
"Hhhh ... aku sudah menduga jawaban mu tetap sama." Clarissa terkekeh sumbang lebih terlihat ia sedang menahan kesedihannya yang meronta ingin di keluarkan. Dengan kasar wanita itu menghapus air mata di pipinya, ia tersenyum seolah nampak pernah terjadi apa-apa, seakan-akan apa yang barusan ia pinta tak pernah terucap dari mulutnya.
"Baiklah, aku akan menutup luka mu supaya tak infeksi." Clarissa kembali melanjutkan apa yang sedang ia lakukan tadi, namun keburu tangannya di cekal oleh Erick.
Pria itu menatap sendu kedua mata Clarissa.
"Clar ... " Erick menggeleng perlahan, seolah dari tatapannya meminta untuk Clarissa berhenti untuk sok pura-pura kuat.
"Kembalilah, jangan buang waktu mu di sini." imbuh Erick kemudian.
"Kenapa? aku ingin menengok sahabat ku, apa itu salah?"
"Jangan Clar." kali ini Erick menekan kata-katanya. "Jangan sembunyi kan apa yang sekarang ada di hati mu. Katakan saja jika aku adalah pria brengsekk yang terus menggantung harapan mu, jujur aku tak bisa mengusir mu dalam hidup ku, kau berarti untuk ku, tapi aku juga tak bisa untuk menerima perasaan mu jika di paksa itu sama saja seperti aku membohongi mu. Aku tak ingin membuat mu terluka Clar."
Isak yang semula Clarissa tahan kini akhirnya keluar juga, serupa air bah yang jatuh dari atas langit.
"Brengsekk! kau memang brengsekk!" umpat Clarissa dengan netranya yang memburam karna tangis, ia memukul-mukul pundak Erick melampiaskan emosinya yang tertahan.
"Kenapa dengan begitu mudahnya kau masuk dan mencuri hatiku tanpa bisa ku rebut kembali? hiks ... kau tahu cinta ini sungguh menyiksaku!"
"Maafkan aku," ujar Erick semakin sendu, seolah ikut hanyut dalam perasaan renta yang Clarissa alami. Dengan sabar ia menghadapi emosional wanita itu yang mulai tak terkontrol, mencoba menahan lengan Clarissa lalu gegas menarik wanita itu dalam dekapan.
Di dalam dekapan hangat dada Erick, Clarissa mulai bisa menahan emosinya. Isakan yang semula terdengar kencang kini mulai mereda, hatinya yang remuk redam pun berusaha untuk ia tata kembali, meski itu sebenarnya sulit. Di bawah nyamannya lengan kokoh Erick, Clarissa semakin larut, ia membenamkan wajahnya untuk bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan itu lebih lama.
"Kau cantik juga terkenal Clar, kau bisa memilih pria mana saja yang sesuai dengan kriteria mu jangan terus terobsesi padaku. Berjanjilah setelah ini, kau harus pergi dan mulailah kehidupan mu sendiri."
__ADS_1
Clarissa yang tak sepenuhnya mendengar kan apa yang Erick katakan hanya mengangguk saja.
"Aku menyayangimu layaknya sahabat juga kakak laki-laki untuk mu."
Barulah kalimat yang baru selesai Erick katakan mulai ia dengar kan dengan jelas. Rupanya Erick masih memiliki rasa sayang untuk nya, itu kabar yang sangat baik.
Namun bagaimana pun mengingat kembali perkataan tante Sarah dan Mona yang mensupport nya untuk memperjuangkan cintanya, Clarissa jadi berfikir ulang. Ia menginginkan lebih dari sekedar rasa sayang yang Erick ungkapan.
Rupanya kini Clarissa bukan lagi dirinya yang dahulu. Ia yang sudah terkontaminasi perkataan Sarah dan Mona kini rupanya ingin menghalalkan segala cara agar Erick dapat menjadi miliknya.
"Lihat saja, aku akan memisahkan mu dan Elena. you are only mine."
Diam- diam Clarissa mengulas senyum semrik yang menakutkan.
...***...
