
Happy reading 🌹🌹🌹
"Bagaimana dengan lingkungan baru di sini? kau menyukai nya?"
Marvin menghempaskan bokong di sofa empuk, ia sudah membuat agenda dan berdiskusi dengan pak Jaka agar Elena bisa nyaman di vila ini. Sesekali Marvin akan mengunjungi nya meski tak sering. Tak apa jika harus bolak-balik dari rumah sakit ke vila, demi melihat dan memantau perkembangan kesehatan mental Elena, untuk Marvin tak akan seberat itu.
Elena baru saja mengambil loyang berisi cup muffin cokelat dari dalam oven. Karena tahu ia sangat suka dalam bidang memasak aneka kue, Marvin menyediakan Elena satu set perabotan membuat kue dan sebuah oven.
"Aku menyukainya kak. Lingkungan di sini sangat asrih, dan orang-orang nya juga ramah," sahut Elena menata cup muffin cokelat itu di atas piring lalu berjalan memutari meja pantry menuju tempat Marvin mendudukkan diri.
"Aku senang mendengarnya. Kakak tadi sempat berbincang dengan teman kakak yang berprofesi sebagai dokter psikologi, katanya untuk bisa melupakan kenangan yang tak ingin kau ingat, sering- seringlah menyibukkan diri, alhasil lambat laun kau tak akan mengingat nya lagi. Jadi kakak sarankan untuk meningkatkan skill memasak mu atau kita traveling untuk healing, bagaimana?"
Elena tersenyum simpul, meletakkan piring berisi cup muffin buatannya di atas meja.
"Aku sudah cukup dengan semua ini kak. Jangan melakukan hal lebih lagi." gadis menggeleng. Merasa sudah banyak merepotkan.
Marvin bergeming sejenak, hanya matanya yang seolah berbicara saat menatap Elena.
"Baiklah, jika itu keinginan mu." Marvin mengulum senyum, namun tersimpan getir di sana.
"Apa kakak kecewa?" tanya Elena, hati-hati.
Marvin menggeleng, lalu pria itu terkekeh kecil. "Tidak. Aku tak punya hak untuk kecewa, semua keputusan ada di tangan mu, karena kau yang menjalaninya, jadi aku hanya akan menghormati apapun keputusan mu."
__ADS_1
"Terimakasih kak." Elena merasa terharu. Wajah putih bersihnya yang tanpa make up nampak berseri. Marvin senang, setidaknya keadaan Elena ada perkembangan, tak seperti dulu yang selalu merenung dan wajahnya selalu suram. Dalam hati, pria itu mengucap syukur.
"Oh ekhem, ya. Tadi aku sempat membuat cup muffin coklat kak, silahkan di coba. Masih anget." dengan senyum terkembang semakin lebar, Elena menyodorkan piring yang ia bawa ke hadapan Marvin.
"Benarkah? hahaha, tadi kakak sibuk bicara sampai tidak menyadarinya. Baiklah, kakak akan mencobanya ya."
Elena mengangguk, menanti dengan raut wajah antusias. Marvin mengambil satu cup muffin cokelat tersebut, membawa satu gigitan ke mulutnya, menguyah dengan penuh penghayatan.
"Waw, awesome! ini enak banget, Lena. Apa kau membuat nya dengan ramuan ajaib?"
Melihat respon Marvin yang begitu excited, Elena jadi tertawa. "Jangan berlebihan, kak."
"Apanya yang berlebihan? aku jujur, ini enak sekali." pungkas Marvin, lalu melahap sisanya, satu bulatan penuh.
"Kenapa kau tidak coba membuat lebih banyak dan menjajakannya, kakak yakin pasti akan sangat laku," seru pria itu kemudian, lalu mencondongkan diri menopang sikut di atas paha. Mengambil satu lagi di atas piring.
"Kenapa tak yakin? cobalah untuk mempercayai kemampuan mu. Kau itu sangat berpotensi dan multitalent, cobalah untuk menjajakannya dulu lewat online jika hasilnya memuaskan kamu bisa membuat lebih atau mungkin sampai bisa membuat kedai. Dengan begitu kamu akan semakin sibuk dan tak akan ada waktu untuk terus merenung."
Elena terpekur, coba menelaah setiap ucapan Marvin. Mungkin ini sudah saatnya ia keluar dari zona nyaman, melakukan sesuatu yang bisa membuatnya senang.
"Bagaimana pun ini hanya saran dari kakak. Itu keputusan mu mau mengikutinya atau tidak."
Elena menoleh menatap Marvin dengan pria itu yang senyum lebar.
__ADS_1
...***...
Jam digital di atas nakas berdering menimbulkan suara nyaring membuat penghuninya yang sedang tertidur lelap akhirnya membuka mata.
Tanpa terduduk dulu, dengan segera Erick menghempas bed cover yang membungkus tubuhnya. Pria itu merenggang kan otot-ototnya sejenak yang terasa kaku, kemudian berjalan ke pinggir membuka gorden jendela kamarnya, menampilkan suasana kota london, pagi ini.
Mungkin benar perkataan papanya, selama mengemban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin perusahaan, selama itu juga ia tak pernah sekalipun berlibur sekedar untuk me-refresh kan diri. Jadi mungkin perjalanan nya mencari ketenangan di kota ini juga sebagai agenda liburannya menepi sejenak dari kebisingan yang selalu ia rasakan setiap harinya.
Cukup memanjakan matanya dengan pemandangan indah di luar, dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana short, Erick berjalan ke tempat alat olahraga di letakkan, karena kamar ini yang cukup luas ia bisa sekedar melakukan pemanasan tanpa harus keluar dulu.
Di saat seperti ini, yang ia ingat adalah Elena. Membuatnya emosinya kembali terpacu demi meredam kerinduan yang kian merengsek ingin menunjukkan diri, sekuat tenaga ia melakukan pemanasan push up dan sit up berkali kali. Menarik alat guna membentuk otot lengan dengan kegigihan dan amarah yang bercampur padu justru mengakibatkan kebas yang ia rasakan saat ini.
"Shiit! sekuat apapun aku mencoba melupakannya, dia justru selalu ada di pandangan ku!"
Ini benar-benar menyiksanya.
Erick bisa melihat Elena yang tiba- tiba muncul dan tersenyum ke arahnya lalu menghilang, dan muncul lagi di tempat yang berbeda, hanya serupa bayangan sesaat lalu lenyap tak bersisa.
Ia tak tahan lagi!
"Elena ... maafkan aku."
***
__ADS_1
Bonus foto.