
Sang bagaskara menyorot teduh, angin sejuk melambai pelan membelai lembut wajah Elena saat ia membuka kaca mobil, perlahan gadis bermata coklat terang itu menjulurkan lengannya ke luar memainkan angin yang berhembus dengan telapak tangan, menerbitkan senyum di garis bibirnya.
Marvin yang melihat itu ikut tersenyum, ia sedikit mendengkus geli melihat tingkah kekanakan gadis di sampingnya.
"Tempat yang akan kamu tempati adalah sebuah villa di dekat kaki pergunungan, udara di sana sangat lah sejuk. Kau pasti akan sangat menyukainya," celetuk Marvin seraya jemarinya memencet tombol on pada radio di dashboard mobil, demi memecah keheningan dengan alunan instrumen musik klasik.
"Tunggu ka ... " Elena berseru dengan intonasi sedikit meninggi hingga tanpa sadar Marvin seketika menghentikan laju kendaraan roda empatnya.
Tubuh mereka agak terhempas hampir membentur dashboard karena rem yang mendadak.
"Kenapa?" tanya pria itu.
Tut! Elena mematikan radio yang baru saja di nyalakan, membuat Marvin semakin mengerut alis, bertanya-tanya.
"Aku tak bilang akan setuju dengan keputusan mu yang tiba-tiba menyiapkan tempat untuk ku di kota baru nanti," ucap Elena menatap dengan menyipitkan mata.
"Maksud mu?" Marvin pura-pura tak mengerti meski bisa menebak arah tujuan maksud gadis itu.
"Kau sudah memberikan ku terlalu banyak kak ... kali ini biarkan aku sendiri memutuskan di mana aku akan tinggal." tukas Elena, membuat Marvin terkesiap.
"Tunggu, wait. Kamu akan tinggal di mana jika bukan di villa yang kakak siapkan?"
"Di mana pun, asal di situ aku mendapatkan ketenangan untuk ku kak," jawab Elena.
"Oh ayolah Elen, kakak sudah menyiapkan tempat yang strategis untuk kau bisa merefreeskan otak, tujuan kita kesini agar kamu bisa melupakan segala rasa sakit mu bukan? kakak mohon biarkan semua berjalan dan kakak yang menyiapkan semuanya."
"Tidak kak. Aku sudah terlalu berhutang budi padamu kak, tolong aku tak ingin menjadi beban lagi untuk siapapun," intonasi Elena melemah wajah memelas dengan kedua tangan menangkup di depan dada.
__ADS_1
Marvin membeku untuk beberapa saat. "Kau pikir semua yang ku lakukan adalah membantu mu?" pria itu terkekeh getir. "Kau salah Elena, ini semua karena aku menyayangimu."
Deg! Elena tertegun, matanya membeliak seketika. "Kak ... "
Marvin menggeleng pelan. "Aku kecewa karena kamu mengatakan itu, seolah-olah kita tak pernah dekat dan aku hanya orang asing bagimu."
Mata Elena berembun, wajahnya menunduk dengan sesak yang tiba-tiba mengihimpit dada. "Aku telah banyak menyaksikan kepedihan selama ini kak, aku tak ingin membagi kepedihan itu juga pada orang-orang yang ku sayang."
Tangan kekar Marvin mengangkat dagu Elena agar tatapan mereka saling berhadapan.
"Hei, kau kira aku dan Dea ini siapa bagimu? kita adalah sahabat, keluarga mu. Jangan pernah berusaha untuk berpura-pura tegar, kami tak tahu bagaimana rasa sakit mu, tapi kita bisa ikut merasakan nya juga. Tolong, jangan anggap kami adalah orang asing, kami selalu ada untuk mu, membantu mu berjuang untuk keluar dari jurang kesedihan ini."
Elena terenyuh hatinya bagai tertusuk sembilu, kristal bening satu persatu meluncur bebas lagi- lagi mewakili perasaan sakitnya saat ini.
Marvin mengesah sendu, ia membuka safety belt nya demi untuk memajukan tubuhnya merengkuh Elena dalam pelukannya, ia tahu saat ini kondisi mental Elena masih sangatlah labil.
Kedua lengan Marvin semakin merengkuh hangat bahu Elena, ia menelan saliva yang terasa getir.
"Kakak janji setelah ini kau hanya akan merasakan kebahagiaan Elen ... tak akan ada lagi yang akan menyakiti mu."
...***...
Bandar udara internasional hearthrow, kota London.
Setelah menempuh perjalanan hampir 17 jam di udara, kini rombongan Erick dan Clarissa tiba juga di kota indah bak negeri dalam dongeng, London di britania raya.
Kedatangan rombongan mereka di sambut riak oleh para paparazi yang langsung saja menyerbu entah dari mana.
__ADS_1
Rupanya, itu karena ada Clarissa dengan posisi model terkemuka yang saat ini namanya sedang melambung di entertainment. Berduyun-duyun para pemburu berita datang berdesakan untuk mewawancarai dirinya, beruntung para bodyguard nya yang berbadan raksasa siap pasang badan di sekeliling mereka.
Setelah perjuangan yang cukup mengeluarkan tenaga, mereka terbebas dari para paparazi itu. Erick berdecak dengan keramaian yang tiba-tiba membuat kepalanya seolah ingin pecah. Niatnya kesini untuk menangkan diri malah di buat muak dengan drama paparazi yang ada.
"Maaf ... aku tak tahu mereka akan tiba-tiba datang untuk menyambut ku," ucap Clarissa merasa bersalah saat melihat wajah tertekuk Erick.
"Sudahlah, tak perlu meminta maaf," ucap malas Erick, Clarissa menunduk seketika.
"Tunggu ... " entah bagaimana tiba-tiba Erick mendekatkan tubuhnya membuat Clarissa mendadak merubah raut wajahnya.
Pria itu sedikit menunduk mensejajarkan tinggi dengan Clarissa, dengan sengaja mendekatkan wajah mereka membuat Clarissa semakin berdebar di tempatnya.
Tengkuknya meremang saat ia rasakan hembusan nafas Erick yang panas menerpa kulit nya.
Deg! deg! sebelumnya tak pernah ia merasa seperti ini, dengan siapapun pria yang menjalankan lawan mainnya saat mengambil set dalam sebuah pemotretan, seintiim apapun adegan yang mereka peragakan Clarissa tak seperti ini, tapi bersama Erick dengan hanya wajah mereka yang mendekat saja sudah mampu membuatnya panas dingin.
"Ada sesuatu rambut mu." ucapan Erick membuyarkan lamunan Clarissa, wanita itu tersentak rupanya Erick hanya ingin menyingkirkan sesuatu yang merusak pemandangan rambutnya.
"T- terimakasih." Clarissa mengangguk malu, entah karena udara London yang dingin atau karena gelenyar aneh yang saat ini ia rasakan membuat pipinya terlihat memerah kini.
Erick hanya mengangguk singkat, dan di saat itu juga utusan dari hotel yang akan mereka tempati sementara di sini tiba, Erick dan pria itu segera bercakap-cakap, rombongan mereka di sambut hangat oleh para utusan itu.
Sejenak Clarissa menatap dalam diam Erick yang tengah berbicara menggunakan bahasa negara ini.
Untuk kali Clarissa tak bisa membohongi hatinya.
"Bolehkah aku egois, Erickson?"
__ADS_1