
"Aku tidak berbohong Elena, apa yang ku katakan ini benar adanya." desak Vicky meyakinkan. "Kuharap kau berhati-hati." imbuhnya kemudian.
Elena nampak berfikir berusaha mencerna semua informasi dari Vicky, sekelumit pikiran buruk kini membayangi nya antara ingin percaya atau tidak percaya dengan ucapan Vicky.
"Oh ya satu lagi. Bisakah kita memperbaiki hubungan kita Elena?" tanya Vicky selanjutnya di sertai wajah memelas. Elena balas menatapnya dengan garang.
"Hanya ada dalam halusinasi mu!" geramnya. Ia hendak pergi namun tangan Vicky dengan cepat menghadang nya.
"Kumohon Elena, beri aku kesempatan. Kau kejam sekali, hubungan kita sudah hampir dua tahun terjalin, tidak ada sedikit rasa iba mu pada ku?"
"Hanya pengemis yang meminta rasa iba, Vicky kau bahkan lebih brengsek dari pak Erick yang kau sebut brengsek. Lepaskan aku!" Elena menyentak tangan Vicky susah payah.
"Jangan pernah menghubungi ku lagi atau menemuiku!" ucapnya memperingati.
"Elena dengar, setidaknya aku bisa menjadi pengawal mu jika Erick hendak berbuat macam-macam. Ku mohon beri aku tempat tinggal, aku sudah di usir dari kontrakan ku!" ujar lelaki itu dengan sangat memohon. Bahkan ia rela bersimpuh di kaki Elena.
"Kau sudah gila hah?" Elena menarik diri tak ingin di dekati laki-laki itu.
"Apa mobil yang ku serahkan secara cuma-cuma itu tidak cukup untuk mu? lagipula kau masih sehat bugar, kenapa malah mengemis tempat tinggal pada seorang wanita?!" cemooh Elena yang kesabaran nya sudah di luar batas.
"Mobil pemberian mu sudah ku gadaikan untuk mencukupi kebutuhan ku akhir-akhir ini, sekarang aku tidak punya apa-apa lagi Elena."
"Lantas apa urusan ku? kau jual sama moge- mu itu?!"
"Tidak Elena, moge ini kesayangan ku, aku tidak bisa menjualnya," ucap Vicky dia lantas berdiri.
"Lalu ada aku peduli?" tanya Elena dengan raut wajah di main- mainan kan.
"Kau jahat sekali Elena. Kau kejam!"
Elena terkekeh lepas tak habis pikir. "Jangan memutar balikkan fakta di sini. Bahkan jika seluruh dunia meminta bukti, orang-orang juga bakal tahu siapa yang jahat dan kejam di sini."
"Kau tahu Vicky, setelah ku pikir-pikir lagi, tindakan yang di lakukan pak Erick menurut ku tidak lah salah, justru dia sudah membantuku untuk mempercepat karma yang datang padamu. Jadi nikmati lah sekarang karma mu itu!"
__ADS_1
Elena lantas pergi meninggalkan Vicky yang nelangsa menatap kuyu bersama moge kesayangan nya. Menikmati hari- hari sebagai gelandangan kini karena pria itu tak punya lagi tempat tinggal.
**
Erick tersenyum ketika mendapat laporan dari mata-mata nya soal Vicky dan Elena juga bagaimana Elena yang secara tegas mengusir Vicky.
"Kau pikir kau bisa mengalahkan ku Vicky? butuh ribuan tahun untuk jika berfikir mau mengalahkan ku."
Mundur ke belakang setelah peristiwa Ia dan Elena yang memergoki Vicky di sebuah klub. Segera saja setelah kejadian itu ia memerintahkan orang untuk menangkap kupu-kupu malam yang bersama Vicky saat itu. Namanya Gisella, setelah di beri sedikit ancaman gadis itu mau di ajak kerjasama, ia menyerahkan foto-foto bugillnya bersama Vicky ketika mereka sedang bergerumul mesra, dan tentu saja Erick memerintahkan seseorang untuk menyebarkan foto itu di internet dan bom! seketika meledak dan itu berhasil untuk menghancurkan hidup Vicky sehancur- hancurnya. Setidaknya itulah karma yang setimpal karna pria itu sudah menyakiti Elena- nya. Jangan pernah bermain-main dengan seorang Erick jika kau tidak mau terbakar.
