
"Erickson mengalami krisis kejiwaan, Elena," kata Clarissa memulai pembicaraan.
Niat awal wanita itu hendak mengunjungi panti asuhan di mana Elena di besarkan untuk mencari tahu detail tentang gadis tersebut, ternyata membuahkan hasil yang lebih karena Elena berada di sana, saat Clarissa ingin sekali bertemu dengannya. Tak butuh waktu lama, Clarissa meminta sedikit waktu Elena untuk bercakap dengannya dan di sinilah mereka, duduk di bangku taman yang berhadapan dengan anak-anak kecil yang saat ini sedang asyik di taman bermain.
Beberapa anak berlalu lalang berlarian dengan tertawa riang, Elena menatap lurus pada mereka, lenggang sejenak kemudian Clarissa melanjutkan kalimatnya lagi.
"Kau tahu Elena, kenapa Erickson langsung merasa terpuruk begitu melihat foto-foto mu bersama pria lain tanpa mau untuk mencari tahu lebih dahulu?"
Kali ini menoleh, matanya menunjukkan ketertarikan untuk mendengarkan jawaban yang akan Clarissa berikan.
"Itu karena dia mengalami sebuah trauma," ucap Clarissa membuat Elena tertegun, menegakkan bahu.
Wanita bersurai hitam kemerahan itu mengesah panjang mendongak sekilas menatap langit yang cerah hari ini.
"Sebelumnya Erickson sama sekali tak pernah mempercayai yang namanya cinta ataupun hubungan yang mengikat seperti pernikahan ... bisa ku katakan kau beruntung karena bisa menjadi satu-satunya wanita yang berhasil meruntuhkan dinding kokoh yang di bangun Erick di hatinya, kau menjadi satu-satunya wanita yang bisa merasakan kehangatan pria dingin itu."
Elena tersenyum miris mendengar penuturan Clarissa. Ekspresinya tampak tumpul seolah ingin membantah pernyataan wanita itu.
"Tidak, sampai dia mencampakkan ku," ujar Elena.
Clarissa menoleh, menatapnya.
Elena membuang nafas perlahan sebelum akhirnya berbicara lagi.
"Orang bilang dalam sebuah hubungan yang terpenting adalah kepercayaan, itu adalah salah satu pilar terbesar dalam dua insan yang menjalani kehidupan bersama atas nama cinta. Tapi mas ... ah, aku bahkan sudah tak bisa untuk menamainya dengan panggilan itu ... " Elena tercenung untuk beberapa saat, menahan sesak yang coba mengihimpit dada.
"Tapi pak Erick, bahkan dia tak berusaha untuk mempercayai ucapan ku, meski aku memohon dia tetap pada keegoisan nya, mempercayai hanya dengan apa yang dia lihat bukan dengan yang dia rasakan ... bukankah itu sangat arogan?" kini giliran Elena menatap balik pada Clarissa seolah membalas telak perkataan wanita itu.
Clarissa tertegun, ia mengerjap beberapa saat lalu lengkungan nampak terlukis di kedua sudut bibirnya.
"Itulah yang coba ku jelaskan Elena. Sudah ku katakan Erick mengalami trauma sebuah hubungan.
Saat kecil, yang ia tahu ibunya meninggal karena berjuang untuk melahirkannya, namun orang- orang keji seperti media mencoba untuk memberikannya fakta lain. Tuan Rey, ayah Erick berselingkuh dari nyonya Catherine saat wanita itu sedang mengandung anak pertama mereka yaitu Erickson. Pemuda kecil berusia 6 tahun saat itu harus di paksa untuk menerima fakta itu mentah-mentah, semua orang mencemoohnya mengatakan ia anak haram padahal ayahnya lah yang berselingkuh yang menyebabkan ibunya meninggal."
Kini giliran Elena tertegun mengetahui fakta itu.
"Bisa kau bayangkan bagaimana mental si anak ketika semua orang menyalahkan atas hal yang sama sekali tak ia ketahui? sejak saat itu Erickson benci yang namanya pengkhianatan apalagi dalam hubungan percintaan yang bernamakan perselingkuhan."
Clarissa mengatur nafas sejenak, kini sesak mulai menggerogoti dadanya.
"Itu sebabnya Erick tak berfikir panjang lagi saat tahu kau bersama foto-foto mesra itu, Erick tak bisa berfikir jernih dan langsung menuduhmu mentah-mentah. Tapi apa kau tahu, sebenarnya dalam sudut hatinya ia masih berusaha untuk mempercayai mu."
__ADS_1
Clarissa menoleh lagi pada gadis di sampingnya, Elena melebarkan mata mendengarnya.
"Ya Elena, diam-diam sebenarnya Erick memerintahkan ajudannya untuk mencari keberadaan Vicky, ia ingin membuktikan semua kebenarannya, Erick masih ingin mempercayai mu. Ia masih terus mencintai mu sampai sekarang, hanya saja terkadang Erick kalah oleh traumanya itu."
Gurat wajah Elena berubah sayu, matanya tiba-tiba saja berembun.
"Aku mengatakan ini bukan karena ingin membujukmu untuk kembali, aku tahu perlakuan Erick padamu selama ini sudah sangat buruk. Tapi Elena, bisakah kau menemuinya untuk yang terakhir kali?" pinta Clarissa.
Elena terkejut, spontan menatapnya. "Terakhir kali?"
"Ya, sebelum Erickson pergi untuk pengobatannya ke London."
