Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 141


__ADS_3

Tepat tengah malam. Angin berdesir lembut membelai kulit. Erick berjalan gontai dengan bahu lesu, ia berjalan dari tempatnya memarkir mobil, kini mendekati toko roti dan kue milik Elena yang sudah tutup, terlihat papan kecil menggantung di depan pintu kaca bertulis kan 'closed' dan suasananya terlihat gelap.


Kekhawatiran membuncah akibat ancaman yang baru saja di layangkan Sarah, membuat Erick sangat frustasi, setelah ayahnya kini wanita jahannam itu juga sedang mengincar sang istri, bagaimana ia tidak kalut? bagaimana ia tidak cemas? sementara saat ini juga ayahnya masih berjuang antara hidup dan matti di rumah sakit, belum lagi masalah perusahaan yang belum menemukan titik terang sementara para petinggi dan para pemilik saham terus mendesak agar dirinya mundur. Erick tak mungkin mundur, the Davidson's company adalah mimpi keluarga besarnya, ayahnya telah mempercayakan dan menaruh tanggung jawab itu di pundaknya, bagaimana bisa ia mengecewakan nya?


Erick membuang nafas kasar, udara di luar semakin dingin, namun ia seolah tak ingin beranjak. Kepalanya semakin terasa berat, banyak pikiran-pikiran yang terus menumpuk tanpa bisa ia kendalikan. Tapi Erick tak bisa terus seperti ini, setidaknya ia harus tetap bisa melindungi Elena juga ayahnya yang kini masih dalam kondisi kritis, agar ia bisa tetap fokus pada masalah di perusahaan.


Sekali lagi, Erick menghela nafas hingga terasa karbondioksida yang ia keluarkan sampai membentuk embun di udara saking dinginnya terasa. Sampai kini Erick sudah cukup tenang karena Elena- nya baik-baik saja, ia sengaja datang kesini untuk memeriksakan hal itu. Tak ada yang tahu kapan Sarah bertindak, ia tetap harus antisipasi, dalam masalahnya ini Elena sama sekali tak bersalah, ia harus tetap aman dan dalam pengawasan.


Ia akan pikirkan caranya lagi untuk melindungi Elena dan menghadapi ancaman Sarah. Erick pun hendak kembali untuk pulang, ini sudah hampir pagi, ia tak ingin menganggu dan suasana pun sudah semakin sepi, tapi saat ia berbalik seseorang memanggil namanya.


"Erickson ... "


Erick sontak menoleh. Ini sama sekali bukan mimpi, ia melihat Elena ada di sana.


Lain halnya Elena yang merasa aneh karena tengah malam begini ada Erick di depan toko nya. Suasana jalanan di depan mereka sudah sangat sepi, tak ada lagi manusia berlalu lalang hanya beberapa kendaraan saja yang lewat.


Yang semakin membuat Elena dirundung penasaran, dari arahnya memandang Erick tampak begitu sedih, bahunya yang lesu, kedua matanya yang kuyu nampak banyak menimbun kesedihan yang tertahan serta beban yang begitu berat. Apa masalah yang terjadi kini semakin runyam? tak biasa nya Erick terlihat seperti ini, bagi Elena, Erick adalah pria genius yang selalu dapat di andalkan, pemimpin yang cerdas serta bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Tapi lihatnya kini? rasanya Elena tengah melihat Erick seperti anak kucing yang sedang tersesat dan sangat butuh seseorang di sampingnya.


Perlahan, Elena melangkah semakin mendekat, di bawah lampu jalanan yang sedikit remang mereka berdua berdiri berhadapan, cahayanya tepat menyinari di atas keduanya.


Dari jarak sedekat ini, Erick bisa melihat dengan jelas Elena yang nampak baik-baik saja. Syukurlah, itu melegakan sedikit hatinya. Tapi ia tetap harus waspada, Erick berjanji dalam hatinya akan menjaga Elena, bagaimanapun istrinya tak boleh tersentuh oleh orang- orang yang berniat jahhat padanya.


"Kenapa kamu ada di sini?" Elena bertanya setelah sekian lama mereka hanya saling diam memandang.


Erick menggeleng. "Tidak ada."


"Bohong. Matamu mengatakan sebaliknya," ujar Elena.


Erick mendengus geli, ternyata ia tak bisa menyembunyikan nya pada Elena. Tapi ia tak ingin membuat Elena khawatir, cukup dirinya saja yang menanggung semua ini.

__ADS_1


"Sungguh, tidak ada." Erick mendekat, tangannya terjulur menyelipkan rambut Elena ke belakang telinga.


"Aku hanya ingin melihat keadaan mu, syukurlah kamu baik-baik saja."


Jemari Erick mengusap permukaan kulit sang wanita, menatapnya lekat. Elena merasakan kehangatan dalam setiap sentuhan pria itu.


"Katakanlah padaku, jika semuanya berat. Aku tak tahu apa saja yang baru kamu lalui, tapi pasti semuanya terasa berat kan? jika kamu ingin berbagi sedikit saja beban mu, aku akan di sini untuk mendengarkan," ucap Elena.


Mendengar nya perlahan membuat raut wajah Erick berubah, pria itu seketika memalingkan wajah, tak ingin Elena melihat dirinya yang begitu lemah.


