Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 131


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹


Di sebuah rumah megah bergaya retro modern.


"Non Clar, makan dulu yuk. Udah dari kemarin non mogok makan." bujuk seorang pria berbadan subur dengan pakaian ala wanita, dan suaranya yang mendayu-dayu sengaja di lembut kan. Nelly yang bernama asli Nick, adalah asisten kepercayaan Clarissa terus mencoba membujuk sang nona dengan menggedor pintu kamarnya terkunci.


Nelly jelas panik dan cemas, semenjak kepulangan Clarissa dari rumah sakit untuk membujuk Erick, wanita itu pulang ke rumah mewah yang di beli nya semenjak setahun lalu, dengan berlinang air mata.


Di Indonesia, Clarissa bisa tinggal di mana saja karna selain ia model terkenal ayahnya juga adalah seorang pengusaha beken yang namanya tengah naik daun di dunia bisnis.


Bagaimana tidak bersedih? selama ini Clarissa sudah mengorbankan segalanya untuk Erick, pria yang ia cintai. Karier nya, keluarganya bahkan menentang ayahnya yang ingin ia melupakan Erick pun, Clarissa lakukan. Namun semuanya terasa sia-sia karena lagi-lagi yang di pikirkan lelaki itu tetap Elena dan Elena.


Kenapa wanita itu yang selalu menjadi nomor satu? kenapa!


"Pergilah Nell, sudah ku bilang aku gak mau makan!" teriak Clarissa dari dalam kamarnya, ruangan besar itu terlihat berantakan, seolah menjadi pelampiasan atas rasa sakit wanita itu selama ini. Tisu berserakan di mana-mana, sementara Clarissa sendiri tengkurap di kasur empuk nya dengan menopang dagu menggunakan bantal.


"Tapi non, nanti nona bisa sakit loh? kalo ada apa-apa bisa cerita sama eyke non," ujar Nelly dengan masih keteguhan nya. Bagi dirinya Clarissa bukan hanya atasan tapi juga teman begitupun sebaliknya dari sekian banyaknya orang yang bekerja untuknya, hanya Nelly yang menurut Clarissa bisa mengerti perasaan nya.


"Gimana, non Clarissa, mau makan?" tanya seorang pembantu di rumah itu.


"Ck, jangankan makan, keluar kamar aja gak mau," ungkap Nelly.


"Duh gimana yah, yang aku takutkan, tuan Edward mengetahui ini. Pasti non Clarissa bakal di bentak habis-habisan kaya kejadian pertunangan nya dengan tuan Erick yang gagal."


Nelly berdecak kembali. "Jangan ungkit masalah itu lagi Tari! udah masa lalu itu, yang lalu biarlah berlalu."


"Ya kan, gue cuma ngomong Nel. Lu tau sendiri gimana keras nya pak Edward. Bisa-bisa kali ini nona Clarissa bukan di omelin doang tapi di paksa untuk pulang ke Kanada ke rumah asli mereka."


"Ya baguslah kalau begitu. Emang baiknya non Clarissa gak kesini dari pada makan ati terus." celetuk Nelly, meski pria namun di dalam jiwanya adalah seorang wanita tulen, sama seperti wanita pada umumnya, setiap Nelly berucap pasti di kira sedang nguyah cabe karena saking pedasnya ia saat sesumbar.


"Lagian dah, eyke gak ngerti sama selera orang kaya pak Erick. Apa coba kurangnya nona gue? cantik iya, body mantep, karir cemerlang, model terkemuka, pendidikan jangan di tanya lulusan terbaik di fakultasnya, eh ini malah doyannya sama sektretaris nya sendiri, lebih tepatnya si mantan sekretaris ya. Yang mau eyke katakan, wanita nya sekarang tuh biasa aja, cantik enggak, bukan dari kalangan sama-sama keluarga kolongmerat, jomplang banget gak level. Pasti tuh cewek pake pelet buat ngegaet pak Erick."


"Iya juga sih apa yang lu omong," ucap Tari, art di rumah Clarissa.


"Ya bener lah, eyke jamin seratus persen tuh cewek cuma pengen harta pak Erick doang. Kemarin sih desas-desus nya dia selingkuh kan sama mantan pacarnya. Pak Erick sempet murka abis, tapi lihat sekarang malah di kejar lagi tuh cewek, sampai bela-belain ke kota B buat nyusulin, rasanya sia-sia non Clarissa nyusulin buat nyadarin pak Erick. Kayanya pak Erick udah cinta buta sama tuh cewek!" ungkap Nelly dengan berapi-api.

