
Elena terbangun dengan keadaan carut marut, ikatan di tangannya sudah terlepas, gaun yang di kenakannya robek di bagian bawah, jangan tanyakan kondisi rambutnya, karena kini surai coklat panjang nya itu terlihat sangat berantakan.
Air mata Elena kembali meleleh, entah kenapa akhir-akhir ini ia menjadi begitu lemah, ini tidak seperti dirinya tapi keadaan yang seakan memaksa, membuat nya terus terluka dan merasakan sakit kembali.
Sebenarnya apa salahnya? di mana letaknya? apa ia tak cukup baik untuk semua orang, apa pengorbanan yang selama ini ia lakukan sia-sia saja. Ia sudah begitu banyak mengalami kehilangan dan kini hal itu pun terulang lagi, ia kehilangan Erick nya, seakan Tuhan tak puas untuk memberinya cobaan.
Elena tergugu dengan kedua telapak tangan menangkup wajah, ia menekuk lutut menaruh dagu di atasnya, kini cukup menangis untuk sampai saat ini saja, dia tidak boleh menangis lagi, sudah cukup penindasan yang selama ini ia terima.
"Aku harus melawan ... " gumamnya dengan berapi-api, matanya berkilat lain, ada sesuatu yang tercipta di dasar dirinya kini telah bangkit.
Gadis itu kemudian menengadah, menyapu ke sekeliling sadar ia masih ada di kamar Erick ... ah, lebih tepatnya dulu ruangan ini adalah kamar mereka berdua.
Tapi ya, itu dulu. Mau tak mau Elena kini harus mulai menerima jika semuanya tak lagi sama, suasana, keadaan sudah berubah. Yang harus ia lakukan sekarang adalah bertahan. Ya, bertahan sampai mana ia bisa berdiri menghadapi semua ini.
Elena kemudian bangkit, ia merasakan pergelangan tangan nya yang memerah dan perih saat terkena air matanya, luka di sana begitu memar terlihat dan bengkak, saat ia mengamatinya, ia meringis pedih, tapi lebih dari itu hatinya yang lebih merasakan kepedihan atas apa yang terjadi.
"Tidak apa Elena, ini terakhir kali kau merasakan sakit, sekarang tidak lagi." monolognya dengan gigi bergemelutuk.
Elena celingukan, melihat keadaan setelah merasa aman ia berjalan mengendap-endap untuk keluar dari kamar ini sebelum Erick datang dan menyadari jika ia sudah bangun.
Saat ia hendak membuka celah pintu, Elena terhenyak ketika sebuah tangan besar tiba-tiba mendarat kasar, menghadangnya.
Ia sontak berbalik, matanya langsung tertuju pada Erick yang kini mengungkung tubuhnya, pria itu bertelanjang dada dan hanya memakai handuk sebatas pinggang ke bawah.
Kontan Elena menjerit karenanya, ia menutup mata dengan perasaan campur aduk.
"Kenapa kau terlihat malu seperti itu?" suara bariton menyapu indera pendengaran nya membuat Elena merinding seketika.
"Bukankah pemandangan seperti ini sudah sering kau lihat bahkan kau rasakan?" lagi, perkataan Erick seakan menyudutkan membuat Elena menatapnya nyalang.
Bugh! dengan dorongan kuat Elena berhasil menjauhkan pria itu darinya.
__ADS_1
"Sudah cukup hinaan yang selama ini kau lontarkan pada ku!" keras, Elena berucap.
"Heh, kau akhirnya memiliki kekuatan untuk melawan?" Erick memandangnya sinis.
"Aku tidak tahu apa yang membuat mu berubah sampai sedrastis ini, ya ... tapi akhirnya aku menyadari jika Erick ku tidak ada lagi di dalam diri mu, semuanya sudah tak sama seperti dulu!"
Brak! Elena membuka pintu dengan sedikit kasar, melangkah menjauh dengan bahu tegak berdiri dan wajah menengadah ke atas menandakan ia tak bisa lagi untuk di tindas.
Sementara Erick hanya menatap kepergiannya dengan membisu. pria itu meraba perut bawahnya di mana bekas luka tembakan masih belum mengering di sana. Lantas terkekeh tanpa arti.
...***...
Hari ini libur pekan. Di mansion, semua terlihat sangat ramai saat ini, banyak tukang juga para maid berlalu lalang, hal itu sontak menimbulkan pertanyaan pada setiap penghuni mansion kini.
"Ada apa ini nak? kenapa banyak sekali orang-orang menghias interior?" tanya tuan Rey sehabis kunjungan nya dari luar kota. Saat ini Rey davidson dengan keikutsertaan nya dalam politik semakin menyibukkan diri, ya sejak beberapa bulan belakangan setelah perusahaan di ambil tanggung jawab sepenuhnya oleh sang putra, pria 68 tahun itu lebih mengembangkan minat dan potensinya di bidang politik. ia banyak berpergian mengunjungi rapat kenegaraan dan kini semakin sibuk dalam urusannya, hingga tak ayal ia terkejut dengan perubahan mansion saat ia tiba.
