
"Cheers, untuk keberhasilan kita kali ini."
Suara berdenting karena gesekan antara dua gelas kaca yang beradu membuat kedua wanita itu tertawa.
Nyonya Sarah dan putrinya sama-sama terlihat menikmati pesta kecil meminum anggur merah bersama di balkon atas mansion malam ini. Mereka tengah merayakan atas kesuksesan rencana yang membuat wanita yang mereka benci yaitu Elena mengalami kemalangan.
"Kau lihat tadi saat wajah nya berubah pucat dan menyedihkan? mommy merasa sangat puas melihat nya," ucap nyonya Sarah, ia kembali menuangkan minuman dari botol ke gelasnya lagi.
"Apalagi aku mom. Seru sekali melihat si kumuh itu menderita, setidaknya mengobati rasa sakit hatiku karena putus dari Jhonson ... hufft, padahal tinggal selangkah lagi aku bisa mendapatkan gelar kehormatan dengan menjadi istri nya." Mona terlihat sedikit frustasi ketika mengingat akan hal itu.
"Oh ya, mommy juga sangat menyayangkan kau putus dengan nya. Tapi apa benar karena ulah si kumuh itu?"
"Ck, ya tidak mom itu hanya alibi ku saja. Yang sebenarnya Jhonson memergoki ku saat sedang bercinnta dengan Max, teman kampus ku."
"Ya lagian kau gila. Kenapa di pesta seramai itu kau malah bercumbu dengan laki-laki lain," sungut nyonya Sarah setelah mengetahui hal yang sesungguhnya.
"Itu lumrah di zaman modern ini mom, pergaulan kami kan bebas. Jangan kudet deh, aku juga biasa kok melakukannya dengan pria lain, yang satu ini saja apes karena langsung ketahuan oleh Jhonson."
Ya, memiliki gaya hidup yang bebas, Mona memang sudah mengakui pada ibunya jika ia sudah tak virgin. Menurut nya itu hal biasa di pergaulan nya dan mommy nya pun tak marah karena memang di luar negeri tempat mereka tinggal hal tersebut memang bukan hal yang tabuh lagi. Sungguh miris!
"Ya tetap saja harusnya kau berhati- hati. Sudahlah mommy tidak mau mengungkit nya lagi. Anggap kau memang tak beruntung dengan Jhonson." nyonya Sarah kembali meneguk minumannya.
Mona mencebik, ia yang kembali dongkol pun menandaskan cairan pekat itu untuk mendapatkan ketenangan.
"Well, mommy punya kabar gembira. Kau tahu soal foto Elena bersama pria lain?"
"Tahu mom." Mona terlihat bersemangat kembali.
"Mommy sudah mendapatkan data dan alamat si pria dari detektif yang mommy sewa."
"Benarkah." Mona membelalak, nampak berseri lagi.
"Yes. Dan ini dia profil mantan si kumuh itu." nyonya Sarah menunjukkannya pada Mona.
"Jadi nama pria itu adalah Vicky wijaya?" seru Mona. "Dia cukup tampan,mom."
"Benar, mommy juga mengakui. Memang pintar sekali si Elena kampungan itu mencari pasangan."
"Jika di lihat data nya dia sedang membutuhkan uang untuk biaya hidup nya," ujar nyonya Sarah kembali.
__ADS_1
Mona menengok menatap wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mommy memang sudah punya ide?" tanya Mona dengan gurat.
"Tentu saja." tukas nyonya Sarah. "Dan rencana kali ini mommy jamin akan sangat ampuh untuk memisahkan Erickson dengan si Elena kumuh itu."
"Apa rencananya mom?" Mona terlihat tak sabar,sang mommy tersenyum miring ke arahnya, sarat akan makna.
"Kita lihat nanti," ucap nyonya Sarah.
...***...
"Mas mau membawa ku kemana?"
Dengan kedua mata tertutup oleh kain hitam, membuat Elena tak bisa melihat ke arah mana Erick akan membawanya pergi.
Ini kejutan jadi kau tak boleh melihat, itu yang di katakan sang suami saat ia bertanya kenapa harus menutup matanya dengan kain.
"Sebentar lagi sampai." bisik Erick di cuping telinga Elena.
"Masih lama?" tanya Elena ketika ia merasakan mereka sedang menaiki lift, lalu suara dentingan yang ia hafal. Meski tak menjawab namun Elena rasakan Erick yang terus memeluk pundaknya membuat nya aman.
Saat mereka keluar dari lift, Erick menuntunnya untuk menaiki beberapa undakan tangga, di sini bisa Elena rasakan hawa dingin yang menyergap tiba-tiba, desau angin yang menyapu lembut tengkuknya membuat beberapa anak rambut nya yang berwarna coklat melambai pelan.
