
Happy reading 🌹🌹
Penyesalan yang paling terdalam di rasakan seorang Erick Davidson saat ini, pria yang selalu terlihat gagah dan anarkis, saat ini tak ubahnya seperti manusia sekarat setelah melihat wanita yang di cintainya terkulai lemah tak sadarkan diri.
"Elena bertahan lah ku mohon." mata Erick sudah memerah berair, baginya pantang seorang pria menangis tapi saat ini ia melewati pantangan itu, melihat Elena yang nampak meringis dan darah yang terus mengalir dari lehernya yang terluka seakan-akan ikut menarik kewarasan dan tenaga Erick saat itu juga. Berkali-kali pria itu mencium punggung tangan sang istri, mengusap lembut kening yang mulai terasa dingin itu.
Hingga akhirnya brankar yang membawa Elena masuk ke dalam ruang perawatan, paramedis menghadang Erick ketika pria itu hendak ikut masuk ke dalam.
"Bapak di mohon tunggu di sini saja, biarkan dokter dan tim yang menangani pasien," ucap salah satu perawat.
"Lakukan yang terbaik, jangan sampai isteri kenapa-kenapa," ujar Erick yang masih di penuhi kecemasan.
"Baik pak, anda tenang saja," ujar perawat itu mengangguk lalu ikut masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya. Di saat itu juga tubuh Erick luruh, ia terlihat ngos-ngosan, jakunnya naik turun berusaha menelan ludah susah payah, hancur sudah pertahanannya, melihat wanita yang di cintainya menderita karna dirinya.
Erick menyangga punggungnya di tembok rumah sakit, kemeja putihnya nampak basah di banjiri oleh keringat hingga mampu mencetak tubuh kekar nya. Sesekali Erick akan mengambil nafas dalam dan mengembuskan nya dengan kasar.
Dea diam di sana, mengintip dari jendela dengan perasaan was-was, terlebih saat ia melirik pada Erick, pria itu terlihat gelisah setengah matti, kentara kekhwatiran yang sangat jelas dari pria itu, bisa Dea rasakan.
"Elena pasti akan baik-baik saja," ucap Dea kemudian menatap wajah Erick, pria itu menoleh meski terlihat rapuh Erick mengangguk mengaminkan.
••
"Tidak dad, aku gak mau masuk penjara, aku gak mau! aku masih muda dad, masa depan ku masih panjang. Tolong bantu aku!" Mona terisak memegang kaki ayahnya.
Rey nampak bergeming, pria itu hanya membeku di tempat, rasa kecewanya sangat besar saat ini, sungguh ia tak menyangka anak dan istrinya bisa melakukan konspirasi biadddap seperti itu di belakang.
"Ayo nona Mona, anda harus ikut juga ke kantor polisi," sentak Zidan setengah mendesak.
Para aparat berseragam coklat sudah menunggu dengan borgol di tangan yang siap untuk mengikat Mona.
__ADS_1
Gadis itu menggeleng frustasi saat melihat borgol yang akan menjerat kedua tangannya itu, sangat menyeramkan menurut nya. Mona tetap kekeuh dan keras kepala untuk meminta pengampunan dan pertolongan sang ayah, meski di lihatnya pria itu yang sama sekali nampak tak peduli.
"Dad, ku mohon dad. Aku gak mau membusuk di penjara!" Mona menjerit kencang, mengamuk dua orang polisi dan Zidan langsung menahannya.
"Tunggu!" Rey berteriak lantang, merentangkan tangannya isyarat agar Mona di lepaskan.
"Ada apa tuan besar? kenapa menghentikan kami?"
"Biarkan dia di situ." titah Rey.
"Apa? kenapa?" Zidan terlihat tak setuju dengan keputusan tuan besarnya itu.
"Zidan, di sini saya adalah atasan mu. Kau berniat membangkang perkataan ku?!" desis Rey menatap nyalang pada asisten putranya itu.
"Tidak sama sekali, tuan besar." Zidan sontak menunduk hormat. Tak ingin di kecam demikian.
"Maka ikutilah perintah ku, bos mu bukan hanya Erickson saja."
"Diam!" Rey membentak, semua terkesiap.
