Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 41


__ADS_3

"Dad, aku tak ingin melihat kak Elena, dia telah membuat ku putus dari Jhonson. Aku ingin dia pergi!" Mona terus merengek seperti anak kecil, mengayun- ngayunkan jas ayahnya.


Tak tahan. Erick dengan wajah memerah padam berdiri di hadapan adiknya itu.


"Sudah cukup!" intonasi Erick yang menggelegar membuat semua orang membisu seketika. Terlebih Mona yang tersentak kaget dengan wajah menegang.


"Berhenti! kau bukan anak kecil lagi yang terus merengek untuk masalah yang sebenarnya tak perlu di besar-besarkan."


"Erick, apaan- apaan kau,kenapa kamu membentak adik mu hah?" tuan Rey maju sebagai garda terdepan Mona.


Elena maju ke tengah untuk menghentikan suaminya. "Sayang, sudah jangan seperti ini." Yang di takutkannya adalah cekcok akan terjadi lagi di antara ayah dan anak itu. Dan Elena sama sekali tak menginginkan itu.


"Huwaaa ... kakak membentak ku?" semua orang langsung menoleh pada Mona yang histeris. nyonya Sarah langsung menuju ke putrinya, memeluk bahunya erat.


"Pah, jangan selalu memanjakan nya, umurnya sudah 21 tahun, lihatlah betapa kekanakannya dia? hanya karena hal sepele, berani mengusir kakak iparnya? huh, apa ini sebuah lelucon?" Erick melongos.


"Mas ... sudah, jangan seperti ini." Elena mencoba untuk memenangkan Erick.


"Tidak bisa Elena." kemudian Erick kembali menghadap ke arah keluarga nya.


"Apa selama ini sikap baik kalian hanya kedok belaka? kenapa dengan masalah seperti ini saja,seakan ingin mengusir istri ku dari sini!"


"Bukan seperti itu Erick, kau salah paham." tuan Rey berusaha untuk mendekati putranya.


"Sudahlah, kita akhiri hal yang menyia-nyiakan waktu ini." Erick langsung menarik lengan Elena untuk pergi dari sana. Elena sekilas berpaling melihat ke belakang di saat itulah ia bisa melihat wajah Mona yang nampak sangat kesal menatap tajam padanya.


...***...


"Sudah mommy bilang, rencana mu itu tidak akan berhasil." nyonya Sarah menggerutu sambil duduk di kursi mewahnya.


"Mana aku tahu mom. Aku kira kakak akan langsung mengabulkan permohonan ku." cebik Mona menyilangkan lengan.


"Ck, ck, kau ini kenapa malah jadi naif. Tidak akan semudah itu lah, sekarang itu kakak Erick- mu yang akan selalu mengabulkan permintaan mu sudah hilang, lenyap. Yang ada hanya Erick, pria yang tengah di butakan cintanya," ujar nyonya Sarah.


"Prioritas nya bukan lagi dirimu, tapi Elena, istri kampungannya itu." lanjut wanita yang selalu terlihat elegan itu, kemudian.


"Grrrr ... kalau begini aku sudah tidak tahan lagi mom. Kita sewa saja seorang pembunuh bayaran untuk melenyapkan. Aku benar-benar ingin dia pergi dari sini," kesal Mona, setelah mengetahui fakta jika kini posisi nya perlahan di rebut oleh wanita itu.


"Tidak. Kau jangan bodoh, itu sama saja mendatangkan boomerang untuk kita." sergah nyonya Sarah mendelik pada putrinya.


"Mungkin itu akan menjadi opsi terakhir. Untuk sekarang kita bermain-main saja dulu, slow and calm. Jangan terburu-buru karena kita harus membuat nya menderita dulu."

__ADS_1


"Lalu rencana mommy selanjutnya apa?"


"Hmmm, itulah yang sedang mommy pikirkan sayang." nyonya Sarah menyeringai.


...***...


"Jangan mas,kita tidak perlu pergi dari sini."


"Lalu sampai kapan sayang. Apa harus sampai melihat mu menderita oleh orang-orang itu," desis Erick ketika usulannya untuk kembali ke apartemen di tolak sang istri.


"Mas, jangan memanggil 'orang- orang itu' mereka keluarga kita loh."


Erick hanya berdecak. Dengan rahang menajam juga gigi mengetat keras.


Elena yang melihat, menundukkan wajah nya. "Mas jika kamu seperti ini, aku akan sangat merasa bersalah."


Erick menoleh menatapnya. "Kenapa?"


"Kamu mati-matian membelaku sementara kamu lupa jika mereka adalah keluarga mu. Bagaimana pun aku tak ingin menjadi jurang pemisah antara kalian."


