Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 138


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹


Mentari timbul menyilaukan menembus kaca jendela hingga menerangi ruangan yang sedikit remang itu, ketika Elena membuka gorden nya.


"Selamat pagi."


Elena yang datang untuk menjenguk namun Erick yang menyapa lebih dulu, ya meski sapaan nya tak mendapat balasan dari gadis itu karena Elena hanya diam saja. Tapi Erick sudah mulai terbiasa.


Terbiasa dengan Elena yang selalu datang pagi, menyiapkan kebutuhan nya, meski gadis itu sendiri sibuk dengan toko kue yang sedang di kelola nya tapi masih menyempatkan diri untuk menjenguknya di rumah sakit. Erick mulai terbiasa dengan Elena yang bersikap acuh tak acuh meski sebenarnya sangat peduli, mulai terbiasa dengan raut datar Elena yang tanpa senyum ataupun ekspresi lain tapi terlihat sangat jelas di kedua matanya yang indah gadis itu menunjukkan kepedulian juga kehangatan yang bisa Erick rasakan.


Erick mulai terbiasa dan ia semakin jatuh cinta.


"Kau terlihat sangat cantik pagi ini," ucap Erick mulai menyerbu gombalan nya.


"Apa karena hari ini aku sudah sembuh dan di perbolehkan pulang hingga kau nampak sangat berkali- kali lipat dari biasanya? meski Elena ku sejak dulu sudah terlihat selalu cantik."


Erick menghela nafas namun ia paksakan menarik garis bibir nya. Seperti biasa, ia selalu seolah sedang bicara dengan angin, karna Elena yang hanya diam tak menanggapi nya. Tapi meski begitu Erick tak akan menyerah. Terlalu dini untuk patah arang. Cintanya tak secetek itu, ia berprinsip apa yang sudah ia lakukan harus ia perbaiki, Elena terluka karena dirinya oleh karena itu Erick juga yang akan menjadi penyembuh nya. Bagaimana pun caranya.


"Hari ini kau membawa apa?"tanya Erick saat Elena sibuk mengeluarkan barang dalam tote bag.


"Untuk bekal aku membawa nasi goreng dan tempura cumi, kamu alergi udang jadi aku mengganti nya dengan cumi, tidak apa-apa kan? tadinya aku juga mau buat sup sawi, tapi ingat kamu gak suka sawi jadi gantinya aku membawa sup ayam saja, kau tidak bosan kan?"


Erick tersenyum. "Kau selalu tahu tentangku sekecil dan sereceh apapun. Bagaimana mungkin aku bisa menolak masakan yang di buat langsung oleh tangan mu."


Elena diam untuk beberapa saat, menoleh sekilas ke arah laki-laki itu lalu kembali fokus pada pekerjaan nya.


"Makanlah dan setelah itu minum obat. Aku juga membawa beberapa kue pie selai blueberry untuk mu."


"Waw! itu pasti enak." Erick kembali tersenyum, wajahnya yang khas pria berkarakter, brewok kan karena Erick tak sempat untuk mencukur bulu- bulu halus yang tumbuh di dagunya malah justru semakin menambah daya pikat nya, di tambah bekas luka goresan di pipi kiri pria itu entah kenapa malah membuat kharismanya semakin bertambah.


"Kenapa muka mu jadi memerah begitu?" Erick terkikik. "Kau akhir-akhir terlihat demam sayang. Apa perlu periksa ke dokter?"


"Tidak ada! tidak ada yang perlu di khawatirkan. Cepat makan saja!" tukas Elena dengan ucapan yang sengaja di lontarkan demi melindungi wajahnya yang ia rasakan semakin memanas.


"Kau selalu tak bisa menyembunyikan ekspresi mu dariku. Saat kau tersipu seperti itu rasanya sangat gemas," goda Erick kemudian.

__ADS_1


Tap! Elena menghentikan kegiatannya, lalu berbalik menatap Erick dengan raut wajah tak terbaca.


"Ku rasa, aku harus menegaskan satu hal padamu. Aku masih di sini bukan berarti aku sudah memberikan mu peluang untuk hubungan yang sebenarnya sudah renggang ini. Aku katakan aku tetap berada di sini semata-mata hanya ingin mengobati mu, karena aku merasa kau sampai terluka seperti ini karena diriku. Jadi tak ada tujuan lainnya lagi."


Erick ke geep, ia bergeming untuk sesaat lalu menganggukkan kepalanya.


"Kau bicara begitu sungguh menyakiti hati ku, tapi tak apa, lebih baik aku makan saja kan?"


"Ya, silahkan saja," ucap Elena terdengar acuh tak acuh.


Wanita itu berbalik kembali membelakangi pria yang tengah duduk menyantap hidangan nya, Elena mengambil nafas dalam lalu mengeluarkan dengan kasar, berusaha mengurai debar jantung yang semakin kencang berdetak.


