Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 60 + Visual


__ADS_3

Elena sudah menghubungi nomor telepon Vicky berulang kali bahkan ratusan kali, namun yang ada hanya jawaban operator yang mengatakan nomor itu sudah tidak terdaftar. Elena mengesah resah, padahal hanya keterangan dari Vicky yang bisa membuktikan jika dia di jebak oleh pria itu.


"Bagaimana Elena, apa masih tidak ada jawaban?" tanya Dea, padanya.


"Tidak De, nomornya bahkan sudah tidak bisa di hubungi," Elena mengerjap sendu. Tak ada lagi yang bisa lakukan.


"Sejujurnya aku bingung, coba ceritakan awal mula kamu bisa terjebak sampai seperti ini?" pinta Dea padanya.


Elena menatap putus asa lalu mulai bercerita panjang lebar.


"Jadi kamu di teror oleh mantan mu si Vicky brengsek itu dengan alasan ia ingin meminta bantuan pada mu, dan kamu menuruti nya karena percaya dia sudah berubah dan takut jika dia nekat untuk menemui mu hingga ke mansion. Akhirnya kalian bertemu dan saat itu kamu merasa sangat pusing lalu tak ingat apa-apa hingga keesokan harinya kamu menemukan dirimu di kamar hotel?" terang Dea mencangkup semua yang di ceritakan Elena dalam pertanyaan nya.


"Iya De, aku bersumpah, di saat itu tidak terjadi apa-apa, bahkan Vicky sempat menelepon ku jika aku di bawa ke hotel untuk menginap sementara karena aku jatuh pingsan. Dia pun sudah bersumpah demi Tuhan jika dia sama sekali tidak menyentuh ku ... tapi ... tapi bagaimana semua ini?... " Elena merasa sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapannya.


"Ada yang tak beres di sini Elena. Aku yakin ada satu dalang yang sudah mengendalikan semua peristiwa ini, si Vicky brengsekk itu pasti telah di perintahkan oleh seseorang untuk menjebak mu," ucap Dea memberi pendapat nya.


"Tapi siapa, aku yakin tak punya musuh di dunia ini, bahkan seumur hidup ku aku selalu berusaha untuk berbuat baik pada semua orang ... siapa yang tega melakukan ini?" Elena mulai terlihat frustasi.


"Kau memang berusaha untuk mengindari yang namanya permusuhan, tapi kau tidak bisa menghindari seseorang untuk tidak menyukai mu, dalangnya yang pasti iri padamu dan begitu membenci mu hingga tega melakukan semua ini," tutur Dea menerawang jauh.


"Tapi siapa De?"


"Mungkin nyonya Sarah dan putrinya?"


Elena terhenyak dengan cetusan yang di ajukan Dea.


"Percuma. Selama kunci saksinya yaitu Vicky belum berterus terang langsung semuanya pasti masih terasa abu-abu." Elena mendesah panjang.


"Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Dea.


"Aku harus membuat mas Erick percaya De ... " ucap Elena.


"Tentu saja, tapi itu akan sangat sulit."

__ADS_1


Kedua wanita itu pun tercenung lama.


...***...


"Hari ini apa bapak akan menghadiri pesta pernikahan putri tuan Eren?" tanya Zidan sambil membuka pintu mobil untuk Erick masuk.


"Tentu saja," pungkas Erick mengibas sekilas jas mahal yang di kenakannya.


"Di undangan tertera anda harus membawa pasangan, apa anda akan mengajak nyonya muda ... " kalimat Zidan mendadak terhenti saat Erick mulai menatapnya horor.


"Aku tidak akan membawanya, sebaliknya Clarissa lah yang pantas untuk ku ajak bersama," ujar Erick kemudian.


Nona Clarissa? batin Zidan dengan mengerutkan keningnya. "Tapi yang menjadi istri anda kan? ..." perkataan Zidan terjeda lagi saat Erick melayangkan tatapan lebih sengit.


"Aku tak tahu jika sektretaris ku ini sekarang berubah menjadi ibu-ibu rumpi yang banyak ingin tahu," sindir Erick begitu menohok membuat Zidan kicep seketika.


"Maaf pak." Zidan menundukkan kepala, dalam.


"Jalankan saja mobilnya, kita ke tempat meeting sekarang," titah Erick tak ingin memperpanjang lagi, ia rebahkan punggungnya di sandaran kursi mobil, matanya terpejam untuk sesaat.


