Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 36


__ADS_3

Gadis berkepang dua dengan masih mengenakan seragam sekolah nya itu panik bukan main, wajahnya yang cantik berubah pias ketika mengetahui sepeda yang di kendarai nya tak sengaja menabrak kap mobil depan yang terparkir di pinggir dekat sebuah restoran jalan raya.


"Aduh gimana ini, mobilnya lecet lagi, mana keliatan mahal." Ia bergumam cemas. Ketakutan nampak kentara sekali menyelimutinya.


Semakin ramai orang-orang melihat ke arah nya saat ini membuat gadis yang akan lulus dari jenjang pendidikan SMA nya itu pun memiliki sebuah ide nyeleneh yang muncul secara tiba-tiba di otaknya.


Tak ingin di penjara, itu ketakutannya saat ini. Ia ingat nasihat bunda Ratna, ibu asuhnya, sejak ia masih kecil dan di percayai nya hingga kini yaitu jika kamu sengaja membuat barang seseorang rusak maka kamu harus meminta maaf dan mau bertanggung jawab atau kamu akan di penjara. Maka ia tak punya pilihan lain selain mengikuti ide itu di kepalanya.


Gadis tersebut mengeluarkan sebuah kertas juga pulpen, ia kemudian merogoh saku seragam putih nya yang mulai terlihat kekuningan, terdapat uang lima puluh ribu di sana.


"Padahal ini gaji pertama aku kerja part time di saung nya bu Susi." Ia mengesah kecewa, namun tak punya pilihan lain lagi.


Ia tempelkan uang berwarna biru itu di atas kertas menggunakan selotip yang ada di tasnya, juga menuliskan kata-kata permintaan maaf di bawahnya.


Setelah selesai kemudian ia melirik ke kiri dan kanan setelah merasa aman ia tempelkan kertas yang sudah berisi permintaan maaf nya dan uang ganti ruginya di badan mobil yang tak sengaja ia tabrak hingga menimbulkan gurat lecet yang lumayan memanjang di sana.


"Semoga pemilik nya liat." Gumam gadis itu. "Maaf ya, aku gak sengaja," ucapnya lagi, lalu ia pergi menjauh seolah seperti tak terjadi apa-apa.


Menunggu lumayan jauh dari tempat semula, menunggu pemilik mobil mahal itu datang. Namun sayang ketika si pemilik mobil menghampiri mobilnya berada, gadis itu tak bisa melihat lebih jelas karena pejalan kaki yang lumayan ramai tiba- tiba membuat pandangannya terhalang.


Hingga ketika ia bisa melihat kembali, mobil itu dan pemiliknya sudah pergi meninggalkan area, membuat si gadis mendesah panjang lalu memilih untuk pergi dari sana.


Elena tersenyum geli ketika mengingat kembali moment lucu sekaligus menegangkan baginya itu. Dan Erick telah membangkitkan lagi kenangan yang hampir pudar dari memorinya tersebut.


"Tuhan terkadang lucu, mempertemukan dua orang dengan cara tak biasa." Batinnya menggeleng pelan.


"Kenapa? Kau mengingat jelas moment itu sekarang?" Tanya Erick melihat Elena yang hanya senyum-senyum.


Gadis itu mengangguk lucu. "Aku mengingat nya. Itu akan menjadi kenangan manis yang tak akan ku lupakan lagi."

__ADS_1


Erick mengambil sebelah tangan gadis itu, mengecupnya pelan lalu mengusapnya dengan penuh sayang.


"Kini tiga tahun berlalu setelah aku menemukan mu kembali. Belahan jiwa ku yang hilang. Aku sengaja membuat mu bisa dengan mudah bekerja di perusahaan, agar aku semakin dekat dengan mu, lebih dalam mengenal, hingga membuat ku semakin yakin jika aku bisa menghabiskan sisa hidup ku bersama mu," ujar Erick dengan kata lembutnya.


"Tapi kenapa mas tidak bilang dari awal? Bahkan ketika aku mempunyai kekasih dan menjalin hubungan cukup lama. Mas tetap diam tidak menunjukkan rasa suka mas sama sekali, jadi aku tidak akan pernah tahu jika mas Erick menyukai ku." Tutur Elena dengan bibir sedikit mengerucut.


Erick menipiskan bibir melihat itu. Ada rasa gelenyar aneh yang menyenangkan ketika Elena sudah terang-terangan dengan panggilan 'mas' untuknya. Membuat rasa Erick pada istrinya itu semakin melambung tinggi.


