
Di mansion, Erick kembali dari pesta yang di adakan Aaron dengan keadaan mabuk. Pria itu untuk pertama kali dalam hidupnya kalap akan minuman, ia terus saja mengigau di sepanjang jalan. Zidan yang di tugaskan untuk menjemputnya merasa khawatir dengan kondisi sang tuan.
"Apa beliau minum banyak sekali? kenapa kondisinya sampai seperti ini?" seru Zidan menatap supir di sampingnya.
"Saya juga kurang tahu pak Zidan. Tuan Erick bawa mobil sendiri saat pestanya, tahu-tahu ketika saya kesana untuk menjemput kondisi tuan Erick sudah sangat parah, dia bahkan tidak bisa mengenali saya," ucap Wahyu,yang adalah supir pribadi untuk Erick selama satu dekade terakhir ini.
Zidan menghela nafasnya, prihatin. Semenjak hubungan atasannya dengan istrinya tersebut merenggang, Erick seperti patung yang tak bernyawa, kadang bisa melamun seharian, tak konsen dengan pekerjaan, marah-marah atas hal yang tidak seharusnya, dan puncaknya adalah saat ini, ketika Zidan melihat tuannya yang lunglai karena terus menenggak minuman keras.
"Berikan aku segelas advokat lagi, uhuk ... berikan!" lagi, Erick seperti orang kesurupan, ia bicara melantur dan bergerak tak jelas, kancing kemeja putih nya terlepas dua di atas, dan Zidan bisa melihat kalung rantai titanium berliontin peluru berwarna perak di sana, cukup terkejut ketika menyadari itu.
Setelah berhasil memapah tubuh Erick yang kini sudah ambruk di atas kasur, Zidan berterimakasih pada dua penjaga yang membantunya. Pria itu kemudian memanggil salah satu maid.
"Tolong ambilkan air juga obat pereda mabuk. Juga siapkan sup ayam hangat dan vitamin untuk tuan ketika nanti beliau sudah sadar."
"Baik, pak Zidan." maid itu mengangguk patuh.
"Oh ya, di mana pak Pandu berada?" tanya Zidan kemudian membuat maid tersebut menoleh kembali.
"Oh, pak Pandu sedang ada di taman belakang pak, lagi memantau para pekerja yang sedang membersihkan area kolam."
"Hhmm begitu ya ... baiklah, kau boleh pergi," ujar Zidan menggulir bola matanya sebagai isyarat.
"Baik, saya permisi."
"Ada yang tidak beres di sini." gumam Zidan merasa firasatnya tak enak.
...***...
Zidan melangkah ringan menuju lorong besar penghubung ke area belakang. Lorong panjang yang sedikit berkelok dengan beberapa miniatur juga lukisan antik di sekitarnya tersebut nampak sangat lengang terasa, saking sunyinya pria itu bahkan sampai bisa mendengar langkah kaki nya sendiri yang menapak lantai.
Saat melewati bagian paling ujung, entah kenapa seperti ada yang menariknya untuk semakin menelusuri, Zidan menyipitkan mata demi melihat dari arah pandangnya, seperti ada yang memikat atensinya di sana, ia pun melangkah menulusuri nya mengurungkan niat awal yang hendak menemui pak Pandu.
__ADS_1
Sampai tiba di gudang yang kata beberapa pelayan di sini mistis, Zidan semakin melangkah kan kaki tak pelak saat pintu gudang tersebut terbuka lebar, ia memasuki area itu, beberapa kecoa berhambur pergi saat ia menyingkap beberapa kardus bekas juga karung di sana.
"Dar4h?!" Zidan memekik terkejut saat melihat cairan merah pekat yang sudah mengering bercampur dengan lantai beralaskan tanah.
Ia terpekur cukup lama, meraba tanah bercampur dar4ah yang sudah mengering tersebut.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi saat aku sibuk menggantikan pak Erick di perusahaan?" gumamnya penuh tanda tanya.
...***...
Kembali pada tujuan awal, seakan tak terjadi apa-apa setelah penemuannya di dalam gudang, Zidan menghampiri pak Pandu yang kini sedang mengintruksi beberapa pekerja di area taman belakang.
"Selamat siang, pak Pandu."
"Oh, nak Zidan." pak Pandu menoleh tak kalah mendengar suara bariton di belakangnya.
"Apa kabar?" pria itu sedikit berbasa-basi, Zidan membetulkan letak kacamata di hidung bengir nya.
