Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 86


__ADS_3

Happy reading 😘😘


Erick kembali ke hotel dengan bahu lesuh, kakinya melangkah gontai, sepanjang jalan ia terus mengingat percakapan singkat nya dengan pria asing, yang kini perlahan membuka mata hatinya.


Dengar kan anak muda. Aku hanya ingin memberitahukan mu, jika kelak kau menemukan belahan hatimu, jangan pernah menjadi pria brengsekk seperti ku. Ketika pasangan mu melakukan kesalahan cobalah untuk mendengarkan dan memahaminya dahulu, jangan menghadapinya dengan emosi yang akhirnya hanya akan membawa mu pada penyesalan seumur hidup.


Di dunia ini tak ada yang abadi nak, bukankah kehadirannya akan terasa ketika ia sudah tak ada? jadi jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang kini berada di samping mu.


Kembali, perkataan James terngiang-ngiang di otaknya. Erick merasakan sesak luar biasa yang kini merengsek dada.


"Apa yang kau lakukan Erickson! kenap kau baru menyadarinya sekarang. Bodoh benar-benar bodoh!" Erick merutuki dirinya sendiri.


"Harusnya kau coba untuk mendengarkan Elena dahulu dan memahaminya bukannya langsung menuduh karena keegoisan mu!" Erick berteriak, seakan apa yang di alami James kini berpindah padanya.


"Arggghh!" brak! Erick melempar pas bunga di hadapannya ke arah lukisan hingga lukisan itu terjatuh menimbulkan suara yang lebih nyaring. Kepalanya mendadak berdenyut sakit, Erick luruh menekuk lutut dengan tangannya menopang di atas meja dekat sofa.


"Elena ... " ia memanggil parau sang kekasih hati dengan bahunya yang bergetar berusaha menahan isakan. Penyesalan kian mengihimpit membuat nafasnya semakin terasa berat.


Erick mungkin tak akan bernasib seperti James karena ia mempunyai satu kesempatan. Elena nya masih hidup saat ini, dan ia harus menemuinya kemudian meminta maaf padanya.


Ya itu benar. Erick perlahan bangkit, menetralkan gemuruh hatinya. Sejurus kemudian ia menegakkan tubuhnya kembali untuk menelpon asistennya. Sudah di putuskan ia harus kembali ke Indonesia, menjemput Elena nya, ia akan coba mendengarkan penjelasan sang istri, berusaha untuk memahaminya. Tindakan yang harusnya ia lakukan sejak dulu.


"Elena ... tunggu aku datang pada mu."


...***...

__ADS_1


Sementara itu, di tempat lain Elena kini sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Hampir satu jam ia mengelilingi setiap stand di dalam supermarket yang luas.


Bersama mbok Can dan putrinya, Tiara. Mereka berbelanja untuk kebutuhan dapur. Sengaja Elena mengajak untuk berbelanja tanpa sepengetahuan Marvin,jika tidak begitu sudah ia tebak Marvin pasti akan memaksanya untuk memakai uang pria itu, dan Elena tak ingin itu terjadi. Marvin telah memberikannya tempat tinggal secara gratis, Elena tak ingin lagi semakin merepotkannya, meski pria itu selalu menekankan jika mereka keluarga dan jangan pernah sungkan, namun tetap saja ada sebuah batasan yang tak kasat mata di antara mereka dan Elena tak ingin Marvin ataupun dirinya melewati batasan itu.


"Buk ... Tiara pengen eskrim boleh ya?!" lengkingan permohonan gadis kecil berkuncir dua di samping nya membuat Elena menoleh.


"Tidak boleh. Ibuk tidak bawa uang kesini, jangan macam-macam!" delik mbok Can membuat Elena terkesiap, ia lalu menghampiri ibu dan anak itu.


"Tidak apa-apa, Tiara ingin eskrim?"


"Iya kak Elena." bocah perempuan itu mengangguk lemah.


"Ya, sudah. Ambil yang Tiara inginkan," ujar Elena.


Elena tertawa gemas di buatnya. "Tentu saja. Ambil lah sebanyak yang kamu mau."


"Wahh ... terimakasih kak Elena!" Tiara melompat riang, memeluk pinggang Elena sesaat. Hanya dengan melihat pemandangan tersebut membuat Elena merasa terenyuh, ia mengusap pipi gembul Tiara sebelum akhirnya bocah itu berjalan menuju stan es krim dengan bersorak senang.


"Non, harusnya jangan melakukan itu, saya merasa tak enak." protes mbok Can, di sampingnya.


"Tidak apa-apa mbok. Tiara masih anak-anak sayang jika keinginannya tak di turuti toh ia hanya menginginkan es krim. Lagipula saya yang mengajak mbok dan Tiara kesini, jadi jangan merasa sungkan."


"Terimakasih ya non," ucap mbok Can, Elena mengangguk.


"Hhhh ... saya jadi merasa bersalah. Selama ini kami hidup dengan keadaan pas-pasan, jika bukan karena kebaikan tuan muda yang mau memperkerjakan suami saya untuk merawat vila nya, mungkin kami selamanya akan hidup meralat," lirih mbok Can berucap menatap menerawang ke depan di mana Tiara terlihat gembira saat tengah mengambil es krim.

__ADS_1


"Jangan mengatakan itu mbok, semua insan sudah di tentukan takdir hidupnya dan rezeki nya masing-masing. Yang harusnya kita lakukan adalah tetap bersyukur dengan segala yang telah di berikan Tuhan." tutur Elena.


Mbok Can menatap takjub gadis itu. "Perkataan nona benar. Sungguh saya sangat jarang menemui anak muda yang memiliki pemikiran luas dan bijak seperti nona."


"Pantas lah tuan Marvin sangat tergila-gila pada nona." gumam mbok Can.


"Maksud mbok?" Elena menoleh lagi.


"Eh, tidak nona." mbok Can menggeleng menghela nafas, beruntung Elena tak mendengarkan ucapan terakhirnya.


"Ya sudah kalau begitu coba mbok Can ke tempat sayur mayur ya. Saya mau melihat ke samping dulu."


"Baik non."


***


Di salah satu stand bahan-bahan untuk membuat roti dan kue, Elena berhenti, matanya melirik penuh minat. Teringat kembali perkataan Marvin, kini Elena merasa tertarik untuk mengembangkan minatnya di bidang membuat dessert tersebut.


Akhirnya Elena memilih untuk mengambil beberapa bahan seperti tepung, telur, pengembang dan lain sebagainya. Karena terlalu fokus ia yang tengah mendorong troli belanjaan tersentak kaget karena tak sengaja menabrak tubuh seseorang di depannya.


"Dammn it! apa kau tidak punya mata!" pria itu mengumpat kesal padanya.


Elena segera saja menunduk. "M-maaf kan aku, aku benar-benar tak sengaja.


"Tunggu dulu." pria berjaket kulit itu membuka kacamata nya. "Sepertinya aku pernah melihat mu."

__ADS_1


__ADS_2