Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 45


__ADS_3

Elena menghampiri kotak kado berukuran besar dengan tinggi hampir melampauinya. Ia terlihat bersemangatz tak ada lagi wajah murung yang sempat menghinggapi beberapa jam lalu. Elena benar-benar terlihat berseri,hal itu membuat Erick ikut merasa bahagia.


Erick biarkan wanitanya itu dengan keceriaannya, menatap dari jauh sambil bersidekap dada, dengan hanya memandang Elena seperti ini saja sudah membuat Erick sangat bahagia, seolah Tuhan sudah mengabulkan semua keinginannya.


Elena mengitari kotak hadiah itu, seperti gadis itu sedang mengukur seberapa besar dan tinggi nya kado tersebut, Erick mendengkus geli di buatnya.


Dengan menahan nafas, Elena berhati-hati untuk membuka ikatan pita yang membungkus kado, dan di saat ia menariknya dengan berdebar-debar, netra Elena seketika membelalak saat banyaknya balon berwarna merah keluar dari sana berduyun-duyun seperti kawanan lebah yang keluar dari sarang.


Elena terperangah dengan binar semakin jelas ketika melihat bola-bola gas yang keluar dari kado yang sudah terbuka kini melambung tinggi menuju langit. Nampak sangat indah ketika ratusan balon itu melayang di udara.


"Indahnya ... " ia memandang takjub. Tapi belum semua, kado utamanya belum gadis itu lihat.


Dan saat Elena kembali memperhatikan sesuatu yang tertinggal di kado setelah ratusan balon itu terbang, wanita bergaun ungu itu tak bisa untuk menutup mulut reaksi terkejutnya. Ia melihat sebuah gitar dengan ukiran kayu yang nampak cantik dan mengkilap, di sana.


Elena menoleh ke belakang di mana Erick masih tetap memperhatikan nya dengan sorot mata teduh.


"Mas ... gitar?" bahkan untuk mengucapkan kata yang tepat ia tak bisa. Elena terlalu speachless akibat euforia yang melambung tinggi.


"Ya. Ini gitar sama yang kau inginkan saat kita melihat group band di acara pesta Ptrion kala itu, apa kau ingat?"


Elena ingat sekarang. Ketika itu ia yang masih menjadi seorang sekretaris menemani Erick untuk menghadiri undangan pesta untuk sebuah festival music yang mana penyelenggaranya adalah rekan bisnis Erick yang menjalin kerjasama dengan perusahaan. Di sana Erick hadir sebagai tamu kehormatan.


Elena memang sejak kecil tertarik dengan dunia musik, sangat senang ketika melihat kelompok tim band tampil di acara itu dan melihat bagaimana vokalisnya bernyanyi sambil bermain gitar membuatnya takjub.


Ia bahkan tak bilang jika menginginkan gitar yang di mainkan sang vokalis, namun memang atensi Elena dan tatapan nya fokus pada gitarnya kala itu. Tak mengerti, bagaimana bisa Erick sampai tahu jika dia menginginkan gitar ini? dan oh ya, acara festival itu bahkan sudah berlalu lama, bagaimana Erick bisa mengingatnya?


"Kau lupa honey? semua tentang mu tak pernah luput dari perhatian ku," ujar Erick seakan membaca apa yang sedang Elena pikirkan.

__ADS_1


Tiba-tiba ada rasa panas menjalar di pipi Elena, gadis itu tersipu malu.


Erick tersenyum karena nya, dengan kedua tangan di benamkan pada saku celananya, pria maskulin itu kembali berucap. "Aku tahu hanya dari tatapan mu ketika itu, kamu sangat mendambakan gitar yang kau lihat, diam-diam aku memperhatikan nya. Dan akhir nya aku mendapat nya. Semula aku ingin memberikannya langsung padamu tapi kupikir kau tak akan suka, jadi aku menyimpan nya untuk beberapa waktu sambil berfikir bagaimana caranya untuk memberikannya padamu. Dan inilah akhirnya, sebagai kado mu, sweety." tutur Erick membuat Elena merasa sangat di istimewa kan. Ia kemudian mendekat untuk memberikan Erick sebuah kecupan di pipi.


"Terimakasih. Ini kado terindah yang pernah ku terima," ucap Elena merasa sangat tersentuh. Erick mengulum senyum tipis mengelus lembut kepala Elena.


