
"Jadi ini tempat tinggal isteri ku sekarang."
Di balik gerbang di bawah pohon yang rindang itu, Erick, pria gagah dengan wibawa tinggi tersebut berdiri di antaranya.
Mata elangnya memandang ke depan, di mana sebuah vila berwarna monokrom dengan dominan dinding kaca kini terlihat di depan mata.
Sementara di samping Erick, ada Zidan sang asisten yang selalu sedia setiap saat, berkat informasi Zidan lah sekarang Erick tahu di mana tempat Elena tinggal. Kecakapan dan juga ilmu intelijen Zidan memang patut di apreasiasi.
Setelah mengetahui kabar keberadaan tempat tinggal sang istri, tak menunggu waktu lebih lama lagi, dengan segera Erick bersama Zidan meluncur untuk melihat langsung, Erick tak bisa membendung lagi kerinduan nya yang menggebu-gebu. Ia ingin segera bertemu Elena hingga di sinilah mereka berada tanpa persiapan apa-apa karena murni Erick hanya ingin melihat Elena nya yang begitu ia rindukan.
"Benar tuan, menurut salah satu sumber orang sebagai mata-mata yang saya utus untuk menemukan keberadaan nyonya muda, di ketahui jika vila yang di tempati nyonya muda tersebut adalah milik pak Marvin dan nyonya Elena kemungkinan sudah sekitar satu minggu tinggal di sini."
Ck! Erick sedikit berdecak ketika mengetahui fakta jika Marvin lah dalang di balik hilangnya keberadaan Elena, pria itu lah yang ternyata menyembunyikan Elena selama ini darinya.
Rasanya jika ia bertemu Marvin, Erick akan langsung mengajak duel pria itu, amarahnya kembali meledak dengan hanya mengingat wajah Marvin dan sikap sok peduli lelaki itu untuk istrinya.
"Tunggu tuan!"
Ketika Erick sedang serius dengan apa yang sedang di pikirkan nya, tiba-tiba tangan Zidan spontan menarik tubuhnya hingga bersembunyi di belakang pohon.
"Ada apa?!" Erick bersungut jengkel, Zidan langsung melepaskan cengkeramannya, menunduk dan meminta maaf.
"Itu tuan, soalnya tadi saya lihat ada seseorang keluar dari vila, saya takut kita ketahuan berada di sini," jawab Zidan.
"Memangnya siapa?!" kesal Erick, tubuhnya sedikit ia condong kan hingga melongok melihat orang yang Zidan maksud keluar dari vila, saat itulah netra Erick membeliak, dadanya mendadak berdebar-debar sama seperti saat ia pertama kali memandang seorang gadis dan langsung jatuh cinta pada gadis itu. Alias cinta pertama.
"Elena ..." wajah Erick berubah sumringah sekaligus sendu terlihat, di dalam mata kelamnya jelas ada binar bening yang nampak hanya tertuju pada seorang wanita bertubuh mungil dengan setelan baju khas rumahan yang sedang menguncir rambut coklat panjangnya.
Bisa melihat sang belahan hati walaupun dari jarak lumayan jauh seperti ini saja sudah membuat Erick teramat senang. Ia bisa puas menikmati menatap wajah cantik itu tanpa gangguan apapun.
__ADS_1
Namun teringat kembali pertemuan tak sengaja mereka kemarin dan Elena yang mencoba menghindar dan tak mau menatap nya membuat Erick sedih. Ada keraguan dalam hatinya apakah sang istri akan memaafkannya atau tidak, mengingat perlakuan buruknya yang teramat jahat hingga psikis Elena terganggu, kembali rasa bersalah itu menghantam hatinya kuat-kuat seperti gelombang ombak yang menghantam batu karang.
Di samping Erick, Zidan bisa melihat jelas raut kebahagiaan sang tuan, ia jadi bisa memahami bagaimana rindu kepada orang kita sayang akan begitu menyiksa, seperti apa yang di alami bosnya saat ini.
"Aku merindukanmu, sayang." gumam Erick terdengar lirih dengan tatapan nya yang semakin melembut. Ingin rasanya ia segera berlari dan memeluk sang istri, namun ia sadar jika keadaan kini tak sama lagi, dia tak mau Elena semakin membencinya jika tahu ia ada di sini untuk melihatnya.
Hanya memastikan keadaan Elena baik-baik saja sudah cukup mengobati sedikit perasaan rindu di hatinya.
Di pekarangan vila saat ini Elena sedang menyiram tanaman-tanaman yang tumbuh subur di sekitarannya juga bunga-bunga di pot rapi yang terjejer tak lupa ia rawat, berbagai macam jenis bunga dengan warna cantik-cantik tumbuh mekar di sana hasil tangan ajaib mbok Can yang selalu menjaga dan merawatnya yang sengaja menumbuhkan aneka macam tanaman dan bunga di sana hingga membentuk sebuah taman kecil yang terawat bertujuan agar suasana asri semakin terasa dan membuat tampilan luar vila jadi sedap dipandang.
