Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 40


__ADS_3

"Kakak bantu make up- pin aku ya." Mona nampak lihai sekali menunjukkan raut wajahnya yang gembira. Padahal harus menahan kesal setengah mati ketika harus merelakan barang-barang mewahnya di sentuh oleh tangan kotor wanita kumuh itu.


"Baiklah. Tapi maaf jika hasilnya tidak terlalu bagus," ucap Elena.


'Tidak. tidak,aku percaya akan bagus, tangan mu kan ajaib, bahkan sampai bisa membuat kakak ku bertekuk lutut."


Kemudian Mona memejam, mempersilahkan Elena untuk merias wajahnya.


Namun Elena nampak gamang, ia menatap lekat Mona dengan perkataan nya yang lagi-lagi menusuk sanubari. Entah kenapa Elena mulai berfikir, seharian ini sikap Mona mendadak berubah, entah Elena yang terlalu di baper oleh ucapan Mona atau memang Mona yang sudah kelewatan menyindirnya terus.


Satu jam terlewati dengan sedikit ketegangan saat Elena menyulap wajah mulus Mona dengan berbagai warna make up. Takut-takut nanti gadis itu tidak akan menyukai nya membuat Elena sedikit berhati-hati. Sebenarnya dia pun bukan orang yang jago dalam hal bermake-up, namun adik ipar yang memintanya, Elena tidak bisa menolak.


"Selesai."


Tepat setelah Elena berseru, Mona membuka matanya.


"Wow, amazing. Ini sangat bagus kak."


Karena girang Mona memeluk Elena sebagai ucapan terimakasihnya.


"Mmm, sudah selesai kan? kalau begitu aku kembali ya." jujur Elena tak terlalu nyaman sekarang.


Tapi Mona tak menghiraukannya membuat Elena tetap bertahan di sana.


"Cocok sekali dengan wajah ku kak. Kau hebat dalam berhias. Jika saja kak Erick tidak jatuh cinta pada mu dan kau tetap miskin, mungkin kau bisa menjadi seorang MUA terkenal," seru Mona sambil meneliti pantulan wajahnya di cermin.


"Maaf Mona.Tapi bisakah kau memfilter kata-kata mu itu? aku merasa ... "


"Kenapa? kau tersinggung?" Mona berbalik, menjeda kalimat Elena.


"Tidak, bukan begitu." Elena tampak tergagap. Inilah salah satu kelemahan nya tak bisa membela diri.


"Kan lagipula apa yang ku katakan adalah kebenaran."


Berhasil. Mona sudah muak dengan kedoknya, perlahan ia sudah menunjukkan tanduk dan taring nya.


"Kamu benar. Tidak seharusnya aku tersinggung, kalau begitu aku pergi ya."


"Yaya, pergilah. Kau sudah tidak ada urusan di sini." cibir Mona.


Elena mengesah panjang. Entah apa sebenarnya penyebab nya Mona berhasil merubah dirinya dalam satu hari sebagai orang yang berbeda. Atau mungkin memang itu sifat aslinya, selalu meremehkan orang.

__ADS_1


...***...


"Good night my wife."


Erick menyandarkan pundaknya di sisi pintu, suara bariton nya khas membuat Elena menoleh.


"Sudah pulang?" Elena tersenyum manis menyambut kedatangan sang suami.


"Tentu saja, makanya aku ada di depan mu," seloroh Erick, Elena terkekeh.


Erick langsung membawa tubuh mungil itu merasuk ke dalam dekapannya. Memberikan kecupan yang banyak di setiap jengkal wajah cantik istri nya, menjadikannya obat rindu setelah seharian tak bertemu. Akhir- akhir ini Erick memang nampak sangat sibuk dengan jadwal nya yang selalu padat dan harus bertambah dua kali lipat membuat ia selalu pulang larut malam.


"Bagaimana harimu, my twinkle?" tanya Erick setelah mendarat kan bibirnya sekilas di kening Elena.


"Baik. Seperti nya biasanya," ujar Elena.


"Bosan?"


"Tidak juga," jawab wanita itu cepat.


"Biasanya kau akan selalu mengeluh bosan karena tak punya kegiatan." Erick terkekeh.


"Oh ya? apa yang tidak ku ketahui hari ini tentang istriku?" pria dengan tinggi 181 cm itu melepas kan jas coklatnya.


"Kamu mau tahu? akhir- akhir ini aku sedang khursus membuat kue dengan bik Surti, kami juga melakukan beberapa eksperimen untuk menemukan resep baru." Elena menjadi hiperbola ketika mengatakan itu pada suaminya.


