
Happy reading 🌹🌹🌹
"Permisi, dok."
Marvin yang tengah sibuk mendengar kan keluhan pasien nya yang entah antrian ke berapa, menoleh saat salah satu seorang perawat wanita memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Marvin pada perawat wanita itu.
"Sebentar ya buk, saya ada panggilan mendadak," ujar Marvin penuh pengertian dan kelembutan pada pasien nya seorang perempuan yang sudah berumur.
"Ya pak dokter, tidak apa-apa," ucap si pasien. Marvin mengangguk sekilas lalu bangkit dari duduknya, tersenyum manis.
"Duh, udah dokter nya ganteng, pengertian lagi," celetuk si ibu yang sudah berumur setengah abad dengan, terpesona sekali lagi dengan keramahan tamahan dan wajah dokter muda itu yang rupawan. Kalau kata anak zaman sekarang, seperti aktor Korea.
"Ada apa?" tanya Marvin sekali lagi, pada suster itu ketika ia mendekat.
"Anu ... emmm, maaf ganggu waktunya dok. Saya mau menyampaikan pesan."
"Pesan apa?" tanya Marvin dengan dahi berkerut.
"Itu, di luar ada seorang wanita, cantik seperti nya ingin bertemu dengan dokter secara pribadi. Beliau menyampaikan pesan ' tolong katakan pada dokter Marvin jika ada wanita yang sedang menunggunya dan dia ingin menagih janji dari tiga permintaan yang di berikan dokter padanya' Begitu kira-kira dok," tutur suster itu menerangkan,ia sedikit tak yakin apakah benar yang di ucapkan nya mirip dengan apa yang wanita itu sampai kan padanya, karna suster tersebut sedikit lupa dengan kata-kata yang di ucapkan wanita yang kini sedang menunggu di luar. Terlebih saat ini suster itu merasa gugup karna kini sedang berdekatan dengan dokter Marvin yang mana ia belum pernah berinteraksi langsung dengan nya.
Suster itu akhirnya mengakui saat berhadapan langsung, jika desas-desus yang selalu beredar jika dokter muda sekaligus putra angkat pemilik rumah sakit ini adalah seorang pria dengan wajah tampan nan rupawan juga sangat mempesona, terbukti kini ia merasa jantungnya kebat- kebit karena grogi.
Sementara Marvin dengan berfikir keras, menerka-nerka apa maksud dari pesan yang di sampaikan suster itu padanya.
"Ingin menagih janji dari tiga permintaan yang di berikan nya? hmmm," Marvin mengingat-ingat hingga terlihat kerutan di dahinya sangat dalam.
"Ah!" kini ia baru ingat.
"Karena kau telah mengobati luka ku maka aku akan memberikan mu tiga permintaan, kau bisa menagihnya kapan saja."
Kini kembali Marvin teringat dengan janjinya untuk seorang wanita, tempo lalu.
"Apa wanita yang anda maksud itu bernama Clarissa?" ucap Marvin memastikan pada suster pembawa pesan itu.
"Ah, i- iya dok benar, saya hampir lupa memberitahukan namanya."
"Jadi benar wanita itu bernama Clarissa?"
"Benar dok," jawab sang suster.
Marvin mendengkus geli, terkekeh untuk beberapa saat, tak menduga Clarissa masih mengingat janji yang di ucapkan nya karena iseng itu.
__ADS_1
Si suster yang melihat gelagat aneh dokter muda tersebut mengernyit heran.
"Kenapa dok?"
Marvin segera sadar. "Oh, tidak. Tak apa." jawabnya geleng kepala.
Suster itu masih merasa heran. Seperti orang sedang jatuh cinta saja, batinnya berucap.
"Bisa kau katakan padanya, sus. Jika ingin menemui saya secara pribadi, katakan padanya tunggu saja di living wisely cafe, yang ada di dekat rumah sakit, nanti saya akan menyusul setelah antrian beres. Kebetulan saya gak punya nomor hp nya jadi gak bisa ngomong, tolong sampaikan ya," jelas Marvin.
"Baik jika begitu dok."
...---------Oo-------...
"Bu Clarissa."
"Ya, saya." Clarissa yang hanyut dalam lamunan segera sadar ketika namanya di panggil.
"Maaf bu, tadi dokter Marvin berpesan jika ingin menemui beliau secara pribadi, ibu bisa menunggu beliau di living wisely cafe, kebetulan cafe nya tak jauh dari rumah sakit, terletak di pinggir jalan. Karena dokter Marvin ingin menyelesaikan antrian panjang ini dahulu."