"Maaf, hatiku masih membelenggu ku untuk memberikan mu kesempatan kedua."


"Aku akan lebih berjuang lagi. Aku tak akan pernah melepaskan mu."


Dua insani itu bermonolog mengutarakan rasa masing-masing hanya di dalam hati mereka.


...---------Oo-------...


Pria itu terlihat sedang berkemas, karna ia sudah benar-benar pulih jadi sudah di perbolehkan pulang.


"Maaf tuan, menganggu waktu anda," ujar Zidan dengan nafas memburu kentara sekali tengah di terjang panik.


"Ada apa Zidan, kau tiba-tiba datang."


"Ada berita buruk, sekaligus tuan."


Di kantor polisi.


Sarah tertawa penuh kemenangan saat dirinya resmi di bebaskan dari tuntutan yang di terimanya, lewat orang dalam yang telah membantunya dengan uang bernilai fantastis sebagai tebusan.


"Hahaha, akhirnya aku bebas!" Sarah memekik kencang merasa kan euforia yang luar biasa.


"Aku ikut senang mom!" Mona ikut berjingkrak, gembira. Tak menyangka akan secepat ini sang mommy di bebaskan, begitu cepat dan akurat sang mommy mengeksekusi rencana nya hingga tak pernah mengecewakan.

__ADS_1


Sarah menoleh, "Sudah mommy bilang kan, sebenarnya begitu mudah untuk mommy keluar dari sini hanya saja mommy menunggu waktu yang tepat."


Mona bersorak bertepuk tangan. Sarah lalu mengerling memandang keempat tahanan yang sempat membully nya.


Cuih! ia meludah tepat mengenai wajah Hayati si bos yang berkuasa di balik sel dengan tatapan meremehkan.


"Kalian lihat sekarang? aku sudah bebas, dan itu adalah balasan untuk kalian dari ku juga sebagai hadiah kenang-kenangan," ucap Sarah jemawa dengan bersidekap dada.


Hayati menggeram kesal, rasanya tak terima, baru saja kemarin-kemarin ia berhasil membuat wanita yang kini sudah bebas itu merasa terpojokkan dan rasanya baru tadi ia masih bisa memerintah Sarah, kini kenapa keadaan bisa berbalik sangat cepat. Dengan begitu mudahnya tahanan yang sudah terdakwa itu bebas. Zaman sekarang, uang begitu berguna dalam segala keadaan, the power of money memang sangat tak adil.


"Bacot lu settan!" umpat Hayati. "Huh, sayang aja lu orang kaya jadi bisa bebas dengan uang tebusan. Tapi gua berani jamin gak lama lagi lu juga cepat hancur. Karena sesuatu yang berasal dari kecurangan gak akan pernah awet, termasuk kebebasan lu ini." Hayati mencebik balik.


"Yayaya, apapun itu semua ucapan mu hanya akan menjadi omong kosong belaka. Nyatanya sekarang aku bebas, bisa kembali melihat dunia luar dan menghirup udara bebas. Tidak seperti kalian yang akan selamanya terkurung dan terpenjara di sini hahaha!"


Hayati dan ketiga tahanan wanita lainnya semakin meradang dengan kesombongan yang Sarah tunjukkan, namun mereka juga tak bisa berbuat apapun sekarang karena kini terhalang dinginnya jeruji besi.


"Ayo mom. Jangan membuang waktu mu di tempat ini lagi."


"Ah, kau benar Mon, ayo kita pergi. Byby tahanan!" Sarah sempat melembai dengan keangkuhan yang begitu tinggi kepada sisa tahanan di penjara sebelum akhirnya ia pergi dari sana.


***


Di parkiran, ternyata kehadiran Sarah dan Mona sudah di tunggu oleh seseorang.


Pria berbadan besar dan tegap yang memakai jaket kulit berwarna hitam serta kacamata berwarna senada, membuka kacamata nya cepat ketika menyadari dua wanita yang sudah di tunggu nya kini berjalan mendekat.


"Thanks Winston. Kamu datang tepat waktu dan sangat dapat di andalkan," Sarah berucap pada pria itu setelah jarak mereka hanya beberapa langkah.


"Ck, tak usah khawatir. Kapan pun kau butuh pertolongan aku akan selalu hadir," ucap pria itu tersenyum sekilas.


"Mom, apa dia laki-laki yang berjasa di balik jaminan untuk kebebasan mu."


"Yup, kamu benar sekali Mon, berkat dia mommy bisa bebas. Kenalkan dia Charlies Winston, teman akrab mommy sekaligus pahlawan untuk kebebasan mommy," ujar Sarah memperkenalkan.


"Juga adalah ayah kandung mu," lanjutnya namun hanya bisa ia ucapkan di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2