Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 153


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Ruang operasi emergency berubah, Erick dan yang lainnya sadar seketika bangkit untuk melihat tubuh Elena yang terbaring di atas brankar keluar bersama banyaknya alat penunjang kehidupan di sekitarnya.


"Bagaimana keadaan isteri saya, apa yang terjadi padanya?!" sergah Erick cepat, ia mengusap lembut wajah Elena dengan kecemasan yang kembali memumbung tinggi.


"Tenang pak. Isteri anda bisa kami selamatkan, sekarang pasien akan di pindahkan ke ruang ICU, mohon bapak minggir dulu."


Erick menghela nafas lega mendengar penuturan sang dokter, ia pun menuruti instruksi untuk menepi, keadaan Elena sudah menunjukkan kondisi yang stabil, para tim dokter dan paramedis segera memindahkan nya ke ruangan lain untuk melakukan observasi atas penyembuhan nya.


"Syukurlah, terimakasih! terimakasih Tuhan, telah memberikan ku kesempatan sekali lagi untuk Elena ku." gumam Erick penuh sukacita dan kelegaan luar biasa dalam hatinya, hingga tak henti-hentinya ia menggumam syukur pada sang pemilik semesta.


Marvin dan Rizal datang, dua pria itu merangkul pundak Erick dan mengusapnya sambil ikut tersenyum lega, Erick sampai menitikkan air mata karena nya, jujur waktu- waktu menegangkan ketika ia di hadapkan pada belahan jiwanya yang dalam sekarat, Erick seperti ikut tertarik bersama malaikat maut. Tapi beruntung nya kini semua sudah baik- baik saja. Elena-nya akan sembuh dan bisa kembali ke sisinya.


...---------Oo-------...


Malam menjelma pagi, nyanyian merdu burung-burung yang hinggap di atas pohon seolah menjadi harmoni pada pagi yang indah ini.


Seorang pria berpakaian parlente rapi di balut jas abu-abu metalik nya berjalan ke selasar rumah sakit sambil membawa buket bunga mawar di tangannya, pria itu terus mengembangkan senyum di sepanjang jalan, karena sudah terbiasa berada di sekitar ini beberapa perawat dan dokter lewat menyapa dan tersenyum padanya di balas baik oleh pria pemilik wajah tampan itu.


Derak pintu ruangan melati nomor 104 terbuka, Erick merapikan kerah jas nya lalu berjalan menghampiri seseorang yang berbaring di atas brankar saat ini.


"Sayang, aku datang."


Elena menoleh, ia balas tersenyum manis pada wajah tampan pemilik lesung di pipi kiri nya, amat sangat manis juga menyegarkan.


"Bukankah kamu ada rapat pagi ini?" tanya Elena memperhatikan Erick yang menarik kursi mendekat ke arahnya dan duduk di sana.


"Sudah selesai. Aku sengaja datang setelah rapat untuk melihat mu."


"Banyak-banyak lah istirahat, kamu terlihat lelah," seru Elena ketika tangannya menggapai untuk menyentuh pipi Erick.


"Aku tak pernah lelah jika itu tentang mu," jawab Erick mengenggam telapak tangan Elena dan mengecupnya.

__ADS_1


Terlihat wajah gadis itu tersipu. "Kau membawa apa?" tanya Elena mengalihkan pandangan.


"Oh ini, bunga untuk mu." Erick memberikan buket bunga itu pada sang istri.


"Cantik sekali," puji Elena memindai buket bunga pemberian sang suami.


"Tak lebih cantik dari mu, sayang," sahut Erick atas ucapannya. Elena seolah sedang terbang di antara awan- awan setelah mendengar pujian itu, ia kembali tersipu malu.


Tak lama kemudian yang lain ikut menyusul datang. Ada Clarissa bersama Marvin, belakangan dua orang itu sering mengunjungi Elena bersama. Ada Siska, mbok Can Tiara dan pak Joko yang telah menemani Elena dalam masa-masa penyembuhannya selama ini, jangan lupakan Dea, sahabat karib Elena, dia datang bersama suaminya lalu terakhir Zidan yang datang paling akhir, diam berdiri samping tuan mudanya.


Mereka saling bercengkrama dan mengobrol banyak hal ada guyonan juga perihal Rizal yang menggoda Marvin ada hubungannya dengan Clarissa hingga dua pria itu saling cekcok yang lucu dan saling melempar cibiran jenaka hingga menimbulkan gelak tawa.


Elena tersenyum merasa sangat bersyukur semua orang di sini menyenanginya dengan begitu tulus membuat ia hampir menitikkan air mata karena bahagia.


