Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 81


__ADS_3

"Selamat datang, di tempat tinggal mu yang baru."


Marvin berujar semangat, merentangkan tangan membelakangi sebuah hunian megah berlantai dua dengan dominan dinding kaca pada desain interior rumah.


"Ayo masuk," ucapnya kemudian dengan senantiasa garis bibirnya yang semakin tertarik lebar.


Elena hanya tersenyum simpul, ia mengangguk lalu menderek kopernya hendak masuk, namun dengan sigap Marvin membantunya mengambil alih, Elena terkesiap lalu menahan lengan besar Marvin.


"Aku bisa sendiri kak." pungkas wanita itu. Marvin melirik ke arahnya, tersenyum.


"Kau masih canggung padaku? lupa apa yang ku katakan? kita adalah keluarga Elena, jangan pura-pura tegar di hadapan ku."


"Tapi aku bisa sendiri kak, sungguh," ucap Elena benar-benar meyakinkan pria itu, bagaimanapun Elena masih dengan egonya, tak ingin terlihat lemah lagi di hadapan siapapun.


Marvin mengesah, ia hanya bisa tersenyum, maklum. "Baiklah, ayo kita masuk." ia lepaskan genggamnya dari gagang koper, membiarkan Elena mengambil alih lagi, kemudian kedua orang berbeda gender itu berjalan bersisian masuk ke dalam villa.


Sampai di dalam, tak bisa Elena pungkiri matanya terus di manjakan dengan interior bangunan di dalamnya, semua yang ada di villa begitu nyaris sempurna, tataan dan suasana mirip seperti bangunan rumah Eropa zaman dulu, sesuai perkataan Marvin karna villa ini di bangun di dekat kaki gunung, Elena bisa merasakan kesejukan yang masuk ke dalam rongga paru-paru nya, benar-benar sangat nyaman dan menyenangkan.


"Untuk beberapa bulan ke depan kamu akan tinggal di sini Elen, sampai kondisi tubuh dan mental mu stabil. Di sini kamu bisa melakukan apapun untuk menyenangkan dirimu, biarkan hati dan pikiran mu rehat sejenak segala hal yang terjadi, jangan memikirkan apapun dulu kecuali membuat dirimu nyaman, mengerti?"


Elena menoleh menatap Marvin. "terimakasih untuk semuanya selama ini, kak."

__ADS_1


Mereka saling menatap sejenak sebelum akhirnya Marvin mengusap kepala gadis itu. "Kita berasal dari tempat yang sama, tumbuh dengan kenangan masa kecil bersama, sudah ku bilang kita adalah keluarga, kapan pun kamu butuh, aku akan selalu ada di samping mu."


Tanpa sadar manik indah Elena sudah berkaca-kaca, ia mengangguk-angguk seperti anak kecil, menghiasi wajahnya dengan senyum bahagia, Marvin ingin sekali membawa gadis itu ke pelukannya namun segera ia sadar, jika Elena tak nyaman dengan kontak fisik belakangan ini, jadi ia urungkan pikiran itu.


"Oh, tuan muda. Anda sudah datang?" seseorang berseru, pria paruh baya bertubuh subur menghampiri mereka.


"Ah, ya. Elena, kenalkan ini pak Jaka, beliau adalah pengurus villa ini."


Pak Jaka tersenyum sanjung, ia menunduk menangkup kedua tangan, memperkenalkan diri. Tak lama kemudian datanglah seorang wanita bersama gadis kecil berusia sekitaran 10 tahun bersama.


"Salam kenal nona Elena. Tuan muda mengatakan pada saya jika anda akan tinggal di sini."


"Iya pak Jaka salam kenal juga," ucap Elena mengikuti apa yang laki-laki tua itu lakukan sambil tersenyum.


"Salam kenal nona Elena, panggil saja mbok Can. Tuan muda banyak menceritakan tentang anda pada kami, semoga anda bisa betah di sini ya."


Mendengar penuturan mbok Can tersebut Elena melirik pada Marvin. "Banyak menceritakan tentang ku? apa yang kakak ceritakan?'


Marvin hanya meliriknya sekilas, berpura-pura sedang bersiul sambil mengusap tengkuknya kentara salah tingkah. Elena menggeleng dengan mencebik.


"Hahaha, anak muda zaman sekarang ... " pak Jaka tertawa dengan tingkah mereka. "Ya sudah kalau begitu nona Elena, mari saya tunjukkan di mana kamar anda," ucap mbok Can mengambil alih, Elena mengangguk sejurus kemudian Elena mengekori mbok Can melangkah bersama putrinya yang menggandeng lengan Elena.

__ADS_1


"Biar aku bantu bawakan kopernya ya kak," kata gadis kecil itu. Elena tersenyum padanya.


"Baiklah." ia mengacak-acak pucuk kepala gadis manis itu dengan gemas. "Tadi siapa nama mu?"


"Tiara, kak."


"Kau sangat cantik." puji Elena, jujur.


Tiara mengulum bibirnya. "Kakak lebih cantik," ucapnya.


Marvin yang sempat melihat pemandangan itupun tak bisa untuk tak tersenyum ia melipat kedua tangan dengan tatapan begitu lembut.


Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Kenapa tuan muda? merasa jatuh cinta lagi?" pak Jaka menggodanya, jenaka.


"Ck, apaan pak Jaka."


"Hahaha, ketara pisan saltingnya. Kalau saran saya gas utarai perasaan aden, sebelum di gandol yang lain," nasihat pak Jaka, ia yang sudah mengabdi pada keluarga Marvin sejak laki-laki itu sejak kecil sangat tahu bagaimana sifatnya.


Marvin hanya diam melirik ke arah pak Jaka. Dalam hati ia meringis nelangsa.

__ADS_1


"Memang udah kegandol sama yang lain pak," ucapnya sesaat lalu pergi mengikuti langkah mbok Can dan Elena.


Pak Jaka tercengang. "Sadboy berarti, ck. ck." pria tua tersebut menggeleng, kasihan.


__ADS_2