
Happy reading 😘
Jangan pelit like ya guys 🙏
**
Flashback*
Ketika Elena sedang sibuk melihat- lihat bahan pokok yang terjejer rapi di salah satu stan penjual, ia terlalu sibuk hingga tak menyadari jika Siska dan Tiara sudah tak berada di belakangnya.
Sementara Siska justru sibuk dengan salah satu stan penjual pakaian yang di lihatnya. Siksa yang tak pernah keluar apalagi ke mall seperti layaknya gadis remaja pada umumnya terperangah takjub dengan berjejer baju juga celana wanita terkini yang terpajang di tokoh baju itu. Hingga gadis tersebut tak menyadari jika Tiara yang tengah di tuntunnya sudah melepaskan diri dan pergi entah kemana.
Rupanya Tiara merasa bosan sedangkan Siska terlihat asyik sendiri. Berulang kali Tiara memanggil Siska agar segera kembali ke Elena takut mereka tersesat, namun Siska tak mengindahkan ucapannya dan terus memandangi baju-baju didalam tokoh.
Sampai akhirnya Tiara mencar sendiri lepas dari pengawasan Siska karena gadis kecil itu tiba-tiba tertarik pada penjual mainan anak-anak yang lewat di sekitar mereka.
Tiara yang tertarik pada boneka Barbie yang terpajang di sana mengikuti penjual mainan itu hingga ke tepi jalan raya, melihatnya menyeberang jalan membuat Tiara juga hendak menyeberang ke jalanan tapi dia tidak tahu dan tidak mengerti.
Sampai ketika, Elena menyadari jika Siska dan Tiara sudah tak ada di samping dia meneriaki dan mencari nya, namun Elena hanya bisa berhasil menemukan Siska saja yang sama-sama panik karena Tiara tak ada di samping mereka.
Mencari dan bertanya ke sana kemari, hingga pada akhirnya ada seorang bapak-bapak yang mengenali bocah perempuan yang di ciri-ciri nya di sebutkan Elena, bapak-bapak itu memberitahukan jika Tiara pergi ke jalan raya.
Dan alangkah terkejutnya Elena ketika sampai di sana melihat Tiara sudah ada di tengah jalan, tanpa melihat ke kiri dan ke kanan lagi Elena menghampirinya hendak mengambil bocah itu tanpa menyadari jika sebuah truk sedang mengintai ke arah mereka.
Elena tanpa sadar memeluk tubuh Tiara dengan erat ia yang speachless seketika membeku dan hanya menutup mata semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Tiara hingga tak menyadari seseorang telah menyelamatkan mereka berdua.
Flashback off*
"Elena!"
Pria di sampingnya berseru, membuat Elena yang tengah memeluk Tiara dengan ketakutan luar biasa setelah kejadian hampir naas tertabrak truk kini mulai tersadar. Elena belum menyadari pria yang telah menyelamatkan ia dan Tiara hingga akhirnya wanita itu menoleh terkejut luar biasa hingga tubuhnya terpaku melihat sosok laki-laki yang sudah berdiri di depannya saat ini.
__ADS_1
"Kau!" Elena spontan berdiri membersihkan tubuhnya dari debu jalanan juga membantu Tiara berdiri, gadis kecil itu nampak meringis karena lututnya yang tergores.
Wajah Erick berubah berseri, bibirnya yang tengah terkulum senyum manis sempat pria itu tahan beberapa saat, ia terlalu hiperbola karena akhirnya bisa menemukan sang istri yang kini sedang berhadapan dengannya.
Namun Elena bereaksi lain, raut wajahnya nampak meringis dan sinis. Tentu ia tak menduga Erick bisa sampai ada di kota ini, tapi apapun itu jelas Elena tak ingin bertemu dengan pria itu. Luka hatinya yang mati-matian ia sembunyikan meski tak sempat bisa terobati entah mengapa kembali menganga lebar dan perasaan sesak itu datang lagi membuat nya tak ingin lama-lama memandang wajah pria itu. Walaupun di sudut hatinya dengan kurang ajarnya masih tersimpan kerinduan untuk lelaki tersebut.
