Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 127


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹


Pagi yang cerah, seperti biasa Elena akan bangun sebelum mentari timbul, sekarang ia tak tinggal lagi di vila milik Marvin, Elena sudah bisa beraktivitas seperti biasanya, jadi dia lebih memilih menyewa sebuah lahan di samping toko kue nya untuk tempat tinggal. Toh ia sekarang sudah mempunyai penghasilan dari toko nya dan Elena tak ingin merepotkan Marvin lagi.


"Apa kau yakin akan tinggal di tempat kecil ini?" tanya Marvin suatu ketika saat Elena sudah memantapkan hati untuk tinggal di lahan samping toko Cempaka bakery nya.


"Iya kak, toh harga sewanya lumayan cocok dengan fasilitas nya. Juga nanti aku tidak akan tinggal sendiri melainkan di temani bersama Siska dan Tiara yang kadang ingin menginap karena ini sudah libur sekolah nya, jadi aku tak merasa kesepian."


"Tapi tidak kah lebih nyaman tinggal di vila saja. lagipula toh vila kakak akan kosong tak ada yang menempati jika kau pergi," ucap Marvin masih berusaha membujuk.


Namun Elena sudah bulat dengan keputusan nya. "Tidak kak, sudah cukup aku merepotkan mu selama ini, aku tak ingin jadi beban siapapun lagi. Sekarang pun aku sudah punya penghasilan sendiri dari toko kue ku. Aku sudah menjadi wirausaha muda, mandiri," ujar Elena sambil terkekeh di akhir.


Marvin mengembuskan napas, pasrah. "Baiklah, kakak akan menghormati keputusan mu. Semoga kau semakin baik dalam mengola toko kue mu dan semakin berjaya."


"Terimakasih kak." Elena tersenyum, Marvin mengusap lembut ujung rambutnya.


Mengingat percakapan mereka saat itu, Elena tersenyum seakan mengenang. Sekarang hubungan ia dan Marvin sedang tak baik-baik saja, setelah huru-hara dan perkelahiannya bersama Erick, Marvin seolah menghilangkan diri, menghindar. Mungkin Marvin sudah mendengarkan ucapannya, untuk lebih fokus pada profesi pria itu saja daripada harus terus bersamanya, Elena tak ingin terus menjadi penyebab kedua pria itu berkelahi.


"Kak Elena."


Seseorang memanggil, tanpa menoleh pun ia sudah tahu siapa yang menyapanya.


"Kak Elena memasak?" tanya Siska yang tahu-tahu sudah berada di sampingnya.


"Aku memasak masakan rumah biasa saja, untuk di bawa ke rumah sakit," ujar Elena sambil fokus dengan wajan dan spatula tengah menumis sayur capcay.


"Oh untuk pak Erick lagi ya?" tebak Siska. Elena mengangguk.


"Apa sekarang kondisi beliau sudah membaik?" tanya Siska lagi.


"Masih dalam perkembangan," ujar Elena.


"Ketika mendengar ceritanya langsung dari kak Dea, aku benar-benar tak menyangka orang sekalem kak Vin akan melakukan hal itu, ya meskipun ku tahu apa yang dia lakukan semata-mata hanya karena salah paham."

__ADS_1


"Itulah pentingnya untuk tak mempercayai hanya apa yang kau dengar saja. Meskipun Dea menceritakan yang sebenarnya pada Marvin, tapi pria itu salah sangka dan terlalu mengikuti emosinya, jadi semuanya malah berbalik pada dirinya sendiri dan hanya penyesalan lah yang di dapat kan."


"Aku suka cara kak Elena menjelaskan." Siska tersenyum. "Oh ya, kayanya hubungan dokter Vin dan kak Elena ini sangat dekat ya. Kira-kira sedekat apa hingga kak Vin sampai rela sebegitu keras nya melindungi kakak?"


Elena diam sesaat. "Kami hanya sekedar teman dari kecil, Siska. Mungkin karena kami sama-sama berasal dari keluarga yang tak harmonis lalu di pertemukan di panti asuhan. Sejak awal kami bertemu sudah terlihat kasih sayang kak Marvin yang begitu besar dia selalu menganggap ku sebagai gadis kecil rapuh selalu butuh perlindungan dan itu terbawa hingga kami dewasa, hingga walaupun kami terpisah cukup lama, sifat ingin melindungi kak Marvin selalu ada dan melekat padanya. Untuk ku, aku merasa sangat tersanjung ada seorang pria yang benar-benar ingin menjadi perisai yang selalu ada dan siap melindungi ku, tapi itu bukan berarti orang itu sampai harus mengorbankan kehidupan nya sendiri untuk tetap fokus pada ku, aku tidak mau, karna itu sama saja aku seperti beban untuk orang itu."