Namun hal itu segera di ketahui Elena, gadis itu mendekat, tangan Elena berhasil memalingkan wajah Erick kembali, menatapnya, lalu terlihatlah mata Erick yang sudah memerah dan berkaca-kaca.


"Pasti semuanya terasa berat kan? bagilah beban itu padaku."


"Tidak.Aku bisa melaluinya sendiri." elak Erick.


"Aku percaya kamu pasti bisa melaluinya. Tapi kamu membutuhkan orang yang mensupport mu, dan aku ingin melakukannya untuk mu,"


"Bagi perasaan mu itu pada ku."


Erick menggeleng, mati-matian ia menahan kristal bening yang berusaha lolos dari matanya. Kakinya seolah menahan untuk ia mendekat, namun saat melihat ekspresi Elena yang begitu tulus, Erick tak bisa menahan gengsi dalam dirinya lagi. Lalu perlahan ia mengikis jarak di antara mereka hingga jarak itu musnah, Erick merasuk ke dalam dekapan Elena yang begitu hangat terasa hingga ke hatinya.


Tubuh Elena yang mungil tak sampai untuk menggapai leher Erick, hingga pria itupun mengeratkan lebih dekat pinggang Elena dengan tangannya, sementara wajahnya kini ia tenggelam kan di ceruk leher gadis itu.


Elena mengusap kepala Erick dengan lembut. Baru kali ini ia melihat sisi lemah seseorang yang biasanya begitu kuat ia lihat. Erick yang seperti ini begitu rapuh seolah membutuhkan penuh dukungan dari orang tersayang nya.


"Semuanya jadi berat akhir-akhir ini, sayang. Aku tak bisa menghadapi nya sendiri, aku membutuhkanmu berada di samping ku."


...--------Oo--------...

__ADS_1


"Aku tak tahu bagaimana reaksi Mona setelah mendapat kabar jika kau adalah ayah kandung nya, tapi aku bisa memastikan dia pasti akan sangat kecewa."


Sarah berucap, Winston di sampingnya menggelengkan kepalanya.


"Kita coba saja beritahukan dulu, bagaimana pun reaksi nya nanti aku akan menerima nya. Lebih cepat lebih baik, setelah kau mengurus perceraian mu dengan Rey, aku akan membawa kalian berdua untuk memulai hidup baru bersama sebagai satu keluarga utuh."


Sejak dulu Winston begitu tulus kepada Sarah, laki-laki berusia 55 tahun itu rela membujang sampai saat ini karena setia menunggu perempuan itu. Winston dan Sarah dulunya adalah sahabat sejak masa sekolah menengah, hingga mereka dewasa, Winston dan Sarah sempat merasakan cinta masa remaja sampai akhirnya mereka kebablasan melakukan hubungan di luar pernikahan meski begitu Sarah tak menyesalinya begitupun Winston.


Hingga sampailah mereka pada usia matang, Winston berniat untuk melamar Sarah, sayang Sarah justru lebih dulu kepincut dengan pria kaya raya pengusaha muda yang juga adalah teman Winston yaitu Rey.


Rey kala itu sudah memiliki istri, Winston sangat tahu bagaimana jejak Casanova Rey saat itu, ia selalu memperingati Sarah untuk tak tergoda namun Sarah yang sudah terbuai dengan perhatian dan kekayaan Rey hanya menganggap angin lalu peringatan Winston. Rela mengorbankan dirinya sendiri sebagai yang kedua.


Patah hati, Winston akhirnya meninggalkan Sarah ia berjuang untuk hidupnya hingga menjadi kaya raya dan membuktikan pada Sarah jika dia pun bisa seperti Rey. Tanpa Winston ketahui, saat ia pergi setelah pernikahan Rey dan Sarah yang diam- diam di laksanakan, di saat itu juga Sarah tengah mengandung anaknya.


Hebat nya Sarah bisa mengelabui Rey hingga percaya jika anak yang di kandung nya empat bulan sebelum pernikahan mereka itu adalah anak Rey, tapi sebenarnya itu adalah benih yang tanpa sengaja di titipkan Winston.


"Tidak Winston. Aku tidak bisa ikut dengan mu sebelum membalaskan dendam ku pada keluarga davidson. Tapi kau bisa membawa Mona dan melindunginya sebelum aku mengeksekusi rencana yang lebih besar."


"Mungkin sekarang, Rey sudah mengetahui jika Mona bukan putri kandungnya, aku tak ingin Mona menjadi target mereka. Tolong lindungi putri ku."


"Baiklah, apapun rencana mu aku akan mendukung. Tapi di mana Mona sekarang?"


"Bukankah dia ada di kamar?" Sarah membeliak.


"Tak ada, aku sudah memeriksa nya. Ku pikir dia pergi dan kau mengetahui nya jadi aku tak bertanya."


"Apa?! jangan-jangan Mona!"


Mereka berdua mencari keberadaan Mona ke seluruh penjuru rumah, tapi tak ketemu. Sarah menjadi panik.

__ADS_1


"Cepat cari putri ku Winston. Aku mempunyai firasat buruk, jangan sampai dia melakukan hal bodoh!"


__ADS_2