"L-london?"
Clarissa mengangguk.
Elena nampak menundukkan wajah tak mengira akan semua ini.
"Dia telah banyak memberikan ku luka, Clarissa," lirih Elena masih menggunakan akal sehatnya. Untuk apa kembali pada seseorang yang jelas-jelas sudah menyakiti mu.
"Aku bahkan tak yakin dia pernah mencintai ku," ucap Elena. "Setiap perkataan yang terlontar, perlakuannya yang berbeda sungguh menyakiti ku Clarissa ... aku tak bisa." Elena menggeleng, terisak kecil.
"Apa kau tak ingin melihatnya untuk yang terakhir Elena ... aku berjanji setelah ini kau tak akan pernah bertemu dengannya lagi."
...***...
Hubungan mu dengan Erick sudah tak sehat Elena, itu sudah termasuk dalam toxic relationship, satu-satunya cara terbebas dari hubungan seperti itu adalah perpisahan. Jangan buat dirimu tersiksa dengan terus bertahan dengan hubungan seperti itu.
Mengingat perkataan Marvin padanya beberapa tempo lalu, kini kembali terngiang di dalam otaknya.
Meski ia menolak untuk bertemu dengan Erick setelah apa yang pria itu lakukan, namun hatinya selalu mengatakan hal yang lain.
"A- aku akan merindukan mu ... " Elena terisak di samping king size milik Erick yang mana pria itu terlihat tak berdaya.
"Erickson benar-benar dalam titik terlemahnya Elena, dia seperti seorang pecandu narko-ba yang tak pernah bisa berhenti, setiap waktu ia hanya memanggil namamu dan mengatakan di mana botol anggur ku? ... Aku sungguh tak tega melihatnya."
"Saat dia tahu kau terluka di dalam gudang itu, dia terus menyalahkan dirinya."
Kini kembali terngiang dengan perkataan Clarissa saat menjabarkan kondisi Erick, dan yang seperti yang di katakan nya, Elena saat ini bisa melihatnya langsung keadaan pria itu.
"Dokter bilang, satu-satunya cara adalah dengan menghilangkan memori yang membuatnya sedih dan terpuruk, membawanya ke London adalah jalan keluarnya saat ini."
__ADS_1
Elena menatap lekat- lekat wajah Erick.
"Seperti yang kamu katakan, mungkin memang seperti inilah akhirnya, kamu berjalan di jalan mu dan aku berjalan di jalan ku." Elena tak bisa menahannya, ia terisak dengan duduk bersimpuh.
"Semoga dengan melupakan ku bisa mendatangkan kebahagiaan lagi untuk mu, jika pun memang kita tak berjodoh, aku bahagia karena bisa menjadi salah satu wanita yang di cintai oleh mu. Setelah ini temukan cinta baru dan tata kehidupan mu kembali .... " satu persatu air matanya luruh merubah serupa aliran sungai.
"Aku mencintaimu."
Cup! Elena melabuhkan kecupan singkat di kening pria itu, Mengusap wajahnya perlahan, merekam baik- baik setiap inci wajah yang mungkin akan ia lupakan.
Terkejut, Elena segera berbalik saat melihat Erick yang menggeliat, pria itu membuka mata, beruntung Elena segera memunggunginya.
"Elena ... kau kah itu?" Erick seperti tahu meski hanya melihat dari belakang.
Tak ingin ketahuan Elena segera pergi, namun dengan sigap Erick menahan tangannya.
"Katakan padaku, apakah ini kamu? aku benar-benar minta maaf Elena, aku menyesal dengan perlakuan ku selama ini. Aku tak mengira menghukum mu dengan mengurung mu di gudang ternyata menyakiti mu dan membuat mu terluka, aku menyesal ... " lirih Erick nada suaranya melemah.
"Terlambat ... " gumam Elena pelan, menarik tangannya dengan paksa lalu segera pergi dari sana.
"T- tunggu Elena, kamu mau pergi kemana?!" Erick segera mengejar, tertatih ia merangkak dari kasur, kepalanya terasa berat karena tak terhitung banyaknya alkohol yang ia tenggak, meski begitu ia mencoba mengabaikan rasa sakitnya.
"Elena ... tunggu jangan pergi!"
Clarissa yang menunggu di luar terkejut. "Erickson kau mau kemana?!"
Mengabaikannya, fokus Erick tetap tertuju pada gadis yang kini sudah semakin jauh jarak darinya yang ia yakini adalah Elena nya meski wajah wanita itu tak terlihat.
Di pelataran, Elena segera masuk ke dalam taksi yang membawanya.
Erick tetap mengejar meski wajah pria itu sudah pucat pasih dengan bibirnya yang memutih, nafasnya terasa sesak, walaupun begitu ia tetap mengayunkan kakinya hingga berhasil menggapai pintu mobil yang membawa Elena.
"Jalan pak!" titah Elena pada supir, mobil lalu perlahan bergerak.
"Tunggu Elena, jangan pergi aku tahu itu kau!"
Di kaca jendela mobil bisa Elena lihat Erick yang gigih terus mendobrak kaca seraya berteriak dengan memohon, pria itu ikut berlari saat mobil semakin melajukan rodanya.
Elena tergugu, punggungnya bergetar karena tangis.
"Selamat tinggal ... " lirihnya.
__ADS_1
Mobil semakin menambah kecepatan hingga Erick tak bisa menyamainya lagi.
"Elena, jangan tinggalkan aku!"