Siska manggut-manggut paham. "Itu sebabnya sekarang kak Marvin sudah tak mengunjungi toko kue lagi? apa karena hubungan kalian merenggang saat ini?"


"Entah. Kami hanya memerlukan waktu sendiri satu sama lain saat ini. Untuk merenungi apa saja sikap kami salah hingga membuat hubungan kami merenggang, tapi bukan berarti kami membenci satu sama lain. Bagiku sendiri kak Marvin sudah menjadi sosok kakak laki-laki yang mengayomi dan selalu melindungi ku, dan akan terus begitu."


"Aku suka hubungan di antara kalian," ucap Siska semakin melebarkan senyum. "Ku harap aku juga bisa menemukan sosok pria seperti kak Vin yang akan selalu siap melindungi orang yang di sayangi nya."


...----------------...


"Ini toko kue nya, pak?"


Seru seseorang terdengar dari luar.


"Eh, sepertinya ada tamu kak," ucap Siska, karna tempat mereka tinggal masih terhubung dengan toko, jadi siapapun yang berbicara di luar toko juga bisa terdengar dari sini.


"Eh iya juga, terus siapa yang datang pagi-pagi ke toko roti kita?"


"Ya sudah, biar coba Siska lihat kak."


Elena mengangguk, Siska sudah berlalu pergi ia sedikit melongok dari balik tembok. Mata gadis itu membeliak.


"Kak Elena!"


"Kenapa? ada apa?!" Elena pun seketika syok mendengar Siska menjerit.


"I- itu, di luar. Ada ... ada ... " gadis itu terbata-bata bicara karena gugup.


"Ada apa? ngomong yang jelas?" gemas Elena bersungut, ia gegas mematikan kompor dan menghampiri Siska.

__ADS_1


Wajah gadis itu semakin pias, seketika Siska ingat dengan ibu-ibu muda yang tempo lalu mengobrol dengan nya dan meminta untuk bertemu dengan Elena. Siska hampir lupa untuk menceritakan itu kepada Elena langsung.


"Ada apa sih?" tanya Elena, ingin pergi mengintip namun Siska segera memotong dan bicara lagi.


"Di luar kak ada ibu-ibu muda, pelanggan toko roti kita, aku lupa bilang ke kakak, ibu muda itu nitip salam dan bilang ingin bertemu dengan kakak."


"Benarkah? tapi kenapa pagi- pagi sekali dia datang nya?"


"Itu masalah nya kak. Ibu-ibu muda itu tidak datang sendiri, tapi ... "


"Tapi kenapa?"


"Dia datang bersama tiga orang pria berpakaian jas rapi gitu kak."


***


"Di mana gadis yang kalian maksud? aku sudah menyempatkan waktu ku yang berharga untuk datang kesini, jangan sampai kalian mengecewakan ku." tegas Wahyu Iskandar pada sepasang pasutri di depannya.


"M- maaf pak, mungkin kalau sepagi ini toko roti mereka belum buka, jadi--"


"Bagaimana kalian ini!" Wahyu iskandar berteriak."


"Tapi memang kalau sepagi ini mana mungkin toko roti nya buka pak? bapak kan yang memaksa kami kesini pagi buta begini." sahut Rifaldi membela isterinya.


"Ya, karna saya sudah tak sabar dengan informasi yang kalian berikan. Lagipula saya hanya punya waktu luang pagi ini sebelum saya sibuk sampai siang nanti, dan saya tidak ingin menunggu lagi," ujar Wahyu iskandar.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Elena datang.


Wajah Inggit dan Rifaldi berubah berseri.


"Bun, itu Elena cempaka yang bunda maksud?"


"Iya, yah," ucap Inggit.

__ADS_1


Sontak Wahyu iskandar pun menoleh ke belakang, di saat itulah matanya bertemu langsung dengan gadis berambut cokelat yang selaras dengan warna matanya, seperti yang ia gambarkan tentang putrinya.


"Elena ... "


__ADS_2