"Karena akan ada pesta pah," jawab Erick mengamati para tukang yang sibuk mendekorasi aula utama mansion.
Erick berdecak singkat. "Hanya pesta sederhana saja pah, dalam rangka merayakan kesehatan ku yang sudah semakin pulih, bukankah itu perlu di apreasiasi?"
Meski terkadung bingung, namun nampaknya itu adalah hal yang positif untuk di lakukan hingga tuan Rey tersenyum bangga pada sang putra.
"Apapun yang membuat mu senang maka lakukanlah." tuan Rey menepuk pundak Erick. Ia menyadari kesalahannya di masa lalu hingga tak ingin terulang lagi kini. Sebisa mungkin ia tak ingin memaksa Erick dalam hal apapun lagi, ia biarkan putranya terbang bebas seperti seekor merpati yang bebas dalam sangkar. Karena ia tahu di umurnya yang semakin tua, Erickson bukan lagi bocah 15 tahun yang akan selalu menuruti setiap keinginannya, putranya sudah dewasa, dan betapa menyesalnya ia karena baru menyadari itu.
"Terimakasih pah," Erick menatap sang ayah dengan tersenyum simpul.
...****...
Malam hari pesta yang di adakan Erick sudah terlihat begitu meriah. Meski terbilang dadakan banyak para tamu yang selalu datang memeriahkan acara.
Erick sengaja mengundang banyak orang tapi masih bersifat privat karena yang di undang hanya teman yang menurutnya sudah sangat akrab juga beberapa alumni kuliah dan seperjuangannya.
__ADS_1
Mereka masih tak menyadari untuk apa Erick merayakan pesta semegah ini, meski begitu mereka nampak menikmati. Seketika aula utama mansion seperti tempat karoke di bar dengan gemerlapnya kelap-kelip lampu warna-warni, suara disko yang di arahi oleh DJ profesional yang Erick sewa langsung dari rekomendasi temannya.
Mona dan Sarah tentu sangat senang dengan hal ini, perubahan sikap Erick membuat mereka merasakan imbas yang menguntungkan.
"Coba kak Erick setiap hari begini ya mom." celetuk Mona nampak begitu sangat menikmati pesta.
"Hahaha kau benar sayang, bisa setiap saat kita berpesta seperti ini." sahut Sarah yang memegang gelas berisi advokat yang langsung di sediakan oleh Erick di tempat.
Elena hanya berdiri di balkon tengah, mengamati apa yang coba Erick lakukan, ia menatap miris saat melihat pria itu yang nampak lunglai dengan gelas berisi minuman di tangannya, tentu ada Clarissa di sana yang setia menemani.
"Erickson, ini sudah botol ke berapa? sudah cukup jangan minum lagi!" sentak Clarissa menatap cemas Erick yang kini sudah terlihat sangat mabuk.
"Jangan hentikan aku Clar ... biarkan aku menikmati indahnya malam ini," ucap Erick melantur dengan langkah terhuyung hampir terhantuk.
Raut wajah Clarissa meredup, sedih melihat Erick yang seperti ini, sangat berbeda dengan Erickson yang ia kenal, pria di depannya kini benar-benar berubah.
Erick meminta gelasnya di penuhi minuman kembali oleh pelayan yang bertugas, di saat itu ia mendongak menyadari Elena ada di atas balkon sedang menatapnya, ia berdecih lantas dengan langkah patah-patah menghampiri Elena ke atas.
"Kau tidak ikut menikmati pesta di bawah?" tanya Erick, saat ia menghampiri Elena otomatis memundurkan langkah.
"Kenapa?" Erick mengerut dahi. "Oh, kau tak suka aroma alkohool yang menguar dari mulut ku?"
Melihat Elena yang meringis Erick justru tertawa, ia mendekat mengikis jarak hingga tubuh mereka bertubrukan.
"Kau lihat ... kau pikir hanya kau saja yang bisa bermain dengan banyak pria di luar sana?" Erick menyeringai. "Aku bisa melakukannya bahkan lebih dari itu."
Lantas kemudian Erick pergi meninggalkan Elena dengan kebingungan, pria itu menghampiri gerombolan wanita yang terlihat sedang menikmati pesta.
Para wanita itu histeris menyadari kehadiran Erick, laki-laki itu sengaja agar Elena dapat melihatnya.
Erick tersenyum semrik sambil kedua tangannya merangkul pinggang masing-masing wanita yang mengelilinginya saat ini, yang mana mereka nampak kegirangan di tempat. Di depan kedua mata Elena, pria itu membisikkan kata-kata rayuannya pada setiap wanita di sana.
__ADS_1