"Ayo, Tiara kita kembali." ajak Elena ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Tapi kak Elena ... kita harus berterima kasih dulu pada paman itu, dia yang sudah menyelamatkan kita," sanggah Tiara.
"Tidak apa-apa. Tidak usah berterima kasih padanya." ketus Elena. Rasa sesak di dadanya semakin membuncah tinggi.
"Tapi ... "
"Udah, ayo Tiara kita pergi dari sini!" sentak Elena telah habis kesabaran nya.
Rasanya berada di radius dekat dan menyadari berbagi oksigen yang sama dengan pria yang telah menyakitinya, membuat ia muak.
"Ayo Tiara!" tak mempedulikan perkataan Erick, dengan sorot matanya yang berubah redup Elena terpaksa menarik tangan Tiara dan menuntun nya agar segera pergi dari sana.
Namun Tiara terus memandangi Erick, bocah berusia tujuh tahun itu seakan mengerti apa yang tengah di rasakan dua orang di hadapannya kini.
Tiba-tiba saja Tiara menarik paksa genggaman Elena pada tangannya, bocah berponi itu berlari menghampiri Erick dengan tatapan polosnya.
Erickson mengernyit, Tiara nampak mengerjap- ngerjap.
Tak ingin gadis kecil itu salah mengartikan apa yang sedang terjadi, sebisa mungkin Erick menetralkan raut wajahnya berubah tersenyum lalu duduk berjongkok mensejajarkan dirinya dengan tinggi badan bocah perempuan tersebut.
"Terimakasih ya paman." dengan masih raut wajah datar nan polosnya Tiara berucap demikian pada Erick.
"Sama-sama." balas Erick, mengulum senyum nya untuk Tiara lalu mengusap lembut kepala bocah berkulit seputih salju itu.
__ADS_1
"Namamu, Tiara right?" tanya Erick kemudian. Tiara mengangguk antusias.
"Tiara. Bisakah paman meminta satu hal padamu sebagai hadiah ucapan terima kasih?"
"Apa itu paman?" Tiara kini mulai tersenyum lebar menunjukkan gigi susunya yang menggemaskan.
"Tolong jaga kakak Elena ya? untuk paman, bisa?" Erick sengaja mengarahkan tatapannya pada Elena meski wanita itu terlihat kembali memalingkan muka, berdecih.
"Bisa paman. Tiara pasti akan selalu jaga kak Elena." Tiara semakin melebarkan senyumnya.
"Anak pintar." sekali lagi, Erick mengelus rambut gadis kecil itu tak lupa menjawil pipinya yang tembem, sedikit usil.
Tiara lalu kembali pada Elena setelah mendengarkan permintaan Erick. Pria itu kemudian berdiri sembari arah matanya mengikuti langkah Elena dengan kedua tangan ia benamkan ke dalam saku celana.
Sesaat setelah Tiara menghampirinya dengan segera Elena menarik lengannya.
"Tiara, kamu jangan dengarkan apa yang menjadi permintaan nya," ucap Elena.
"Kenapa kak Elen?" tanya Tiara.
"Karena itu tidak penting. Dan lagipula Tiara jangan bicara dengan orang asing, karena tak ada yang tahu sifat dan perilaku orang itu yang sebenarnya." ketus Elena sembari matanya melirik nyalak pada Erick.
Ketika itu Erik pun mulai tersadar jika penderitaan dan rasa sakit yang tak sengaja ia berikan pada Elena secara tak langsung membuat wanita itu kini berubah membencinya.
"Ayo kita pergi," lanjut Elena, kemudian ia dan Tiara dengan langkah cepat meninggalkan area juga kini meninggalkan Erick dengan rasa penyesalan dan kerapuhan di dalam hatinya.
Erick kembali menegakkan tubuhnya lalu menghela nafas berat, ia menyilangkan lengan di depan dada sambil matanya terus memantau punggung Elena yang mulai menjauh. Terpancar sorot di kedua netranya meredup lalu perlahan melembut.
"Kau mungkin sudah membenci ku tapi aku tak pernah bisa melepaskan mu Elena. Mungkin inilah saatnya aku yang mulai berjuang untuk cinta kita ... " Erick menerawang ke depan.
" ... Karena yang telah menjadi milik ku tak akan ku biarkan lepas, sayang."
__ADS_1