
Happy reading 🌹🌹🌹
Clarissa segera menarik Elena dan memeluknya, tentu Elena terkejut dan merasa heran.
"Ada apa Clarissa? kau tak perlu meminta maaf."
Clarissa tak merespon ucapnya, Elena semakin terkesiap tak mana kala ia merasakan pundaknya yang hangat oleh air matanya. Rupanya wanita itu tengah menangis dan tergugu semakin mengeratkan pelukannya.
Tak jauh dari mereka, Marvin melihat pemandangan menyejukkan itu dengan tatapan sendu namun ia tersenyum, ada kelegaan di raut wajahnya. Meski orang-orang selalu menghakimi, namun dari sudut pandang nya ia bisa merasakan jika Clarissa tak berniat jahat sama sekali, sejak awal Clarissa hanya ingin memperjuangkan cintanya tapi tindakannya salah dan itu semakin di perparah dengan hasutan manusia berotak ibblis seperti Sarah dan anaknya yang berniat hendak memanfaatkan nya.
Terbukti kini dengan Clarissa yang sudah menyadari kesalahannya dan tak gengsi untuk meminta maaf, kentara praduga Marvin selama ini memang tak salah, meski terkadang arogan namun Clarissa tak neko-neko atau berencana berniat licik hanya saja ia terbawa arus jahat Mona dan ibunya.
"Maaf kan aku, telah banyak melakukan dosa padamu selama ini," ujar Clarissa di sela isakannya.
Raut wajah Elena seketika berubah sendu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya bisa membalas pelukan wanita itu dan menenangkannya lewat tepukan pelan di pundak.
Jujur, bagaimana pun dirinya hanyalah manusia biasa, di bagian terkecil hatinya, Elena masih menyimpan rasa sakit atas apa yang di lakukan Clarissa padanya, tapi ia juga bukanlah Tuhan yang berhak menghakimi. Biarlah rasa sakit itu tersimpan saja di sudut hatinya. Perlahan-lahan seiring berjalannya waktu ia akan berusaha untuk lapang dada dan mencoba ikhlas untuk memaafkan mereka yang berbuat jahat padanya, karena ia pun tak ingin berlama-lama menyimpan rasa sakit yang takutnya berujung dendam.
...--------Oo-------...
"So, ada niat apa kalian semua datang ke sini?" tanya Erick setelah merasa kondisi dan atmosfer perlahan tenang.
Clarissa berdiri di samping Marvin. Pria itu berinisiatif memberikannya tisu.
"Terimakasih," ujar Clarissa menerima uluran tisu dari pria itu. Marvin hanya mengangguk, namun matanya tak lepas memandang lekat ke arah gadis yang tengah menyusut air matanya itu.
"Kak Marvin, psstt ... psstt!" Dea mendesis setengah berbisik memanggil Marvin, sementara pria itu belum menyadari tatapan garang Dea tengah mengarah padanya.
"Bro!" akhirnya Rizal yang mengambil alih, menyenggol lengan Marvin.
"Eh ya? apa ... " pria berkemeja biru itu setengah gelagapan, mengerjap-ngerjap tak kala menyadari tatapan semua orang kini sedang mengarah padanya.
"Inget planningnya!" tekan Dea. Marvin Seketika teringat.
"Oh, ya!" hampir saja ia tertangkap basah karena terlalu memusatkan perhatiannya pada wanita di sampingnya. Aish!
Marvin pun maju, ia berdiri di tengah-tengah antara Erick yang bersandar di atas ranjang dan Elena yang berdiri tak jauh dari nya.
"Begini, Erick aku di sini berniat untuk meminta maaf. Maaf telah salah paham pada mu dan membuat mu babak belur seperti ini. Dea sudah menceritakan semuanya padaku, soal Elena yang sampai terluka itu bukan karena mu, tapi karena nyonya Sarah yang mencelakainya. Aku terlalu gegabah tanpa mencari tahu sebabnya dulu dan malah berujung kalap memukuli mu."
Erick yang mendengar penjelasan Marvin pun menarik sudut bibirnya, menatap sorot lebih bersahabat dari sebelumnya.
"Kau kan sudah meminta maaf, untuk apa meminta maaf lagi," ucap Erick.
Mata Marvin sontak tertuju pada Dea, dari sorot tatapan nya seperti tengah mengatakan. "Tuh kan! aku udah minta maaf, untuk apa minta maaf lagi!" lalu setengah melotot seperti tengah mengumpat pada Dea.
__ADS_1
Dea berpura-pura tak memperdulikannya lalu berkata. "Sengaja kak Marvin mengulang minta maaf, soalnya yang kemarin ia masih terkesan tak tulus saat meminta maaf."
"Benarkah?" Erick pura-pura terkejut. "Itu lucu sekali." seolah tengah mengejek Marvin.
Marvin berdecak. "Terserah, atur dewek!" batinnya sesumbar. Dea terkikik atas kesabaran Marvin yang setipis tisu.