"Fabulous! itu luar biasa." puji Erick. seperti biasa, energinya tak akan mungkin habis untuk mendengarkan isterinya bercerita meski ia sendiri sudah sangat kelelahan setelah pulang kantor atau mungkin malah semakin bertambah karena baginya Elena adalah sumber vitamin nya yang paling penting.


Seperti kebiasaan bagi mereka, malam ini akan di habiskan dengan Elena yang bercerita dan Erick mendengar kan juga sebaliknya, lalu terhenti ketika mereka sudah di atas tempat tidur dan terlelap bersama.


Sebenarnya Elena hendak memberitahukan keganjalan hatinya seharian ini setelah mengetahui perubahan sikap Mona, namun akhirnya ia mengurungkan nya karena bimbang.


Sementara Erick sudah terlihat lelap dalam tidur dengan sebelah tangan nya mengenggam erat tangan Elena. Lain halnya Elena yang terlihat gelisah, kepalanya yang bersandar di dada bidang Erick, sedang mencari kenyamanan di sana.


Mungkin lain kali aku akan bilang.


Batin Elena. Lalu akhirnya ikut terpejam untuk mengarungi mimpi bersama dengan sang suami.


...***...


Pagi buta, saat sang bagaskara pun belum keluar dari pembaringan nya. Seisi wilayah mansion tanpa terkecuali sudah di buat heboh dengan lengkingan tangis Mona.

__ADS_1


Gadis yang semalam suntuk ijin berpesta itu pulang- pulang sudah berlinang air mata dengan isaknya yang keras persis seperti anak-anak yang menginginkan sesuatu namun tak di kabulkan.


Bergegas semua penghuni mansion menuju ke arahnya yang kini nampak mengenaskan dengan tas nya yang di lempar asal.


"Ada apa ini Mona? kenapa kamu membuat keributan sepagi ini?" tanya tuan Rey, pria yang hampir sepenuh rambutnya sudah berwarna keperakan itu masih sempat nya menahan kuap.


"Hua ... Daddy, rasanya aku ingin mati saja, ingin bunuh diri!"


"Ada apa? kenapa? siapa yang berani-beraninya melukai princess daddy, katakan?!" sergah tuan Rey dengan marah ketika sang putri memeluknya erat.


"Ada apa Mona? apa ada yang berani menyakiti mu, bilang pada kakak." Erick pun langsung ikut tersulut. Jika menyangkut Mona, dua laki-laki Davidson itu memang tidak main-main.


"Ini semua karena kak Elena!" tuding Mona segera setelah melepaskan pelukan pada ayahnya. Gadis itu mengacungkan telunjuknya tepat di wajah Elena.


"A-aku ... " Elena yang tak tahu menahu tentu sangat terkejut.


"Sebenarnya ada apa ini? kenapa kau tiba-tiba menuduh kakak ipar mu?" tanya Erick yang masih berusaha untuk menahan diri.


"Ini semua memang karena kak Elena, kak." Mona menatap wajah Erick.


"Tadi malam pesta prom night ku hancur total, aku di permalukan di pesta, di hina semua teman dan dosen yang hadir karena mereka mengolok penampilan ku yang semua adalah ide dari kak Elena."


"Aku bahkan putus dengan Jhonson karena hal itu." Mona kembali terisak.


"Kau putus dengan Jhonson!" tiba-tiba tuan Rey menyahut keras. "Jhonson putra tuan Oliver pemilik tambang batu bara itu?!"


"Yah dad." lirih Elena mengangguk.


"Oh my goddess. Dia adalah harta yang paling berharga, bahkan kalian sudah mau di jodohkan, kenapa kau malah putus dengan nya?" tuan Rey berdecak menyayangkan. Kesempatan untuk berbesan dengan keturunan darah biru langsung dari Inggris kini gagal total. Setelah putra kebanggaan nya yang memilih untuk menikahi wanita level rendah bahkan tanpa asal-usul jelas. Kini putrinya pun kehilangan kesempatan. Ah, betapa sialnya!


"Mau bagaimana lagi dad? sudah ku bilang ini semua karena kak Elena, Jhonson mengolok-olok make up ku yang adalah riasan dari tangan kak Elena."


Semua orang terkecuali Erick kini memandang Elena sinis.


"Karena kau putri ku gagal berjodoh dengan keturunan darah biru," cibir nyonya Sarah yang mulai menunjukkan sifat aslinya.


"Mommy benar dad. Secara tidak langsung kak Elen sudah menghancurkan masa depan ku, aku ingin dia di usir dad!"


Habislah kau kali ini.


Batin Mona, tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2