Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE Bab 159 | Happy ending


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Semua kembali berjalan normal, kehidupan sehari-hari yang bahagia antara pasutri yang masih merasakan pengantin baru, Erick dan Elena begitu sangat romantis.


Marvin dan Clarissa yang kini sudah meresmikan hubungan mereka, membuat semua orang terkejut, namun sebagian merasa biasa saja karena memang mereka sudah bisa melihat Marvin yang secara terang-terangan menunjukkan sikapnya yang menyukai Clarissa.


"Wah, selamat ya untuk hubungan kalian." Dea mengembangkan senyumnya, turut gembira atas pengumuman resminya hubungan dua sejoli itu.


"Aku salut padamu Clar," ujar Dea kemudian, menggoda. "Kau tahu, kak Marvin adalah salah satu pria yang sulit untuk di taklukkan, dia pria yang kaku dan dingin tapi kami telah berhasil membuatnya mencair. Keren!" Dea memberikan dua jempolnya sambil mengedipkan mata, membuat Clarissa menunduk tersipu.


"Jadi kapan nih resminya menyusul kami?" sahut Rizal, menimpali.


"Ya, gak akan lama lagi."


Sontak jawaban Marvin membuat mereka langsung heboh, berseru riang.


"Wih gercep juga pak dokter satu ini." timpal Aaron yang ikut mengumpul bersama yang lain.


Elena dan Erick pun turut ikut bahagia.


Elena menepuk pundak Marvin. "Semoga selalu bahagia kak."


Perkataan Elena membuat Marvin Dejavu dengan perkataan nya yang persis sama saat di pernikahan wanita itu.


Marvin pun mengangguk dengan tersenyum lebar nan manis.


"Kamu mau kan, menjalani sisa kehidupan ini bersama ku?" tanya Marvin menatap Clarissa dengan tatapan penuh cinta.


"Wuih! langsung di sini euy ngelamar nya."


Marvin terperanjat, Dea salah mengira tindakan nya, padahal ia hanya iseng menggoda Clarissa sang kekasih.


"Terima! terima!" semua orang sontak bersorak semangat.


Clarissa menunduk malu. Marvin berdecak singkat. "Baiklah sekalian saja di sini."


Niat awalnya Marvin ingin membuat kejutan dulu sebelum melamar, tapi karena sudah terkadung di teriaki seperti itu, akhirnya Marvin melamar Clarissa di sini.


Pria itu mengambil kotak cincin yang mana terdapat sepasang cincin ruby di dalamnya.


"Clarissa, sekarang aku sungguh-sungguh. Kamu mau kan menjadi ibu dari anak-anakku, ayo kita hidup sampai rambut memutih, wajah mengeriput jika perlu sampai maut memisahkan kita."


"Aaaa! so sweet!" Clarissa yang di berikan kata- kata seperti itu tapi Dea yang meleleh.


"Aku juga bisa kalau ngegombal kaya gitu doang mah, yang." bisik Rizal, suaminya. Dea segera sadar lalu menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


Semua orang menahan nafas sama seperti Marvin mereka juga menanti jawaban Clarissa.


Wanita itu awalnya hanya bergeming, lalu perlahan-lahan ia mengangguk dengan malu-malu. Semua orang kembali bersorak kemenangan begitu pula dengan Marvin yang tak kalah hebohnya.


Ia memasangkan cincin di jari manis Clarissa, dan Clarissa pun menyematkan cincin yang satunya di jari manis Marvin.


Hari itu semua orang terlihat sangat gembira. Tak ada lagi air mata, yang ada hanya tawa bahagia.

__ADS_1


...---------Oo-------...


Enam tahun kemudian.


Tak terasa waktu begitu cepat berjalan. Di mansion the Davidson's saat ini.


"Mommy! mommy! di mana sepatu Elang?!" suara imut bocah laki-laki berusia lima tahun menggema di seluruh penjuru mansion yang megah.


"Sebentar sayang! mommy datang!"


Elena dengan dress santai rumahan dan rambut nya yang di cepak asal nampak datang tergopoh-gopoh memasuki kamar sang putra tercinta Elang Brawijaya Davidson. Si kecil yang memiliki wajah dan sifat sangat serupa dengan Erick.


"Ini sepatu mu, Elang bisa makai sendiri kan?"


"Iya mommy, sekarang kan Elang sudah besal!" jawab nya masih sedikit cadel. Elena merasa sangat gemas mencubit pipi bocah laki-laki itu.


Elang tersenyum menunjukkan deretan gigi susunya lalu ia maju untuk memberikan kecupan di pipi sang mommy.


"Terimakasih, mommy."


"Sama-sama sayang."


"Oak! oak!"


Tak lama terdengar suara tangis bayi. Astaga! Elena hampir lupa, ia meninggalkan Elang yang sedang memakai sepatunya menuju kamar nya sendiri, lalu mendekati box bayi yang ada di sisi ranjang.


