Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 85


__ADS_3

Happy reading 🍁🍁🍁



Demi membuang pikirannya yang semakin kalut, Erick keluar seorang diri untuk me-refresh kan otaknya. Udara dingin tak menyurutkan niatnya untuk menyusuri sepanjang jalan membentang yang mana di hadapannya langsung di suguhkan dengan pemandangan jembatan gantung menara kembar, tower bridge yang menjadi salah satu ikon legendaris kota ini.


Hampir satu jam berjalan- jalan sambil menghirup udara segar, Erick menangkap salah satu kursi panjang di dekat sebuah lampu taman dari arah matanya memandang. Sejurus kemudian ia melangkah ringan menuju kursi tersebut dan mendudukkan bokongnya di sana.


Pemandangan di depannya sungguh menyejukkan mata. Erick memejamkan kedua netranya, menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Terkadang yang kita butuhkan adalah waktu sendirian dengan tenang, seperti yang ia rasakan saat ini. Sangat damai.


Pria berkulit kuning langsat itu melirik ke sekitarannya, sempat membeliak terkejut ketika seorang pria tua tiba-tiba datang menghampiri dan duduk di sebelahnya.


"Sedang menunggu seseorang, nak?" tak ada angin tak ada hujan tanpa basa-basi pria bertubuh bulat dengan janggut memutih itu langsung mengajukan sebuah pertanyaan.


Erick hanya menatap laki-laki tua itu sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangan nya pada keindahan sungai Thames di depan mata.


"Namaku, James." lagi, seolah ingin mengajaknya berteman, pria tua itu sedikit mencondongkan tubuh suburnya ke arah Erick seraya mengulurkan tangan.


Erick awalnya tak ingin menggubris namun saat ia menoleh, lelaki dengan topi flat cap itu menatapnya penuh binar yang menurutnya aneh dan senyum yang menampakkan deretan gigi tuanya yang tak lagi rapi.


Seakan terhipnotis untuk beberapa saat, Erick membalas jabatan tangan pria itu, tanpa mau repot membalas salam perkenalannya.


"Kau terlihat seperti pria yang baik." James berkata lagi. "Tidak seperti ku." imbuhnya kemudian membuat Erick mengernyit, tak paham.


Tingkah laku pria itu menurut Erick sangatlah aneh. Ingin beranjak dari sini karena tak mendapatkan ketenangan yang ia inginkan, namun entah kenapa kedua kaki Erick seperti tertanam kuat di atas tanah hingga ia tak bisa bergerak sama sekali. Sepertinya tempat duduk dan pemandangan di hadapannya sudah sangat membuatnya tenang namun kedatangan James lah yang menganggu.

__ADS_1


Akhirnya Erick hanya bisa mengesah pasrah, ketenangan yang sempat ia temukan akhirnya buyar karena orang yang ada di samping duduknya kini terus saja mengoceh tak jelas.


"Ketika seumuran mu, aku adalah seorang pria yang sangat bahagia. Mempunyai keluarga harmonis, bertemu cinta sejati ku di kota ini, kami menikah dan menjalani hari-hari penuh cinta." James berbicara seolah ingin di dengarkan namun Erick yang tak minat hanya menoleh padanya sesekali tak berusaha serius mendengarkan pria itu bercerita. Lagipula mereka orang asing kan? kenapa Erick harus repot-repot mendengarkan nya?


"Kau lihat, ini adalah foto istri ku?" James, si pria hampir mendekati lansia dengan tubuhnya yang tambun itu menunjukkan sebuah foto close up ke hadapan Erick.


"Bukankah dia sangat cantik." kali ini suara James terdengar parau saat mengucapkannya seakan tengah menahan sesak.


"Hhh ... Terkadang hidup memang tak selalu adil, takdir Tuhan tak pernah bisa di tebak sama sekali. Amanda ku adalah wanita yang sangat baik, dia adalah pelengkap hidupku, namun Tuhan malah mengambilnya dari ku, menyisakan kan ku dengan segala penyesalan yang semakin hari semakin menyiksa."


Erick menoleh, kali ini menatap lama, sempat tertegun saat mendengar kalimat terakhir.


"Dengar kan anak muda. Aku hanya ingin memberitahukan mu, jika kelak kau menemukan belahan hatimu, jangan pernah menjadi pria brengsekk seperti ku. Ketika pasangan mu melakukan kesalahan cobalah untuk mendengarkan dan memahaminya dahulu, jangan menghadapinya dengan emosi yang akhirnya hanya akan membawa mu pada penyesalan seumur hidup."


Deg! darah Erick berdesir hebat, jantungnya seakan memompa dua kali lebih cepat, tertegun luar biasa. Ia memandang lekat pada kakek tua itu.


"Hei, jangan mendengarkannya!"


Seseorang berseru membuat Erick menoleh.


Erick melirik pada James yang hanya menunduk menatap sendu dengan senyum terkembang, mengusap-usap foto istrinya.


Lalu matanya kembali menatap orang yang meneriakinya.


Erick beranjak menghampiri orang itu.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Erick pada pria yang menegurnya tersebut.


"Dia itu sudah pikun, dan seorang pasien ODGJ," ucap pria itu membuat Erick terbeliak.


"Pasien ODGJ?"


"Yah, beberapa kali dia kabur dari rumah sakit jiwa dan terus berada di sini karena mengira isterinya masih hidup dan menunggu nya di tempat ini."


"Para anggota keluarga nya sudah menyerah dan tak ada yang mau mengurusinya lagi, hingga akhirnya dia menjadi gelandangan di sini."


Erick tersentak mendengarnya.


"Dia terus saja mengoceh tak jelas pada setiap orang yang duduk di bangku taman itu. Ku sarankan kau menghindar saja." imbuh pria tersebut.


"Maaf, jika boleh tau apa penyebab nya?" tanya Erick.


Pria itu tak langsung menjawab melirik sebentar ke arah James yang masih duduk memandang foto di tangannya.


"Kau pasti sudah mendengarnya bercerita tentang istrinya kan?"


Erick mengangguk sebagai jawaban.


"Sebenarnya istrinya sudah meninggal 5 tahun lalu dalam sebuah kecelakaan saat mereka bertengkar di dalam mobil dan dia terus menyesal karenanya."


Deg! kembali Erick tertegun, ia merasa tertampar mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2