
Happy reading 🌹🌹🌹
Di kantor polisi.
Prak! prak!
"Pak polisi, lepaskan saya! saya tidak bersalah!"
Sarah berteriak-teriak, dan meraung-raung di balik jeruji besi yang mengurungnya.
"Ck, sudah hampir dua minggu aku di sini dan tidak ada perkembangan sama sekali!" gumamnya jengkel sekaligus nelangsa dengan bagaimana nasibnya saat ini.
"Heh, lu. Bisa diem gak!" seseorang meneriakinya dari belakang. Di dalam kurungan besi bukan hanya ada dirinya saja melainkan ada empat tahanan lainnya yang sudah mendekam lama di penjara ini.
"Iya berisik amat lu. Percuma tereak- tereak gitu lu udah masuk kesini berarti udah di dakwah. Bentar lagi baju lu juga bakal berubah jadi baju tahanan kaya kita," ucap salah satunya, keempat tahanan wanita itu tertawa seolah tengah bersorak gembira di atas nasib nestapa kemalangan yang di deritanya.
"Siaalan kalian. Awas saja saat aku sudah berhasil keluar dari sini, akan ku beri pelajaran kalian semua!" sewot Sarah pada keempat tahanan wanita itu, gaya dan penampilan mereka yang seperti berandalan dan urakan, membuat Sarah yang selalu hidup berbanding terbalik dengan kemewahan, bergidik dan merasa ngeri.
"Wah, berani juga nih anak baru," sengau salah satunya, dia bernama Hayati di antara keempat tahanan wanita yang ada di sana, Hayati terkenal seperti bos nya yang suka memerintah dan berwajah garang.
"Heh, lu gak tau siapa gua?!" Hayati mendekati Sarah, wanita itu segera saja menghindar lantas mendelik.
"Ngapain juga saya harus mengenal anda, menjijikkan!" ketus Sarah. Wanita yang masih terlihat cantik meski sudah memasuki usia setengah abad itu semakin terpojok ketika Hayati dan para kacungnya semakin mendekat dengan aura intimidasi.
"Heh, jaga ya moncong lu itu ya!" Hayati menarik kerah baju Sarah.
"Perlu gua kasih info, gua di sini yang paling senior, udah puluhan tahun gua jadi bos di tempat ini. Dan yang paling penting yang harus tau, gua bisa ada di penjara ini karna gua ngebunvhh orang, jangan sampai lu jadi orang berikutnya yang bakal gue bunvuh di sini!" gertak Hayati membuat Sarah ciut seketika itu juga.
Kedua kaki Sarah gemetar hingga rasanya tak mampu lagi untuk menopang bobot tubuh nya. Ketakutannya semakin membubung tinggi ketika Hayati mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
__ADS_1
"Lu tau ini apa?"
Sarah menggeleng, sekarang ia tak bisa berfikir apa-apa lagi selain keselamatannya.
"Tollol! ini katter beggo!" Hayati menoyor kening Sarah.
"Penampilannya doang macem orang kaya, bos. Tapi otaknya kosong." salah satunya berucap mengejek lalu mereka tertawa.
"Diem!" bentak Hayati, lalu semuanya mendadak hening.
"Lu di sini harus nurut sama gua atau jangan ampe nih katter bisa nembus jantung lu. Gua gak takut kalau harus nambah hukuman lagi di penjara ini. Jadi berani lu ama gua, berarti nyawa lu dalam bahaya!"
Sarah mengangguk- angguk, apa pun kini yang paling penting sekarang adalah keselamatan nyawanya.
"Bagus." Hayati menyeringai. "Sekarang pijitin punggung gua!" titah Hayati.
"Kenapa diam saja? kau mau melawan perintah ku?!" tuding Hayati, perempuan bergaya preman pasar itu, saat melihat Sarah hanya bergeming saja.
"Bagus. Bae- bae lu di sini, sekali ngelunjak-- khreek!" Hayati memperagakan tangannya yang seolah seperti pisau sedang menyayat leher. "Abis lu sama gua!"
Yang lainnya tertawa- tawa, senang.
Sarah merasa dirinya sangat nelangsa, dalam hati ia bersumpah akan membalas semuanya.
...--------Oo-------...
"Elen, sebenarnya ada yang ingin ku bicara kan pada mu," ucap Dea setengah berbisik.