Sampai tiba-tiba seorang pria datang bersama pengawalnya. Wahyu iskandar, kemunculannya yang tiba-tiba membuat semua orang menoleh menatapnya.


Pria paruh baya itu dengan langkah pasti, mendekati Elena di atas brankar nya. Awalnya Wahyu iskandar ragu sang putri akan menerima kehadiran nya atau tidak. Ia tahu dan sadar diri dosa-dosa nya selama ini sangatlah banyak pada sang putri yang sejak dia kecil sengaja ia abaikan.


Namun saat melihat senyuman terpatri di wajah Elena untuk nya, wajah lesu Wahyu iskandar berubah berseri seketika.


"K- kamu memanggil ku apa nak?" tanya nya seolah ingin mendengar lebih jelas apa yang baru saja Elena ucapkan.


"Papa, aku memanggil mu papah," ujar Elena sekali lagi, Wahyu Iskandar tidak bisa menyembunyikan rasa terharunya, ia tersenyum dengan kaca-kaca menghiasi matanya.


"Sudah lama papa ingin mendengar panggilan itu dari mu nak, terimakasih. Terimakasih sudah memaafkan papa."


"Mendekat lah pah," pinta Elena. Wahyu iskandar menurut, ia melangkah mendekat ke sisi brankar di saat itulah Elena melingkarkan tangan di punggung nya, memeluknya dengan hangat.


Wahyu iskandar tertegun, lalu kaca-kaca di matanya kini berubah menjadi titik-titik air mata yang semakin mengalir deras. Tidak bisa di ungkapkan bagaimana perasaan nya saat ini. Akhirnya putrinya mau memaafkan nya dan mengakuinya kembali bahkan kini memeluknya.


"Almarhumah nenek dulu pernah bilang, aku gak boleh menaruh dendam pada papah. Bagaimana pun di dalam tubuhku mengalir darah mu yang tak akan pernah bisa di pisahkan,"


"Peristiwa yang lalu biarlah berlalu. Aku ingin melupakan nya dan menjadikannya pelajaran untuk ku. Sekarang aku hanya ingin semuanya bahagia dan memulai kehidupan baru dengan lembaran baru."

__ADS_1


Wahyu iskandar mengangguk bahagia sekaligus haru, ia mengaminkan doa terakhir yang di ucapkan putrinya.


"Semoga doa mu di kabulkan nak, papa bangga padamu."


Semua tersenyum bahagia dan haru secara bersamaan melihat adegan mengharu biru antara ayah dan anak saat ini.


Di sela kebahagiaan itu, Zidan berbisik di telinga Erick.


"Tuan, pemakaman nona Mona dan nyonya Sarah hari ini akan di laksanakan."


Erick bergeming untuk sesaat lalu ia memperhatikan semua orang yang sedang bersuka cita, ia pun mengangguk paham pada Zidan.


"Tunggu, kamu mau kemana?" Elena yang peka, menahan tangan Erick yang hendak pergi.


"Aku akan pergi dulu ke suatu tempat. Kamu di sini dulu ya bersama yang lain."


Elena menggeleng. "Tidak. Aku tahu kamu akan menghadiri upacara pemakaman mama Sarah dan Mona." lantas Elena bangkit, otomatis Dea dan mbok Can yang berdiri dekat dengan nya membantu, Clarissa mengangkat bantal dengan posisi nyaman untuk menahan punggung Elena yang menyandar.


"Bolehkah aku ikut?" lanjut Elena kemudian.


Erick sontak menggeleng. "Tidak. Kamu di sini saja istirahat."


"Tapi aku ingin menghadiri upacara pemakaman mereka, setidaknya melihat mama Sarah dan Mona, setidaknya untuk yang terakhir kali."


"Jangan memanggilnya mama." Erick berdecak. "Orang jahhat sepertinya tidak pantas untuk panggilan itu!"


"Mas ... " Elena memanggil lembut, menyentuh tangan Erick.


"Jangan seperti itu, bagaimanapun dia adalah ibumu. Kita sudah bicarakan ini kan? lupakan dan maafkan kejadian yang sudah berlalu agar tak menjadi dendam untuk ke depannya. Kita akan memulai kehidupan yang baru. Tidak bisakah kamu memaafkan kesalahan mereka, kini pun mereka sudah tak ada lagi di dunia, setidaknya biarkan mereka pergi dengan tenang."


Erick bergeming, mengalihkan pandangan masih dengan pendiriannya, namun setelah mendengar kata terakhir Elena Erick mulai berfikir ulang lalu merenungi semuanya.


Lantas kemudian Erick menatap lekat mata Elena dan mengangguk.

__ADS_1


Elena pun tersenyum lembut padanya.


__ADS_2