"Apapun yang membuat mu bahagia," kata Erick.


...***...


"Semua orang memilki kelebihan yang terkadang tak di miliki yang lainnya, dan aku tahu bahwa istri ku ini adalah salah satu dari banyaknya orang yang diberi anugerah kelebihan itu," ucap Erick, keduanya kini sama-sama duduk pembatas rooftop dengan menggantungkan kaki.


"Elena- ku bukan hanya pintar bernyanyi tapi juga bermain alat musik. Bukankah kau harus mencoba memainkan gitar itu?" kini Erick menoleh wajah dari pemandangan kota di hadapan menatap wanitanya.


Elena menunduk dengan wajah memerah. "Aku malu ... "


Melihat gurat wajah Erick yang mengharap, Elena tak sampai hati menolaknya.


Erick masih ingat saat Elena kuliah dulu, gadis itu pernah menjadi vokalis band yang di bentuk oleh kampusnya, itulah sebabnya Erick sangat tahu bagaimana kecintaan istrinya itu terhadap musik.


"B-baiklah, tapi jangan tertawakan jika tak bagus," ujar Elena dengan mata mengerjap-ngerjap karena gugup.


Erick sontak terkekeh geli karena nya. Padahal ia sudah pernah mendengar kan Elena bernyanyi sebelumnya, lalu kenapa harus segugup itu? istrinya memang sangat menggemaskan.


Suasana cukup hening sekilas. Elena mulai memetik senar gitar yang kini berada di pangkuannya, melodi- melodi indah mulai menguar seperti aroma masakan yang menyebar harum kemana-mana.


Lalu Elena mulai dengan intro lagu yang akan ia nyanyikan. Kali ini ia memilih lagu- Heer- yang terlintas di otaknya.Salah satu lagu soundtrack di film jab tak hai jaan, movie romantis yang pernah ia tonton bersama teman-teman kampus nya dulu. Ia sangat menyukai lagu ini bahkan sempat membawa kannya di acara pesta saking sukanya dengan lagu tersebut.

__ADS_1


(Fyi, lagu heer ini memang enak bgt. kalian bisa dengerin sambil baca bab ini.)


***


Saat Elena mulai menyanyikan lagunya, di situ Erick terlihat terkesiap. Terpesona dengan pembawaan Elena juga merdu lagu yang di nyanyikan nya.


Erick tak pernah mendengar lagu ini sebelumnya, tapi itu sangat merdu terdengar, pria itu mulai memejamkan mata menikmati setiap lirik yang tersirat pengakuan hati Elena di dalam nya.


Bait tiap bait arti lagu itu memang Elena tujukan untuk Erick.


Terdengar begitu syahdu dan damai, kelembutan suara Elena dan juga lagunya di sertai iringan melodi indah dari petikan gitar membuat suasana senyap itu hanya mendengungkan merdu nyanyian Elena.


Ini akan menjadi saat-saat moment romantis yang tak akan terlupakan oleh mereka berdua dan mungkin kenangan manis yang akan selalu mereka ingat, sebelum sebuah badai datang tak lama lagi.


Tak ada yang tahu sampai keromantisan ini terjadi.


...***...


"Jadi kamu yang bernama Vicky wijaya?" dua orang wanita kini duduk di hadapan seorang pria yang terlihat kebingungan.


"Ya. kalian siapa? kenapa mengajakku kesini?"


Salah satu wanita nampak terlihat anggun dan terlihat lebih tua, menyunggingkan senyum misterius.


"Kau tak perlu tahu siapa kami, tapi kami punya penawaran bagus untuk mu." Wanita itu, siapa lagi jika bukan nyonya Sarah, di samping putrinya Mona ikut tersenyum angkuh. Tak susah rupanya untuk menemukan Vicky, target mereka.


"Penawaran apa? aku tak mengenal kalian. Kalian pasti penipu?!" Vicky, pria yang terlihat kusut masai dan nampak urakan itu berteriak, hampir mengagetkan seluruh pengunjung cafe jika saja nyonya Sarah tidak menekannya untuk diam.

__ADS_1


"Kami bukan penipu, justru kami akan memberikan kekayaan jika kau mau melakukan apa yang kami pinta."


__ADS_2