Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 146


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Mobil hitam yang membawa Elena dan Clarissa di dalamnya berhenti di sebuah bangunan kosong yang terbengkalai dan tak berpenghuni.


Dua dari empat pria yang menggiring keluar lebih dulu dari kursi depan, lalu di susul dengan dua pria yang masing-masing nya menarik tangan Elena dan tangan Clarissa di sisi kiri dan kanan mereka.


"Ayo jalan!"


Titah empat pria itu dengan mendorong kasar, Clarissa dan Elena tak punya pilihan lain selain menurut.


Sementara itu tak jauh lagi dari tempat mereka berjalan, sudah menunggu Sarah dengan sebuah pistol di tangan dengan lima anak buah lainnnya untuk melindunginya.


"Akhirnya yang di tunggu datang juga." Sarah menyeringai senang melihat mangsa sudah ada di depan mata.


Clarissa dan Elena sontak membulatkan mata mereka masing-masing, terkejut karena dalang di balik semua ini adalah Sarah.


"Kenapa kalian sangat terkejut melihat ku?" Sarah tertawa terbahak-bahak. "Bawa mereka kesini!" titahnya kemudian dengan ekspresi wajah yang langsung berubah seratus delapan puluh derajat, matanya melotot dan giginya bergemelutuk.


"Baik nyonya." Dua pria yang menggiring Elena dan Clarissa lantas sama-sama mendorong tubuh dua wanita itu hingga membentur tiang rumah kosong tersebut.


"Ck, ck. Lihatlah wajah-wajah menyedihkan ini." Sarah tersenyum devil dengan kedua tangannya yang masing-masing mencengkeram pipi Clarissa juga Elena.


"Sekarang kita uji, seberapa Erick mencintai mu Elena dan ... "


"Seberapa besar Erick menyayangi mu sebagai seorang sahabat, Clarissa."


Sarah terbahak menatap Elena dan Clarissa secara bergantian.


Lain halnya di tempat berbeda. Erick mendessah panjang setelah mendapat laporan buruk dari para anak buahnya.


"Bagaimana kalian bisa begitu lengah." bentak Erick pada lima pria di hadapannya saat ini.


"Maafkan kami tuan muda. Kami lengah, kami sama sekali tidak menduga jika nyonya Sarah hanya menjadikan tiga pria itu sebagai pancingan, hingga tanpa sadar karena lebih fokus untuk menangkap mereka kami sampai lupa akan keselamatan nona muda."


Erick semakin mengesah frustasi, tak bisa di pungkiri ia pun tak bisa menyalahkan sepenuhnya karena semua ini di luar ekspektasi mereka. Sarah dengan apik memainkan rencananya hingga berhasil mengecoh mereka.

__ADS_1


Di saat Erick masih berusaha berfikir keras untuk tindakan apa yang di ambil selanjutnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering, Erick dengan cepat mengangkatnya.


"Kau! di mana kau membawa isteri ku!" sergah Erick cepat begitu telepon tersambung, tak membiarkan orang di seberang sana bicara lebih dulu karena dia sudah mengetahui siapa pemilik nomor tak di kenal yang menelponnya ini.


"Hahaha, kau begitu cepat mengetahui aku membawa Elena. Sangat pintar." suara di dalam telepon tertawa kencang.


"Tidak usah banyak omong. Sejak awal aku tahu dalang dari semua ini adalah kau, jadi cepat katakan di mana istri ku, kenapa kau menculiknya?!"


"Kau pasti sudah tahu Erickson. Mungkin juga kita sama- sama sudah tahu, sekarang ini Elena, wanita tercinta mu ada padaku. Aku bersedia membebaskan nya jika kita melakukan pertukaran."


"Pertukaran apa itu?!"


"Aku ingin 99% properti Rey di pindah alihkan atas nama ku dan saham ku di perusahaan di kembalikan lagi padaku, juga hak-hak yang sebelumnya di pindahkan lagi untuk ku."


"Brengsekk, kau ingin memeras hah?!" berang Erick murka.


Sarah justru tertawa semakin kencang.


"Itu sih terserah keputusan mu, karena kini kau yang memegang kendali. Jika kau bersedia melakukan transaksi itu, aku akan melepaskan Elena jika tidak ... you know, apa yang terjadi pada ayah mu akan terjadi juga pada Elena."


"Siaaalan! berani kau menyentuh istri ku seujung kuku saja, akan ku pastikan kau akan langsung ke neraka!"


Sarah lalu mematikan sambungan telepon.