"Oh begitu kah, baiklah saya mengerti." Clarissa mengangguk, suster itupun pamit seraya tersenyum yang di balas senyum singkat juga oleh nya.
Tak ingin membuang waktu semakin lama, sesuai apa yang di minta Marvin, Clarissa sekarang berada di cafe yang di maksud.
Suasana ramai pengunjung cafe membuatnya sedikit lega, tak takut jika harus menunggu sendirian.
Salah satu pria itu yang bergaya lebih elit dari kedua temannya, langsung mendudukkan salah satu kursi yang harusnya di tempati Marvin nanti.
"Hei, cantik. Sendiri aja nih!" pria itu dengan lancangnya mengedipkan mata menggoda.
Clarissa bergidik. "Aku tak punya urusan dengan lain."
"Wih, jual mahal juga nih cewek." pria yang tengah duduk di hadapannya itu melengos lalu tertawa bersama dua temannya yang berdiri.
"Jangan jual mahal gitu, nanti gak laku loh. Mending have fun yuk sama-sama kita, main ke hotel misalnya." laki-laki dengan wajah tengil itu kembali menggoda sambil menaik turunkan alisnya.
"Jangan kurang ajar begitu ya! saya bisa laporkan kalian sekarang!"
"Hahaha, silahkan aja gak akan ada yang dengerin lu!"
"Kalian!" Clarissa hilang kesabaran hendak melayangkan tangan.
"Apa lu mau ngelawan kami? gak akan bisa, lu aja sendiri bisa kami habisin sekarang!"
__ADS_1
Clarissa melotot dengan wajah ketakutan.
"Ayolah, mending layanin kami yuk, kita ke hotel sekarang, nanti bisa dapet tip kok!" pria itu dengan kurang ajarnya hendak menggapai tangan Clarissa lalu menariknya.
Tak! seseorang dari belakang menghentikannya.
"Berani sekali kau menyentuh isteri ku!"
Clarissa dan tiga pria itu sontak menoleh.
Bruk! Marvin mendorong kuat tangan pria yang di jeggalnya hingga pria itu tersungkur bersama kursi yang di duduki nya.
"Bos kabur bos, ternyata dia udah punya suami." salah satu teman si pria memperingati.
"Ck! siaal!" lantas pria itu dengan dua temannya langsung ngibrit meninggalkan mereka.
Marvin menggeram kesal, lantas menoleh ke arah Clarissa yang merunduk. Di saat itulah tatapannya berubah lembut seketika.
"Maaf ya, kau pasti sangat terkejut. Aku salah meminta mu untuk menunggu sendirian di sini."
"Tidak apa-apa." Clarissa menjawab pelan.
"Hei kenapa?" Marvin membetulkan kursi yang sempat terjatuh lalu duduk seraya mendekati Clarissa.
"Sepertinya kau tidak baik-baik saja," terka Marvin yang sudah bisa melihat dari air muka wanita itu.
"Marvin ... aku tak bisa seperti ini terus," ujar Clarissa bergetar, menahan isakannya.
"Yang kau katakan di kursi taman waktu itu memang benar, seharusnya aku melupakan perasaan ku terhadap Erick. Aku tak bisa terus menerus hidup dengan perasaan menyiksa yang tak terbalas seperti ini, hiks ... hiks."
Marvin menghela nafas, seolah ikut merasakan apa yang wanita itu rasakan.
"Aku juga ingin meminta maaf kepada Elena. Aku ingin memperbaiki semua buruk ku selama ini pada mereka berdua, Erick dan Elena. Aku ingin hidup normal dan bahagia seperti dulu Marvin, tanpa harus merasa tersiksa karena cintaku yang tak terbalas,"
"Tapi aku bingung bagaimana caranya aku menghilangkan perasaan cinta ku untuk Erick ini?" Clarissa merasa gundah gulana, ia menangkup wajah nya dengan kedua tangan.
"Kalau begitu, ayo berkencan dengan ku."
"Apa?!" Clarissa terhenyak dengan ucapan Marvin.
"Orang bilang jika ingin melupakan perasaan cinta mu, maka kau harus memulai nya dengan orang lain. Maka itu, aku akan membantu mu, kita sama-sama ingin menghilangkan rasa cinta kita, maka kita bangun kisah cinta kita sendiri, bagaimana?"
Clarissa menatap pria itu, heran. Bagaimana bisa Marvin mempunyai pikiran tak masuk akal menurutnya itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja pria itu mendekat, Clarissa sontak terkejut mendorong wajahnya ke belakang.
"Bagaimana Clar, apa kau mau berkencan dengan ku?"