***
Setibanya di panti, Elena langsung mengecek keadaan bunda Ratna di kamarnya. Sebulan tak bertemu ia melihat kondisi bunda Ratna jauh berbeda, terlihat sangat kurus rambut kusut masai dan kantung mata yang jelas terlihat juga seringnya ia batuk- batuk.
"Bunda ... Kenapa tidak memberitahu Elena kalau kondisi bunda sangat memburuk." Elena merasa sangat bersalah, seakan ada yang meremat kuat hatinya kini terasa sesak hingga tak terasa bulir bening nya meluncur tanpa bisa ia tahan.
"Bunda hanya tidak ingin merepotkan mu nak ... uhuk! uhuk!"
Di pembaringan nya bu Ratna tersenyum lemah. "Nak seperti nya bunda rasa umurku tidak lama lagi ... "
Elena tak kuat, ia menangis tergugu, meremas genggaman tangan nya pada kedua tangan keriput itu. "Jangan berkata seperti itu bun ... Bunda pasti akan sehat kembali."
Bu Ratna menggeleng pelan. "Bunda tidak yakin."
"Jangan berkata seperti itu, atau aku akan menangis lagi ... " lirih Elena.
"Setiap orang ada masanya nak, begitu pun bunda, tidak ada yang tahu kapan Tuhan mencabut nyawa orang tua ini." Bu Ratna berkata sambil terbatuk-batuk.
"Bun ... "
"Bunda hanya berharap ada yang bisa melindungi mu sebelum bunda pergi nak."
Air mata Elena bercucuran, haru juga sedih ia rasakan. Betapa begitu pedulinya ibu panti ini padanya, bahkan di saat kondisi terburuk wanita itu masih memikirkan dirinya membuat Elena tak kuasa menahan tangis.
__ADS_1
"Bisakah kamu memenuhi satu persyaratan bunda nak?"
Elena mengangguk cepat. Rasa sesak menghimpit dadanya kini.
"Menikah lah. Terimalah pinangan nak Bagas."
***
"Aku menyetujui untuk menikah dengan mu."
"Kau serius Elena?" tanya Bagas terhenyak. Setelah melihat kondisi Bu Ratna, Elena dan Bagas memutuskan untuk bicara di tempat terakhir mereka mengobrol bersama.
"Kau tahu? untuk orang seperti ku, Bunda Ratna adalah segalanya untuk ku. Di saat semua orang tak menginginkan ku, bunda Ratna menerima ku dengan segenap hatinya, membesarkan ku meski dulu aku pernah di cap sebagai pembawa sial hingga tak ada calon orang tua yang mau mengadopsi ku sebagai anak, bunda Ratna tetap setia mempertahankan ku dan membesarkan ku hingga seperti sekarang."
Bagas menatap sendu, ada rasa sakit dan kesedihan yang terlihat nyata di kedua bola mata Elena, membuatnya tercekat, seperti ikut merasakan penderitaan itu.
"Sekarang setelah segalanya beliau berikan untuk ku, bunda hanya meminta satu hal, yaitu kebahagiaan ku. Lantas, tidak ada alasan ku untuk menolak keinginan bunda itu."
Bagas tercekat. Ia kemudian mengambil sebelah tangan Elena membuat gadis itu menoleh padanya.
"Seperti yang bu Ratna pinta, beliau mempercayakan mu padaku." pelan, Bagas berucap.
"Kau tahu, sudah sejak lama aku menyukai mu dan pinangan ku akhirnya di terima oleh mu adalah kebahagiaan terbesar ku saat ini." Bagas menatap sangat dalam pada Elena saat mengatakan itu.
Elena tak menemukan apapun selain kesungguhan dalam mata laki-laki itu. Mungkin memang inilah akhirnya yang terbaik untuk nya.
"Aku berjanji kau tidak akan menyesal dengan keputusan mu."
***
Ayo jangan pada sensi dulu, bagaimana pun pasangan di novel ini tetep Erick- Elena ya.Yuk tetap setia menanti bab berikutnya agar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya š¤
Luv you all, salam author kyutš
__ADS_1