
"Mona, di mana kau?!"
Suara Erick menggelegar ketika memasuki ke dalam mansion, darahnya mendidih luar biasa dengan urat-urat leher yang terpampang jelas kentara sedang menahan murka.
"Tuan, tenangkan diri anda dulu." Zidan yang mengekori dari belakang, berusaha untuk menengahi emosi Erick yang menggebu-gebu.
Namun itu justru semakin membuat Erick meradang.
"Bagaimana aku bisa tenang, sementara adik ku sendiri menyusupkan seorang pria asing ke dalam mansion ku!" sengau pria itu, tak bisa lagi menahan gejolak amarah di dadanya.
Di sisi lain Mona nampak semakin panik, ia ketar-ketir di tempatnya. ia berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, ia mendadak blank dengan apa yang harus ia lakukan sementara itu, Vicky yang kini berusaha keras menuruni jendela balkon dengan hanya seutas tali yang di ikatkan di pagarnya, berkeringat Vicky di buatnya kakinya gemetar saat melihat ada dua hansip sedang berdiri di sana.
"Siaal! di bagian belakang pun ternyata ada penjaganya!" ia mengumpat kesal. Lalu memutar otak, tak ingin matti konyol di tempat ini.
"Tau gini, mending gak usah kesini kalo cuma akhirnya seperti ini, malah macu adrenalin!" meski dalam keadaan yang sangat genting masih sempatnya Vicky mendumel.
***
Habis kesabaran, tanpa berfikir lama Erick langsung menyerbu berjalan cepat menuju kamar sang adik perempuannya. Ia amat kecewa dengan laporan salah satu maidnya tentang Mona selama ini Erick selalu berusaha menjadi kakak yang baik, menanamkan nilai-nilai yang luhur pada adiknya. Ia ingin melihat langsung apa yang di katakan maid itu benar atau tidak tentang sang adik kesayangannya.
Kriek! sampai di depan pintu kamar Mona yang tertutup Erick langsung mendobraknya dengan kasar.
"Kakak?" seru Mona. "Kamu sudah kembali?"
Erick di buat terdiam seketika, apa yang dilihatnya saat ini tak sama dengan laporan yang di terimanya. Pria itu melihat Mona yang kini duduk bersantai sambil di tepi balkon kamarnya dengan membaca buku.
Hufft! Mona bernafas lega, untungnya dengan kecepatan cahaya ia bisa membereskan kamarnya dari barang-barang Vicky juga jejak lelaki itu sampai ke akar, hingga mungkin kakaknya tak akan menaruh curiga.
"Tak akan semudah itu menjatuhkan seorang Mona." batinnya bergumam dalam hati.
"Kenapa kak? kamu terlihat sangat terkejut melihat ku?" tanya Mona kemudian dengan raut wajah polos seakan tak tahu apa-apa.
__ADS_1
Erick yang masih mematung di ambang pintu hanya menggeleng.
"Tidak apa-apa. Kau lanjutkan saja membaca mu."
Mona tersenyum. "Bagaimana aku bisa melanjutkan aktivitas ku, jika kakak kesayangan ku kini ada di depan ku." wanita itu lalu beranjak menutup bukunya lalu meletakkan di atas nakas.
"Kakak kapan sampai? kenapa tidak bilang padaku dulu jika sudah balik dari london?" Mona menghampiri, menggelayut pada lengan Erick selayaknya adik yang manja kepada kakak yang di rindukan nya.
"Kakak memang tidak sempat memberitahukan mu juga papa," ucap Erick, mengelus-elus rambut blonde Mona, mengecup keningnya singkat.
"Lalu bagaimana dengan terapi yang sedang kakak jalani? juga kak Clar apa tidak ikut serta bersama kakak?"
Sebisa mungkin Mona mengulur waktu dengan berbasa-basi, agar Erick tetap berada di sini selama Vicky melarikan diri.
"Kondisi kakak sudah jauh lebih stabil. Jangan tanyakan tentang Clarissa, dia sedang sibuk di london hingga tidak bisa pulang kesini." pungkas Erick.