"Ulu, ulu Elionor ku sayang, ada apa nak?" Elena mengangkat pelan bayi Elie, putri cantiknya yang masih berusia lima bulan.


"Babe!" suara berat seseorang memanggil, Elena menoleh terlihat Erick yang muncul dengan dasi di tangannya, pria itu sedikit terkejut lalu menghampiri.


"Maaf mas, Ellie sedang rewel, sepertinya dia lapar."


"Baiklah. Kalau begitu aku pasang dasinya sendiri," ujar Erick lalu berlalu ke kaca rias. Elena tak menjawab karena fokus menenangkan baby Ellie.


Selang beberapa menit, baby Ellie sudah lebih tenang dan kini sedang berada di ayunannya.


Melihat Erick yang masih bersiap untuk pergi ke kantor, Elena pun menghampiri.


"Apa semuanya sudah beres."


Erick sedikit terkejut dengan kemunculan sang istri di belakangnya.


"Sudah kok, kamu kembali saja istirahat."


"Tapi aku ingin membantu mu, sini." Elena memegang bahu sang suami agar mereka berhadapan, dengan tangan nya Elena membetulkan jas pria itu.


Erick sedikit terenyuh ketika melihat wajah lelah sang istri.


"Kayanya kita perlu menyewa pembantu sayang, kamu tak bisa menghandle semua pekerjaan sendiri terus-terusan."


Semenjak Elang putra pertama mereka lahir hingga kini, Elena memang sengaja ingin menjalankan tugas seorang ibu sendiri tanpa embel-embel baby sitter, karna Elena ingin mendampingi perkembangan putra putrinya langsung.


"Aku gak apa-apa kok, kan aku yang minta sendiri untuk gak ada pembantu di rumah."

__ADS_1


"Tapi kamu terlihat sangat lelah sayang. Aku gak mau kamu kelelahan terus menerus, nanti berakibat pada kesehatan mu sendiri bagaimana? Aku mohon untuk kali ini nurut ya?"


Elena berhenti sejenak, lalu tersenyum. "Baiklah. Memang setelah di pikir lagi sepertinya aku tak bisa jika melakukan semuanya sendiri."


"Nah akhirnya kamu mengerti," ujar Erick. "gemes deh sama istri ku ini." Erick mencubit pipi sang istri.


"Ih, apa sih mas? mulai deh alaynya. Ingat, kita udah punya anak dua loh?"


"Gak apa-apa dong, justeru ketika sudah punya anak, kita akan semakin mesra."


"Kamu ingat babe, bagaimana lika-liku perjalanan cinta kita? kamu ingat aku yang menginginkan anak dari mu tapi tanpa pernikahan? Sebenarnya itu hanya alibi saja ... "


"Eh lalu?" Elena terkejut.


"Yang sebenarnya adalah aku memang menginginkan anak dari mu dengan pernikahan. Aku hanya gengsi saja saat itu untuk menyatakan cinta ku."


"Ish, begitu rupanya? ck, ck bisa-bisanya ya kamu!"


"Hahaha ampun sayang." Erick menyerah saat Elena mencubit pinggang nya.


"Yang penting kan sekarang kita sudah jadi keluarga kecil yang bahagia, aku kamu, Elang dan Ellie."


Elena tersenyum lalu memeluk tubuh kekar sang suami, Erick balas memeluk sang istri dengan memberikan kecupan bertubi di kepalanya.


"Ekhem! mommy! Daddy!"


Erick dan Elena terkejut begitu mendapati Elang yang sedang menatap ke arah mereka.


"Eh sayang?" sahut Elena, mereka jadi salah tingkah sendiri.


"Mulai ya, mesla nya gak ingat waktu, grandpa datang ampe gak sadar," ucap elang yang gayanya seperti orang dewasa.


"Eh, benarkah grandpa di sini."


"Iya, menantu ku." Rey menyahut, datang menghampiri mereka, Erick dan Elena pun bergantian menyalami sang ayah.


"Grandpa!" elang bersorak riang, Rey membawanya ke dalam gendongan.


"Di mana baby Ellie?"


"Baby Ellie ada di ayunannya pah," jawab Elena.


"Papa kesini ingin bertemu kedua cucu papah. Rick, nanti berangkat ke kantor nya kita bareng saja."


"Iya pah." jawab Erick.


"Ya sudah karna semuanya sedang kumpul, ayo kita ke meja makan. Aku sudah memasak masakan enak untuk kalian." seru Elena.


"Asyik!" elang menyahut senang, semua tertawa dengan tingkah polos bocah laki-laki itu. Mereka pun berjalan ke meja makan dengan canda tawa.


✨TAMAT✨


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Terimakasih bagi reader yang sudah mengikuti kisah Erick dan Elena hingga mencapai ending yang bahagia. Happy terus dan sehat selalu ❤️✨


__ADS_2