Sesuai perkara Marvin yang sudah selesai, kini Elena bersama Dea dan juga Rizal mampir dulu ke toko kue cempaka bakery, sementara Marvin kembali bertugas ke rumah sakit seraya mengantar kan Clarissa pulang, Erick pula kini sedang dalam pembicaraan serius dengan Zidan dan juga Aaron yang mengintili mereka. Mumpung keadaan yang sudah lebih leluasa Dea pun berani untuk mengatakan apa yang hendak ia hendak beritahukan kepada Elena.
__ADS_1
"Sejak di rumah sakit, kamu kelihatan gelisah terus, ada apa memangnya?" tanya Elena menyahuti ucapan Dea.
"Emmmm ... begini Len, ada seorang pria paruh baya tiba-tiba datang mengetuk pintu rumah ku, dan dia sedang mencari mu ... "
Tak! Elena meletakkan hiasan kue yang sedang ia pegang, wajahnya langsung datar lalu menoleh pada Dea.
"Apa dia datang bersama bodyguardnya?"
Dea sontak mengernyit, respon balik Elena seperti tak terkejut sama sekali dengan apa ia yang ucapkan.
"Apa sebelumnya kalian pernah bertemu langsung? jadi benar laki-laki paruh baya itu mengaku sebagai ayahmu?!"
"Aku tak ingin mengingatnya Dea, sungguh. Tapi aku akan ceritakan padamu." dengan berat hati dan merasakan sesak yang kembali datang, Elena menjelaskan pada Dea tentang cerita seorang ibu muda pelanggan toko kue yang ingin bertemu dengan nya persis seperti apa yang di katakan Siska lalu berakhir dengan pertemuan pertama kalinya dengan pria paruh baya bersama bodyguardnya yang datang ke toko kue, dan mengaku sebagai ayahnya.
"Astaga! jadi benar, aku tak menyangka!" pekik Dea terlonjak, ketika ia mengambil kesimpulan dari keseluruhan cerita Elena.
Elena mengangguk lemah.
"Aku tak ingin mengakuinya De, tapi melihat wajah laki-laki itu sekilas mengingat ku tentang masa kecil ku, saat nenek memberikan foto album keluarga, ada foto laki-laki itu duduk di samping ibuku dengan pakaian pengantin."
"Kamu yang paling mengenal ku sejak kita SMP. Kita selalu bersama sebagai best friend, tapi aku tak pernah sekalipun menceritakan tentang asal-usul ku ataupun tentang bagaimana keluargaku. Karena aku tak seberuntung anak lain yang mempunyai keluarga utuh. Ibuku meninggal saat berjuang melahirkan ku, dan ayah ku menyalahkan ku atas kematian beliau, yang sejujurnya aku sama sekali tak tahu dan bukan kehendak ku yang meminta nya. Jika boleh, aku meminta untuk tidak di lahirkan saja dari pada harus ibuku yang pergi untuk selamanya."
"Jangan bilang seperti itu Elen." Dea menggeleng, menatap sedih. Mengambil tangan Elena dan menggenggam nya erat.
"Sejak kecil aku selalu berjuang sendiri atas kehidupan ku, tertatih-tatih aku menata hidup lewat belas kasih orang-orang panti dan tentunya bunda Ratna, lalu setelah aku bisa sampai seperti saat ini dan berdiri dengan kedua kakiku sendiri. Pria yang telah meninggal kan ku sejak aku masih bayi merah, kini dia datang kembali dan seenaknya mengaku sebagai ayah ku."
"Aku merasa ketidakadilan dalam diri ku. Tak pantas kah aku marah? kemana saja dia selama ini? bertahun- tahun lalu aku selalu mengharapkan sosoknya datang untuk menemani masa kecil ku, kini ketika aku sudah tak mengharapkan sosoknya lagi, dia datang dan seenak nya, sebenarnya apa yang di inginkan nya? menghancurkan hidup ku seperti masa kecil ku yang sudah hancur karena nya?!
Elena terisak tak kuat lagi menahan perasaan sesak nya. Dea langsung mendekat lalu membawa gadis itu kepelukannya.
__ADS_1
Seberat itu hari- hari yang harus Elena jalani sejak kecil tanpa kehadiran orang tuanya.