Menit demi menit berjalan Elena melakukan aktivitas di sela mencari ide untuk toko kuenya nanti, dengan menghirup udara segar sore yang indah ini, namun entah kenapa gadis itu merasa seperti ada yang tengah memperhatikannya, membuat bulu kuduk Elena merinding namun saat ia celingak-celinguk menoleh ke kiri dan kanan tak ada siapapun selain dirinya tapi tetap saja Elena merasa sedang di pantau.
Berusaha mengabaikannya, Elena kembali fokus pada tanaman yang sedang ia rawat, dari arah dalam, datang tergopoh-gopoh langkah kaki kecil seorang bocah perempuan dengan poni yang menutup setengah wajahnya nampak sangat menggemaskan apalagi dengan baju ala princess yang sedang di pakainya saat ini.
"Kak Elena ... kak Elena sedang apa?" gadis kecil itu berdiri tepat di samping Elena yang sedang duduk di selasar teras.
"Oh, Tiara kemari sayang, sini duduk." ajak Elena bocah berwajah bak boneka itu menurut, menempatkan bokongnya tepat di samping Elena berada.
"Eh Siska, aku tak menyadari kehadiran mu." seru Elena ketika menoleh tahu-tahu Siska sudah di sampingnya, gadis itu hanya nyengir kuda.
"Oh ya ka Elena, aku tadi nemu gitar di sofa ruang tamu, jadi ku bawa." Siska menunjukkan sebuah gitar yang ada di pangkuannya Elena yang melihat pun mengernyit.
"Gitar? punya siapa ya?"
Siska mengangkat bahu. "Mungkin punya kak Marvin." jawabnya asal. Sebelumnya memang Siska sudah berkenalan dengan Marvin saat meminta ijin akan menginap di sini atas permintaan Elena, saat pertama kali melihat Siska sudah langsung jatuh hati pada sosok dokter muda bertubuh jangkung tersebut, namun apalah daya Siska tak ada niat untuk menaruh harapan besar terlebih saat Siska mulai menyadari jika tatapan Marvin ketika memandang Elena sangat jauh berbeda di banding yang lain, mulai saat itu Siska menyimpulkan sendiri, jika Marvin dan Elena memiliki hubungan yang spesial karena tak tahu fakta yang sebenarnya.
"Ka Elen mau coba?" ujar Siska menawarkan gitar itu pada Elena.
"Eh?" Elena terlonjak, lantas ia menggeleng dengan mimik muka yang di buat jenaka.
__ADS_1
"Kenapa? ayolah, dokter Vin bilang, ka Elen itu memiliki suara merdu dan pandai memainkan alat musik seperti gitar ini, cobalah kak ayolah ... " pinta Siska setengah mendesak.
Elena menggeleng bibirnya terkulum menahan senyum geli, apa saja yang Marvin ceritakan tentang dirinya pada Siska, terlebih yang membuat nya tak bisa menolak permintaan dari Siska tersebut adalah ketika Tiara, gadis kecil di sampingnya ini mulai ikut-ikutan mendukung agar ia memenuhi permintaan Siska.
"Ayo kak Elena, Ara juga ingin melihat kak Elen bernyanyi!" seru Tiara nampak jelas lebih bersemangat.
Akhirnya Elena tak bisa menolak, ia mengambil alih gitar di pangkuan Siska, membuat mereka bersorak senang.
"Baiklah, tapi hanya satu lagu saja ya?"
Siska dan Tiara mengangguk bersamaan.
"Emm, kalian ingin request lagu apa?" tanya Elena lagi, bingung harus membawakan lagu yang mana.
"Aku, aku kak!" Siska mengacungkan telunjuk semangat.
"Ya, Siska kamu ingin request lagu apa?"
"Mmm ... lagu yang jadi backsound nya film Aladdin Disney, yang di nyanyiin idolaku Zayn Malik, A whole new world, nama lagunya kak, aku suka banget!"
"Oh, kakak tahu lagu itu, tapi kakak cuma tahu bagian reff nya, gak apa-apa?"
Siska mengangguk-angguk. "Gak apa-apa kak."
Elena tersenyum ia lantas memposisikan tubuhnya, jemari lentiknya mulai memetik senar gitar menimbulkan alunan melodi yang indah. Elena menyanyikan lagu yang di minta Siska, dengan suara indah nya, membuat atensi semua orang langsung tertuju padanya, terpukau dengan nyanyian nya yang merdu.
Tak terkecuali saat ini Erick dan Zidan yang ikut mendengarkan Elena bernyanyi. Bahkan Zidan yang beru ini mendengar Elena bernyanyi begitu kagum dengan suara sang nyonya muda yang begitu lembut, sopan masuk ke telinganya.
"Tuan, suara nyonya muda merdu sekali ya," ujar Zidan mengutarakan pendapatnya.
__ADS_1
"Tentu saja, Elena ku adalah sebuah keajaiban dengan suaranya yang bagai magis yang akan membuat semua mata hanya tertuju padanya saat ia mulai bernyanyi," ujar Erick mengutarakan secara gamblang akan kekagumannya.
"Dia adalah Elena ku, kebanggaan ku." lanjutnya dengan tatapan lembut yang terlihat jelas menunjukkan segala perasaannya saat ini.