"Karena aku ingin secara alamiah mendekati mu. Aku sama sekali tak ingin memaksa mu. Sudah ku bilang kan asal kau bahagia, itu sudah cukup untuk ku."


Tanpa sadar mata Elena berembun karena perkataan manis laki-laki itu. "Terimakasih. Aku tidak pernah mendapat cinta dan kasih sayang sebesar ini dari seorang pria," ucap Elena terharu.


"Jangan menangis. Hari ini adalah hari bahagia mu, tidak boleh ada air mata." Jempol Erick menyeka pipi Elena yang basah.


"Sejak dulu, aku ingin memakaikan kembali jepit rambut ini kepada pemiliknya." Erick berujar seraya menatap benda mungil itu di tangannya.


"Sekarang kesempatan itu sudah ada di depan mata ku. Bolehkah aku memakaikan jepit rambut ini padamu?"


"Cantik." Satu kata dari Erick tersebut sudah mewakilkan semua nya, ia mengusap lembut rambut coklat panjang milik Elena di mana jepit rambut itu kini terpasang di pelipis sang istri.


...***...


Erick masih punya satu kejutan lagi untuk sang belahan jiwanya, ia mengajak Elena ke tengah aula ballroom yang mana terdapat sebuah piano di sana.


Ia melepaskan genggamannya pada Elena, kemudian duduk di kursi yang sudah di siapkan dan sempat melempar senyum pada isterinya sekilas lalu jemari- jemari nya kini mulai bermain di setiap tuts piano menciptakan melodi- melodi indah yang mulai menggema di seluruh aula.


Elena terkesima. Ia memejamkan mata menikmati setiap nada menakjubkan dari permainan piano Erick.


Aku tak pernah tahu jika dia jago dalam permainan piano. gumam Elena, sedikit terkejut mengetahui satu fakta dari Erick yang sebelumnya tak ia ketahui setelah sekian lama berada di sisi pria itu sebagai asistennya dulu.

__ADS_1


"Apa kamu bisa bernyanyi?" tanya Erick menghentikan sejenak permainan nya di atas tuts piano.


"B- bernyanyi?" Elena menggeleng keras. "Aku tidak bisa."


Erick mengulum senyum. "Jangan berbohong. Aku tahu kamu adalah penyanyi yang paling berbakat yang pernah ku kenal."


Pipi Elena bersemu. "D-dari mana mas bisa menilainya? apa mas pernah melihat ku bernyanyi?"


Terdengar kekehan kecil pria itu. " Aku selalu tahu honey. Semua tentang dirimu tak pernah satu pun luput dari perhatian ku."


Elena semakin menunduk dengan kedua pipinya yang memerah tomat.


"Mau bernyanyi? aku yang akan memainkan melodinya."


Elena mengangguk pelan.Akhirnya mereka saling berduet dengan Elena yang menyanyikan lagu kesukaannya (Line without a hoox- Ricky Montgomery) dan Erick yang memainkan nadanya di setiap tuts piano yang ia tekan menciptakan nuansa romansa yang membuat siapapun terpesona melihatnya.


Seakan-akan seperti ada benang merah tak kasat mata yang mengitari keduanya saat ini, mengikat mereka dalam hubungan cinta yang abadi.


"Bisakah kamu berjanji sesuatu padaku?" mata indah Elena nampak bergulir ragu, antara terpesona dengan penampilan Erick setelah selesai ia bermain piano yang begitu menakjubkan, dan antara permintaan nya kali ini yang mungkin saja akan menyinggung Erick.


"Katakanlah," ucap Erick menangkup sebelah pipi Elena dengan tangan besarnya, mengelus dengan penuh kasih.


"Aku pernah trauma karena sebuah hubungan. Jadi bisakah kita memulai rumah tangga ini pelan-pelan, dan kumohon tidak ada yang namanya pengkhianatan, sebab aku pernah tersakiti karenanya," ujar Elena dengan puppy eyes nya yang nampak begitu mendamba dan memohon.


Erick mengesah pelan, ia sangat tahu tidak mudah untuk Elena bangkit dari keterpurukannya tentang hubungan nya yang gagal dulu dan traumanya akan penghianatan.


"Aku berjanji tidak akan ada penghianatan. Dan kita akan memulai hubungan ini perlahan, jangan terburu-buru karena aku ingin kamu merasa nyaman."


Elena tersenyum haru. "Terimakasih." Ia segera merasuk dalam dekapan hangat tubuh pria itu dan Erick mengecup kepalanya berkali-kali.

__ADS_1


"Aku berjanji akan selalu membahagiakan mu," ujar Erick dalam hatinya.


__ADS_2