"Baik, pak."


Lalu mobil SUV hitam tersebut mulai merangkak pelan meninggalkan area kantor utama.


Malam pun datang. Erick kini sedang bersiap di ruangan gantinya, pria maskulin itu memilih sendiri warna kemeja juga tuxedo yang akan ia kenakan.


Berbagai merek jam tangan terkemuka berjejer di rak kaca, ia memilih yang sesuai dengan keinginannya lalu memakainya di pergelangan tangan kanan.


Setelah merasa rapi ia berkaca sekilas, seketika mata pria itu tertuju pada kalung yang kini di kenakannya. Erick merabanya, matanya berubah menjadi sorot penuh benci.


"Ini adalah kalung yang akan selalu mengingat ku dengan penghianatan yang kau lakukan," gumam Erick berdecih tajam sambil melihat bayangan kalung rantai yang mana tersemat peluru sebagai liontin di kalung itu. Mengingat kembali foto-foto mesra Elena bersama Vicky.


Di tempat lain, tepatnya di kamar tamu, ada Elena yang saat ini sedang bersolek diri. Ya, sejak memutuskan untuk kembali ke mansion ini, Elena memang di pindahkan ke kamar tamu. Tentu saja, karena Erick yang memutuskan nya, pria itu tak ingin satu kamar bersama nya. Miris memang, tapi inilah konsekuensi yang harus Elena terima. Setidaknya selama ia membuktikan dirinya tidak bersalah ia akan tetap berada di sini.

__ADS_1


Sebelumnya Zidan sudah memberitahukan jika Erick memilki jadwal akan menghadiri pesta pernikahan putri teman sejawatnya, Elena tentu riang, ia mengira Erick membawa nya ikut serta sebagai pasangan karena Zidan mengatakan itu saat memberitahukannya.


Elena menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya. Ia merasa sudah siap dan rapi, setelah nya ia keluar dan menutup pintu untuk menanti suaminya.


Ia yakin Erick masih mempercayainya, cinta mereka berdua tak selemah itu. Erick tetap berada di dalam janjinya juga keyakinannya, Elena sangat yakin akan hal itu.


Namun semua bayang-bayang indahnya seketika sirna saat di aula tengah ia melihat Clarissa dengan gaun peach cantik yang membentuk tubuh indahnya.


Mendadak saja hati Elena menjadi menciut. Terlebih saat pandangan nya tertuju pada Mona dan ibu mertua nya yang menatap sinis padanya.


Hati gadis itu semakin remuk redam ketika ia mendapati Erick ada di sana, berjalan ringan menuju Clarissa, entah apa yang mereka berdua bicarakan hingga ia mendekat semakin melihat jika kedua orang itu begitu dekat dan saling tersenyum.


Elena membeku, tak jadi melanjutkan langkahnya ia berbalik seketika saat Erick mulai memandang ke arahnya.


"Hahaha, kau ini mau kemana? ke pesta ulang tahun seorang bocah kah?" cibir Mona yang melihatnya. "Pake segala pita di rambut gitu, kau pikir dirimu usia berapa?!" Mona tertawa begitupun Sarah.


"Dia ini gak sadar diri, lagian siapa yang memintanya untuk berdandan seperti itu?" Sarah kembali tergelak.


Elena memejamkan mata, dadanya penuh sesak seketika. Bukan ... bukan karena ia mendengar cemoohan Mona dan ibunya tapi lebih dari itu saat dengan kedua matanya sendiri ia melihat Erick yang menggandeng tangan wanita lain di depannya.


"Maaf ya Elena, tapi Erickson sendiri yang meminta ku untuk menemaninya, kau tidak apa-apa kan?"


Mana mungkin Elena tidak apa-apa, ia merasa seluruh hatinya seperti di remat oleh ribuan jarum. Namun ia harus tetap tegar, tidak boleh menunjukkan kesedihan.


"Tidak apa-apa. Jika mas Erick yang meminta mu sendiri, maka dia memang tidak memerlukan ku," ucap Elena sambil matanya melirik ke arah Erick. Sedang yang di tatap membuang mukanya seraya berdecih.


Elena sekarang paham. Ericknya yang dulu benar-benar sudah tidak ada, dia menghilang di gantikan Erick yang tak lagi sama, asing dan tak tergapai.


***


ERICK DAVIDSON


__ADS_1


ELENA CEMPAKA



__ADS_2