Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 39


__ADS_3

Seolah firasat yang di rasakan Erick perlahan menjadi kenyataan. Baru tiga hari mereka tinggal di mansion, semuanya masih nampak baik-baik saja, tuan Rey, nyonya Sarah tak terkecuali Mona memperlakukan Elena begitu baik.


Namun kenyataannya hari ini tak lah seperti biasanya. Erick yang sudah berangkat ke kantor juga tuan Rey yang masih memiliki tanggung jawab di perusahaan sudah pergi pagi-pagi sekali.


Elena berlalu ke pantry untuk membuat jus, kebetulan ia ingin sekali meminum jus alpukat yang menjadi kegemarannya. Mendadak Mona datang menghadang jalannya, wanita yang selalu memakai potongan baju seksi itu merentangkan tangan membuat gerakan Elena berhenti.


"Ada apa Mon?" tanya Elena dengan bola mata bergulir menatap nya.


Sontak raut wajah Mona terlihat mengkerut dengan tatapan mata sinis, seperti tak suka dengan panggilan Elena untuk nya tapi meski begitu wanita muda tersebut masih tetap menampilkan senyum manis meski dalam hatinya dongkol setengah mati.


Tidak mengapa Mona, perlahan-lahan kita akan hancurkan wanita kampungan ini. untuk saat ini harus tetap berpura-pura baik dahulu.


Batin Mona berbicara. Ia menarik nafas dalam, setidaknya pelatihan akting yang pernah ia jalani di london dulu harus di praktekan kini.


"Ekhem, begini kakak ipar, mmm ... bisakah kakak ipar membantu ku?"


"Membantu apa?" raut wajah Elena berubah sumringah. Tentu ia merasa sangat senang, karena sang adik ipar kini mau terbuka dengan nya.


"Tentu saja Mona, kamu meminta bantuan apa?"


"Malam ini di kampus ku adalah acara prom night. Dan aku ingin kakak ipar membantu ku untuk bersiap, boleh ya?" gurat raut Mona sarat akan permohonan. Sepertinya ia layak mendapatkan piala untuk akting meyakinkan nya ini.


"Waw, prom night ya. Aku akan sangat senang hati membantu," ungkap Elena terlihat bersemangat.


Huek menjijikkan!


Dalam hati Mona seakan ingin muntah melihat tingkah girang Elena yang menurutnya menjengkelkan.


"Good. kalau begitu ayo kita ke kamar ku." Mona segera menarik lengan Elena, lalu memasuki lift khusus yang memang tersedia di mansion ini, untuk membawa mereka ke lantai paling atas di mana kamar gadis itu berada.


...***...


Elena memandang takjub kamar Mona yang terlihat sangat luas dan besar juga di penuhi barang- barang mewah.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang?"

__ADS_1


"Tenang saja kak. Langkah pertama, kakak ipar coba pilihkan gaun pesta yang cocok untuk ku. Ayo kita ruang ganti ... "


Elena mengekori kemana Mona melangkah kan kaki nya sampai di mana tempat yang di maksudkan Mona, ia berdecak kagum melihat ruangan luas serba putih itu terdapat berderet rak-rak yang berisi penuh semua pakaian mewah juga berjejer berbagai sepatu tersusun rapi dan berbagai macam tas branded yang di pajang sedemikian rupa. Sungguh surganya wanita, tempat ruang ganti ini lebih seperti sebuah mall di dalam rumah.


Mona kemudian mengambil satu dua gaun nya yang paling mahal.


"Ini atau yang ini kak?" tanya gadis bersurai blonde itu menunjukkannya pada Elena.


"Yang ini bagus." Elena menunjuk gaun di tangan kanan Mona.


"Wow, yang ini? pilihan kakak sangat bagus, Padahal kakak orang miskin ya tapi tahu model pakaian yang lagi hype sekarang. Kebetulan gaun ini adalah rancangan khusus model terkenal."


Sementara Mona sibuk berkaca dengan gaun yang di pilihkannya, Elena sendiri nampak menundukkan wajah, tertegun dengan kalimat 'orang miskin' yang di ucapkan adik iparnya tersebut, jujur itu membuatnya tersentil dan merasa rendah diri.


"Eh kakak kenapa murung? oh astaga, apa jangan-jangan karena aku bilang kakak miskin ya?"


Elena menggeleng cepat. "Tidak. tidak seperti itu, jangan salah sangka."


