergi a- aku ingin melihat k- kakak ku bahagia."
Mendengar perkataan terakhir Mona, Elena sontak menggeleng. "Tidak. Jangan katakan itu, kau akan sembuh, kita ke rumah sakit ya ... " Elena tak kuasa untuk menahan air matanya, ini seperti sebuah adegan perpisahan yang sangat menyakitkan.
Mona lantas menggeleng. "Aku tak butuh rumah sakit. Rasa sakit ini akan ku tanggung sendiri sampai akhir hayat ku."
"Kau mengorbankan diri mu sendiri untuk melindungi ku ... " Isak Elena tak tertahankan.
"A- anggap lah i- itu sebagai penebusan dosa-dosa ku pada mu, kau tak usah merasa bersalah E- elena."
Mona dengan susah payah menarik sudut bibirnya yang sudah memucat, dengan gerakan lamban ia mengambil sebelah tangan Erick dan sebelah tangan Elena lalu menyatukan nya.
"Hidup lah dengan bahagia. Hingga tak ada penyesalan saat aku pergi ... "
"Tidak sayang, kau akan selamat. Mommy akan membawa mu ke rumah sakit."
Mona menoleh pada Sarah, menggeleng dengan senyuman yang sama.
"Mommy juga harus bahagia, seperti ku. Ku harap mommy juga bisa menebus dosa- dosa mommy dan memulai hidup baru."
Lalu perlahan-lahan gerakan tangan Mona melemas bersamaan dengan matanya yang pelan-pelan tertutup rapat.
Semua menahan nafas, menyaksikan Mona yang akhirnya bisa pergi dengan tenang, lalu pecahlah tangis semuanya terlebih Sarah yang meraung-raung tidak terima putri nya yang telah tiada.
Dengan isakan kencang dan air mata yang terus keluar serupa banjir bandang. Sarah menarik tubuh kaku Mona dan memeluk nya erat.
"Mona! putriku kamu gak boleh pergi, kembali sayang! kembali pada mommy!" jerit kesakitan Sarah, seorang ibu yang kehilangan putrinya karena kesalahannya sendiri.
Winston datang. Ia terlambat, hatinya begitu merasa sangat hancur. Ambulance sudah datang, tapi sekarang putrinya sudah tiada, Winston gagal.
Pria itu tersungkur di samping jasad Mona.
"M- mona, i- ini a- ayah nak," lirihnya terbata-bata, air matanya luruh satu persatu melihat tubuh Mona yang sudah terbujur kaku. Winston bahkan tidak di beri kesempatan untuk sekedar berbicara dengan putrinya bahkan untuk yang terakhir kali.
Bertahun-tahun ia memendam rindunya untuk bertemu dengan sang putri tercinta. Winston sudah menyiapkan segalanya untuk Mona, tapi kini sudah sangat terlambat. Hanya ada penyesalan yang akan ia bawa sampai ia matti.
"Mona maafkan ayah. Maafkan ayah mu yang brengsekk ini."
__ADS_1