"Karena aku sudah berjanji pada almarhum Bu Ratna, sayang. Untuk selalu melindungi mu."


"Jika mereka memusuhimu, itu berarti mereka juga memusuhi ku juga, Elena." suara serak Erick terdengar lirih.


"Mas ... aku sangat menghargai perjuangan mu, kamu sudah membuktikan kau akan mengorbankan hidup mu, untuk ku. Sekarang giliran aku, biarkan aku membuktikan pada keluarga mu jika putranya ini tak salah memilih pasangan."


Hening sejenak, keduanya saling memandang lekat, masing-masing mencoba untuk menyelami perasaan lebih dalam.


Erick membuang nafas panjang, pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya sekilas.


"Kita berjuang sama-sama?"


Pertanyaan Erick persis seperti perkataan yang Elena lontarkan dahulu, membuat Elena tersenyum.


"Semuanya akan baik-baik saja." membalas, Elena mengulang kembali kalimat yang selalu Erick ucapkan padanya.


Sepasang sudut bibir Erick tertarik membentuk lengkungan manis, kedua tangan pria kokoh itu menekan jemari Elena lembut.


"Baiklah. Aku percaya padamu."


...****************...

__ADS_1


"Elena ... bisakah kau membuatkan mommy teh?" nyonya Sarah duduk di sofa nyaman, Elena yang duduk di sampingnya menoleh.


"Teh?"


Jujur, Elena masih sedikit canggung setelah keributan tadi pagi, baru ini lagi nyonya Sarah menyapanya, nada suara wanita itu menunjukkan jika seolah tidak terjadi apa-apa tadi pagi, padahal nyonya Sarah begitu menyalahkan Elena atas apa yang terjadi pada Mona.


"Iya, mommy ingin merasakan teh buatan mu." nyonya Sarah tersenyum ramah. "Tidak masalah kan?"


"Aaa .. tentu tidak masalah. Kalau begitu aku akan siapkan mom." Elena beranjak menaruh ponselnya di atas meja, kebetulan ia tengah melihat- lihat resep makanan di google saat ini.


Ketika melihat Elena sudah pergi, di kala itulah nyonya sarah beraksi mengambil ponsel Elena yang masih menyala, mencari sesuatu di sana.


***


Di dapur setelah membuat teh untuk sang mertua, Elena berjalan hati- hati kembali ke ruang keluarga.


Kemudian Mona muncul secara sembunyi-sembunyi di balik tembok, menyusul dua pelayan setianya Sari dan Tika. Mereka sudah menyusun sebuah rencana untuk mengerjai Elena.


Tanpa Elena tahu, dengan perintah Mona, Sari dan Tika telah menyebarkan biji- biji kelereng kecil di sekitar lantai, agar terinjak oleh wanita itu dan membuatnya terjatuh.


Sesuai keinginan mereka, Elena yang tak menyadari jika ada perangkat yang menantinya, ia tanpa sadar menginjak kelereng- kelereng itu membuatnya langsung terpeleset dan cangkir teh yang ia bawah jatuh, isinya langsung mengenai setengah wajah Elena, hingga gadis itu langsung menjerit kesakitan.


"Yess! berhasil." Mona berseru senang, matanya terbelalak senang mengepal tinjunya, lantas ia menaruh telunjuk di bibir agar anak buah di belakangnya diam.


"Hahaha, lihat itu non, teh panas itu mengenai wajahnya, liat dia, menggelepar kaya ikan pari," ujar Sari dan Tika. keduanya memang sejak awal sudah tak menyukai Elena semenjak wanita itu datang kesini.


"Tepat sasaran, biar wajah sok kecantikan itu rusak sekalian," Mona bersorak."Ah, rasanya memuaskan. Memang itulah yang kuinginkan," ucap Mona pongah.


"Belum seberapa, ini cuma sedikit pelajaran untuknya setelah kejadian tadi pagi yang mempermalukan ku" Mona bersidekap angkuh.


"Karena wanita kumuh itu aku jadi putus dengan Jhonson." desis Mona kembali.


"Benar kata mommy. Lebih seru ketika mengerjai nya dan melihat nya tersiksa sedikit demi sedikit." ia menyeringai puas.


***


"Nyonya muda, anda kenapa?" bik Surti datang melihat Elena yang masih mengaduh perih.


"Tolong saya bik. Mata saya perih kena teh panas." Elena meringis keras ia berusaha bangkit, rasanya begitu menyakitkan.


Bik Surti segera membantu Elena menuju keran air untuk membilas luka melepuh itu. Sementara Mona dan dayang- dayangnya masih tertawa puas di sana.

__ADS_1


__ADS_2