"Duuh, aku merasa bersalah, tapi kan yang ku katakan tidak salah juga. Kakak ipar adalah anak yatim piatu. Yang ku tahu, kalau bukan karena kak Erick, kamu tidak akan mungkin bisa sampai menjadi sekarang ya kan? Apalagi setelah ku tahu ternyata kak Erick lah yang membiayai pendidikanmu. juga kakak ipar dengan mudah mendapatkan jabatan sekretaris semua itu kan berkat kakakku."


"Oh my God. maaf kak aku tidak bisa mengontrol mulut ku,apa kakak tersinggung?" gurat wajah Mona di buat sendu sedemikian rupa, namun pada kenyataannya dalam hati ia merasa sangat senang bisa membuat wanita di hadapannya kini merasa sedih.


Lihat, akan ku buat mental mu hancur perlahan-lahan, setelah itu kau sendiri yang akan meminta untuk pergi dari sini.


Mona tersenyum puas.


"Kamu tidak perlu meminta maaf. Apa yang kamu katakan memang benar. Kakak mu memang adalah pahlawan dalam hidup ku selama ini," ucap Elena lebih terdengar lirih.


Mona tersenyum culas melihat perempuan di depannya ini seperti berpura-pura tegar.


Kita lihat sampai kapan kau bisa bertahan.


"Oh ya kakak ipar, tolong pilihkan juga sepatu dan tas apa yang cocok untuk ku ya. Aku ingin malam ini terlihat Perfect, karena pacar ku Jhonson, juga akan datang."


"Baiklah, aku akan bantu pilihkan." Elena berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya sempat terluka dengan perkataan adik iparnya itu.

__ADS_1


"Oh ya, tolong pilihkan yang bagus, Hanya karena kakak ipar terlahir di lingkungan kumuh bukan berarti selera kakak rendah bukan? jadi aku tahu kau pasti pandai memilih," ujar Mona entah apa maksudnya namun yang jelas gadis itu lagi-lagi berusaha untuk memperingatkan dari mana Elena berasal.


"Buktinya kakak ku saja pandai kau gaet, yakan?" ucap Mona melanjutkan sambil menoleh pada Elena, seolah tak merasa bersalah sama sekali.


Elena hanya tersenyum, tak menanggapi lebih lanjut.


...***...


Malam pun tiba. Elena sedang berada di kamar mematut diri di depan cermin hias setelah membersihkan diri, kegiatannya yang semula tenang mendadak buyar segera setelah ia mendengar teriakkan yang begitu melengking memanggil namanya.


"Kak Elena! kak Elena!"


Wanita yang mengenakan piyama tidur berwarna maroon itu segera keluar dari kamar mendatangkan sumber suara. Sosok Mona kemudian menghampiri setelah sukses membuat geger dengan jeritannya yang cempreng. Bahkan karena hal itu beberapa maid juga bi Surti datang menghampiri.


"Non Mona ada apa? kenapa teriak- teriak gitu?!" bi Surti jelas panik karena suara Mona yang membahana itu terdengar keras sampai ke bagian belakang.


"Tidak apa-apa Sur, lebih baik kau kembali ke belakang sana," ketus Mona pada asisten rumah tangga di sini. Elena menghela nafas mengusap dada, baru mengetahui sikap Mona yang seperti itu.


Sebelumnya memang Elena belum pernah melihat interaksi antara pembantu mansion ini dengan nyonya Sarah ataupun Mona sendiri. Tapi kini ia melihat langsung, Elena di buat geleng-geleng kepala.


"Mona alangkah baiknya kamu sopan sedikit, bagaimana pun bi Surti lebih tua dari mu," tegur Elena hati-hati agar Mona tak tersinggung.


"Sopan? what?" Mona malah cekikikan. "Kak, dia cuma seorang pembantu di sini, kenapa sampai harus bersikap sopan."


Lagi-lagi Elena di buat tercengang dengan sikap kurang ajar Mona, hendak membalas perkataan gadis muda itu namun bi Surti segera menengahi agar tak menimbulkan huru- hara lebih besar.


"Tidak apa-apa nyonya muda. Kalau begitu saya kembali ke belakang dulu."


Elena mendesah pelan menatap nanar punggung perempuan yang sudah mulai renta itu, agak sedikit perasaan bersalah ketika melihat wajah keriputnya yang sendu.


"Kakak ipar tolong bantu aku lagi ya," ujar Mona memegang kedua tangan Elena.


"Tolong apalagi?" tanya Elena.


"Aku ingin kakak yang mendandani aku untuk ke prom night malam ini."

__ADS_1


Mona menyeringai, dia sedang mengeksekusi rencana pertamanya.


__ADS_2