"Oh ... begitu ya." Mona manggut-manggut.
Meski mulutnya sibuk berbicara pada Mona, mata elang Erick tetap fokus menyapu ke sekeliling kamar adiknya itu, ia masih tak bisa mempercayai dengan temuannya yang berbeda dari apa yang di laporkan pembantunya, entahlah meski terlihat santai gerak-gerik Mona seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kenapa? kakak hanya ingin melihat keadaan kamar mu?" Erick mengerut dahi, kecurigaannya kembali timbul saat melihat air muka Mona berubah keruh.
"Hehehe, Kenapa kakak tiba-tiba ingin melihat keadaan kamar ku? harusnya kan kakak istirahat. Kakak kan sudah melakukan perjalanan jauh, pasti lelah. Ayo Mona antarkan ke kamar kakak." wanita itu sebisa mungkin membujuk Erick yang hendak melihat kondisi kamarnya. Bisa bahaya!
"Tidak apa-apa. Kakak tidak lelah sama sekali. Akhir-akhir ini kakak terlalu sibuk hingga lupa untuk memerhatikan adik perempuan kakak satu-satunya ini. Kakak hanya ingin melihat kamar mu, jangan tegang begitu, kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?"
Duaar! Mona langsung merasa ke geep dengan pertanyaan frontal yang Erick lontarkan.
"Tidak lah. aku tidak menyembunyikan apapun kak," kata Mona namun justru dengan gestur dan bahasa tubuh yang terlihat panik.
"Baiklah. Kalau begitu kamu tidak usah panik."
__ADS_1
Mona hanya bisa tersenyum meringis. Aura intimidasi dari kakaknya ini memang begitu kuat.
Erick kemudian melanjutkan langkah, mengamati setiap sudut dan celah kamar Mona yang di dominasi warna cerah seperti kamar anak gadis pada umumnya.
Namun ada yang membuatnya salah fokus.
"Tunggu konsol game? punya siapa ini?" Erick mengambil perangkat elektronik itu tepat di bawah katil dengan kondisi berantakan seperti sengaja di sembunyikan namun tetap kelihatan oleh matanya yang cermat.
"Oh, itu konsol game punyaku kak."
"Sejak kapan kau bermain game? seingat kakak kau sama sekali tak pernah menyukainya?"
"Eh, t-tentu saja aku menyukainya, kakak jangan salah aku bahkan sudah bergabung dalam komunitas sesama pecinta game." kilah Mona dengan senyum terlihat di paksakan.
"Kemarikan kak. Biar aku menyimpannya di dalam lemari."
Erick menyerahkan konsol game itu dengan tatapan memicing penuh selidik.
Demi menghindari tatapan penuh intimidasi sang kakak, Mona mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan tingkah yang canggung, situasi yang membuat Erick semakin menaruh curiga pada gadis itu.
Berpindah lagi pada Vicky yang kini sedang dalam kesulitan memutuskan apakah ia harus turun ke bawah menuju gerbang belakang mansion yang kini sudah setia menunggu dua penjaga berbadan besar nan kekar di sana, atau tetap di sini untuk menyelamatkannya nyawanya.
Tapi tetap di atas pun dia akan matti, cepat atau lambat di tangan Erick.
Bagai buah simalakama, Vicky di berikan pilihan yang buruk. Namun ia tak memiliki waktu untuk berfikir lagi sementara di atasnya kini tepatnya ia melihat dari jendela yang terbuka, bisa melihat Erick dari arah matanya memandang ada di dalam kamar Mona.
Sampai akhirnya tak ada pilihan lain, dengan sedikit nyalinya yang kini semakin terkuras Vicky nekat terjun ke bawah, yang jaraknya hanya berkisar empat meter.
Meski begitu suara ia terjatuh menimpa ranting pohon berbunyi nyaring hingga membuat dua hansip yang sedang berjaga tersebut langsung menoleh ke arahnya.
"Hei siapa kau! penyusup!"
__ADS_1
Mata Vicky membulat.
Gawat!