"Hmmm, saya baik. Kebetulan sedang ada beberapa pekerjaan di sini." sahut pak Pandu.
"Oh ya, ngomong-ngomong saya tak melihat nyonya muda, biasanya beliau ada di sekitar sini bahkan ketika ada pak Erick di sampingnya, tapi saat ini saya tak melihatnya?"
"Oh nyonya muda ... nyonya muda ... " pak Pandu nampaknya tak bisa merangkai kata-kata untuk memberi alasan.
Salah satu pelayan di sana yang tahu akan semua kebenarannya tampak sedang berusaha bermain isyarat melalui gerakan mata dengan Zidan, seolah ingin mengungkapkan sesuatu, namun dengan cepat pak Pandu menyadari, menatapnya nyalang pada pelayan itu, Hal tersebut semakin membuat Zidan menaruh curiga.
Tak sempat pak Pandu mengutarakan perkataannya lagi untuk mengelak, salah seorang pelayan tersuruk- suruk menghampiri mereka.
"P- pak pandu, t-tolong!" gadis belia itu terlihat sangat panik.
"Ada apa?!" pak Pandu segera menerjangnya dengan pertanyaan.
__ADS_1
"T- tuan muda hhh ... tuan muda marah-marah di depan, beliau mengamuk setelah mengetahui nyonya muda tidak ada di gudang." pelayan tersebut berusaha mengatur nafasnya agar suaranya tak tercekat.
"Apa?!" sontak pak Pandu dan Zidan sama-sama terlonjak, mereka segera berlari menyusul.
Di tempat yang sama. Terlihat pria berbadan kekar itu mengobrak-abrik semua barang yang ada di hadapannya, banyak para pelayan yang datang ingin menahan namun mereka tak berani hanya bisa melihat dengan wajah prihatin.
"Di mana Elena ku, di mana kalian menyembunyikannya?!" teriak membahana Erick, dia tak peduli dengan apapun yang ada di sekitarnya langsung ia terjang. Yang ia pikirkan hanya Elena kenapa tidak ada saat ia ingin menemuinya.
"Pak Erick, mohon tenangkan diri anda, pak." Zidan yang baru datang, segera menghampiri namun tak bisa untuk menahan, begitupun dengan pak Pandu mereka sama-sama kalah kekuatan.
Melihat pria paruh baya dengan kacamata rantai di samping hidungnya, Erick segera menghampiri tanpa bisa ia tahan amarahnya langsung buas saat melihat kepala pelayan tersebut.
"Pak Pandu, anda saya telah perintahkan untuk menjaga Elena. Di mana dia? kenapa tidak ada di sini hah?!"
Tubuh pak Pandu seketika gemetar, dadanya bergemuruh takut. Biasanya Erick tak pernah seperti ini padanya, walaupun hanya bawahan pak Pandu selalu di segani oleh pria itu, selain karena umur Erick selalu menghormatinya karena pak Pandu telah berbakti untuk keluarga Davidson selama berpuluh-puluh tahun. Tapi rasa hormat itu seakan sudah lenyap kini.
"M-maaf kan saya tuan muda. Nyonya Elena di bawah oleh temannya yang bernama Dea, tanpa bisa saya cegah!"
Dada Erick memanas, pria itu menatap bengis dan ... Bugh!
Seketika penglihatan pak Pandu buram, kacamata nya terlempar dengan tubuh pria itu yang terhuyung.
...***...
"Bagaimana keadaannya?" Dea bertanya takut-takut, ia sangat cemas hingga tak pernah absen menunggu ruangan tempat Elena harus mendapatkan operasi.
"Operasi nya berjalan lancar, kami berhasil mengobati luka di belakang punggungnya, terduga itu terjadi karena sebuah benda tajam yang menusuk." Marvin menghela nafas sejenak saat menjelaskan nya. "Lukanya cukup lebar dan dalam, bahkan kami harus melakukan penjahitan luka luar dan dalam, syukurlah darahnya tak terus mengalir atau dia ... hhha ... " Marvin tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.
Dea menutup mulut tak percaya, air mata terus mengalir mendengar kondisi Elena yang begitu buruk.
"Ini tak bisa di biarkan lagi Dea." Marvin bergumam, menatap nyalang ke sembarang arah.
__ADS_1
"Apa yang akan kakak lakukan?" tanya Dea.
"Aku harus memisahkan Elena dari Erick, atau adikku itu akan semakin menderita."