...--------Oo--------...


Clarissa dan Elena di ikat di masing-masing tiang rumah kosong, di jaga ketat oleh empat pria anak buah Sarah, dua gadis itu sama sekali tak punya celah untuk kabur.


Elena ingat akan gelang yang di berikan Erick padanya.


"Kau tahu, kotak kecil di antara pernak-pernik gelang ini, sebenarnya itu adalah sebuah kamera pelacak, jika terjadi sesuatu pada mu, kamu tinggal pencet saja kotak kecil itu, maka segera saat itu juga aku akan tahu di mana keberadaan mu."


Mengingat perkataan Erick kembali, Elena pun sontak melakukan apa yang di instruksi kan pria itu. Meskipun kedua tangannya di ikat dengan gerakan aman agar tak di curigai Elena berusaha memencet kotak kecil di antara mutiara yang ada di gelang yang di berikan Erick, dengan susah payah Elena berusaha memencet kotak kecil di gelang itu dengan jarinya dan benar saja segera setelahnya kotak sekecil mutiara itu mengeluarkan semacam sinar berwarna merah yang berkelip seperti kamera yang baru saja di nyalakan.


"Semoga. semoga saja kamu bisa segera menemukan ku. Ku mohon Erickson, aku takut ... "

__ADS_1


Gumam Elena di dalam hatinya sambil merapal doa.


***


Erick mendapatkan notifikasi dari ponselnya, ia terbelalak terkejut sekaligus merasa senang karena di dalam layar persegi panjang itu kini terdapat di mana lokasi Elena berada. Itu berarti Elena telah mengikuti apa yang telah ia instruksi kan dengan gelang pelacak itu.


"Aku pasti akan segera menemukan sayang." gumam Erick bisa sedikit merasa lega.


Bersama Zidan dan para anak buahnya Erick segera akan pergi untuk mengikuti petunjuk keberadaan Elena yang sudah ada di dalam peta yang ada di dalam ponsel. Tapi seseorang menghadang jalannya, Erick merasa heran pria setengah baya yang terlihat seumuran ayahnya tiba- tiba saja menghalangi jalannya dan pria tua itu datang bersama orang-orang yang di duga adalah bodyguard nya.


"Tunggu dulu, nak. Aku akan ikut menyelamatkan Elena," ucap pria itu sontak saja membuat Erick merasa heran.


"Maaf, anda siapa?" tanya Erick yang merasa bingung dengan tingkah pria asing ini, bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang terjadi pada Elena?


"Maaf sebelumnya lupa memperkenalkan. Aku adalah ayah Elena dan aku tahu apa yang sedang terjadi saat ini dan dia ... " laki-laki yang mengaku sebagai ayah Elena itu menoleh ke belakang di saat itulah Erick membeliak kaget melihat Siska yang di papah oleh dua orang bodyguard pria itu.


"Saya menemukan nya pingsan di tengah jalan. Darinya saya tahu apa yang tengah terjadi saat ini," ucap pria itu.


"Siska!" Erick segera menghampiri. "Bukankah kau Siska, gadis yang selalu bersama isteri ku?!" tanya Erick memastikan karna tak terlalu ingat.


"Benar tuan, saya Siska. Tuan hiks, ka Elena di culik dia di bawa kabur oleh empat pria hiks, hiks."


"Oke tenangkan diri mu dulu Siska. Apa kau ingat siapa saja yang membawa Elena?"


"Tidak tuan, kejadiannya begitu cepat. Selain saya dan kak Elena, ada nona Clarissa juga saat kami di kejar oleh empat pria yang membawa kak Elena. Saya tidak tahu bagaimana nasib non Clarissa karena saya keburu pingsan sebelum mereka menangkap nya."


"Kapparat!" Erick mengumpat setelah mendengar cerita Siska.


"Oh ya tuan Erick. Beliau adalah pak Wahyu Iskandar, beliau lah yang telah menyelamatkan dan membawa saya kesini."


Erick menoleh ke arah laki-laki paruh baya yang di tunjuk Siska.


"Kau mungkin terkejut dengan saya, anak muda. Begitu pun saya yang terkejut dengan fakta bahwa kau adalah suami dari putri ku. Ceritanya panjang, namun sekarang kita harus fokus untuk menyelamatkan putriku. Jadi aku akan membantumu mu."


Meskipun sedikit ragu Erick akhirnya mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Ayo!"


Mereka pun pergi untuk menuju lokasi di mana Sarah menyekap Elena.


__ADS_2