"Baiklah, aku menerima permintaan maaf mu," ujar Erick kemudian, berubah serius. "Lagipula di babak pertama aku tak melawan sama sekali, karena aku menganggap itu sebagai hukuman ku. Jika sejak awal aku melawan, mungkin bukan hanya diriku yang terbaring dengan babak belur seperti ini," ucapnya mengarah untuk Marvin.
"Ok, thanks bro," ujar Marvin tak ingin semakin panjang. Pria itu pun berbalik mengarah pada Elena.
"Elena, aku .... " terbata Marvin mengeluarkan kata, ia sedikit membisu sejenak.
Elena tersenyum. "Kakak tak perlu meminta maaf pada ku."
"Dari mana kau tahu aku ingin meminta maaf?"
"Sudah jelas dari raut wajah mu," ujar Elena terkikik.
"Apa kau ini pakar ekspresi hingga tau macam-macam raut wajah orang?"
Elena tak bisa menahan tawa nya. "Kak kau lupa? kita menjalani masa kecil bersama-sama, mana mungkin aku lupa sifat mu dan ciri khas mu yang sudah ku apal bahkan di luar kepala."
"Begitu, kah? hhhh ... aku memang tak pandai mengatur ekspresi. Baiklah, kalau begitu, aku ingin meminta maaf mu, Elena. maaf karena pembicaraan terakhir kita yang tak mengenakkan."
Elena mengangguk kan kepala. "Di antara kita hanya lah sebuah kesalahpahaman. jika kamu meminta maaf, akupun ingin meminta maaf atas sikapku di terakhir pembicaraan kita. Maaf kan aku ya kak."
"Tak ada kesalahpahaman lagi kan?"
Semua tersenyum, Elena mengangguk padanya.
Trak! terdengar suara derit pintu, semua orang menoleh berbarengan, terlihat Zidan yang muncul menghampiri.
"Selamat pagi, tuan." salamnya membungkuk pada Erick, di belakangnya muncul seorang pria lagi yang membuat semuanya terkejut.
"Hai, apa kabar?" ujar pria itu pada semua yang hadir.
"Kau!" Elena langsung memekik ketika tahu siapa pria itu, begitupun dengan Marvin.
"Oh, ada nyonya davidson juga rupanya." Aaron kemudian menghampiri mereka.
"Aaron, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Erick.
"Aku lagi menjenguk mu apa lagi?"
"Maaf tuan, pria ini mengaku sebagai teman anda, dan mendesak ingin ikut jadi terpaksa saya angkut," ujar Zidan setengah jengkel.
__ADS_1
"Hei, memangnya kalian ini tak kenal aku ya? aku ini bintang terkenal loh?!"
Semua orang saling berpandang lalu menggeleng serempak. "Gak kenal!" suara Marvin dan Rizal yang paling jelas terdengar.
Asem! Aaron mengumpat.
Dea menggigit bibir, gelisah. Sebenarnya ia hendak menceritakan tentang pria paruh baya yang mengaku sebagai ayah Elena, namun melihat situasi nya, ia urungkan mengatakan nya sekarang.
"Maaf tuan, saya ingin melaporkan tentang Sarah dan putrinya, Mona." ijin Zidan.
"Katakan," ucap Erick.
"Nyonya Sarah tak terima dengan gugatan terhadap nya, sebelumnya ia sudah di gugat dengan tiga perkara, yaitu transaksi jual-beli beli saham ilegal, pencemaran nama baik, kekerasan dan pemalsuan dokumen, saat ini nyonya Sarah dan sedang di tahan di kantor polisi, bersama kuasa hukumnya ia ingin membawa perkara ini lebih lanjut ke pengadilan dan mengajukan permohonan banding."
"Begitu rupanya." Erick tercenung sesaat.
"Tetap pantau Zidan, jangan sampai lengah. Jika dia menantang kita maka kita tantang balik." Erick tersenyum semrik. "Siapkan pengacara terbaik, kita akan kuak semua kejahatan nya hingga dia benar-benar mendapat hukuman yang setimpal."
"Siap tuan!" ujar Zidan, mengangguk siaga.
"Lalu bagaimana dengan Mona?" tanya Erick lagi.
"Untuk nona Mona ... "
***
Saat ini di mansion.
Brak! Tubuh Mona yang memakai seragam maid yang sudah mulai lusuh, terpelanting jatuh tersungkur.
"Beraninya kalian semua!" teriaknya meradang pada empat orang maid yang tengah membully nya saat ini.
"Hahaha,apa? kau ingin membalas?" ucap salah satu di antara empat maid itu.
"Ingat ya? sekarang ini derajat kau sudah di turunkan dan sama seperti kami. Kau dulu begitu sombong dan angkuh, memerintah dan menghukum kami seenaknya. Sekarang terimalah karma mu."
Byurr! dua di antara empat maid tersebut menyiram Mona dengan seember penuh air bekas cucian piring, yang sebelumnya sudah di persiapkan oleh mereka.
"Rasakan itu!" keempat maid itu tertawa puas.
Mona menangis, tubuhnya basah kuyup.
"Bangsaat!" umpat nya.
Lalu isakannya semakin terdengar.
__ADS_1
"Mommy!"