__ADS_1


"Eh tapi bukannya berita perselingkuhan itu gak benar? yang gue denger sih rumor itu sengaja di buat sama nyonya Sarah juga putrinya si Mona, karena gak suka sama istrinya pak Erick itu, bahkan kemarin- kemarin rame tuh di mansion davidson, di situ kan terjadi huru-hara ngungkapin kejahatan nyonya Sarah, bahkan sekarang dia udah di penjara, anaknya sendiri si Mona malah jadi pembantu di mansion sekarang."


"Yang bener lo tar? kok gue gak tau sih?" tanya Nelly melotot kaget dengan penjelasan dari partner gibah nya itu.


"Ya bener lah, udah dari kemarin-kemarin kejadiannya, bahkan waktu kejadian juga ada nona Clarissa, katanya. Gue kan punya teman sesama pembantu di mansion davidson jadi pasti tahu berita nya, akurat dan terpercaya. udah senter banget ceritanya di kalangan art di sana, udah jadi hot topik." jelas Tari kembali.


Ceklek! tiba-tiba pintu kamar terbuka, Nelly dan Tiara terlonjak langsung menoleh ke sumber suara.


"Non Clar!" pekik Nelly kegirangan. "Akhirnya keluar kamar juga," ucapnya penuh syukur, Tiara pun ikut tersenyum senang.


"Apa kalian hanya akan berdiri di sini dan bergosip saja?" hardik Clarissa pada dua orang di depannya.


"Eh maaf non, tadinya cuma bincang-bincang biasa malah kebablasan," ujar Tari segan.


"Saya gak mau mendengar alasan mu! pergi!" usir Clarissa pada pembantu nya.


Tiara merunduk takut, ia melirik tajam pada Nelly. Laki-laki setengah perempuan itu lantas menyuruh Tari untuk pergi dengan isyarat matanya.


Tak ingin terus menjadi sasaran amukan, Tari pun melipir dari sana.


"Aku gak mau!" Clarissa menggeleng.


"Tapi non--"


"Antarkan aku ke Tri center hospital, Nell," ujar Clarissa tiba-tiba.


Nelly sontak terkejut. "Kenapa? nona ada yang sakit kah atau demam?" paniknya karena mendadak saja Clarissa meminta untuk di antar kan ke rumah sakit.


"Tidak aku ingin bertemu dengan seseorang di sana," tukas Clarissa.


...------Oo---------...


Tiba di rumah sakit yang ia maksudkan. Clarissa langsung menuju ke dalam seorang diri dan meminta Nelly untuk menunggu saja di dalam mobil.


Setengah berjalan-jalan tak tentu arah, Clarissa berpapasan dengan salah satu perawat di sana, ia pun menyapa perawat itu dan bertanya.

__ADS_1


"Permisi, maaf saya ingin bertanya di mana ruangan dokter Marvin anggara sutena?" ujar Clarissa.


"Oh ada apa ya? apa anda salah satu pasien dokter Marvin?"


"Bukan." Clarissa menggeleng.


"Mmm ... jika seperti itu akan sulit untuk bertemu dengan beliau. Kebetulan hari ini juga ada jam praktek dokter. Jika anda ingin menemui beliau secara pribadi sebaiknya pergi dulu dan datang lagi ke sini sekitar jam makan siang atau anda harus rela menunggu dengan antrian panjang di ruangannya."


Clarissa bergeming, nampak berfikir keras. Ia tak bisa pergi begitu saja.


"Mmm, jika begitu aku akan menunggu saja melalui antrian."


"Baiklah, jika itu keputusan anda," ujar si perawat.


"Mari saya tunjukkan ruangan beliau."


"Baik."


Clarissa pun mengikuti langkah perawat itu dari belakang.


***


"Silahkan menunggu ya. Ini nomor antrian anda," ujar perawat kembali lagi saat Clarissa sudah menunggu di kursi panjang bersama banyaknya orang yang ikut mengantri.


"Baiklah, terimakasih." Clarissa menerimanya.


"Sama-sama buk, kalau begitu saya permisi."


"Tunggu!" Clarissa menahan langkah perawat itu hingga dia menoleh lagi.


"Mmm ... jika bisa, tolong kamu katakan pesan saya pada dokter Marvin."


"Apa itu buk?"


"Katakan padanya jika ada seorang wanita bernama Clarissa yang sedang menunggu nya. Dan katakan padanya jika wanita itu ingin menagih janji dari tiga permintaan yang dia berikan."

__ADS_1


__ADS_2