"Maaf pak polisi, anda boleh pergi, hanya terdakwa Sarah advika yang akan di adili."
Para aparat kepolisian itu saling melempar pandang dengan saling menatap lalu mereka mengangguk, pergi dengan hanya membawa Sarah yang dari sini terdengar lengkingan suara nya yang minta di lepaskan.
Mona terlihat berseri-seri, ia senang sang ayah masih memihak nya.
"Aku tahu kamu sangat menyayangi ku kan dad? kau tak akan pernah membiarkan putri mu ini sengsara!" Mona tersenyum senang, perubahan wajahnya dari menangis lalu tertawa bahagia membuatnya terlihat seperti orang gilla.
"Kata siapa? kau tetap bersalah. Mona, apa kau meremehkan semua yang terjadi karena ulah mu ini?" Rey menatap nya dengan mata penuh kekecewaan.
__ADS_1
"T- tidak dad, aku tidak bersalah. Aku hanya di suruh oleh mommy saja!" jerit Mona menggeleng keras.
"Jangan terus mengelak!" sentak Rey. "Seperti itu kau hanya akan terlihat seperti orang sakit jiwa. Kau tahu Mona, kamu lah harapan daddy untuk masa depan keluarga ini, tapi kau juga mengecewakan daddy, bahkan lebih besar dari pada kekecewaan daddy pada kakak mu."
Rey mengambil udara dalam-dalam sebelum kembali berucap.
"Itu sebabnya kau akan di hukum juga seperti ibumu!"
"T- tidak dad, aku tak mau. Aku hanya di jebak oleh mommy!"
"Membawa seorang pria, menyusupkan diam-diam seperti buronan ke dalam mansion dan melakukan hubungan terlarang, apa itu di sebut sebagai jebakan?! Sudah cukup, kau hanya akan terlihat bodoh jika terus mengelak kesalahan dan dosa mu!"
"Maka, mulai hari ini Mona, kamu di keluarkan dari keluarga davidson. Di dalam akta kelahiran mu tidak akan akan ada nama Davidson lagi di belakang nama mu. Mulai detik kau tak berhak atas segala fasilitas mewah, kamar mu bukan milik mu lagi, semua kartu kredit mu akan di tarik bahkan baju yang sekarang ini melekat di tubuh mu bukan lagi milik mu. Mulai detik ini juga nama mu di keluarkan dari daftar hak warisan yang akan di berikan jika daddy tiada kelak."
Jedder! Mona terkejut luar biasa mendengar keputusan panjang yang keluar dari mulut sang ayah. Ini bahkan lebih parah dari pada ia harus mendekam di dinginnya jeruji besi.
"T- tidak dad, bagaimana bisa daddy mengeluarkan kan ku dari keluarga ini? aku anak kesayangan mu dad, apa kau lupa?"
"Keputusan ku sudah bulat. Mulai hari ini kau akan menjadi salah satu pelayan di sini jika kau ingin tetap bertahan hidup, kau akan di tempat kan di bagian mansion belakang. Jika kau tidak mau, silahkan pergi dari sini dan cari kehidupan mu sendiri di luar sana!" ujar Rey dengan lantang sembari mengacungkan telunjuknya ke pintu utama yang menuju ke halaman luar mansion.
"Zidan!" panggil Rey.
"Ya, tuan besar."
"Kau urus gadis ini. Jika dia sudah memberikan keputusan nya untuk tinggal menjadi salah satu pelayan di sini, tunjukkan padanya kehidupan sebagai seorang maid di sini," titah Rey kemudian melangkah pergi dari sana.
Mona terduduk lemas, matanya menatap kosong meratapi nasibnya yang baru saja terjadi.
Semua orang menatap ke arah nya, saat itu pandangan Mona tertuju pada Vicky, yang semula menatapnya langsung membuang muka ke arah lain, Mona terisak seketika, ia menjerit kencang, Clarissa yang masih setia berdiri di tempatnya ingin menghampiri namun ia urungkan.
__ADS_1
Sedangkan Vicky, di kawal oleh dua orang bodyguard Erick segera pergi meninggalkan mansion untuk di bawah pergi ke kantor polisi bersama Sarah.