Sore ini, ia sedang berada di pinggir jalan tepat ruko besar miliknya sedang di garap untuk menjadi tokoh kue nya kelak. Ada banyak para tukang atas arahan pak Joko yang mengelilinginya saat ini, juga mbok Can, Siska dan Tiara yang sedang bersuka cita setelah melihat tahap akhir pembangunan tokoh.
Di tengah euforia yang melambung tinggi, Elena justru merasa hampa. Pikirannya terus tertuju pada Erick tanpa ia rasa.
Bagaimana keadaan pria itu? Apakah Erick sudah makan? setelah sekian lama tak bertemu, Erick semakin kurus saja saat ia melihatnya, apa pria itu makan dengan baik dan hidup sehat?
Pemikiran dan dugaan seperti itu yang terus mengelilingi otaknya saat ini. Elena di buat resah namun tak berdaya.
"Kak ... " tepukan tepat di punggung nya dari arah samping membuat Elena terkejut, ia spontan menoleh menyadari Siska sudah ada di depannya dan tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa? dari tadi terlihat melamun terus?" tanya gadis itu.
Elena menelengkan kepala pelan. "Tidak. Kakak tidak apa-apa."
"Kalau ada masalah cerita saja kak. Aku tahu kita belum lama kenal, Siska juga masih beradaptasi kerja bersama kakak. Tapi Siska nyaman berada di sekitar kakak dan jujur Siska ingin lebih dekat dengan kakak. Jadi jika kakak perlu teman, jangan pernah merasa sungkan untuk menghubungi Siska ya, karena jujur selain sebagai atasan dan bawahan, Siska juga ingin menjadi teman untuk kak Elen."
Mendengarnya Elena merasa terharu, ia mengusap rambut panjang gadis hitam manis itu sambil tersenyum teduh.
Benar, karena terlalu sibuk dengan pikirannya, ia sampai melupakan orang-orang di sekitarnya yang selalu mendukung dan bersamanya. Elena tak ingin menjadi orang egois seperti itu, bagaimana pun apa yang ada di depannya kini harus lah ia utamakan.
"Tak ada namanya atasan dan bawahan Siska. Kamu sudah kakak anggap sebagai adik sendiri. Benar katamu meskipun kita baru-baru ini kenal kakak begitu pun, sudah nyaman dekat dengan mu. Hanya beberapa hal yang kakak pinta darimu tetaplah jadi Siska yang ceria, dan bersungguh-sungguh lah saat kamu mulai bekerja nanti agar kakak bisa melihat potensi dan kinerja mu, dan yang penting, selalu lah jaga kepercayaan kakak untuk mu. Kau masih sangat muda dan jalan mu masih sangat panjang, kakak percaya kelak kau akan menjadi orang besar."
"Aamiin."
Siska dengan keras mengaminkan semua apa yang di ucapkan Elena.
"Terimakasih atas kepercayaan nya untuk kak. Aku pasti akan melakukan yang terbaik," ujar gadis itu dengan setiap kalimat yang ia tekankan dan senyum penuh percaya dirinya.
"Akh, aku jadi emosional kak. Jarang ada yang berkata baik dengan ku seperti kakak. Aku cuma anak perantauan dan belum dapat kerjaan di kota ini. Terimakasih sudah menerima ku kak, hiks ... " Siska mengusap ekor matanya yang tiba-tiba mengeluarkan bulir air mata, ia terharu sekaligus bersyukur bisa di pertemukan Elena sebagai penolong hidupnya dan tak menyangka masih ada orang sebaik dia di dunia yang menurutnya keras ini.
"Tak, jangan menangis." Elena malah terkekeh geli tak menyangka juga Siska yang ekstrovert dan selalu hyper aktif memiliki sisi sensitif juga seperti ini.
"Ayo kita masuk ke dalam, yang lain sudah menunggu," anak Elena kemudian, terlihat di dalam ruko yang akan menjadi tokoh kuenya kini sudah berkumpul orang- orang yang sedang bercengkrama ria.
"Iya kak." jawab Siska mengangguk lalu keduanya melangkah bersama.
__ADS_1
Elena berharap dengan orang-orang yang senantiasa bersama di sampingnya dan selalu mendukung nya saat ini, ia bisa memulai lembaran baru dengan penuh suka cita dan kebahagiaan yang menyertai.