Kali ini Erick terdengar terkekeh geli. "Sudah sayangku. Kita sudah sampai."
Elena menjamkan indera pendengaran, terdengar suara derit sepatu pantofel Erick yang bergesekan dengan lantai, ia bisa merasakan suaminya itu kini ada di belakangnya.
"Ini kejutan untuk mu." bisik Erick kembali, perlahan ia membuka jeratan kain yang menutup kedua netra Elena.
Ketika sepasang bola mata indah itu terbuka, Elena samar-samar melihat sesuatu yang indah di hadapannya lalu semakin jelas manik coklat nya terbelalak tak percaya, binar penuh layaknya sinar bintang malam ini terlihat berpendar di kedua matanya.
Elena bisa melihat jelas, mereka sedang berada di rooftop gedung perusahaan Erick. Dan ada di hadapannya kini membuat Elena tercengang, karena kini nampak banyaknya drone dengan sinar warna-warni melayang di angkasa, mungkin ada ratusan dan membuat nya terharu adalah ratusan drone itu membentuk sebuah pola tulisan 'HAPPY BIRTHDAY MY WIFEY, MY LOVE, MY EVERYTHING' dengan sorot cahaya warna-warni nya yang membuat nya terlihat jelas.
"Mas ... " Elena menoleh pada Erick, matanya berkaca-kaca.
"Ya. Selamat ulang tahun istri ku." Erick tersenyum serupa embun di pagi hari. Begitu teduh.
Elena menggeleng tak percaya, ia bahkan lupa jika hari ini adalah ulang tahunnya, tapi Erick mengingat nya.
__ADS_1
Gadis itu tak bisa menyembunyikan tangis harunya, ia melangkah lebar langsung menghambur ke pelukan sang suami.
***
Elena duduk di tepian rooftop masih memandang takjub ratusan drone yang kini masih melayang di langit sana. Ia masih tak percaya ini, suaminya itu benar-benar sangat manis.
Kemudian Erick datang, dengan sebuah kue ulang tahun lumayan besar di tangannya, ikut duduk di samping Erick.
Di antara ribuan bintang yang bersinar terang malam ini, dan di bawahnya pemandangan seluruh kota malam hari yang terlihat indah, Erick menyalakan api di atas sumbu lilin berbentuk angka 24 di atasnya, sama dengan usia Elena saat ini.
Lalu Erick menyayikan lagu selamat ulang tahun, Elena tersenyum dengan riang ia bertepuk tangan sebagai iringan nada.
"Pinta lah keinginan mu pada Tuhan dan tiup lilin nya," ujar Erick, Elena mengangguk ia memejamkan matanya seraya mengepalkan kedua tangan dalam hati bersungguh-sungguh doa untuk kebahagiaan di hari spesialnya ini.
Fyuuh! Elena meniup lilin dengan perasaan haru membuncah.
"Apa keinginan mu?" tanya Erick.
"Rahasia." jawab Elena menggoda. Erick mendengkus geli.
"Baiklah, walaupun kamu tidak memberitahu, aku akan meminta Tuhan untuk memberitahu kannya."
Melihat Erick yang mengerucut, Elena terkekeh jenaka, hingga membentuk lengkungan bulan sabit di kedua matanya.
"Apa mas sudah merencanakan ini semua?"
"Mmm, ya. Aku sudah merancang nya sejak di kantor, ini semua adalah hadiah ulang tahun untuk mu."
Syukurlah karena adanya kejutan ini juga, Elena sudah tak bersedih lagi karena kejadian tadi. Erick merasa ikut senang.
"Terimakasih, ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidup ku, terimakasih mas."
Erick mengenggam kedua tangan Elena mengecupnya bergantian. Ia juga mendekatkan kepala Elena untuk memberikan kecupan kening serta kelopak mata gadis itu.
Keduanya lalu saling menatap dalam, Erick menyisipkan helai rambut Elena ke belakang telinga, tangannya yang besar menangkup pipi Elena membelainya lembut, menarik tengkuknya dan mempertemukan bibir mereka.
Di bawah rembulan yang bersinar, di keindahannya kedua insani itu berciuman saling mengutarakan perasaan terdalam di temani lirih angin sebagai harmoni.
Erick mengusap bibir ranum Elena perlahan dengan jempolnya.
__ADS_1
Pria itu kembali mengulum senyum. "Aku sudah menyiapkan hadiah juga untuk mu, mau lihat?"
Elena mengangguk antusias. Erick menuntunnya ke tengah di situlah terdapat sebuah kotak kado besar dengan terikat pita merah, menanti mereka.